Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawa ke tenda Kaivan
Kaivan melepaskan dekapannya, dan menatap jam dipergelangan tangannya, yang sudah menunjukan pukul 08:00 malam, tidak terasa satu jam lebih mereka ada disana, hujan sudah mulai mereda, hanya menyisakan gerimis. Kaivan merapihkan rambut Ravela yang terlihat sedikit berantakan.
“Ayo kita kembali Vel, hujannya sudah reda,” ujar Kaivan, dan menuntun Ravela untuk berjalan disisinya. Jalan semakin licin, akibat hujan deras yang baru saja mengguyur.
Ravela hanya diam saja, mengikuti apa yang Kaivan katakan.
Melihat Ravela yang hanya terdiam, Kaivan kembali membuka suara. “Malam ini kamu tidur di posko pengungsian disini saja, ya. Sepertinya truk militernya sudah pergi. Nanti kamu bisa pakai tenda aku di sana, jadi tidak perlu khawatir.”
Sambil berkata begitu, Kaivan berjalan di samping Ravela, satu tangannya menahan bahu Ravela dengan hati-hati, menuntunnya melangkah.
Namun Ravela tetap hanya diam saja tidak sedikit pun membuka mulutnya, membuat Kaivan menghela napas.
Kondisi jalan yang licin dan gelap membuat mereka harus ekstra hati-hati, beruntung ponsel Kaivan masih memiliki daya, sehingga bisa membantu menerangi jalan mereka.
Mereka berjalan perlahan hingga sampai di posko pengungsian, beruntung para prajurit, warga dan tim proyek tengah berkumpul untuk makan malam, sehingga tidak ada yang memperhatikan Kaivan dan Ravela.
Ravela yang saat ini terlihat begitu kacau, membuat Kaivan merasa tidak enak jika orang-orang tahu, takut mereka berpikir yang hal yang tidak-tidak. Kaivan segera membawa Ravela masuk ke dalam tenda yang dikhususkan untuk dirinya.
“Handphone kamu mana?" tanya Kaivan, saat mereka sudah berada didalam tenda.
Ravela mendongak menatap Kaivan yang tengah bertanya padanya. Ravela tetap hanya diam saja, ingin menjawab namun seakan mulutnya terkunci. Ravela diam membisu, membuat Kaivan lagi-lagi menghela napas.
“Kamu bawa handphone kan?” tanya Kaivan lagi, karena Ravela tetap tidak mau membuka mulutnya. Ia hanya mengangguk sebagai respon atas ucapan Kaivan.
“Ya sudah. Coba hubungi Kirana,” ujar Kaivan. “Takutnya dia mencari mu. Tadi aku lihat dia tertidur di dalam truk, dia pasti belum sadar kalau kamu belum naik lagi kesana.”
Lagi-lagi Ravela hanya mengangguk.
“Aku ambilkan kaos ganti bentar, kamu pakai kaos aku dulu, baju kamu sedikit basah. Nanti kamu bisa sakit,” ujar Kaivan, lalu mengambil salah satu kaos yang ada di dalam tasnya.
Kaivan segera menyerahkan kaos itu kepada Ravela dan memintanya untuk segera mengganti pakaian.
Kali ini Ravela tidak menolak, meski ia masih terdiam tanpa banyak bicara. Untungnya yang basah hanya kaos militernya yang ia kenakan, sementara celana dan pakaian dalamnya tetap kering.
Kaivan mengernyitkan dahi saat Ravela sudah menerima kaos itu namun tidak segera menggantinya, “Kenapa tidak dipakai?” tanyanya.
Ravela yang sedang menunduk kembali menetap ke arah Kaivan, “Bisa tolong keluar,” ujarnya lirih.
Kaivan begitu senang mendengar Ravela yang akhinya membuka suaranya.
Kaivan yang tersadar segera melangkah keluar, menghampiri orang-orang yang tengah bercengkrama setelah makan malam.
Setelah cukup lama berbincang, Kaivan berjalan menuju dapur pengungsian, membuatkan Ravela mie instan dan teh hangat untuk menghangatkan tubuh istrinya.
Di tempat lain, Kirana terbangun dengan sentakan kecil saat truk berhenti. Ia mengucek mata, lalu refleks menoleh ke sekelilingnya, orang-orang mulai turun dari truk.
“Hoam... sudah sampai ya," gumamnya serak.
Kirana langsung berdiri dan melompat turun dari truk. Udara malam terasa lembab, lampu-lampu darurat menerangi area pengungsian yang masih ramai. Ia melangkah cepat menuju tenda tempat dirinya dan Ravela tidur namun saat dibuka, di dalamnya kosong.
“Lho, Komandan tidak disini?” monolognya.
Kirana pergi mencari Ravela ke tenda medis, lalu ke tenda logistik, namun tetap nihil. Langkah Kirana semakin cepat, wajahnya mulai tegang.
“Vela kemana sih,” gumamnya.
Matanya menangkap sosok Dimas yang sedang berdiri di dekat meja lipat, mengecek catatan. Kirana langsung menghampiri.
“Lettu Dimas,” panggilnya.
Dimas menoleh. “Iya, Letda Kirana. Kenapa?”
“Kamu lihat Komandan?” tanya Kirana tanpa basa-basi.
Dimas mengangkat alis sedikit. “Kapten Ravela?”
“Iya.”
“Oh,” Dimas mengangguk pelan. “Saya kira Komandan memang tidak ikut naik truk tadi.”
Kirana terdiam sesaat. “Maksudnya?”
“Saya pikir Komandan masih ada urusan disana. Makanya saya tidak mencari beliau,” ucap Dimas santai.
Kirana langsung menepuk dahinya pelan. “Aduh... ya ampun. Tadi Komandan cuma izin ke kamar mandi sebentar. Saya kira dia udah balik lagi sebelum truk jalan,” jelasnya.
Dimas menutup catatan di atas meja. “Santai saja, tidak usah panik gitu. Komandan itu seorang Kapten bukan prajurit kemarin sore. Di sana juga banyak prajurit lain, relawan, sama warga. Jadi jangan khawatir," ujarnya menenangkan Kirana.
Kirana terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Ravela yang baru saja selesai mengganti kaosnya hanya duduk diam di dalam tenda. Perutnya sebenarnya terasa lapar, tetapi ia sungkan untuk keluar menuju tenda logistik tempat bahan pokok berada.
Akhirnya, ia memilih tetap diam. Karena bosan, Ravela merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Seketika matanya membelalak saat melihat layar ponselnya terdapat puluhan panggilan tak terjawab, sebagian besar dari Kirana. Ada juga panggilan dari orang tuanya dan Ibu mertuanya.
Kaivan masuk kembali menuju tenda dimana Ravela berada. Ravela yang hendak menelpon urung ia lakukan, saat melihat Kaivan sudah masuk kedalam tenda sembari membawa 1 gelas teh dan 1 mangkuk yang berisi mie.
“Dimakan ya, Vel. Ini tehnya juga diminum mumpung masih hangat,” ujar Kaivan, meletakan apa yang dibawanya ke atas meja disebelah kursi yang diduduki Ravela.
Ravela kembali hanya diam, ia memang lapar namun entah mengapa ia begitu gengsi menerima pemberian Kaivan.
“Kalau karena ada aku membuat kamu menolak makanan ini, aku akan keluar. Tapi tolong dimakan, aku yakin kamu belum makan,” ucap Kaivan dan berlalu meninggalkan Ravela didalam tenda seorang diri.
Setelah mengetahui Kaivan suaminya, kini Ravela merasa dirinya semakin aneh saja. Ia ingin Kaivan didekatnya, namun Ravela juga kesal jika melihat pria itu. Ditambah lagi setiap menatap ke arah Kaivan, membuat dadanya berdenyut nyeri.
Ravela ragu ingin memakan apa yang Kaivan bawa, namun rasa laparnya membuatnya mengenyampingkan perasaan kesalnya.
Ravela yang begitu lapar menyantap habis mie instan yang dibuat Kaivan, dan menyeruput teh yang Kaivan bawa hingga tandas.
“Enak juga. Padahal cuma mie instan biasa,” gumam Ravela. Rasanya sama seperti yang biasa ia makan, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda.
Ravela meletakan kembali mangkuk dan gelas itu diatas meja, ia ingin membawanya keluar namun ia urungkan.
Setelahnya Ravela memilih menghubungi Kirana, agar sahabatnya tidak menghawatirkannya. Ia mencari nomor Kirana yang tadi menghubunginya, panggilan berdering namun tidak ada jawaban.
“Dia lagi makan malam atau sudah tidur?” gumam Ravela. Ia pun memutuskan mengirim pesan saja, agar Kirana esok bisa membacanya.