Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Yang Berjalan
Keputusan Tuan Pratama akhirnya keluar. Meski Zayden sudah lulus ujian kejujuran yang sangat memalukan itu, sang penguasa mansion tetap memberikan kontrak politik yang sangat ketat. Ia tidak akan membiarkan putrinya dibawa keliling kota dengan motor yang knalpotnya berisik.
Tuan Pratama duduk di kursinya sambil mengetuk-ngetukkan pena mahal di meja. "Zayden, ini syarat terakhir. Kamu boleh pacaran dengan Amy, tapi ada aturannya."
"Apa itu, Tuan? Saya siap tempur," jawab Zayden mantap, meski hatinya was-was.
"Satu, kalian dilarang kencan berdua di luar. Tidak ada nonton bioskop, tidak ada makan malam di luar, dan tidak ada jalan-jalan ke bukit tempat kalian biasa kencan," Tuan Pratama menatap Zayden tajam.
"Kedua, semua kencan dilakukan di rumah ini. Di ruang tamu utama, dengan pintu terbuka lebar, dan dalam pengawasan saya atau pengawal."
Zayden melongo. "Hah? Jadi kalau saya mau nanya sudah makan belum ke Amy, ada pengawal yang nyatet di buku laporan, Tuan?"
"Tepat sekali. Dan jarak duduk kalian tidak boleh kurang dari satu meter. Paham?"
Amy yang berdiri di samping Zayden hanya bisa menepuk jidat. "Papa, itu namanya bukan pacaran, itu namanya sidak anggota DPR!"
Malam minggu pertama pun tiba. Zayden datang ke mansion dengan penampilan paling rapi seumur hidupnya, kemeja flanel dikancing sampai leher dan rambut yang klimis disisir rapi (walaupun masih bau oli sedikit).
Mereka duduk di sofa panjang ruang tamu. Amy di ujung kiri, Zayden di ujung kanan. Di antara mereka, ada sebuah penggaris kayu sepanjang satu meter yang diletakkan Tuan Pratama sebagai pembatas.
Tuan Pratama sendiri duduk di kursi seberang sambil membaca koran, namun matanya terus mengintip dari balik lembaran kertas. Sementara itu, Dio dan kawan-kawan Zayden yang menunggu di luar gerbang terus mengirim pesan singkat.
Dio: "Gimana Bos? Udah dapet pegangan tangan?"
Zayden: "Gimana mau pegangan, tangan gue kalau geser dikit langsung kena penggaris. Berasa lagi ujian Matematika!"
"Zayden, kenapa diam saja? Katanya mau kencan?" tanya Tuan Pratama tanpa mengalihkan pandangan dari koran.
Zayden berdeham, mencoba mencari topik. "Anu... Amy, kamu tahu nggak bedanya kamu sama kursi ini?"
Amy menahan tawa. "Apa, ay?"
"Kalau kursi buat didudukin, kalau kamu buat diperjuangin meski papanya galak bener," bisik Zayden pelan.
"Ehem!" Tuan Pratama berdehem sangat keras. "Dilarang berbisik-bisik! Bicara yang lantang!"
Zayden tersentak. "Anu, Tuan! Saya cuma bilang kalau Amy malam ini cantik banget seperti lampu taman yang baru diganti bohlamnya!"
Amy tertawa kecil, menutupi mulutnya. Ia merasa kasihan melihat Zayden yang tampak sangat tertekan.
"Zayden, kamu nggak capek duduk tegak terus? Santai aja."
"Gimana mau santai, My. Aku ngerasa Si Pitter lagi dipantau pake radar militer di sini," bisik Zayden lagi, yang langsung dihadiahi pelototan dari Tuan Pratama.
Karena dilarang mendekat, Zayden mulai memutar otak. Ia melihat sebuah kotak tisu di tengah meja. Dengan perlahan, ia menggerakkan jemarinya di atas meja, berjalan seperti laba-laba menuju ke arah Amy di balik kotak tisu tersebut.
Begitu jemari Zayden berhasil menyentuh ujung jari Amy, Amy tersenyum lebar. Itu adalah sentuhan paling menegangkan dalam hidup mereka, lebih menegangkan daripada saat dikejar polisi.
Namun, Tuan Pratama tiba-tiba menurunkan korannya. "Zayden! Kenapa tanganmu berjalan-jalan di meja? Mau main congklak?"
Zayden langsung menarik tangannya secepat kilat.
"Nggak, Tuan! Saya cuma lagi... ngecek kualitas kayu meja Tuan! Wah, jati asli ya? Bagus sekali!"
Malam itu berakhir dengan Zayden yang pulang dengan pinggang pegal karena duduk terlalu tegak, tapi Amy merasa sangat bahagia. Di tengah pengawasan ketat, mereka belajar bahwa rindu justru makin membara saat ada jarak satu meter di antaranya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰🥰😍