Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Prolog
Berlogika
Hutan Mati, 27 Agustus
“Ragaku masih ada, tetapi jiwaku telah lama mati."
Gerimis membasahi hutan yang telah lama mati, pohon-pohon menjulang kering, tanahnya berlumpur, dan udara dipenuhi aroma dedaunan yang membusuk. Hutan itu menjadi saksi bisu bahwa gadis yang selama ini diburu orang-orang masih hidup. Ia berjalan tanpa arah, terseok-seok, dengan kaki yang terus mengucurkan darah. Setiap langkahnya meninggalkan noda merah di tanah, dan hujan seolah bersekongkol menghapus jejaknya satu per satu.
Keadaannya sungguh memprihatinkan. Pakaian yang dikenakannya terkoyak, basah, dan nyaris tak lagi pantas disebut busana. Siapa pun yang melihatnya sekilas akan mengira ia hanyalah seorang pengemis hina yang tersesat di tengah hutan. Tak seorang pun akan menyangka bahwa gadis kurus dengan tulang menonjol dan rambut kusut tak terurus itu berasal dari darah biru, seseorang yang berdarah bangsawan
Namun, di balik semua itu, kecantikannya tetap terpancar samar. Sebuah ironi kejam, sebab wajahnya dihiasi luka mengerikan yang membuat siapa pun bergidik ngeri saat menatapnya terlalu lama. Luka itu bukan sekadar bekas goresan, tetapi itu adalah tanda penderitaannya, bukti bahwa dunia pernah memperlakukannya tanpa belas kasih.
Petir menyambar membelah langit, diikuti suara gemuruh yang menggetarkan dada. Hujan turun semakin deras. Gadis itu mempercepat langkahnya meski tubuhnya terasa hendak remuk. Setiap tarikan napas menyayat paru-parunya, setiap denyut jantung seolah memukul dari dalam. Namun ia tetap bertahan. Bukan karena harapan, melainkan karena dendam... dendam pada mereka yang telah menyakiti hatinya, merusak jiwanya, dan menghancurkan tubuhnya tanpa rasa bersalah.
Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara manusia, bercampur dengan lolongan serigala yang memekakkan telinga. Suasana hutan menjadi semakin mencekam.
“Hei! Cepat cari jalang kecil itu!” teriak seseorang dengan suara kasar. “Kalau kita tidak membawa kepalanya, tuan akan memenggal kepala kita lebih dulu!”
Kata-kata itu menusuk telinga gadis tersebut. Ia menggertakkan gigi hingga darah merembes dari sudut bibirnya. Rasa takut dan sakit bercampur menjadi satu, tetapi ia menolak berhenti. Ia terus melangkah, meski tubuhnya gemetar dan penglihatannya mulai kabur.
"Aku harus bertahan... setidaknya demi membalas dendam pada mereka semua"
Hingga akhirnya, di tengah hujan yang tak kunjung reda, ia tiba di sebuah gubuk reot. Dindingnya miring, atapnya bocor, dan lantainya hanya berupa tanah keras.
Tak apa bila gubuk itu tak layak dihuni manusia. Tak apa bila ia tidur sendirian ditemani dingin malam. Tak apa bila perutnya sering kali kosong dan kesepian menjadi satu-satunya teman setia. Ia telah terbiasa dengan semua itu.
Yang diinginkannya kini hanya satu: terbebas dari belenggu takdir yang terus menyeretnya ke dalam kemalangan.
Ketika pintu gubuk dibuka, siluet asing menghampiri gadis itu
"Bagaimana dengan penawaranku?"
Flashback 3 bulan sebelumnya…
“Dasar gadis jahat!”
“Dasar pencuri kecil!”
“Anak haram tak tahu diri!”
“Apa salah Lilith padamu?!”
Teriakan-teriakan penuh kebencian menggema di udara. Sekelompok remaja terlihat melempari telur busuk, memukul, menendang, menjambak, bahkan meludahi seorang gadis muda. Gadis itu dicap sebagai pencuri hanya karena menggenggam sepotong daging di tangannya.
Tubuhnya mulai mengeluarkan darah dari berbagai luka. Bau menyengat bercampur amis memenuhi udara, mengundang lalat untuk mengerubunginya. Namun, tak seorang pun merasa iba.
Orang-orang yang berlalu lalang hanya berhenti untuk menonton. Mereka menertawakan nasib gadis itu sembari menutup hidung, jijik oleh bau busuk yang melekat di tubuhnya akibat telur-telur busuk yang dilemparkan tanpa henti.
Gadis itu bernama Elenna.
Usianya empat belas tahun.
Namun, di mata mereka, ia bukan apa-apa.
Tak ada satu pun yang berniat menolongnya atau menghentikan kekerasan itu. Bagi mereka, Elenna tak layak ditolong. Ia hanyalah anak haram dari seorang Marquess, dan merupakan seorang anak berdarah campuran, darah kotor–tanpa hak, tanpa harga diri.
“Itulah akibatnya jika kamu berani mencuri jatah milik Leo, hewan peliharaanku” ucap Lilith dengan suara meninggi satu oktaf, matanya penuh dengan penghinaan.
“A-aku tidak pernah mencuri makanan, Ka—” Elenna tersentak, lalu buru-buru mengubah panggilannya. “Ma-maksudku, nona. Tadi ada seseorang yang memberiku sepotong daging, lalu pergi begitu saja.” Suaranya bergetar, tubuhnya gemetar ketakutan.
Ia tak pernah mendapat makanan yang layak. Namun, tak sekalipun terlintas di benaknya untuk mencuri. Ia benar-benar percaya bahwa seseorang merasa iba padanya. Itulah sebabnya ia menyimpan daging itu, berharap bisa memakannya nanti.
“Jangan panggil aku kakak!” bentak Lilith tajam. “Aku bukan kakakmu, dan aku jijik dipanggil seperti itu olehmu. Dasar buruk rupa! Kalau bukan karena Ayahanda, kau sudah lama menjadi budak jalanan. Bersyukurlah masih ditampung karena rasa kasihan!”
Kebencian Lilith terhadap Elenna telah mengakar sejak lama. Ia menganggap Elenna hanyalah benalu, noda yang mencoreng kehormatan, dan citra keluarganya. Terlebih lagi, Lilith tak sudi memiliki adik tiri dengan wajah yang dipenuhi luka mengerikan. Membayangkannya saja sudah cukup membuatnya bergidik ngeri.
“Hukum saja gadis tidak tahu diri itu,” usul salah satu teman Lilith dengan senyum kejam.
“Iya, benar,” sahut Bertha, tersenyum miring penuh hasutan. “Gadis seperti itu harus diberi pelajaran. Siapa tahu dia menyimpan dendam dan suatu hari mencelakaimu, temanku.”
Lilith terdiam sejenak, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. “Baiklah. Aku setuju dengan ucapan kalian, penjahat ini harus merenungkan kesalahannya. Pengawal!” serunya lantang. “Seret pencuri ini ke ruang hukuman!”
Mata Elenna membelalak. Ruang hukuman.
Trauma itu kembali menghantamnya.
Ruangan tanpa cahaya, tanpa jendela, tanpa suara. Ruangan sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Ruangan yang pernah membuatnya hampir kehilangan akal ketika ia dikurung di sana, Dulu Ia dituduh mendorong Lilith dari tangga, padahal kenyataannya Lilith-lah yang mencoba mencelakainya.
“Ka—nona muda… aku mohon,” lirih Elenna dengan mata berkaca-kaca. “Hukum aku apa saja, tapi tolong… jangan di ruangan itu.”
Namun Lilith hanya melengos, tak sudi mendengarkan. Ia berbalik pergi bersama teman-temannya, melanjutkan kegiatan sehari-hari mereka: menghambur-hamburkan uang, mengikuti tren bangsawan, dan memamerkan kekayaan.
Elenna hanya pasrah saat tubuhnya diseret oleh para pengawal. Benar atau tidaknya ucapannya tak pernah berarti. Selalu saja begini, seakan ia dilahirkan hanya untuk mengalami penderitaan.
Dan sejak hari itu… segalanya berubah.
"Mungkin... sejak awal, tidak ada satu pun yang mempercayaiku" Pikir Elenna sembari terkekeh sehingga membuat pengawal mencemohnya
"Tampaknya dia sudah gila" Ucap pengawal pada temannya
"Sudah biarkan saja, jangan sampai kabar ini terdengar oleh beliau" Jawab temannya sembari tangannya merogoh saku dan mengeluarkan kunci pintu ruangan hukuman
Lalu pengawal melemparkan tubuh Elenna ke dalam ruangan itu dan menutup tidak lupa mengunci pintu, kegelapan mendera dan membuat detak jantungnya berdebar debar sehingga ia berusaha meraup oksigen sebanyak banyaknya dengan nafas yang tersenggal senggal, lalu ia merasakan pandangannya seakan berputar dan menggelap sampai akhirnya dia kehilangan kesadarannya.