Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibikin malu
Waktu Buka puasa sudah tiba, wajah Dewa bukannya riang tetapi malah muram, karena ketiga temannya, selalu bikin kesal, selalu mencari perhatian kepada pacar rasa babu nya, bahkan Cristian yang biasanya sedikit kalem, malah jadi sok cari perhatian minta ini itu kepada Ana.
“Bisa gak kalian ambil sendiri, gak usah nyuruh Ana, sini kamu, aku mau makan, gak usah ladeni mereka,” ucap Dewa menarik Ana duduk disampingnya, Ana hanya menghela nafas panjang, kesabaran nya benar-benar diuji oleh makhluk-makhluk menyebalkan, yang berwajah tampan.
“Posesif,” celetuk Aldo menyindir.
“Suka-suka gue lah, kan tuan rumah,” jawab Dewa sembari mangap, dan Ana menyuapi, membuat ketiga temannya langsung menjatuhkan sendok nya, karena terkejut, mulut mereka sampai terbuka lebar, membuat Dewa mesem, sangat puas dengan reaksi temannya, merasa diatas angin.
“Tutup mulut kalian nanti kalau kemasukan lalat baru tahu rasa,” ucap Dewa sembari mengunyah.
“Anjir, kayak bayi aja loe disuapin,” ucap Aldi dengan wajah iri, ia sudah diambilkan makan sama Ana sudah senang, Dewa malah disuapin apa tidak kena mental.
“HoOh, kayak gak punya tangan aja, jangan-jangan loe tiap hari kayak gitu,” sahut Aldo dan Dewa mengangguk, membuat mereka kembali shock.
“Asu tenan, pantes badan loe berubah sekarang, gak kurus lagi, trus juga sekarang kamu suka makan, lha ada pawangnya ternyata,” ucap Tian lemes, merasa iri banget.
“Jelas lah mas Dewa suka makan, orang aku kasih vitamin dan aku minumin obat cacing.” jawab Ana polos dan tanpa dosa, membuat mereka berempat langsung menyemburkan makanannya termasuk Dewa, Aldo tertawa ngakak, tidak bisa lagi menahannya, diikuti oleh Aldi, sedangkan Cristian melipat bibirnya sebisa mungkin untuk tidak tertawa.
“Kocak bener dah, loe kasih Dewa obat cacing?” tanya Aldi disela tawanya, Ana mengangguk.
“Kak Tian mau juga, biar senang makan?” tanya Ana polos, membuat Aldi dan Aldo kembali tergelak, bahkan mereka tidak jadi makan sudah terduduk dilantai, pipi mereka sampai terasa sakit karena tertawa.
“Astaga, bisa kram perutku, obat cacing Cok.” ucap Aldo menggeplak bahu Aldi.
“Seorang Dewa dikasih obat cacing, hahaha.” Aldi semakin tidak bisa menahan tawa, bagaimana bisa si botol Yakult berpikir Dewa cacingan, hanya gara-gara Dewa malas makan. Sedangkan Dewa hanya mendengus kesal melihat teman-temannya, menertawakannya. Malu. Sementara Tian yang mendapat pertanyaan langsung menggeleng ribut, sedangkan Ana hanya planga-plongo bingung, kenapa mereka semua tertawa, memang apa salahnya memberi vitamin dan obat cacing, bukankah itu wajar kalau ada yang susah untuk makan, pikirnya.
“Kalian diem, atau cabut dari sini “ peringat Dewa geram, astaga habis sudah harga dirinya, ia pasti akan selalu jadi olok-olok kan temannya seumur hidup. Mereka bertiga langsung kicep dan kembali memakan makanan mereka walau kadang Aldi masih cekikikan, sungguh ia tidak bisa menahannya, kalau mengingat ucapan Ana terlebih membayangkan wajah Dewa yang diberi obat cacing. Setelah huru hara yang terjadi mereka pulang, karena diusir oleh Dewa dengan paksa. Ana kembali mempersiapkan kebutuhan Dewa untuk kuliah besok, tidak ada percakapan atau pun kemanjaan Dewa yang minta ini dan itu, Dewa lagi ngambek.
“Mas jangan lupa, besok pakai tas yang warna hitam, jangan sampai salah, nanti ngereog lagi, aku yang disalahin.” ucap Ana dan hanya mendapat jawaban singkat
“Hem,” Dewa fokus pada HP nya, Ana tidak merasa ada yang salah dan keluar kamar begitu saja, Dewa melirik.
“Gak peka.” gumam nya kesal.
***
Hari lebaran sudah dekat, libur sudah tiba, Ana memasang wajah melas dihadapan Dewa.
“Ya mas, besok aku pulang ya, tinggal seminggu lagi lho lebaran,” bujuk Ana.
“Gak, baru boleh pulang kalau tinggal tiga hari, nanti aku sama siapa, gak ada yang ngurus aku,” jawab Dewa sudah yang kesekian kali, ia sungguh tidak rela ditinggalkan, pasti akan sepi tanpa pacar yang suka merepet nya, tidak ada yang nyuapin, tidak ada yang bangunkan, memikirkan nya saja ia sudah tidak bisa, sudah terlanjur terbiasa.
“Ayolah mas, nanti aku dimarahi emak, soalnya sudah libur, kenapa gak pulang-pulang,” lanjut Ana masih tidak menyerah, ia sudah kangen sekali sama keluarganya, kangen masakan cumi pedas emak nya.
“Ya bilang aja masih ada tugas beberapa hari, kan bisa,” jawab Dewa yang masih kekeh dengan keinginannya tidak mau jauh dari babu rasa pacar, somplak memang. Ana cemberut, dan mengalah kali ini,ia menghela nafas panjang.
“Ya udah kalau gitu aku kekamar dulu,” ucap Ana dengan wajah sedih dan beranjak pergi. Dewa hanya terdiam tidak menyahut. Sesampainya dikamar sudah ada bik Sum, yang sedang mengambil seprai kotor.
“Kenapa wajahnya ditekuk gitu?” tanya bik Sum heran.
“Gak papa bik, hanya gak dibolehin pulang aja sama mas Dewa, kan Ana sudah bilang bik biar Ana yang bawa turun seprai nya, Ana ini juga bukan tuan rumah disini, Ana bisa kerjain, bibik gak perlu kekamar Ana untuk mengambil,” ucap Ana tidak enak.
“Gak papa, bibik sudah sangat senang non Ana bisa buat nak Dewa berubah, sekarang sudah tidak sekaku dulu, sudah banyak senyum, dari dulu bibik Cuma berharap nak Dewa bisa hidup normal seperti anak-anak lain, bisa tersenyum, bisa berekspresi kalau lagi marah, bukan hanya diam. Sekarang nak Dewa sudah lebih baik, terimakasih non Ana bibik benar-benar senang nak Dewa sudah berubah,” ucap bik Sum menepuk-nepuk punggung tangan Ana tulus. Ana tersenyum.
“Ana hanya menjalankan tugas, seperti yang bibik mau, soal berubah, itu karena mas Dewa yang mungkin ingin berubah, bukan karena Ana, mas Dewa memang baik kok, cuma ya gitu, hanya kurang perhatian saja, kasian ya bik, selama Ana disini, bahkan orang tuanya gak pernah pulang, apa lebaran mereka juga gak pulang bik?” tanya Ana penasaran.
“Mungkin sehari sebelum lebaran mereka pulang, itu pun kadang gak lama mereka disini, cuman tiga hari biasanya.” jawab bik Sum, yang matanya sudah berkaca-kaca, bila mengingat masa kecil Dewa yang benar-benar tanpa kasih sayang, bahkan hingga saat ini, bik Sum tidak tahu apa yang mereka kejar, hingga menelantarkan anak sendiri, harta yang seperti apa lagi, hingga mengorbankan seorang anak.
“Hah manusia memang kadang kurang bersyukur, emak selalu bilang, apa pun yang kita punya harus disyukuri, jangan memandang keatas, tapi pandanglah kebawah, masih banyak yang lebih tidak mampu dari kita, agar kita bersyukur, lihatlah keatas, untuk membuatmu bersemangat, bukan membuatmu lupa dan meninggalkan segalanya, kalau Ana mah yang penting bisa hidup, dah lah gak usah bingung, rezeki udah ada yang ngatur, gak mungkin tertukar, hanya jangan malas aja,” ucap Ana cengengesan, sepertinya ucapannya hanya sekedar omong kosong, padahal dalam. Bik Sum tersenyum dan berdoa semoga Dewa mendapatkan jodoh seperti Ana, agar hidupnya lurus, dan lebih berwarna.
Selamat menunaikan ibadah puasa untuk para pembaca, jangan lupa like, coment dan bintangnya biar Author semangat nulis, terimakasih.🥰 Ayo berburu takjil.. 💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰