Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27.
Aurely mengabaikan panggilan dari Riko. Bahkan ia mematikan ponselnya.
“Nggak penting, aku off saja ponselku toh aku sudah mau pulang.” Gumam Aurely di dalam hati dan segera memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas.
Rizky yang berdiri tidak jauh dari Aurely menatapnya, “Kenapa tidak diterima?” tanyanya lirih. Tanpa ia sadari ia ingin masuk lebih jauh pada kehidupan Aurely.
“Maaf..” ucap Rizky selanjutnya..
“Teman lama, yang menyebar foto Ayahku.” Jawab Aurely, “dan ada kemungkinan keluarga dia yang mengambil foto Ayah sedang memikul karung. Mobil Papanya Riko tertangkap kamera CCTV pos Polisi.”
“Oooh kamu sudah cek CCTV, maaf ya aku belum sempat melihat CCTV di kios pasar.” Ucap Rizky yang sudah melangkah di samping Aurley menuju ke mobil, “syukurlah kalau pelaku sudah diketahui.” Ucap Rizky lagi.
Aurely mengangguk pelan, namun sorot matanya tak sepenuhnya tenang.
“Pelaku mungkin sudah mengerucut, Mas,” katanya hati-hati. “Tapi belum tentu juga selesai. Keluarga mereka… cukup punya uang untuk membayar...” ucap lirih Aurely.
Ia lalu terdiam dan terus melangkah. Ia sadar kalau Ayahnya kini sudah tidak punya uang untuk mengurus di pengadilan. Kendaraan untuk bekerja saja masih pinjam tetangga.
Rizky membuka pintu mobil buat Aurely, lalu berhenti sejenak, “Kalau butuh apa-apa, bilang. Jangan dipendam sendiri.”
Nada suaranya ringan, tapi perhatian di baliknya terasa nyata.
Aurely tersenyum kecil. “Terima kasih Mas, maaf jika saya begitu merepotkan keluarga Mas Rizky.” Ucap Aurely lalu masuk ke dalam mobil.
Aurely kini tahu jika Rizky dan keluarganya juga memiliki masalah. Tentang Papanya yang berada di luar kota.. yang ia belum tahu masalahnya.
Rizky yang sudah masuk ke dalam mobil lewat pintu kemudi, menatap Aurely, “Tidak repot kok, yang bisa aku bantu akan aku bantu.” Ucapnya sambil tersenyum kecil.
Rizky lalu menoleh ke arah belakang. Mbak Nisa kini ikut pulang dalam mobil itu. Ia duduk di jok belakang kemudi di samping Santi. Sedangkan Elin dan Elang duduk di jok paling belakang.
“Kalian duduk di belakang?” tanya Rizky sambil menatap Elin dan Elang sudah duduk santai.
“Iya Mas, kita kan turun paling belakang..” ucap Elin dengan lantang.
“Okey Bos, jangan ribut di belakang ya.” Ucap Rizky sambil menyalakan mesin mobilnya.
“Enggak Mas Rizky, aku dan Elin nggak akan ribut kok, biar nggak bikin bising.” Ucap Elang sambil menyandarkan tubuhnya di tubuh Elin.
“Biar nggak mengganggu kalau Mas Rizky lagi bicara serius. “ timpal Elin sambil tersenyum.. meskipun yang melihat senyum manisnya hanya Elang..
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa menit kemudian Elin dan Elang sudah tertidur bersandar satu sama lain.
Santi sesekali melirik ke spion, menangkap ekspresi Aurely yang diam memandang keluar jendela.
Begitu sampai di depan rumah kayu, Aurely dan Santi turun.
“Besok aku jemput lagi,” kata Rizky. “lebih pagi.” Lanjut Rizky sambil menatap Aurely lalu Santi.
“Siap Mas,” jawab Aurely dan Santi hampir bersamaan.
“Aku besok ke sini lagi ya Rel.” Ucap Santi selanjutnya.
Aurely mengangguk dan Santi melangkah ke arah rumahnya. Sementara mobil Rizky belum berjalan .
Rizky ikut turun sebentar, ia melangkah mendekati Aurely. “Hati-hati.”
Kalimatnya sederhana, tapi cukup membuat Aurely menoleh. “Makasih, Mas Rizky.”
Rizky mengangguk menatap Aurely, lalu ke arah dalam mobil. Elin dan Elang masih tertidur .
Mobil pergi, meninggalkan suara mesin yang makin menjauh. Aurely berdiri sebentar di depan pagar rumah kayunya, lalu menarik napas panjang sebelum membalikkan tubuhnya.
Aurely lalu melangkah ke rumah kayunya.. Lampu beranda dan lampu di dalam rumah sudah menyala..
Saat Aurely sudah berada di depan pintu. Telinga Aurely mendengar suara Ibunya sedang berbincang bincang dengan suara seorang laki laki. Dan Aurely tahu betul Suara laki laki itu bukan milik Ayahnya..
“Iya , nanti akan aku sampaikan pada Ayahnya Aurely.” Suara Ibunya Aurely, seperti ada beban. “Terima kasih, sudah meminjami motor dan maaf Aurely pernah jatuh dengan motor itu.”
“Ayah belum pulang.” Gumamnya dalam hati, dan masih berdiri du balik pintu.
“Ya sudah aku pamit, nanti kalau sudah pulang langsung saja motornya diantar,” suara laki laki itu.
Kedua mata Aurely mulai memerah, meskipun ia belum tahu pasti maksud kedatangan laki laki itu.
Tangan Aurely membuka pintu yang tidak terkunci. Laki laki itu, Pak Sastro.. tetangga yang meminjami motor Ayahnya .. sudah melangkah ke arah pintu. Tatapan nya tertuju ke arah Aurely.
“Sudah enak kamu ya? Diantar jemput Mas Rizky.” Ucapnya datar meskipun bibirnya memberikan senyuman.
“Iya Pak, terima kasih dan maaf..” ucap lirih Aurely sambil menunduk.
“Ya sudah kerja yang benar.” Ucapnya lalu melangkah pergi.
Pintu kembali tertutup pelan di belakang laki-laki itu. Suara langkahnya menjauh di beranda, lalu hilang bersama bunyi pagar kayu yang digeser.
Aurely masih berdiri di dekat pintu, kepalanya tertunduk. Ibunya menoleh, ekspresi lelah yang sejak tadi disembunyikan akhirnya terlihat jelas.
“Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Ibunya pelan.
“Iya, Bun.” Suaranya nyaris tak terdengar, “dia mau ambil motor ya?”:
Ibunya mendekat, meraih tangan Aurely. Tangannya dingin. “Iya.” Jawab ibunya, “Kamu capek? Bagaimana kerjamu hari ini? Makan dulu ya, Bunda sudah siapkan makan buat kamu dan Ayah.”
Aurely menggeleng kecil. Dadanya terasa penuh, tapi entah oleh apa. “Aku sudah makan di kios Bun.” Ucap Aurely, “Ayah belum pulang ya, Bun?”
Ibunya menarik napas panjang sebelum menjawab. “Belum. Katanya tadi ke kios koperasi dulu dan urus masalah foto foto itu.” Jawab Ibunya, “mana motor pinjaman sudah mau diambil, kata Pak Sastro mau dipakai Nurul, anaknya.”
“Terus kalau motor diminta, Ayah pakai apa ke pasar Bun?” tanya Aurely, “padahal Ayah baru semangat semangatnya, banyak pesanan dari teman temannya.”
Ibunya menarik nafas panjang lagi, lalu tersenyum, meskipun itu sangat dipaksakan..
“Nanti kita pikirkan. Sekarang kamu mandi dulu, sambil nunggu Ayah.” Ucap Ibunya Aurely
Aurely mengangguk menatap wajah Ibunya yang sore ini terlihat lebih lelah. Ia tahu bukan hanya motor yang jadi beban. Ada hal-hal lain yang tak pernah diucapkan oleh Ibunya , tapi selalu terasa, tentang uang, tentang rasa sungkan pada tetangga, tentang hidup yang belum longgar, yang masih bikin sesak dada dan kepala
Aurely melangkah ke kamarnya. Ia duduk di tepi kasur tipisnya, , melepas sepatu perlahan, lalu memeluk lututnya sendiri.
Kata-kata laki-laki tadi terngiang lagi. “Sudah enak kamu ya? Diantar jemput Mas Rizky.”
Aurely menutup mata. Ia tidak merasa “enak”. Ia hanya sedang berusaha bertahan.. bekerja, membantu, dan pulang tanpa banyak menuntut.
“Kalau mereka iri, apa yang diirikan dari kami yang baru jatuh dan berusaha untuk bangun..” gumam Aurely di dalam hati.. air mata mulai jatuh satu per satu.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting