NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:645.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Jenguk Bu Rika

Baby Ezio menggenggam jarinya.

Raisa terdiam.

Di benaknya, wajah ibunya terlintas. Tubuh Bu Rika yang lemah pagi tadi. Uang dua puluh ribu yang diberikan dengan senyum menahan sakit.

Kalau saja aku punya uang lebih ..., pikir Raisa.

Ia menelan ludah.

Dari balik pintu yang setengah terbuka, Krisna berdiri diam.

Ia tidak berniat mengintip. Ia hanya kebetulan lewat. Tapi kakinya berhenti sendiri.

Ia melihat Raisa duduk di samping ranjang, tubuhnya condong ke depan, ekspresinya lembut—berbeda jauh dari gadis ketus yang ia temui di jalan.

Ada rasa bersalah yang muncul pelan, tapi menekan.

Ia berdeham pelan.

Raisa menoleh, sedikit kaget. “Oh ... Mas.”

“Ezio bangun?” tanya Krisna.

“Enggak,” jawab Raisa. “Cuma ngigau dikit.”

Krisna mengangguk. Hening sejenak.

“Soal tadi—” Krisna membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Raisa menatapnya datar. “Sudah, Mas. Nggak usah dibahas.”

Krisna menelan ludah. “Ibu saya minta saya cek kondisi ibu kamu.”

Raisa terkejut. “Mak saya?”

“Iya,” jawab Krisna. “Sebagai dokter.”

Raisa ragu sejenak. “Mak saya cuma masuk angin. Mas Krisna, nggak perlu repot-repot diperiksa.”

“Kadang yang dibilang masuk angin itu lebih dari itu,” balas Krisna tenang.

Raisa tidak langsung menjawab. Lalu ia mengangguk kecil. “Kalau Mas mau … silakan. Tapi—” Ya, ujung-ujungnya masalah duit buat bayar jasa dokter.

Krisna mengangguk. “Saya akan ke sana.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan Raisa kembali sendiri bersama Noval, tanpa menunggu komentar gadis itu.

Raisa menghembuskan napas pelan.

Kenapa hidup jadi ribet gini, batinnya.

Sore nanti, ia akan pulang. Jam enam. Seperti kesepakatan. Tidak lebih.

Namun jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mulai goyah—sesuatu yang ia tidak mau beri nama.

Sementara di ruang kerja, Krisna duduk kembali, menatap berkas lamaran pengasuh.

Mayang.

Ayu.

Lena.

Dan tanpa sadar, di pikirannya, muncul satu nama yang tidak tertulis di kertas mana pun.

Raisa.

Gadis 19 tahun. Ketus. Barbar. Anak ART.

Dan entah sejak kapan, ia menjadi pusat gravitasi kecil yang mengganggu keseimbangan hidup Krisna Wijaya.

***

Menjelang sore, langit desa kembali berwarna tembaga pucat. Matahari turun perlahan di balik hamparan sawah, meninggalkan udara yang lebih dingin dan tenang. Krisna keluar dari rumah orang tuanya dengan tas medis tersampir di bahu dan helm hitam di tangan.

Ibunya sempat menatap heran dari teras.

“Kamu mau ke mana, Na?”

“Katanya, aku suruh ngecek Bu Rika, Bu,” jawab Krisna singkat.

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Mesin motor dinyalakan, lalu Krisna melaju menyusuri jalan desa yang sempit. Di kepalanya, alamat rumah Bu Rika terbayang—alamat yang disebutkan Bik Sum dengan nada prihatin.

Rumah Bu Rika.

Ia tidak tahu kenapa langkah ini terasa ... perlu. Sebagai dokter, tentu. Tapi juga sebagai manusia—dan mungkin sebagai seseorang yang masih membawa rasa bersalah yang belum selesai.

Motor berhenti di depan sebuah rumah kecil berdinding tembok sederhana, catnya mulai pudar. Tidak ada pagar, hanya halaman tanah dengan beberapa pot tanaman yang disusun rapi. Rumah itu jauh dari kata mewah, tapi bersih. Layak huni. Hangat dengan caranya sendiri.

Krisna mematikan mesin, melepas helm, lalu melangkah ke depan pintu kayu yang tampak sering disentuh tangan.

Tok. Tok.

Beberapa detik berlalu. Dari dalam terdengar langkah pelan, lalu suara lirih.

“Iya … tunggu sebentar .…”

Pintu terbuka.

Bu Rika berdiri di sana dengan sweater lusuh berwarna abu-abu, rambutnya terikat seadanya. Wajahnya tampak pucat, matanya sedikit cekung. Begitu melihat siapa yang berdiri di depannya, matanya membesar.

“Den Krisna …?” suaranya tercekat. “Ya Allah .…”

Ia refleks hendak membetulkan kerah sweater-nya, lalu menunduk gugup.

Krisna menegakkan bahu. “Ibu saya bilang Bu Rika lagi sakit. Saya datang untuk mengecek.”

Bu Rika langsung menggeleng cepat. “Aduh, Den … jadi merepotkan Den Krisna. Saya cuma masuk angin saja. Tidak perlu sampai—”

“Tidak merepotkan, Bu,” potong Krisna lembut. “Mumpung saya ada waktu luang. Klinik juga belum buka.”

Ia melirik ke dalam rumah sekilas—sederhana, tapi tertata. Ada foto keluarga di dinding, kalender lama, dan sebuah dipan bambu di ruang tengah.

“Kalau begitu, saya langsung periksa ya, Bu,” lanjut Krisna. “Bu Rika bisa berbaring di dipan.”

Bu Rika tampak ragu, lalu mengangguk pelan. “Iya, Den.”

Ia berjalan perlahan ke dipan, tubuhnya tampak lemah. Krisna masuk, menutup pintu, lalu meletakkan tas medisnya di meja kecil. Gerakannya profesional, tenang—berbeda dengan interaksi mereka sebelumnya yang canggung dan penuh jarak.

“Sejak kapan merasa tidak enak badan?” tanya Krisna sambil mengenakan stetoskop.

“Dari subuh, Den,” jawab Bu Rika lirih. “Pusing, perut nggak enak, badan panas dingin.”

“Demam?”

“Sedikit.”

Krisna memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, mendengarkan napas, menekan perlahan bagian perut. Ia mencatat cepat di buku kecil.

“Tekanan darah agak turun,” katanya. “Lambungnya sensitif. Sepertinya kelelahan dan kurang istirahat.”

Bu Rika menatap langit-langit, matanya berkaca. “Iya, Den. Akhir-akhir ini saya memang capek.”

Krisna mengangguk. Ia membuka tas, mengeluarkan obat-obatan.

“Bu Rika perlu istirahat total dua-tiga hari,” katanya tegas tapi hangat. “Ini obat demam, obat lambung, dan vitamin. Minumnya sesuai aturan.”

Bu Rika menatap obat-obat itu seakan melihat sesuatu yang berharga. Tangannya gemetar saat menerimanya.

“Den …,” suaranya pecah. “Terima kasih banyak.”

Krisna tersenyum tipis. “Sama-sama, Bu.”

Air mata Bu Rika menetes pelan. Ia buru-buru mengusapnya, malu. “Selama ini saya jarang ke dokter, Den. Kalau sakit ya minum jamu atau dikerokin. Uang … ya Den tahu sendiri.”

Krisna terdiam sejenak. Ia tahu. Ia melihatnya sekarang, lebih dekat, lebih nyata.

“Bu Rika tidak perlu bayar apa-apa,” katanya akhirnya. “Obat juga.”

Bu Rika menggeleng cepat. “Aduh, Den … saya—”

“Anggap saja ini tanggung jawab saya sebagai dokter,” potong Krisna. “Dan sebagai manusia.”

Bu Rika menunduk, bahunya bergetar. “Den Krisna baik sekali.”

Keheningan turun sebentar, diisi suara jangkrik dari luar. Bu Rika menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan hati-hati.

“Den … saya minta maaf sekali atas kelakuan anak saya.”

Krisna menatapnya. “Raisa?”

Bu Rika mengangguk. “Anak saya itu keras, Den. Mulutnya kadang nggak dijaga. Kalau Den marah … saya mengerti.”

Krisna tidak langsung menjawab.

“Kalau Den minta ganti rugi kaca mobil itu,” lanjut Bu Rika dengan suara makin lirih, “Saya minta dicicil ya, Den, kan tahu gaji saya tidak seberapa. Raisa juga sedang cari pekerjaan. Belum dapat sampai sekarang.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghantam.

“Jadi,” kata Krisna pelan, “Raisa sedang cari pekerjaan?”

Bersambung ... 💔🔥

1
Wiek Soen
sabar mas dokter dapat istri perawan yg masih lugu😁
Nurminah
hadeh dunia novel pada malu2 semua walaupun udah dewasa dan duda yg pernah ngerasain bisa nahan nafsu dunia nyata hadeh mana da kali ya hehe
cabe2an aja nggak ada malunyaaa haha
Wiek Soen
zio jangan ganggu mama papa ya le😂😂😂😂
Lilis Yuanita
duh.. kpn mp nya.. keburu enzio bangun😄😄
Kar Genjreng
belum berani belah Duren nya,,,sabar ya Raeder 😂 karena Raisa pemula dan sedang kan Mas Kris ,,, sudah duren ,,,tapi benar ya serasa Krisna mendapatkan lotre ber M M. mendapatkan Raisa justru tidak bisa di samakan dengan pesta mewah makan di hotel berbintang,,,, tetapi makan malam romantis bersama putra kecilnya,,,,ini justru lebih mewah,,, cintanya Papa Kris di saksikan Putranya ❤️sungguh bulan madu tak terlupakan tetapi bukan hal buruk justru hal membagakan ,,,dan berkesan. karena menemukan dua malaikat yang menyejukkan dan damai,,, terimakasih Yo Mommy update nya,,, Sehat selalu,,❤️❤️🌹🌹🌹🌹😂😂🤩🤩
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
mumpung Ezio bobok lhooo.... gercep dah.. 😄😄😄😉😉😉
Naufal Affiq
Aduh kasihan kamu mas dokter,di tunda dulu ya,karena istri kecilmu masih belum bisa beradaptasi sama pawangnya
Chauli Maulidiah
munduuurrr maneeeehhh...kpn nyobloseee..
Ruwi Yah
yg baca aja tegang apa lagi mas duda,, sabar ya kris maklum istrimu sangatlah polos
Mommy El
lanjut mom
Nar Sih
mesti nunggu lagi mas dokter ,maklum lah msih kecil blm pegalaman jdi mesti bnyk sabarr nya dulu ,dan semoga disaat raisa udah siap ,ezioo jdi penganggu lgi☺️
Aprisya
berbukanya tunda dulu🤣🤣🤣🤣 kasih raisya indukasi tipis2 dong bang🥰🥰🥰
Nar Sih
sabarrr ya papa dokter ,selama enzo blm bobo pasti gk tenang acara menjelang mp nya ,😂😂💪
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
modus nih mas yang tidak lagi duda🤣🤣🤣
call mi
mau un boxing aja lama benerrr 🤭🤭🤭
Rina Rembah
sing sabar mas dokter..hehehe
neng raisa jangan lama2 gantung si mas
si author niee...gong nya..wkwkkk
Sugiharti Rusli
tapi kalo sudah jaman internet gini, seharusnya sih sudah banyak artikel yah dan ringgal di cari saja sih😁😁😁
Sugiharti Rusli
tapi hal" kecil ini bisa jadi bumbu yang bikin suasana jadi romantis yah, memberi kecupan" sebagai awalan yah pak dokter
Sugiharti Rusli
sebetulnya hal itu biasanya akan datang secara alamiah sih, paling karena baru pertama disentuh laki" jadi pasti Raisa masih gugup
Sugiharti Rusli
sebagai orang yang sudah berpengalaman menikah, kamu memang yang harus mengajarinya pelan" yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!