NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: GRAVITASI DAN KESEIMBANGAN SEMU

Suhu udara Surabaya pagi itu sudah menyentuh angka 30 derajat Celsius, padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas. Namun, bagi Keyla Aluna, panas matahari yang menerobos kaca jendela koridor lantai dua SMA Cakrawala Terpadu tidak sebanding dengan panas dingin yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.

Kejadian di halte bus kemarin sore masih berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sentuhan ujung jari Bintang Rigel saat memberikan botol air mineral itu. Sengatan listrik statis yang bukan metafora. Dan tatapan itu—tatapan yang, untuk sepersekian detik, tidak melihatnya sebagai "Keyla si murid biasa", melainkan sebagai manusia.

"Heh, ngelamun ae! Kesambet penunggu lab biologi kapok kon!"

Tepukan keras di bahu membuat Keyla melonjak. Dinda berdiri di sampingnya sambil mengunyah permen karet, seragamnya sedikit dikeluarkan di bagian belakang—gaya khas pemberontakan kecil-kecilan.

"Dinda! Jantungku hampir copot!" protes Keyla sambil mengelus dada.

"Lagian, pagi-pagi udah senyam-senyum sendiri kayak orang gila," cibir Dinda dengan logat Suroboyoan yang kental. "Mikirin si Bintang Basket itu lagi? Awas lho, Key. Jangan terlalu baper sama interaksi receh. Cowok populer itu kadang ramah cuma karena *default setting*-nya begitu, bukan karena ada rasa."

Keyla menunduk, menatap sepatu kets-nya yang agak kusam. "Aku tahu, Din. Tapi... kemarin dia cerita soal papanya. Dia kelihatan capek banget. Bukan capek fisik habis latihan basket, tapi capek... jiwa?"

"Halah, *pret*," dengus Dinda, meski tangannya merangkul bahu Keyla protektif. "Wes, ayo masuk kelas. Bu Ratna jam pertama, telat dikit bisa disuruh lari keliling lapangan."

Keyla mengangguk, tapi tangannya meraba saku rok abu-abunya. Ada kertas biru *navy* terlipat rapi di sana. Surat ke-22. Ia harus menemukan celah untuk meletakkannya. Misi 'Cassiopeia' belum selesai, justru semakin berbahaya.

***

Kesempatan itu datang saat pergantian jam pelajaran menuju istirahat pertama. Koridor penuh sesak dengan lautan manusia yang kelaparan menuju kantin. Keyla memanfaatkan kekacauan itu untuk menyelinap ke kelas XI IPA 1. Kelas itu kosong karena penghuninya sedang bergerak menuju laboratorium kimia di gedung sayap barat.

Dengan gerakan secepat kilat yang sudah terlatih selama berminggu-minggu, Keyla masuk, menunduk di samping meja Bintang, dan menyelipkan amplop biru itu di bawah tumpukan buku paket Fisika di dalam laci.

*Tap. Tap. Tap.*

Suara langkah kaki berirama *staccato* terdengar mendekat. Bukan langkah serampangan siswa laki-laki, tapi langkah tegas sepatu *loafers* mahal.

Keyla membeku. Jantungnya berdegup kencang menghantam rusuk. Ia tidak bisa keluar lewat pintu depan tanpa berpapasan. Matanya menyapu ruangan. Lemari sapu di belakang kelas terlalu jauh. Kolong meja guru terlalu terbuka.

"Lo yakin dia nyimpen di sini?"

Suara itu. Vanya.

Keyla merangkak mundur, bersembunyi di balik barisan meja paling belakang, menahan napas sampai paru-parunya terasa terbakar.

Vanya melangkah masuk, diikuti oleh dua dayang-dayangnya, Siska dan Meira. Aroma parfum *high-end* yang manis menyengat memenuhi ruangan, mengusir bau apek khas ruang kelas.

"Gue kemarin liat Bintang senyum-senyum baca kertas biru di kantin," suara Vanya terdengar tajam, tidak ada nada manja yang biasa ia gunakan di depan cowok. "Dan kemarin sore, gue liat dia ngasih minum ke si... siapa tuh, anak sastra yang kucel? Keyla?"

"Si *Invisible Girl* itu?" Siska tertawa meremehkan. "Nggak mungkin lah Bintang naksir dia. Paling cuma kasihan."

"Gue nggak suka ada yang caper sama milik gue," desis Vanya. Langkah kakinya mendekat ke meja Bintang.

Keyla memejamkan mata rapat-rapat. *Tamat riwayatku. Tamat.*

"Van, buruan! Pak Asep udah mau mulai absen di Lab!" Meira mengingatkan dengan nada panik dari ambang pintu.

Vanya mendengus kesal. "Ck, oke. Nanti gue cek lagi."

Suara langkah kaki menjauh. Keyla menunggu sepuluh detik—yang terasa seperti sepuluh tahun—sebelum berani menghembuskan napas. Kakinya gemetar hebat saat ia bangkit dan menyelinap keluar, kembali menjadi bayangan yang tak terlihat.

***

Bintang Rigel menemukan surat itu sepuluh menit kemudian, saat ia kembali ke kelas sebentar untuk mengambil jas lab yang tertinggal. Ia tersenyum tipis melihat ujung amplop biru yang menyembul malu-malu. Di tengah hiruk-pikuk ekspektasi orang-orang—tuntutan pelatih basket, omelan papanya tentang nilai Ekonomi yang harus sempurna, dan tatapan memuja siswi-siswi yang hanya peduli pada wajahnya—surat-surat Cassiopeia adalah satu-satunya oksigen murni yang bisa ia hirup.

Ia membukanya di sela-sela rak buku perpustakaan saat jam istirahat, tempat persembunyian favoritnya.

*Untuk Rigel, yang sedang menahan beban semesta.*

*Di astrofisika, ada konsep yang disebut Kesetimbangan Hidrostatis. Itu adalah kondisi di mana sebuah bintang bisa tetap utuh karena ada keseimbangan sempurna antara dua kekuatan besar: gravitasi yang menarik semuanya ke dalam (ingin meruntuhkan bintang itu sendiri), dan tekanan fusi nuklir dari inti yang mendorong keluar (cahaya dan energi yang ingin bersinar).*

*Papamu, pelatihmu, ekspektasi 'The Royals'—itu semua adalah gravitasi. Berat, menekan, dan memaksamu untuk runtuh ke dalam, menjadi kerdil. Tapi mimpimu menjadi arsitek, sketsa-sketsa gedung yang kamu gambar diam-diam di halaman belakang buku tulis Fisika-mu... itu adalah tekanan fusimu. Itu intimu.*

*Jangan biarkan gravitasinya menang, Gel. Kalau gravitasi menang, bintang mati dan meledak. Pertahankan fusimu. Teruslah mendorong keluar. Karena desain gedung yang kamu ceritakan di surat sebelumnya? Itu indah. Dunia butuh arsitek yang mengerti bagaimana membangun ruang untuk bernapas, bukan cuma gedung pencakar langit yang dingin.*

*Tetaplah bersinar, walau gravitasinya berat.*

*- Cassiopeia.*

Bintang terpaku. Tenggorokannya tercekat. Bagaimana gadis ini bisa tahu? Bagaimana dia bisa merangkai kata-kata yang menjelaskan kekacauan di dadanya dengan begitu presisi menggunakan istilah fisika yang seharusnya membosankan?

Ia meremas pelan kertas itu, bukan karena marah, tapi karena emosi yang meluap. Ia merasa ditelanjangi, tapi sekaligus dipeluk hangat. Cassiopeia tahu soal sketsa-sketsa rahasianya. Itu artinya Cassiopeia benar-benar memperhatikannya, bukan sekadar melihat "Bintang sang Kapten Basket".

Bintang mengeluarkan pulpen dan secarik *sticky note* kuning. Ia menulis balasan dengan cepat, tulisan tangannya sedikit berantakan karena urgensi.

*Cassiopeia,*

*Teorimu salah satu. Gravitasi terberat gue bukan Papa atau basket. Gravitasi terberat gue sekarang adalah rasa penasaran gue sama lo. Gue butuh tau siapa yang punya teleskop ini. Gue capek ngomong sama kertas. Gue pengen ngomong sama lo.*

*Bisa kita ketemu? Di rooftop, pulang sekolah nanti? Gue janji nggak akan maksa kalau lo belum siap, tapi seenggaknya... kasih gue tanda.*

*- R.*

Bintang menempelkan *sticky note* itu di bawah mejanya, tempat biasa mereka bertukar pesan.

***

Siang harinya, suasana di SMA Cakrawala semakin panas. Bukan hanya karena matahari Surabaya yang memanggang aspal lapangan basket, tapi karena ketegangan yang merambat di udara.

Keyla sedang berjalan membawa tumpukan buku tugas Bahasa Indonesia menuju ruang guru saat ia berpapasan dengan Bintang di koridor dekat tangga. Jarak mereka hanya satu meter.

Dunia seakan melambat.

Keyla menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku, berdoa agar ia menjadi tembus pandang. Tapi Bintang berhenti. Cowok itu menatapnya. Bukan tatapan kosong, tapi tatapan menyelidik.

"Keyla, kan?" suara bariton itu terdengar ragu.

Keyla berhenti. Lututnya lemas. "I-iya, Kak... eh, Bintang."

"Lo..." Bintang menggantung kalimatnya. Matanya mencari sesuatu di wajah Keyla. Mungkin mencari jejak kecerdasan Cassiopeia di balik kacamata minus dan sikap gugup gadis di depannya. "Lo temennya Dinda yang kemarin di perpus, kan?"

"Iya," cicit Keyla. *Tolong, jangan tanya soal surat. Tolong.*

"Kemarin, makasih ya," ucap Bintang, nadanya lebih lembut dari sebelumnya. "Lo kelihatan... beda dari yang lain."

Sebelum Keyla sempat mencerna maksud kalimat ambigu itu—apakah itu pujian atau sekadar basa-basi—suara hak tinggi menghantam lantai keramik memecah momen itu.

"Bintang!"

Vanya muncul dari belokan koridor, senyum manis terpasang sempurna di wajahnya yang dipoles *make-up* natural tapi mahal. Ia langsung menyelipkan tangannya di lengan Bintang, seolah memberi stempel kepemilikan. Matanya melirik Keyla sekilas dengan tatapan dingin yang kontras dengan senyumnya.

"Ngapain ngobrol sama dia?" tanya Vanya, nadanya terdengar polos tapi berbisa. "Anak-anak udah nunggu di parkiran lho. Kita mau *fitting* baju buat prom nanti."

Bintang melepaskan tangan Vanya perlahan tapi tegas. "Gue nggak ikut prom, Van. Gue sibuk."

"Sibuk apa sih? Sibuk nulis-nulis di kertas biru itu lagi?" Vanya menembakkan pelurunya.

Keyla tersentak. Buku di tangannya hampir jatuh. Ia melihat reaksi Bintang yang menegang. Vanya tahu. Vanya tahu soal kertas biru itu.

"Bukan urusan lo," jawab Bintang dingin, lalu menoleh ke Keyla. "Duluan ya, Key."

Bintang berlalu menaiki tangga. Vanya tidak mengejarnya. Sebaliknya, ia berbalik menghadap Keyla sepenuhnya. Senyum manisnya lenyap, digantikan ekspresi datar yang mengerikan.

"Keyla Aluna," Vanya mengeja nama itu perlahan, seolah sedang mencicipi racun. Ia maju selangkah, membuat Keyla mundur hingga punggungnya menabrak dinding koridor.

"Gue perhatiin, lo sering banget ada di sekitar Bintang pas dia lagi sendirian. Di perpus, di halte, sekarang di sini," bisik Vanya, jarak wajah mereka hanya sejengkal. Aroma parfum Vanya kini terasa mencekik. "Dan gue juga perhatiin, lo sering banget kelihatan panik kalau gue masuk ke kelas XI IPA 1."

Keyla menelan ludah, keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Aku... aku cuma kebetulan lewat, Van."

"Kebetulan?" Vanya tertawa kecil, suara yang tidak mencapai matanya. "Di kamus gue, nggak ada yang namanya kebetulan tiga kali berturut-turut."

Vanya mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Keyla. "Gue tahu lo nyembunyiin sesuatu. Dan asal lo tahu, gue akan cari tahu apa itu. Kalau lo berani macem-macem sama Bintang... lo bakal nyesel pernah sekolah di sini."

Vanya menarik diri, menepuk bahu Keyla dua kali seolah membersihkan debu, lalu melenggang pergi dengan anggun, meninggalkan Keyla yang gemetar hebat di koridor yang ramai namun terasa sunyi.

Keyla merosot, kakinya tidak kuat lagi menopang tubuh. Ancaman Vanya terasa nyata. Tapi yang lebih menakutkan adalah kenyataan bahwa ia harus kembali ke kelas Bintang untuk mengambil balasan surat.

Ia menunggu sampai sekolah sepi. Jam empat sore, saat sebagian besar siswa sudah pulang atau sibuk ekstrakurikuler. Dengan jantung berdebar, Keyla menyelinap ke kelas XI IPA 1. Ia meraba bagian bawah meja Bintang.

Ada *sticky note* di sana.

Keyla membacanya di bawah sinar matahari sore yang mulai jingga.

*"Bisa kita ketemu? Di rooftop..."*

Napas Keyla tercekat. Bintang ingin bertemu. Ini adalah impian yang menjadi kenyataan sekaligus mimpi buruk terbesarnya. Jika ia datang, ia harus membuka topengnya. Ia harus menunjukkan bahwa 'Cassiopeia' yang puitis dan cerdas itu hanyalah Keyla si gadis biasa yang membosankan. Bintang pasti akan kecewa. Realita tidak pernah seindah tulisan di atas kertas.

Tapi jika ia tidak datang... ia mungkin akan kehilangan kesempatan ini selamanya, apalagi dengan Vanya yang semakin agresif mendekat.

Keyla meremas kertas kuning itu di dadanya. Di atas, langit Surabaya mulai berubah warna, campuran antara oranye polusi dan ungu senja. Bintang biner sedang menari saling mengelilingi, dan Keyla tahu, sebentar lagi salah satu dari mereka harus meledak.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!