"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Mobil mewah Jeng Rini melaju membelah kemacetan Jakarta dengan suasana kabin yang luar biasa berat. Di kursi belakang, Mama Ratna masih memegangi dadanya, sementara Amel terus terisak meratapi pertunangannya yang hancur. Abdi hanya bisa menatap keluar jendela, bayangan Disa yang turun dari mobil bersama Pak Heru terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Cemburu, marah, dan malu bercampur jadi satu.
Rini melirik Abdi dari balik kacamata hitamnya. Ia melihat gurat frustrasi di wajah lelaki itu. Bukannya merasa ilfeel setelah mendengar borok Abdi di pengadilan tadi, Rini justru merasa "menang". Baginya, semakin hancur harga diri Abdi di depan Disa, semakin mudah bagi Rini untuk memiliki Abdi seutuhnya.
"Sudahlah Mas, Nggak usah dipikirkan omongan perempuan sombong itu," ujar Rini sambil mengelus tangan Abdi yang gemetar. "Dia itu cuma iri karena sekarang kamu punya aku. Lima ratus juta itu Kecil bagi aku kok, Mas. Nanti aku atur semuanya sama pengacaraku."
Abdi menoleh, menatap Rini dengan tatapan tak percaya. "Kamu... kamu nggak marah setelah dengar soal uang asuransi dan renovasi rumah itu, Rin?"
Rini tertawa kecil, suara tawanya terdengar penuh dominasi yang dibalut kasih sayang. "Mas, aku ini cinta sama kamu sejak dulu. Aku tahu kamu itu cuma terlalu sayang sama keluarga. Itu tanda kamu laki-laki setia. Disa saja yang nggak bisa memahamimu. Dia terlalu perhitungan, tipikal orang keuangan yang nggak punya hati."
"Tuh kan, Abdi! Dengar kata Jeng Rini!" timpal Mama Ratna dari belakang, suaranya kembali bertenaga setelah mendengar kata 'lima ratus juta' akan diurus. "Disa itu memang iblis! Dia mau kita mati kelaparan. Beruntung kamu punya jeng Rini yang hatinya seluas samudra."
Namun, di balik kebaikan itu Rini menggenggam tangan Abdi lebih erat, hampir mencengkeram. "Tapi ingat ya Mas, setelah semua ini beres, kamu nggak boleh lagi berhubungan sama Disa. Bahkan soal Fikri... kalau bisa, lupakan saja. Aku bisa kasih kamu anak baru nanti. Aku nggak mau uangku mengalir ke anak yang dididik oleh perempuan seperti Disa."
Abdi terdiam. Ia merasa seolah baru saja menandatangani kontrak dengan setan. Di satu sisi ia selamat, di sisi lain, ia kehilangan haknya sebagai seorang ayah.
Sore harinya, di depan rumah Mama Ratna.
Sebuah mobil petugas pengadilan baru saja selesai memasang papan kayu berukuran besar di halaman depan. Papan itu bertuliskan: TANAH DAN BANGUNAN INI DALAM SITA JAMINAN PENGADILAN AGAMA.
Tetangga sekitar mulai berbisik-bisik. Beberapa dari mereka mengambil foto dan menyebarkannya di grup WhatsApp lingkungan. Nama keluarga Abdi yang dulu disegani karena kemewahannya, kini jadi bahan rujukan "keluarga parasit".
Begitu mobil Rini sampai di depan rumah, Mama Ratna hampir pingsan lagi melihat papan itu. "Hancur... hancur martabat Mama, Di!" jeritnya.
Rini turun dari mobil dengan gaya angkuhnya. Ia menatap petugas pengadilan dengan sinis. "Pasang saja papan ini sekarang. Tapi ingat, sebentar lagi saya akan beli kembali harga diri keluarga ini dengan tunai!"
Rini menoleh ke arah Abdi. "Mas, bawa Mama dan adik-adikmu ke perumahanku sekarang. Tinggalkan rumah ini. Biarkan Disa puas melihat rumah kosong. Kita akan bangun kekuatan baru di tempatku."
Abdi mulai mengangkut kardus-kardus pakaian ke dalam mobil Rini. Ia merasa sangat terhina. Sebagai lelaki, ia kini benar-benar menjadi benalu. Ia melihat Andi hanya berdiri sambil merokok tanpa membantu, sementara Amel sibuk menangis di dalam mobil karena di putus oleh calon tunangan nya.
"Mas, aku nggak mau tinggal di perumahan biasa! Aku mau tinggal di apartemen saja!" keluh Amel manja.
"Diam kamu, Mel! Kamu nggak lihat kita lagi susah? Sudah untung ada Rini yang mau kasih kita tempat tinggal!" bentak Abdi yang emosinya sudah di ubun-ubun.
Malam harinya, di Kantor Disa.
Disa masih berada di ruangannya, ditemani oleh Pak Heru yang membawakannya secangkir kopi hangat.
"Kamu yakin Dis mau lanjut dengan tuntutan lima ratus juta itu, Dis? Sepertinya Rini benar-benar buta karena cinta. Dia bakal bayar semuanya," ujar Pak Heru.
Disa menyesap kopinya, senyum misterius terukir di bibirnya. "Itulah tujuanku, Pak. Aku ingin Rini membayar semuanya. Aku ingin dia mengeluarkan uang sebanyak mungkin untuk laki-laki yang tidak berguna itu. Semakin banyak dia membayar, semakin dia akan merasa memiliki Abdi. Dan saat itulah, Abdi akan merasa tercekik."
Disa membuka laptopnya, menunjukkan sebuah data baru. "Dan ini bom terakhirnya. Aku sudah melacak aset-aset toko emas Rini. Ternyata ada beberapa kendala perizinan di salah satu cabangnya. Kalau dia terus-terusan membuang uang untuk kasus hukum Abdi, fokusnya akan terpecah. Aku ingin mereka berdua hancur bersama."
Pak Heru tertawa pelan. "Kamu benar-benar auditor yang berbahaya, Dis. Kamu nggak cuma menghitung uang, kamu menghitung kehancuran orang."
Tiba-tiba, ponsel Disa berdering. Panggilan dari Abdi. Disa menatap layar ponselnya sejenak, lalu mengangkatnya dan menyalakan loudspeaker.
"Disa! Tolong cabut gugatan lima ratus juta itu! Kamu sudah ambil rumah Mama, apalagi yang kamu mau?!" suara Abdi terdengar serak di seberang sana.
"Aku mau keadilan, Mas. Uang itu bukan untukku, tapi untuk tabungan masa depan Fikri yang sudah kamu rampas," jawab Disa tenang.
"Rini akan bayar! Tapi tolong, jangan permalukan keluargaku lagi di media! Amel gagal tunangan gara-gara kamu!"
"Oh, jadi kamu lebih peduli sama tunangan Amel daripada masa depan anakmu sendiri?" Disa memutar bola matanya. "Bagus kalau Rini mau bayar. Bilang sama dia, aku tunggu transferannya besok sebelum jam kerja berakhir. Kalau tidak, aku akan tambahkan bunga berjalan."
"Disa, kamu sudah berubah jadi monster yang sangat mengerikan, bahkan kamu menghalalkan segala cara demi uang!" teriak Abdi sebelum akhirnya Disa mematikan sambungan telepon.
Disa menatap Pak Heru. "Monster? Tentu Tidak Mas, Aku hanya sedang menjadi cermin bagi apa yang mereka lakukan padaku selama ini dan soal menghalalkan segala cara." Ucap Disa dan tersenyum remeh. "Aku bukan menghalalkan segala cara Abdi tapi aku sedang memperjuangkan hak anakku." Jawab Disa dan langsung mematikan panggilan dari Abdi secara sepihak.
Abdi masih duduk di tepi tempat tidur yang sangat luas setelah menelfon Disa. Rini keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono, menatap Abdi dengan tatapan lapar.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi mantan istrimu itu. Malam ini, fokus saja sama aku," ujar Rini sambil memeluk Abdi dari belakang. "Aku sudah transfer seratus juta untuk biaya rumah sakit Mama dan pengacara Amel. Besok, aku akan urus yang lima ratus juta itu. Tapi ingat janji kamu, Mas... kamu milikku sekarang."
Abdi memejamkan mata. Ia merasa nyaman secara fisik, tapi batinnya meronta. Ia baru sadar bahwa ia telah pindah dari satu pengabdian (pada Mamanya) ke pengabdian lain yang jauh lebih mengikat. Ia kini hanyalah "pajangan" mewah di rumah Rini.
Sementara itu, Mama Ratna dan adik-adiknya mulai menikmati kemewahan rumah baru pemberian Rini. Mereka tidak peduli jika Abdi harus menjual harga dirinya, asalkan mereka tetap bisa hidup mewah dan pamer di media sosial seolah-olah mereka tidak sedang bangkrut.
"Lihat ini, Mel," ujar Mama Ratna sambil mencoba tas pemberian Rini. "Disa pikir dia bisa bikin kita miskin? Dia salah besar! Kita malah dapat yang lebih kaya!"
Mereka tidak tahu, bahwa di kejauhan, Disa sedang menyiapkan langkah pamungkas yang akan meruntuhkan "istana emas" Rini sekaligus.
udh dpt lmpu hjau dr clon mrtua tu disa,jd kl arlanda ngjak srius trima aja...
s bpk gercep bgt buat pdkt sm disa....udh bkin heboh krna smp rela jmput pjaan hti,d ajk kncan jg.....
skluarga jd piaraan smua..yg laki piaraan tante girang,yg wnita piaraan om hdung belang.....ccckkkk......
Dr yg songong'nya amit2,skrng jualn tisu buat mkn...ada lg yg lbh lwak,mntan suami yg ngrim chat cma buat mnta uang.....y aampuuunnn.....
ga ush mkrin mreka yg udh bkin km mndrta,biar aja mreka jd gmbel....yg pnting km sm kluargamu baik2 aja,apa lg skrng bestie sm holang kaya....
eehhh....spa lg tu yg bkln nysul jd gmbel???brani bgt ngusik disa yg udh d lndungi sm sing galak.....
disa emng kerennn...dlu d abaikn suami,d hina mrtua plus ipar yg sma2 gila....smp hrus mnhan lpar dmi bakti...skrng....dia mmetik buah dr ksbaran'nya....smnggttt...