"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saga sakit parah
"Bagaimana keadaannya Mak?" tanya Niken.
"Masih parah. Ayo, kamu bantu!" ajak Mak Puah. Niken mengikuti Mak Puah menuju rumah besar itu. Perempuan tua itu sudah dua kali bolak-balik.
"Semalam masih baik-baik saja, ada apa ya Mak?" tanya Niken.
"Hust! Jangan sembarangan tanya, apalagi di rumah itu. Jangan bahas tentang Saga yang sering ke tempat kita. Ucapkan yang perlu, diam lebih baik." kata Mak Puah, mengingatkan Niken.
Tak di sangka, di balik sejahtera-nya para pembantu, ternyata mereka juga harus menjaga banyak hal. Termasuk perilaku dan ucapan, di sini tidak boleh sembarangan. Ada banyak misteri, ketakutan, apakah juga membahayakan?
Niken mengekor di belakang wanita tua itu menuju kamar Saga, di lantai dua.
"Niken?" Dewi baru saja keluar dari kamar pamannya.
"Mbak, apa Tuan Saga baik-baik saja?" tanya Niken.
"Masih lemas." jawab Dewi.
Gadis berusia 24 tahun itu mengamati Niken yang telah berpakaian rapi, ada banyak hal yang ingin di bicarakan dengan adiknya Alang itu. Tapi, situasinya masih belum bisa.
"Saga! Kamu sudah sadar?" Mak Puah meraih tangan Saga, memeriksa jarinya yang pucat.
"Mak, tolong!" jawab Saga, membuka matanya yang berat.
Mak Puah membuka buntalan kain yang di bawanya, ternyata berisi potongan-potongan kayu kering, bunga kering, dan batu kerikil yang unik. Wanita tua itu meletakkannya ke dalam gelas berisi air putih. Lalu menekannya agar terendam sempurna.
"Apa yang terjadi? Kamu lebih parah dari biasanya?" tanya Mak Puah.
Siapa yang tak kenal Nyai Gendis, paranormal sakti yang bisa menumbangkan musuh seketika. Dan bukan rahasia pula bayarannya yang selangit. Kalau bukan karena adanya Mak Puah, sudah sejak lama Sagara tumbang, tunduk di tangannya.
"Entahlah Mak." jawab Saga, menghela nafas yang lemah.
"Ayo minum!" titah Mak Puah, meminta Saga mengangkat tubuhnya.
Niken membantu, menahan bahu Sagara, pria itu menegak ramuan Mak Puah hingga tandas.
Brak!
Pintu di buka kasar, tampaklah Gendis melangkah dengan wajah angkuh.
Mak Puah menyingkir, membiarkan nyonya rumah itu mendekati suaminya.
"Begini lebih baik Mas, kamu istirahat saja di rumah." kata Gendis, membelai wajah Saga yang pucat.
Saga melengos, risih.
Kesal, selalu mendapat penolakan. Gendis mengepalkan tangannya, memukul bantal.
"Kalian? Mengapa masih di sin?" bentak Gendis kepada Mak Puah dan Niken.
Niken menunduk takut, sedangkan Mak Puah segera meraih gelas bekas Saga. Tak ada ketakutan di wajahnya, hanya saja tak mau membuat masalah dengan Gendis.
"Kau tidak berhak membentak mereka?" kesal Saga.
"Tentu saja aku berhak, aku istrimu!" kesal Gendi pula.
Saga memejamkan matanya, tidak mau melanjutkan perdebatan dengan Gendis. Tak cukup tenaga.
Mak Puah dan Niken segera meninggalkan sepasang suami istri yang tak pernah akur itu. Mau bertengkar pun, bukanlah urusan mereka.
"Niken."
Di luar kamar, Dewi masih menunggu.
"Mbak minta maaf sudah membuatmu malu." ucap Dewi. Mereka duduk di teras berdua.
Melihat wajah Dewi, rasanya ingin menangis. Tapi, tak ada gunanya sehingga ia menahan sekuat tenaga. Toh, mereka sama-sama suka apa yang perlu di sedihkan lagi.
"Mas Alang bilang, ingin bicara dulu sama kamu sebelum menikah dengan Mbak. Apa kamu tidak setuju?" tanya Dewi, meraih tangan Niken menggenggamnya. Itu semakin membuat hati Niken terasa nyeri.
"Niken setuju Mbak." jawab Niken, tak tahan lagi hingga air matanya.
"Ken, mbak janji tidak akan menelantarkan kamu. Mbak tidak akan memisahkan kamu dengan Mas Alang. Dia akan terus menyayangimu meskipun sudah menikah. Kamu, jangan sedih, ya." ucap Dewi.
Niken semakin menangis mendengarnya. Andaikan Dewi tahu kebenarannya, apakah Dewi akan tetap berkata demikian? Rasanya ingin berteriak jujur.
"Niken tidak apa-apa, aku juga sudah dewasa, sudah bekerja. Suatu hari nanti juga akan menikah." jawab Niken.
"Mbak takut kamu marah. Takut kamu tak suka lantaran merebut perhatian Alang. Walaupun terkadang, aku juga iri melihat Mas Alang begitu menyayangi kamu, tapi percayalah, Mbak juga sayang sama kamu."
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan pintu rumah besar itu, sehingga pembicaraan keduanya berhenti.
"Niken!"
Ternyata Rumi, sang manager hotel melambaikan tangannya kepada Niken.
"Mbak Rumi?" Niken segera beranjak.
"Kamu mau kerja Ken?" tanya Dewi.
"Iya Mbak." jawab Niken. Ia menatap Dewi yang tampak kecewa, belum selesai pembicaraan mereka. "Mbak Dewi jangan khawatir, kalian menikah saja." Ucap Niken tersenyum.
Dewi mengangguk, bahagia Niken menerima dirinya. Meskipun ada secuil rasa kasihan melihat punggung gadis belia itu kini mengecil dan hilang masuk ke dalam mobil Rumi.
Biarlah, dia terus bekerja karena itu yang terbaik. Dewi masih berdiri di teras, merasa kosong setelah Niken pergi.
"Mbak Rumi, kok bisa jemput Niken?" tanya Niken ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kamu tidak tahu ya, aku tinggal tak jauh dari rumah Pak Sagara. Nggak sengaja lihat kamu." jawab Rumi.
Niken mengangguk, walau sedikit heran. Yang penting hari ini tetap bekerja, masih kepikiran Tuan Saga yang sakit tiba-tiba.
Ternyata, bekerja seorang diri tidak enak. Tak ada Dewi, tak ada tuan besar yang terkadang setor muka beberapa menit, lalu pergi.
"Ken, bersiap pulang." Titah Rumi di sore hari.
"Iya Mbak." jawab Niken, ia melirik jam besar di belakangnya, pukul tiga lewat. Artinya akan pulang lebih cepat.
"Mbak Rumi, di sekitar sini apakah ada kost yang cocok buat Niken?" tanya Niken, duduk di samping Rumi yang menyetir sendiri.
"Kamu mau Kost?" tanya Rumi.
"Iya. Takutnya, merepotkan semua orang. Apalagi pekerjaan tuan Saga ada banyak, tidak selalu ke hotel ini." kata Niken.
Rumi mengangguk, ia terus menyetir sambil memikirkan sesuatu. "Kalau dekat, tidak ada Ken. Kalau di belakang sepertinya ada." jawab Rumi.
Niken tersenyum senang, besok-besok akan melihatnya. Mana tahu cocok di kantong.
"Makasih ya Mbak." ucap Niken, Rumi mengangguk, ia melaju lurus meninggalkan Niken di depan gerbang rumah Saga.
"Niken!"
Mak Puah yang mondar-mandir itu langsung mendekati Niken.
"Iya Mak." jawab Niken, berjalan cepat memasuki halaman.
"Syukurlah kamu sudah pulang." kata Mak Puah, menyeret lengan Niken masuk ke rumah besar dan menuju kamar Saga.
"Kamu tetap di sini sampai Mak kembali. Jangan sekali-kali pergi apapun yang terjadi. Nanti, Ani akan mengantar makanan buat kamu dan buat tuan Saga." kata Mak Puah, wajahnya tampak khawatir, sementara Saga sendiri tertidur pulas.
"Iya. Ta-tapi Mak_"
"Tidak ada tapi! Cuma kamu yang bisa Mak harapkan. Mak harus pergi dan mungkin pulang tengah malam." kata Mak Puah.
Semakin bingung Niken mendengarnya, berdiam di kamar Saga, bagaimana menghadapi istrinya?
"Kalau nyonya Gendis, nyuruh pergi bagaimana?" tanya Niken.
"Tetap jangan pergi! Satu lagi, jangan biarkan Saga memakan makanan yang di berikan Gendis."
"A_"
Mak Puah pergi, kini tinggallah Niken di dalam kamar luas itu. Melihat kesana-kemari membuatnya takut. Kalender berwarna emas terpajang di atas meja, satu tanggal yang dilingkari dengan tinta merah, 'Selasa Kliwon'.
Gleg!
Niken menelan ludahnya sendiri, malam ini....
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis