Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Arion menekan bel pintu apartemen Cintia. Pria itu membawa obat yang sebelumnya ia beli di apotek saat dalam perjalanan tadi.
Pintu itu pun terbuka dan menampilkan Cintia yang terlihat begitu pucat. Arion langsung membantu Cintia berjalan ketika melihat tubuh Cintia yang hampir terhuyung.
"Kenapa kau bisa ceroboh seperti ini, Cintia?!" ucap Arion saat membantu Cintia membaringkan tubuhnya di sofa.
"Aku rela sakit seperti ini asalkan kau memperhatikanku lagi, Arion," jawab Cintia membuat Arion menghela napas.
Pria itu berjalan menuju dapur mengambil air putih untuk Cintia.
"Aku tadi membelikan obat untukmu. Minumlah! Setelah itu aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ucap Arion sembari memberikan air putih dan obat yang ia beli tadi.
Cintia menatap Arion dengan pandangan sayu. "Aku tidak perlu obat dan rumah sakit, Arion. Aku hanya membutuhkanmu. Itu akan lebih membuatku merasa baik-baik saja."
"Jangan bodoh, Cintia! Sudah kukatakan padamu jika aku tidak akan pernah kembali padamu. Aku mencintai istriku. Ini kali terakhir aku menemuimu. Jika bukan karena amanat Kak Maxim yang menyuruhku untuk menjagamu, aku tidak akan datang padamu!" tegas Arion.
Cintia memalingkan wajahnya. Hatinya sakit mendengar ucapan Arion. Tadinya dia berpikir Arion datang padanya karena Cintia yakin Arion masih peduli padanya.
"Tapi aku masih mencintaimu, Arion," ucap Cintia pelan.
Arion kembali menghela napas sejenak. "Cintia. Cinta itu tidak menyakiti. Cinta itu tidak merebut dan tidak egois. Jika kau mencintaiku, seharusnya kau membiarkanku bahagia. Bukan malah membuat semua pihak jadi tersakiti. Perasaanmu padaku itu sekarang bukan perasaan cinta lagi, Cintia. Tapi perasaanmu itu sekarang berubah menjadi sebuah obsesi. Dan itu tidak akan baik. Kalaupun kau berhasil memilikiku, kau tidak akan mendapatkan apa-apa karena saat ini yang kucintai adalah istriku. Kau hanya akan mencintai seorang diri tanpa dicintai. Apa kau mau seperti itu? Aku yakin kau bukan wanita yang seperti itu, Cintia. Aku mengenalmu sejak dulu. Dan kau dulu tidak seperti sekarang ini. Kumohon bukalah mata hatimu!"
Cintia terdiam. Ucapan Arion membuatnya tak bisa menjawab. Kini dirinya malah mengingat Maxim yang dulu begitu mencintainya namun malah ia abaikan. Sekarang, Cintia tahu bagaimana rasanya jadi seorang Maxim. Semua yang Maxim rasakan kini telah berbalik padanya.
Di sini, Cintia telah merasakan sebuah kekalahan. Pada akhirnya Arion tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.
‘Kau menang, Felicia. Aku sudah kalah. Arion hanya akan menjadi milikmu dan tidak akan pernah menjadi milikku.’
Cintia menangis sesenggukan. "Maafkan aku, Arion," ucap Cintia pelan. Gadis itu berusaha untuk duduk.
"Perbaikilah lagi dirimu, Cintia. Aku yakin kau akan mendapatkan pria yang tepat suatu hari nanti. Jangan biarkan keegoisan menguasaimu lagi," nasihat Arion.
"Kau benar, Arion. Aku sudah sangat egois. Seberapa besar aku menginginkanmu, aku tidak akan pernah mendapatkanmu. Kau telah menjadi milik istrimu sekarang. Maafkan aku karena aku sengaja membuat diriku sakit hanya untuk membuatmu peduli padaku. Maafkan aku karena sudah menantang istrimu untuk membuktikan kau masih mencintaiku," ucap Cintia menyesal.
Arion mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu menantang istriku, Cintia?"
"Aku... aku mengirimkan pesan padanya, jika kau pasti akan lebih memilihku daripada dia. Istrimu pasti sudah tahu tentang aku yang sengaja membuat diriku sendiri sakit, Arion. Maafkan aku, Arion...." Cintia tertunduk menyesal.
Seketika Arion teringat akan ucapan Felicia tentang rencana Cintia saat ini. Arion mengusap wajahnya kasar. Ia tak mempercayai ucapan Felicia. Arion benar-benar dilanda rasa bersalah luar biasa saat ini.
Arion masih teringat bagaimana Felicia memohon padanya agar dirinya tak pergi. Arion teringat bagaimana ucapannya yang sedikit tinggi pada Felicia tadi. Dan pesan Felicia yang menyuruhnya untuk pulang. Sungguh, saat ini Arion benar-benar tak bisa berkutik. Pria itu semakin merasa bersalah.
Tanpa berkata apa-apa, Arion langsung pergi meninggalkan Cintia yang saat ini tertunduk dalam penyesalan.
Arion langsung memasuki mobilnya dan melajukannya dengan cepat. Dia telah salah meninggalkan sang istri.
Arion merasa frustrasi mengingat bagaimana wajah tak rela Felicia ketika ia tinggal tadi. Rasa bersalah semakin merundungnya.
Setibanya di rumah, Arion segera mencari keberadaan sang istri. Arion ingin meminta maaf kepada Felicia. Pria itu ingin memeluk sang istri dalam rasa bersalah.
"Sayang...!" panggil Arion ketika memasuki rumah. Namun tak ada balasan. Langkahnya langsung tertuju ke kamar sang istri.
"Felicia, Sayang. Bukalah pintunya. Maafkan aku karena aku meninggalkanmu, Sayang. Maaf karena aku tidak mendengar ucapanmu tadi. Felicia!" Arion mengetuk pintu dan terus memanggil istrinya. Tapi tetap tak ada jawaban.
Arion langsung membuka pintu kamar Felicia. Namun, ketika kamar terbuka, istrinya tak ada di sana. Arion merasa sedikit panik. Pikirannya mulai kacau dan merasa tak tenang.
Pria itu lantas mencari ke semua tempat di rumahnya. Dan nihil. Sang istri tak ditemukannya.
Hingga ponselnya berdering. Arion pikir itu dari Felicia. Namun dia salah. Panggilan itu dari Aluna. Dia mengabari Arion jika Papa Felicia telah meninggal.
Arion hampir menjatuhkan ponselnya. Pria itu begitu terkejut mendengarnya. Potongan klise ucapan-ucapan Papa mertuanya di malam pernikahan mereka kembali muncul. Mungkinkah itu adalah sebuah firasat? Bagaimana dirinya sampai tak menyadarinya?
"Felicia...." Arion yakin jika istrinya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Pria itu menyesal karena pergi meninggalkannya tadi. Seharusnya dia ada di samping sang istri.
Arion menghubungi ponsel Felicia, bahkan sampai berkali-kali. Namun panggilan itu dimatikan oleh sang istri. Dan itu sungguh membuat Arion begitu frustrasi.
Notifikasi pesan Arion dapatkan dari Aluna. Pria itu segera membukanya.
‘Aku bersama istrimu saat ini. Kami dalam perjalanan ke kota Felicia. Tadi aku meneleponmu karena aku tak melihatmu di sisi Felicia. Yang ada malah Fero. Apa kalian ada masalah? Jika iya, sebaiknya diselesaikan nanti. Karena, saat ini Felicia benar-benar sangat terpukul kehilangan papanya,’ tulis Aluna.
Kebetulan Aluna sudah mendengar berita duka itu. Ketika menuju bandara, mereka bertemu dengan Felicia dan juga Fero. Akhirnya mereka semua pergi menggunakan pesawat pribadi milik Daniel.
"Fero...." Arion segera bergegas menuju bandara untuk mengambil penerbangan malam ini juga.
---
Arion ikut menitihkan air mata melihat bagaimana kesedihan Felicia saat ini.
Ketika Arion mendekat dan ingin memberikan sandaran pada sang istri, ditolak begitu saja oleh Felicia. Hal itu membuat Arion begitu sedih. Dia tahu jika dirinya salah. Dia tahu Felicia pasti merasa kecewa padanya.
Hanya Fero yang terus berada di dekat Felicia selama acara pemakaman berlangsung.
Walaupun Arion sangat tidak rela, tapi Arion hanya bisa membiarkannya. Arion tahu suasana saat ini sedang tak berpihak padanya. Dia hanya bisa melihat kesedihan sang istri dari jarak tak jauh darinya.
Hingga pemakaman usai dan orang-orang sudah pergi, Felicia masih sulit untuk Arion dekati.
"Biarkan istrimu tenang, Arion. Setelah itu baru kau selesaikan masalahmu," ucap Daniel.
Arion menatap sendu sang istri yang saat ini masih menangis dalam pelukan Fero. Sungguh, sejujurnya Arion sangat tak rela.
Dia berjalan mendekati Felicia dan juga Fero.
"Sayang...." panggil Arion dengan menahan sesak.
Felicia menatap Arion dengan tatapan nanar. Rasanya Felicia tak ingin melihat Arion. Rasa marah dan kecewanya bercampur dengan duka yang sedang ia rasakan saat ini.
"Pergilah, Arion! Aku tidak ingin melihatmu!" ucap Felicia yang langsung membuat Arion terdiam di tempatnya. Dia tahu jika Felicia masih sangat kecewa padanya.