NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 Diantara Debu Jalanan dan Bumbu Kacang

Matahari sudah mulai turun ke peraduannya, menciptakan gradasi warna jingga yang cantik di langit SMA Kusuma Bangsa. Setelah rapat yang menguras emosi dan tenaga, area parkir sekolah sudah mulai sepi.

Ramdan menghampiri Tari yang sedang berdiri di depan gerbang, tampak sedang mengecek aplikasi ojek online di HP-nya. Dengan gerakan tenang, Ramdan menuntun motor matic-nya tepat di depan Tari.

"Nggak perlu pesan ojek, Ri. Saya antar," ucap Ramdan pendek, tapi nadanya nggak menerima penolakan.

Tari sempat ragu sebentar, tapi melihat sorot mata Ramdan yang tulus, dia akhirnya mengangguk. "Eh, iya, Ndan. Makasih ya."

Selama perjalanan, angin sore menerpa wajah mereka. Awalnya hening, hanya suara deru mesin motor yang menemani. Sampai akhirnya Ramdan memecah keheningan.

"Ri, soal omongan kamu di ruang rapat tadi..." Ramdan melirik lewat spion, memastikan Tari mendengarnya. "Terima kasih sudah percaya kalau saya bukan orang yang suka main-main sama perasaan."

Tari yang duduk di jok belakang mendadak salah tingkah. Dia mengeratkan pegangannya pada tas yang dipangku. "Aku cuma ngomong kenyataannya kok, Ndan. Lagian, aku tahu kamu itu orang yang punya prinsip."

Sore itu, di bawah langit senja, mereka bukan lagi Ketua dan Sekretaris OSIS. Mereka hanya dua remaja yang sama-sama merasa kesepian di rumah masing-masing, namun menemukan sedikit kehangatan di atas motor yang melaju pelan menuju rumah.

Motor matic itu perlahan membelok masuk ke area pom bensin yang cukup luas. Di sudut sana, sebuah masjid mungil dengan cat hijau nampak tenang. Ramdan tahu, meski mereka sedang asyik mengobrol, kewajiban tetap nomor satu.

"Kita berhenti sebentar ya, Ri. Belum shalat Ashar, sekalian kamu bisa istirahat dulu," ucap Ramdan sambil mematikan mesin motor.

Namun, saat Ramdan bersiap melangkah ke arah tempat wudhu, dia melihat Tari justru duduk tenang di bangku panjang dekat teras masjid.

Ramdan: "Ri, kamu nggak shalat?" tanyanya sambil membetulkan letak tasnya. Tari: "Enggak, Ndan. Lagi halangan," jawab Tari singkat sambil tersenyum tipis.

Ramdan terdiam sejenak, lalu merogoh kantong samping tasnya dan mengeluarkan sebuah botol minum yang masih dingin. Ia menyodorkannya pada Tari.

Ramdan: "Oh, ya sudah. Tungguin ya, jangan ke mana-mana. Oh iya, nih... kamu minum aja dulu biar nggak haus." Tari: (Menerima botol itu dengan mata berbinar jahil) "Siap! Aku akan selalu nungguin kamu kok, Ndan."

JLEB!

Langkah kaki Ramdan mendadak kaku. Dia yang tadinya mau sok keren jalan ke tempat wudhu, tiba-tiba hampir tersandung kakinya sendiri. Kalimat Tari barusan bukan cuma soal nungguin shalat, tapi kedengarannya kayak janji buat nungguin dia pulang dari Kalimantan nanti!

Ramdan nggak berani menoleh. Dia cuma bisa berdeham keras, mencoba menutupi detak jantungnya yang mendadak jadi kayak suara knalpot racing. Tanpa kata, dia mempercepat langkahnya, meninggalkan Tari yang sekarang malah cekikikan puas melihat punggung sang Waketos yang nampak kaku karena salah tingkah.

Tari baru saja mau menikmati dinginnya botol minum pemberian Ramdan, saat tiba-tiba suara bising motor yang sangat ia kenali berhenti tepat di dekatnya.

"Lho, Tari?" Tiara turun dari boncengan Karin dengan wajah heran. Tak jauh di belakang mereka, Alvin dan Pajar juga muncul dengan cengiran khasnya.

Tari: "Eh, kalian? Dari mana?" Tiara: (Sambil benerin helm) "Ya namanya di pom bensin pasti isi bensin dong, Ri! Hehehe. Nah, lo sendiri ngapain di sini sendirian mojok di depan masjid?" Tari: "Lagi duduk dong," jawab Tari santai, mencoba menutupi kegugupannya. Karin: (Sambil nyipitin mata) "Yeuh, semua orang juga tahu kali, Ri, kalau kamu lagi duduk. Maksudnya, lagi janjian atau gimana nih? Kok gayanya kayak lagi nungguin pangeran?"

Tari cuma geleng-geleng kepala. "Enggak janjian, kok."

Namun, insting detektif Alvin langsung bekerja. Matanya yang tajam (kalau soal urusan orang) langsung menangkap sesuatu di pojokan parkiran.

Alvin: "Hmmmm... Eh, Gengs! Kalian pada sadar nggak? Itu kan motor matic-nya si Pak Waketos kebanggaan kita? Mana tuh bocahnya? Kok motornya ada, orangnya nggak kelihatan?"

 Pajar: (Langsung celingak-celinguk) "Wah, bener! Wah, jangan-jangan dia ngumpet pas liat kita tadi gara-gara takut dipalak traktiran? Hahaha!"

 Tari: (Cepat-cepat motong sebelum spekulasi makin liar) "Ramdan lagi shalat dulu di dalam."

Seketika, Alvin, Pajar, Karin, dan Tiara saling pandang. Senyum licik mulai terukir di wajah mereka.

Alvin: "OALAHHH! Jadi ini ceritanya 'Menunggu di Jalur Langit' part 2 ya, Ri? Hahaha! Pantesan tadi bilangnya nggak janjian, ternyata emang udah satu paket!" 🤣

Baru saja Alvin mau buka mulut buat ngeluarin ledekan mautnya yang ke-99, sosok yang dibicarakan muncul dari pintu masjid. Wajah Ramdan nampak segar dengan sisa air wudhu, tapi langkahnya mendadak melambat saat melihat pemandangan di depan teras.

"WADUH! WADUH! WADUH! Ini dia Imam Besar kita baru turun dari menara!" seru Alvin sambil tepuk tangan heboh.

Ramdan cuma bisa menghela napas, mencoba tetap tenang meski hatinya mulai karambol lagi. Dia berjalan mendekat ke arah Tari. Dengan gerakan yang sangat alami—seolah sudah biasa dilakukan—Tari langsung mengulurkan tas ransel milik Ramdan yang tadi ia jaga.

"Nih, tasnya, Ndan," ucap Tari lembut.

Ramdan menerima tas itu, jemari mereka sempat bersentuhan sedetik, bikin udara sore itu makin terasa panas buat mereka berdua. Tanpa diduga, bukannya ngajak Tari langsung pulang karena malu ada Geng Receh, Ramdan malah memilih duduk di bangku panjang, tepat di samping Tari.

Meskipun ada jarak sekitar satu jengkal di antara mereka, bagi Pajar dan Alvin, jarak itu sudah cukup buat jadi bahan gosip satu kecamatan!

Pajar: "Eaaaaaa! Gak ada jarak di antara kita, tapi ada cinta di antara kalian! Hahaha! Ndan, duduknya mepet amat, takut kursinya diambil orang ya?"

 Karin: (Sambil nyikut Tiara) "Tinggal kasih buku nikah aja nih kalau begini caranya. Serasi bener, yang satu kalem, yang satu pinter."

Ramdan: (Tetap berusaha datar meski telinganya mulai merah lagi) "Sudah, jangan berisik. Kasihan orang lain yang mau ibadah."

Alvin: "Halah! Bilang aja lu mau pamer kalau tadi berangkatnya bareng Tari kan? Jujur lu, Ndan!"

Ramdan nggak ngejawab, dia cuma melirik Tari sekilas dari sudut matanya. Tari yang dapet lirikkan itu langsung nunduk sambil gigit bibir bawahnya, nahan senyum yang udah nggak bisa disembunyiin lagi.

Sorakan "Eaaaaa" dari Alvin dan Pajar makin menjadi-jadi, membuat suasana di teras masjid pom bensin itu makin riuh. Ramdan yang merasa wibawanya mulai terkikis oleh godaan maut teman-temannya, langsung mengambil tindakan tegas.

Ramdan: "Ri, yuk pulang. Tapi kita cari makan dulu, ya?"

Tari: (Sedikit terkejut tapi matanya nggak bisa bohong kalau seneng) "Ya udah, terserah kamu aja, Ndan. Tapi... aku lagi pengen makan batagor."

 Ramdan: (Menoleh, menatap Tari serius) "Serius kamu mau batagor?" Tari: "Iya, tiba-tiba pengen banget."

Ramdan langsung berdiri, matanya mengedar ke sekitar jalan raya di depan pom bensin.

Ramdan: "Ya udah, kamu tungguin aja dulu di sini. Aku mau ke sana tuh, kayaknya ada tukang batagor di seberang."

 Tari: (Cepat-cepat menahan lengan baju Ramdan) "Eh, jangan sekarang, Ndan! Nanti aja di depan supermarket yang dekat komplek. Biasanya kalau sore suka nongkrong di situ, batagornya lebih enak."

Ramdan: (Mengangguk patuh, bener-bener jadi penurut kalau sama Tari) "Okey... ya udah kalau gitu. Yuk, kita pulang sekarang."

Ramdan kemudian menoleh ke arah Geng Receh yang sedari tadi menonton "Live Romance" secara gratis.

Ramdan: "Guys, kita pulang duluan ya."

Pajar: (Berteriak sambil dadah-dadah alay) "Woy, Bos! Nanti ke basecamp nggak? Apa mau lanjut sampai pelaminan?"

Ramdan: "Iya, nanti saya nyusul. Kalian duluan aja ke sana."

Ramdan pun menuntun motor matic-nya, sementara Tari mengikuti di belakang dengan senyum yang terus mengembang. Di belakang mereka, Alvin cuma bisa gigit jari sambil teriak, "Jarak satu jengkal, tapi dunianya udah milik berdua! Kita mah kontrakkan doang, Jar!"

Motor matic Ramdan melaju membelah jalanan yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang yang pulang kerja. Di belakang, Tari sesekali mencuri pandang ke arah spion, memastikan apakah Geng Receh masih membuntuti mereka atau tidak. Ternyata aman. Dunia seolah benar-benar menyempit hanya seluas jok motor ini.

"Masih mau batagor yang di depan supermarket itu, Ri?" suara bariton Ramdan memecah keheningan, sedikit teredam oleh angin yang menerpa helm mereka.

"Iya, Ndan. Yang bumbunya agak pedas, ya," jawab Tari sedikit mengeraskan suara agar terdengar.

"Siap, Tuan Putri," gumam Ramdan pelan, sangat pelan, sampai Tari nggak yakin apakah dia salah dengar atau memang Pak Waketos baru saja mengeluarkan sisi humorisnya.

Tak lama, mereka sampai di depan supermarket dekat komplek. Benar saja, mang-mang batagor langganan sudah mangkal di sana. Ramdan memarkirkan motornya, lalu dengan sigap turun dan menghampiri gerobak itu tanpa menunggu diminta.

Tari memperhatikan punggung Ramdan dari kejauhan. Cowok itu nampak serius memesan, sesekali menoleh ke arah Tari untuk memastikan pesanan. Ada rasa hangat yang menjalar di hati Tari—melihat sosok yang paling disegani satu sekolah itu rela antre batagor demi dirinya.

"Nih, bumbunya dipisah sesuai permintaan kamu," ucap Ramdan saat kembali dengan satu kantong plastik hangat di tangannya.

"Makasih ya, Ndan. Jadi ngerepotin," Tari menerima plastik itu dengan mata berbinar. Aroma bumbu kacang yang gurih langsung menusuk hidung, bikin perut makin keroncongan.

"Nggak ada kata repot kalau itu urusannya sama kamu koreksi Ramdan cepat, seolah hampir saja salah bicara.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan memasuki gerbang komplek yang asri. Kecepatan motor makin melambat, seolah Ramdan pun enggan momen ini cepat berakhir. Di balik kemudi, Ramdan tersenyum tipis. Ternyata, melihat Tari bahagia cuma karena sebungkus batagor, jauh lebih menyenangkan daripada dapet nilai seratus di ulangan matematika.

Motor matic Ramdan akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Tari. Suasana komplek sore itu begitu tenang, hanya terdengar suara sayup-sayup azan Magrib yang mulai bersahutan dari kejauhan.

Tari turun dari jok belakang, masih mendekap hangat kantong plastik berisi batagor tadi. "Sekali lagi, makasih banyak ya, Ndan. Udah di anterin pulang sampe dibeliin batagor segala."

Ramdan tidak langsung pergi. Ia melepas helmnya, menyandarkannya di atas spion, lalu menatap Tari dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara lelah dan rasa syukur yang dalam.

"Sama-sama, Ri. Jangan lupa langsung dimakan ya, keburu dingin bumbunya nggak enak," ucap Ramdan pelan.

Tari mengangguk, namun langkahnya tertahan. "Ndan..."

"Iya?" Ramdan menoleh kembali.

"Hati-hati di jalan kamu mau langsung ke basecamp? kamu yakin ke basecamp mau pakai motor yang itu?dan jangan lupa ya istirahat yang cukup karena kamu juga butuh istirahat," ucap Tari dengan nada yang sangat tulus.

Ramdan terdiam sejenak. Angin sore menerpa wajahnya, membuat suasana canggung itu terasa semakin hangat. Ia lalu memberikan senyum tipis jenis senyum yang hanya ia tunjukkan pada segelintir orang.

"Iya, Ri aku mau langsung ke basecamp aja gak apa - apa pakai motor yang ini juga lagian hanya ngumpul aja enggak lagi ke jalanan buat Bakti Sosial, insyaallah aku akan istirahat kok,kan cuma ngobrol aja,kamu juga jangan lupa ya untuk istirahat "

Sebelum Tari sempat menjawab, Ramdan sudah memasang helmnya kembali dan menyalakan mesin motor. "Masuk sana, udah hampir Magrib. Assalamualaikum, Tari."

"Waalaikumsalam, Ramdan..."

Tari terpaku di depan pagar, menatap bayangan motor Ramdan yang perlahan menghilang di tikungan komplek. Ia melihat kantong batagor di tangannya, lalu tersenyum sendiri.

Ramdan, kamu itu kayak batagor ini, batin Tari. Kelihatannya biasa aja, tapi bumbunya selalu bikin nagih dan nggak pernah gagal bikin hangat.

 Tari masuk ke rumah dengan satu perasaan yang pasti: Kalimantan mungkin akan memisahkan jarak mereka, meskipun hanya dua hari,tapi senja di atas motor matic tadi sudah mengunci hati mereka di frekuensi yang sama.

— BAB 15 SELESAI —

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!