Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Your Mate
Hari yang sangat panjang itu akhirnya berakhir. Meski Addam tak pergi ke kantor, pekerjaannya terus berdatangan dan membuatnya nyaris tak bisa beranjak dan harus berada di depan laptop.
Addam akhirnya bisa menutup laptopnya setelah rekan kerjanya yang lain mengatakan pekerjaan hari itu telah selesai. Bertepatan dengan itu, ia bisa mendengar derit pintu tetangganya yang terbuka.
“Wah! Si Naya udah pulang…!”
Semangat Addam yang tadi layu mendadak segar kembali. Aneh.
“Eh tapi, biarin dia istirahat dulu aja. Kasian, baru balik,” gumam Addam.
Tapi tanpa diduga, Addam mendengar suara pintu yang diketuk.
“Kak Addam…!” suara Naya menggema.
Eh, panjang umur! Gumam Addam sambil berjalan mendekati pintu. “Ada apa, Nay?”
“Eh. Aku gak ganggu, kan, Kak?”
“Enggak, kok. Aku emang lagi gak ngapa-ngapain dari tadi,” balas Addam enteng. “Kenapa?”
“Itu…” Naya terdiam sejenak. Ia menimbang antara langsung berbicara di sana atau mengajak Addam pergi ke tempat lain. Saat itu ia teringat pesan Mahesa untuk selalu waspada. “Kita ngobrol di depan yuk, Kak”
Mendengar ucapan Naya, Addam sempat tertegun lalu kemudian ia mengiyakan ucapan Naya. Addam mengerti maksud ucapan perempuan yang berdiri di hadapannya itu.
“Oh, oke. Tunggu aku ambil handphone dulu,” kata Addam.
Naya mengangguk. Tak lama setelahnya, kedua orang itu berjalan beriringan menjauhi area tempat tinggal mereka.
Kedua orang itu akhirnya berjalan masuk ke sebuah toko yang menyediakan kursi besi untuk pelanggan. Addam dan Naya duduk di sana sambil memegang minuman kaleng yang mereka beli dari toko itu.
“Kak…” Naya menatap Addam sekilas. “Aku baru inget, kita gak pernah cari tahu informasi tentang Irvan, ya?”
“Irvan? Memangnya kenapa, Nay? Dia kan katanya meninggal di kampung halamannya…”
“Sebenenya, di kantorku itu ada orang baru. Tapi aku malah keinget Irvan waktu ngelihat orang itu. Wajah sama perawakannya itu mirip banget. Aku kaget sampai berpikir kalau Irvan punya kembaran…”
“Masa, sih?” kedua alis Addam tertaut.
“Iya, Kak. Makanya itu aku kepikiran, kenapa kita gak cari tahu juga latar belakangnya si Irvan itu gimana…” Naya menaruh minumannya di meja.
“Kamu udah kasih tahu Mahesa?”
Naya mengangguk pelan. “Udah. Aku udah chat dia tapi belum dijawab.”
“Ooh mungkin dia masih sibuk banget, Nay. Belum sempet buka handphone…”
“Hmm…” Naya tampak lesu. Sebenarnya, Naya berpikir untuk terus terang mengenai kekhawatirannya tentang Astrid. Namun ia urung mengingat Addam juga pasti sama khawatirnya dengan Naya.
“Oh iya, Nay. Tadi aku sempet minta tolong Mahesa buat lacak akun anonim itu. Tapi kata dia, alamat IP nya itu di luar negeri jadi gak bisa diketahui pasti persisnya lokasi orang yang kirim kita DM aneh itu…” terang Addam dengan tatapan mata yang terlihat hampa.
“Ya Tuhan…”
“Aku rasa orang ini emang udah rencanain semuanya, Nay…”
Semua kesedihan, kecemasan, dan kemarahan yang semula memenuhi dadanya perlahan bertransformasi menjadi kehampaan yang terpancar melalui sorot matanya.
#
“Ini kita semua mau begadang?” ceplos Wulan.
Pada saat itu, Bagus dan seluruh anak buahnya memang tengah sibuk di ruangan tim.
“Gimana lagi, Lan. Pak Panji dapet perintahnya begitu…” kata Bagus lesu. Ia terus menatap lembaran berkas yang menumpuk di mejanya.
Ditengah hiruk pikuk kesibukan mereka saat itu, Bagus dan timnya dibuat terkejut ketika melihat kedatangan pria bertubuh tambun diikuti Panji yang mengekor di belakang.
“Pak Kepala?” gumam Mahesa sambil menatap pria bertubuh tambun itu.
“Malam semuanya.” Pak Kepala itu membuka obrolan.
“Malam Pak…” jawab mereka kompak.
“Gimana? Ada kemajuan apa lagi tentang kasus yang kalian urus?” Pak Kepala menaruh tangannya di punggung.
“Siap. Kasusnya masih sedang kita dalami, Pak.” Bagus selaku ketua tim menjawab pertanyaan Pak Kepala.
“Pelakunya udah ketemu?”
Bagus menggeleng. “Kita masih belum bisa menetapkan terduga—”
Pak Kepala berdecih, menyela ucapan Bagus.
“Kamu gimana sih, Ji?! Saya udah bilang buat secepatnya urus kasus ini. Jangan. Lebih. Dari. Satu minggu!” Pak Kepala menekankan setiap kata pada kalimat terakhir sambil menunjuk Panji. “Tapi sampai sekarang, terduganya aja belum ketemu!”
Seketika Bagus dan anggota timnya terkesiap. Hening. Mereka sangat terkejut melihat sikap Pak Kepala terhadap Panji.
Perlu diketahui, Mahesa memang sempat mendengar desas-desus bahwa Pak Kepala memang sering bersikap arogan dan bertindak sesuka hatinya terhadap anak buahnya. Tapi Mahesa tidak menyangka bahwa ia bisa menyaksikan bukti nyata dari gosip miring yang tersebar di tempat itu.
“Siap, Pak. Saya akan kerjakan sesuai perintah Bapak.” Panji menunduk hormat.
“Ya memang sudah seharusnya!” sambar Pak Kepala. “Kalian ingat. Saya beri waktu kalian satu minggu. Sudah sana kamu kerja sama anak buahmu!” tunjuknya pada Panji.
Setelah mengatakan hal itu, Pak Kepala berlalu dari ruangan itu meninggalkan Panji yang berdiri mematung.
Pak Kepala berjalan menjauhi ruangan itu namun pandangannya masih terpusat pada anak buahnya di dalam sana. Lewat dinding yang terbuat dari kaca itu, ia bisa melihat ketegangan tengah menguasai tempat itu.
Setelah beberapa lama, Panji akhirnya membuka obrolan dan memecah keheningan yang aneh itu. Panji bertepuk tangan sebentar.
“Ayo. Semuanya! Kita beresin masalah ini” kata Panji.
“Siap, Pak!” kata mereka kompak.
Panji: “Gus! Laporin ke saya temuan terbaru kalian!”
Bagus: “Ya, Pak. Pertama, temuan di ponsel korban. Diketahui bahwa korban sempat menggunakan aplikasi 'Your Mate' dan korban sering berkomunikasi dengan beberapa orang kenalan daringnya…”
Panji: “Your Mate?”
Gilang: “Iya, Pak. 'Your Mate' itu sejenis aplikasi kencan yang belakangan ini lagi viral.”
Bagus: “Lalu menurut saksi dan keterangan orang terdekat korban, diketahui korban sempat bercerita tentang pengalamannya bertemu orang-orang dari aplikasi kencan itu,”
Panji: “Jadi, ada yang mencurigakan?”
Gilang: “Kita sempat temuin satu hal. Korban diketahui sempat terlibat sebuah masalah dengan salah satu kenalannya, pria kenalannya itu rupanya telah memiliki istri tetapi mengaku masih lajang. Pertengkaran seperti itu. Tapi kemudian korban berhenti komunikasi dengan pria itu.”
Panji: “Kejadiannya kapan, Lang?”
Panji menyilang tangan di dada.
Gilang: “Sekitar akhir Januari atau awal Februari.”
Panji: “Berarti gak lama sebelum dugaan waktu kematian korban, ya?”
Gilang: “Betul, Pak. Kita juga sudah selidiki latar belakang pria itu. Tapi alibinya kuat. Setelah pertengakaran istrinya dengan korban, pria itu mengajak keluarganya berlibur ke luar negeri selama kurun waktu dugaan kematian korban. Dokumennya sudah kami periksa dan semuanya cocok.”
Panji: “Waduh… Kalau begitu, dugaan motif pembunuhan kita perluas, jangan terpaku di motif dendam. Barang-barang korban juga tidak ada yang hilang, kan? Jadi motifnya juga bukan pencurian. Bisa jadi pelaku memang memilih korban secara acak. Arya, Gilang! Nanti saya minta kiriman laporan digital kasusnya.
Arya dan Gilang kemudian kompak menjawab. “Siap, Pak!”
Mahesa: “Pak, maaf. Kasus ini sepertinya erat kaitannya dengan dua kasus sebelumnya,”
Panji: “Maksud kamu, ‘Kasus Gaun Putih’ itu?”
Mahesa: “Benar, Pak.”
Panji: “Baik. Jelaskan kenapa kamu menduga kasus ini berkaitan? Apa kamu punya temuan baru?”
Mahesa: “Sebelumnya, boleh saya lihat lagi berkas kedua kasus itu?”
Panji mengangguk. Ia menatap Bagus dengan tatapan yang mudah diartikan.
Bagus segera membuka komputernya dan tak lama setelahnya ia menghubungkan komputernya dengan proyektor LCD.
Mahesa: “Salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah ini...”
Ia menunjuk potret kalung yang terus mengundang pertanyannya.
Mahesa: “Kalung ini tidak pernah saya temukan di toko perhiasan manapun. Artinya, kemungkinan besar modelnya memang dipesan secara khusus. Pertanyaannya, mungkinkah kalung ini merupakan pesan dari si pelaku? Atau memang kalung ini hanya secara kebetulan dimiliki oleh para korban? Terlebih lagi, kalung terakhir ditemukan bersama dengan catatan yang terasa janggal.”
Panji memijat keningnya. Penjelasan Mahesa terasa mulai masuk akal. “Tunggu. Dari mana kamu dapet asumsi liar seperti ini?”
Mahesa tersenyum simpul. “Seperti yang sudah saya bilang, saya rasa saya bisa berkontribusi lebih di kasus-kasus seperti ini.”
Pria itu mengulang kembali kalimat yang pernah ia ucapkan pada Panji ketika ia meminta permohonan mutasi.
Panji: “Baiklah. Mahesa, Gilang, Wulan. Kalian selidiki ulang dua kasus itu. Arya, Revi, fokus kalian di kasus yang ini.”
“Siap, Pak” jawab mereka serempak.