"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Kiandra dan Dexter tiba di perusahaan. Mereka keluar dari mobil yang sama. Dan itu dilihat oleh karyawan dan karyawati di perusahaan itu.
Termasuk Sela yang baru memulai pekerjaannya. Dia mengepalkan tangannya melihat tuannya bersama Kiandra.
"Nanti pulang sama-sama," kata Dexter.
"Tapi aku bawa mobil sendiri," kata Kiandra.
Dexter tidak perduli, dia tetap akan pulang bersama dengan Kiandra. Kiandra akhirnya mengalah dan mengiyakan.
Kiandra masuk ke mobilnya untuk berganti pakaian. Sementara Dexter langsung ke lift untuk ke lantai atas.
"Kiandra, ada hubungan apa kamu dengan tuan Dexter?" tanya salah satu rekan kerjanya. Saat ini Kiandra sudah berada didekat mereka.
"Jangan salah paham, tuan Dexter hanya mengajak aku makan," jawab Kiandra.
"Tapi tatapannya sepertinya tuan Dexter menyukai mu," kata rekannya yang lain.
"Mana mungkin, aku hanya seorang cleaning service. Nggak selevel dengan tuan Dexter yang begitu sempurna," kata Kiandra.
Kiandra mengambil alat kerjanya. Karena waktu istirahat sudah habis. Namun, Sela yang tidak terima dengan kedekatan Kiandra dengan Dexter pun menghampirinya.
"Jauhi tuan Dexter," kata Sela sambil meraih pundak Kiandra.
Kiandra berbalik, karena Sela menyentak pundak Kiandra cukup kuat. Kiandra yang terbiasa latihan fisik saat bela diri pun tidak bergeming.
Tubuhnya tetap kokoh berdiri. Andai saja, Kiandra gadis yang lemah, sudah pasti tubuhnya akan terhuyung, atau paling tidak akan jatuh ke lantai.
"Kamu lagi. Sebenarnya dendam apa sih kamu sama aku? Heran deh," ujar Kiandra yang tidak ingin memperdulikan perlakuan Sela.
Rekan yang lainnya hanya memperhatikan mereka. Sela memang sudah lama bekerja di sini, jadi mereka tidak ada yang berani melawannya.
Sebenarnya mereka hanya malas mencari ribut. Mereka masih sayang pada pekerjaan, bisa saja mereka melawan, tapi mereka tidak ingin dipecat hanya gara-gara masalah itu.
Kiandra melepaskan tangan Sela yang masih berada di pundaknya. Namun, Sela malah melayangkan tinjunya ke arah Kiandra.
Kiandra dengan gesit menghindar, sehingga pukulan itu tidak mengenai dirinya. Para karyawan dan karyawati yang melihat keributan itupun berkumpul menonton.
"Ternyata gerakan mu cukup cepat," kata Sela. Sela yang belajar seni bela diri karate pun mencoba menghajar Kiandra.
"Maaf, ini tempat kerja. Jika ingin bertarung, tunggu sampai selesai bekerja. Tentukan tempatnya dan waktunya," kata Kiandra masih dengan nada rendah.
"Ada apa ini?" Mendengar suara dari arah samping mereka, Kiandra dan Sela pun menoleh.
"Maaf Bu Naomi. Saya tidak tahu apa salah saya, dia tiba-tiba mencari masalah dengan saya," jawab Kiandra.
Sela juga membela diri dengan mengatakan jika Kiandra yang duluan mencari gara-gara. Namun, Naomi hanya tersenyum tipis saja menanggapinya.
Ponsel Naomi berdering yang ternyata dari Dexter. Naomi pun segera menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo Tuan."
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan ada yang meleraikan mereka."
Walaupun Naomi sedikit bingung, namun dia tetap menjalankan permintaan tuannya itu.
"Baik Tuan."
Panggilan pun terputus secara sepihak. Naomi meminta mereka untuk melanjutkan pertarungan mereka.
Para karyawan heran. Kenapa masalah seperti ini dibiarkan begitu saja? Bahkan Naomi yang menjabat sebagai HR pun meminta mereka untuk melanjutkan.
Mendengar hal itu, Sela menjadi merasa di atas angin. Dia berpikir, dia bisa dengan bebas memberikan pelajaran kepada Kiandra.
Sela dengan keahlian yang dimilikinya pun kembali menyerang Kiandra. Kiandra yang tidak ingin melawan hanya menghindar saja.
Rekan sekerja Kiandra pun merasa cemas, karena Kiandra tidak membalas sama sekali. Hanya menghindar dan menghindar saja.
"Ayo lawan aku!" teriak Sela.
"Kamu bukan tandingan ku," kata Kiandra.
"Bangsat! Rasakan ini!" Sambil berteriak, Sela melakukan serangan-serangan secara beruntun kepada Kiandra. Namun Kiandra hanya menghindar saja.
Sela memutar tubuhnya, lalu menendang Kiandra. Kiandra menangkap kaki Sela. Kemudian menendang sebelah kakinya, sehingga Sela pun terjatuh ke lantai.
Rekan kerja Kiandra bertepuk tangan melihat Sela terjatuh hanya dengan sekali pukulan. Sementara para karyawan dan karyawati dibuat takjub oleh Kiandra.
Sela bangkit, dia semakin marah karena Kiandra bukan saja menjatuhkan nya, tapi juga mempermalukannya.
"Bedebah!" Maki Sela. Sela tidak menyerah, dia kembali menyerang Kiandra.
Kali ini Kiandra sudah siap meladeni Sela. Sudah cukup Kiandra bermain-main, sekarang dia akan menuntaskan semuanya.
Kiandra akan memberikan pelajaran kepada Sela, agar ke depannya Sela tidak lagi semena-mena.
Sela melayangkan tinjunya, namun Kiandra berhasil menangkap tangan Sela. Kemudian Kiandra memutar tubuhnya, lalu menyikut punggung Sela.
Sela terdorong beberapa langkah. Kemudian Kiandra kembali memutar tubuhnya, dengan gerakan cepat, Kiandra melayangkan tendangan ke arah Sela.
Sela yang belum sempat bereaksi untuk menghindar pun terkena tendangan keras dari Kiandra. Sela terhuyung dan terjatuh.
Lagi-lagi mereka bertepuk tangan. Mereka merasa puas karena Sela yang sombong bisa dikalahkan oleh Kiandra.
"Cukup!"
Kiandra menoleh, dia kenal betul dengan suara itu. Kiandra menghentikan kegiatannya, tangannya yang masih terkepal pun menggantung di udara. Sedangkan Sela sudah memejamkan mata dan pasrah menerima bogem mentah dari Kiandra.
Namun, Kiandra tetap memberikan bogem mentah sebanyak dua kali kepada Sela. Sela berpikir, dengan kedatangan Dexter, dia akan selamat.
Ternyata, Kiandra tetap melayangkan tinjunya ke arah Sela. Sehingga wajah Sela sedikit lebam dan sudut bibirnya berdarah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dexter pada Kiandra.
Para karyawan dan karyawati pun bengong. Karena tidak biasanya tuan mereka seperhatian itu. Apalagi kepada pegawainya yang hanya seorang cleaning service.
"Kenapa kau datang? Aku belum puas menghajar nya." Bukannya menjawab, Kiandra malah bertanya balik.
"Naomi!"
"Siap Tuan, saya mengerti."
Naomi pun meminta Sela untuk ke ruangan HR. Sela hanya terdiam, dia hanya merintih menahan sakit.
Mereka semua menduga, jika Sela sudah pasti akan dipecat. Apalagi masalahnya melibatkan Kiandra yang notabene nya adalah istri bos.
"Lanjutkan pekerjaan kalian!" Seru James kepada para karyawan dan karyawati.
Mereka pun bergegas membubarkan diri dan pergi ke tempat kerja mereka masing-masing dan sesuai devisi masing-masing.
"Kamu tidak usah kerja, kita pulang saja," kata Dexter.
"Tapi ...."
"Jangan membantah." Potong Dexter.
"Dexter, menurutku tidak perlu memecatnya. Beri surat peringatan saja dulu," kata Kiandra.
"Kamu terlalu baik atau terlalu naif? Jelas-jelas dia menargetkan mu, tapi masih saja kamu bela."
"Nggak, antara aku dan dia hanya masalah pribadi, jadi tidak perlu disangkut pautkan yang urusan pekerjaan."
"Baiklah, tapi jika dia berulah lagi, aku akan blacklist dia."
Kiandra tersenyum dan tanpa sadar mengecup pipi Dexter. Dexter terdiam, sungguh di luar dugaan jika dia akan menerima kecupan walau hanya di pipi.
Kiandra kemudian menghubungi Naomi agar tidak memecat Sela. Naomi pun mengiyakan saja, kemudian memberikan surat peringatan untuk Sela.