*Rinkarnasi Seorang Gadis ke Dunia Fantasi*
Elin, seorang gadis biasa dari dunia nyata, mengalami kecelakaan dan meninggal. Namun, dia tidak benar-benar mati. Dia dirinkarnasi ke dunia fantasi yang penuh dengan sihir dan keajaiban.
Di dunia baru ini, Elin bertemu dengan Lilian , seorang penyihir yang kuat, yang memberitahu bahwa dia memiliki kekuatan sihir yang tidak dia ketahui. Elin harus menggunakan kekuatan itu untuk menyelamatkan dunia dari kekuatan kegelapan yang mengancam.
Dengan bantuan Lilian, Elin memulai perjalanan sebagai seorang penyihir muda, menghadapi tantangan dan musuh yang kuat, dan menemukan kekuatan yang tidak dia ketahui. Akan kah Elin berhasil menyelamatkan dunia fantasi dan menemukan kebahagiaan di dunia baru ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Pramita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Akira dan Liana bergegas keluar dari perpustakaan, membawa informasi tentang kelemahan Zoro. Mereka bertemu dengan Kael dan Malakai di alun-alun desa, dan Arisia sudah menunggu mereka di sana.
"Apa yang kalian temukan?" tanya Arisia.
Akira dan Liana menjelaskan tentang kelemahan Zoro, dan mereka semua mengangguk dengan serius.
"Kita harus siap," kata Kael. "Zoro akan kembali, dan kita harus siap untuk menghadapi dia."
Mereka semua mulai membuat rencana untuk menghadapi Zoro, dan mereka bekerja sama dengan penduduk desa untuk mempersiapkan pertahanan.
Tiba-tiba, langit menjadi gelap, dan awan hitam mulai berkumpul. "Dia datang," kata Malakai.
Zoro muncul di depan mereka, dengan mata yang merah dan rambut yang hitam. "Kalian tidak siap untuk menghadapi aku," katanya.
Mereka semua siap untuk bertarung, tapi sebelum mereka bisa bergerak, seorang wanita muda muncul di samping Zoro. Wanita itu memiliki mata yang biru dan rambut yang panjang, dan dia memandang mereka dengan ekspresi yang sedih.
"Zoro, jangan lakukan ini," katanya.
Zoro membalikkan badan, dan mata merahnya berubah menjadi biru. "Lia, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya.
Wanita itu, Lia, adalah adik Zoro, dan dia memiliki kekuatan untuk mengendalikan pikiran Zoro. "Aku tidak bisa membiarkan kamu menghancurkan dunia ini," katanya.
Zoro mencoba melawan, tapi Lia berhasil mengendalikan pikirannya. Zoro jatuh ke tanah, dan Lia memandang mereka dengan ekspresi yang sedih. "Maaf," katanya. "Aku tidak bisa mengendalikan dia lebih lama lagi."
Lia menghilang, meninggalkan Zoro yang masih terjatuh di tanah. Mereka semua mendekati Zoro, tapi Mereka semua mendekati Zoro, yang masih terjatuh di tanah. Akira dan Kael memeganginya, sementara Liana dan Malakai memantau sekeliling untuk memastikan tidak ada bahaya lain.
"Apa yang terjadi?" tanya Arisia, yang masih mencoba memahami situasi.
"Lia, adik Zoro, memiliki kekuatan untuk mengendalikan pikiran," kata Akira. "Dia berhasil mengendalikan Zoro dan membuatnya jatuh."
Mereka semua memandang Zoro, yang masih tidak bergerak. Tiba-tiba, Zoro membuka mata, dan mata merahnya kembali muncul.
"Aku... aku tidak bisa mengendalikan diri," katanya dengan suara yang lemah.
Arisia mendekati Zoro dan meletakkan tangannya di dahinya. "Kita harus membantunya," katanya. "Kita harus menemukan cara untuk menghilangkan kekuatan jahat yang mengendalikan dia."
Mereka semua mengangguk, dan mereka mulai mencari cara untuk membantu Zoro. Tiba-tiba, Lia muncul kembali, dengan ekspresi yang sedih.
"Aku bisa membantunya," katanya. "Aku bisa menghilangkan kekuatan jahat yang mengendalikan dia, tapi aku butuh bantuan kalian."
Mereka semua memandang Lia, dan Arisia mengangguk. "Kita akan membantu," katanya.
Lia menjelaskan bahwa dia bisa menghilangkan kekuatan jahat yang mengendalikan Zoro, tapi mereka harus bekerja sama dan memiliki hati yang murni. Mereka semua setuju, dan mereka mulai melakukan ritual untuk menghilangkan kekuatan jahat itu.
Ritual itu berhasil, dan Zoro terbebas dari kekuatan jahat yang mengendalikan dia. Dia membuka mata, dan mata merahnya berubah menjadi biru. "Terima kasih," katanya, dengan ekspresi yang lega.
Mereka semua tersenyum, dan mereka tahu bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang baik. Mereka semua tersenyum, dan Zoro berdiri dengan bantuan Lia. "Aku tidak tahu bagaimana cara membalas budi kalian," katanya, dengan ekspresi yang tulus.
Arisia tersenyum. "Kamu tidak perlu membalas budi," katanya. "Kita semua bekerja sama untuk kebaikan bersama."
Lia mengangguk. "Ya, kita semua adalah keluarga. Dan keluarga harus saling membantu."
Mereka semua berjalan kembali ke desa, dengan Zoro dan Lia yang berjalan bersama. Mereka berbicara tentang masa lalu mereka, dan bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Ketika mereka tiba di desa, penduduk desa menyambut mereka dengan gembira. Mereka mengadakan perayaan untuk merayakan kemenangan mereka atas kekuatan jahat yang mengendalikan Zoro.
Malam itu, mereka semua berkumpul di sekitar api unggun, dengan makanan dan minuman yang lezat. Zoro dan Lia duduk bersama, dengan senyum di wajah mereka.
"Aku tidak pernah merasa begitu bahagia," kata Zoro, dengan mata yang berkilau.
Lia tersenyum. "Aku juga, kakak. Aku merasa kita telah menemukan keluarga baru."
Mereka semua mengangkat gelas mereka, dan Arisia berkata, "Untuk keluarga, dan untuk masa depan yang lebih baik!"
Mereka semua mengulanginya, dan mereka minum bersama, dengan senyum di wajah mereka. Dan di langit, bintang-bintang bersinar terang, sebagai tanda bahwa masa depan mereka cerah.Mereka semua masih berkumpul di sekitar api unggun, menikmati malam yang hangat dan persahabatan mereka. Tapi, di tengah-tengah kegembiraan itu, ada sesuatu yang tidak beres.
Kael, yang biasanya sangat ceria dan ramah, terlihat sedikit berbeda. Dia terlihat gelap dan tidak fokus, dan dia terus-menerus memandang ke arah Zoro dengan ekspresi yang tidak jelas.
Liana, yang duduk di sebelah Kael, menyadari perubahan itu dan mencoba untuk berbicara dengan dia. "Kael, apa yang salah?" tanyanya, dengan suara yang lembut.
Kael membalikkan badan, dengan ekspresi yang tidak nyaman. "Tidak apa-apa," katanya. "Aku hanya sedikit lelah."
Tapi, Liana tidak percaya. Dia tahu bahwa Kael tidak seperti itu, dan dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu, Zoro dan Lia sedang berbicara tentang masa depan mereka, dan bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk membangun desa mereka. Tapi, Kael tidak bisa tidak mendengarkan percakapan mereka, dan dia semakin gelap.
Tiba-tiba, Kael berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan Liana yang terlihat khawatir. Akira, yang melihat kejadian itu, memutuskan untuk mengikuti Kael.
"Kael, tunggu!" panggilnya, dengan suara yang keras.
Kael berhenti dan membalikkan badan, dengan ekspresi yang tidak jelas. "Apa yang kamu inginkan, Akira?" tanyanya, dengan suara yang kasar.
Akira mendekati Kael, dengan ekspresi yang serius. "Apa yang salah, Kael? Kamu tidak seperti biasanya."
Kael membalikkan badan, dengan ekspresi yang gelap. "Kamu tidak akan mengerti," katanya, dengan suara yang lembut.
Akira tahu bahwa Kael tidak seperti itu, dan dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Coba aku dengarkan," katanya, dengan suara yang lembut.
Kael memandang Akira, dan untuk sejenak, dia terlihat seperti akan membuka hati. Tapi, kemudian dia membalikkan badan dan berjalan pergi, meninggalkan Akira yang terlihat khawatir.Akira mencoba untuk mengikuti Kael, tapi Kael terlalu cepat dan menghilang ke dalam kegelapan malam. Akira kembali ke api unggun, dengan ekspresi yang khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanya Liana, yang melihat ekspresi Akira.
Akira menggelakkan kepala. "Aku tidak tahu. Kael terlihat sangat gelap dan tidak seperti biasanya. Aku mencoba untuk berbicara dengan dia, tapi dia tidak mau mendengarkan."
Mereka semua memandang ke arah yang sama, dengan ekspresi yang khawatir. Mereka tahu bahwa Kael adalah bagian dari tim mereka, dan jika ada sesuatu yang salah, mereka harus mengetahuinya.
Tiba-tiba, Zoro berbicara. "Aku tahu apa yang mungkin terjadi," katanya, dengan ekspresi yang serius.
Mereka semua memandang Zoro, dengan ekspresi yang penasaran. "Apa itu?" tanya Arisia.
Zoro mengambil napas dalam-dalam. "Aku tahu bahwa Kael memiliki rahasia yang dia tidak ingin orang lain tahu. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku yakin itu terkait dengan kekuatan jahat yang mengendalikan aku."
Mereka semua memandang satu sama lain, dengan ekspresi yang khawatir. Mereka tahu bahwa jika Kael memiliki rahasia yang terkait dengan kekuatan jahat, maka mereka harus berhati-hati.
"Aku akan mencoba untuk berbicara dengan Kael lagi," kata Akira, dengan ekspresi yang tegas.
Liana mengangguk. "Aku akan pergi dengan kamu."
Mereka berdua berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan yang lain untuk memandang ke arah mereka dengan ekspresi yang khawatir. Akira dan Liana mencari Kael di seluruh desa, tapi mereka tidak bisa menemukannya. Mereka mencari di rumah-rumah, di lapangan, dan bahkan di hutan, tapi tidak ada tanda-tanda Kael.
"Aku tidak tahu, Liana," kata Akira, dengan ekspresi yang frustrasi. "Aku tidak tahu kemana dia pergi."
Liana memandang sekeliling, dengan ekspresi yang khawatir. "Aku tidak suka ini, Akira. Aku merasa ada sesuatu yang salah."
Tiba-tiba, mereka mendengar suara aneh dari arah hutan. Akira dan Liana memandang satu sama lain, dengan ekspresi yang serius.
"Aku akan pergi untuk menyelidiki," kata Akira, dengan ekspresi yang tegas.
Liana mengangguk. "Aku akan pergi dengan kamu."
Mereka berdua berjalan ke arah hutan, dengan hati yang berdebar. Ketika mereka tiba di tempat asal suara, mereka melihat Kael berdiri di depan mereka, dengan ekspresi yang gelap.
"Kael, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Akira, dengan ekspresi yang khawatir.
Kael membalikkan badan, dengan ekspresi yang tidak jelas. "Aku tidak bisa melakukannya lagi, Akira," katanya, dengan suara yang lembut. "Aku tidak bisa menjadi bagian dari tim ini lagi."
Liana dan Akira memandang satu sama lain, dengan ekspresi yang khawatir. "Apa yang kamu maksud?" tanya Liana.
Kael mengambil napas dalam-dalam. "Aku memiliki kekuatan jahat di dalam diri aku," katanya, dengan suara yang lembut. "Aku tidak bisa mengontrolnya lagi. Aku harus pergi sebelum aku melukai seseorang."
Akira dan Liana memandang Kael, dengan ekspresi yang terkejut.Akira dan Liana memandang Kael, dengan ekspresi yang terkejut dan khawatir. "Kael, tidak!" seru Akira. "Kamu tidak bisa pergi!"
Kael membalikkan badan, dengan ekspresi yang sedih. "Aku harus pergi, Akira," katanya. "Aku tidak bisa membiarkan kekuatan jahat itu mengontrol aku lagi. Aku sudah terlalu jauh."
Liana mencoba untuk mendekati Kael, tapi Kael mengangkat tangannya. "Jangan, Liana," katanya. "Aku tidak bisa membiarkan kamu dekat dengan aku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika aku kehilangan kontrol lagi."
Akira dan Liana memandang satu sama lain, dengan ekspresi yang khawatir. Mereka tahu bahwa mereka harus melakukan sesuatu, tapi apa?
Tiba-tiba, Arisia muncul di belakang mereka. "Akira, Liana, apa yang terjadi?" tanyanya, dengan ekspresi yang serius.
Akira membalikkan badan, dengan ekspresi yang khawatir. "Kael memiliki kekuatan jahat di dalam diri," katanya. "Dia ingin pergi sebelum dia melukai seseorang."
Arisia memandang Kael, dengan ekspresi yang serius. "Kael, kamu tidak harus pergi," katanya. "Kita bisa membantu kamu mengontrol kekuatan itu."
Kael membalikkan badan, dengan ekspresi yang tidak jelas. "Tidak, Arisia," katanya. "Aku sudah terlalu jauh. Aku harus pergi."
Arisia memandang Kael, dengan ekspresi yang sedih. "Baiklah, Kael," katanya. "Jika itu yang kamu ingin, maka pergi. Tapi ingat, kamu selalu memiliki tempat di sini, jika kamu ingin kembali."
Kael memandang Arisia, dengan ekspresi yang terkejut. Kemudian, dia membalikkan badan dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Akira, Liana, dan Arisia memandang ke arah Kael yang menghilang ke dalam kegelapan malam, dengan ekspresi yang sedih dan khawatir. Mereka tahu bahwa mereka mungkin tidak akan pernah melihat Kael lagi.
Arisia mengambil napas dalam-dalam. "Kita harus melakukan sesuatu," katanya. "Kita tidak bisa membiarkan Kael pergi sendirian dengan kekuatan jahat itu di dalam dirinya."
Akira mengangguk. "Aku akan pergi mencarinya," katanya. "Aku tidak bisa membiarkan dia pergi sendirian."
Liana memandang Akira, dengan ekspresi yang khawatir. "Akira, jangan pergi," katanya. "Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi."
Akira membalikkan badan, dengan ekspresi yang tegas. "Aku harus pergi, Liana," katanya. "Aku tidak bisa membiarkan Kael pergi sendirian."
Arisia memandang Akira, dengan ekspresi yang serius. "Akira, tunggu," katanya. "Kita harus membuat rencana terlebih dahulu. Kita tidak bisa hanya pergi begitu saja."
Akira berhenti, dengan ekspresi yang khawatir. "Apa yang kamu sarankan, Arisia?" tanyanya.
Arisia memandang ke arah Liana. "Liana, kamu bisa pergi dengan Akira," katanya. "Aku akan tetap di sini dan menjaga desa."
Liana mengangguk, dengan ekspresi yang tegas. "Aku siap," katanya.
Akira memandang Arisia, dengan ekspresi yang terharu. "Terima kasih, Arisia," katanya. "Kita akan kembali secepat mungkin."
Arisia tersenyum, dengan ekspresi yang lembut. "Hati-hati, Akira," katanya. "Kamu berdua."
Akira dan Liana membalikkan badan, dan berjalan pergi ke arah kegelapan malam, meninggalkan Arisia yang memandang ke arah mereka dengan ekspresi yang khawatir.
Akira dan Liana berjalan ke arah kegelapan malam, dengan hati yang berat dan khawatir. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temui, tapi mereka tahu bahwa mereka harus mencari Kael dan membantunya.
Mereka berjalan selama beberapa jam, dengan hanya suara langkah kaki mereka yang mengganggu kesunyian malam. Liana tiba-tiba berhenti dan memandang sekeliling, dengan ekspresi yang waspada.
"Akira, tunggu," katanya, dengan suara yang lembut. "Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres."
Akira berhenti dan memandang sekeliling, dengan ekspresi yang serius. "Apa itu?" tanyanya, dengan suara yang lembut.
Liana menggulung mata, dengan ekspresi yang khawatir. "Aku tidak tahu, tapi aku merasa ada seseorang yang mengawasi kita."
Akira memandang sekeliling, dengan ekspresi yang waspada. "Siapa itu?" tanyanya, dengan suara yang, dengan suara yang lembut.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Akira dan Liana memandang satu sama lain, dengan ekspresi yang serius.
"Siapa itu?" tanya Liana, dengan suara yang lembut.
Akira mengambil napas dalam-dalam. "Aku tidak tahu, tapi kita harus siap."
Mereka berdua mengambil posisi siap, dengan mata yang waspada dan hati yang berdebar. Tiba-tiba, sebuah sosok muncul dari kegelapan malam.
"Kael!" seru Akira, dengan ekspresi yang terkejut.
Kael memandang Akira dan Liana, dengan ekspresi yang gelap. "Akira, Liana," katanya, dengan suara yang lembut. "Aku tidak ingin kamu berdua ikut campur."
Akira dan Liana memandang Kael, dengan ekspresi yang khawatir.
Akira dan Liana memandang Kael, dengan ekspresi yang khawatir. "Kael, apa yang kamu lakukan?" tanya Akira, dengan suara yang lembut.
Kael memandang Akira dan Liana, dengan ekspresi yang gelap. "Aku melakukan apa yang harus aku lakukan," katanya, dengan suara yang lembut. "Aku harus menghilangkan kekuatan jahat di dalam diri aku."
Liana memandang Kael, dengan ekspresi yang khawatir. "Kael, kamu tidak bisa melakukan itu sendirian," katanya. "Kita bisa membantu kamu."
Kael menggelakkan kepala, dengan ekspresi yang tegas. "Tidak, Liana," katanya. "Aku harus melakukan ini sendirian. Aku tidak ingin kamu berdua terluka."
Akira memandang Kael, dengan ekspresi yang serius. "Kael, kita adalah teman," katanya. "Kita harus membantu kamu."
Kael memandang Akira, dengan ekspresi yang gelap. "Akira, aku tidak ingin kamu berdua ikut campur," katanya. "Aku harus melakukan ini."
Tiba-tiba, Kael mengangkat tangannya, dan sebuah cahaya gelap muncul dari dalam dirinya. Akira dan Liana memandang Kael, dengan ekspresi yang khawatir.
"Kael, tidak!" seru Liana.
Kael memandang Liana, dengan ekspresi yang gelap. "Aku tidak bisa berhenti sekarang," katanya. "Aku harus melakukan ini."
Akira dan Liana mencoba untuk mendekati Kael, tapi Kael mengangkat tangannya lagi, dan sebuah ledakan cahaya gelap muncul, membuat mereka berdua terjatuh ke tanah.
Akira dan Liana terjatuh ke tanah, dengan napas yang terengah-engah. Mereka memandang Kael, yang masih berdiri dengan ekspresi gelap.
"Kael, berhenti!" seru Akira, dengan suara yang lemah.
Kael memandang Akira dan Liana, dengan ekspresi yang tidak jelas. "Aku tidak bisa berhenti," katanya. "Aku harus melakukan ini."
Liana mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya terasa lemah. "Kael, kamu tidak bisa melakukan ini," katanya, dengan suara yang lembut.
Kael memandang Liana, dengan ekspresi yang gelap. "Aku harus," katanya. "Aku tidak bisa mengontrol kekuatan ini lagi."
Akira memandang Kael, dengan ekspresi yang serius. "Kael, kamu tidak sendirian," katanya. "Kita ada di sini untuk membantu kamu."
Kael memandang Akira, dengan ekspresi yang tidak jelas. Untuk sejenak, ekspresi gelapnya menghilang, dan dia terlihat seperti Kael yang dulu.
"Akira... Liana..." katanya, dengan suara yang lembut.
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul di belakang Kael, dan Arisia muncul dengan ekspresi yang serius.
"Kael, berhenti!" seru Arisia, dengan suara yang keras.
Kael memandang Arisia, dengan ekspresi yang gelap. "Arisia, kamu tidak bisa menghentikan aku," katanya.
Arisia memandang Kael, dengan ekspresi yang serius. "Aku bisa," katanya. "Aku memiliki kekuatan yang lebih besar dari kamu, Kael."
Kael memandang Arisia, dengan ekspresi yang tidak jelas.Arisia memandang Kael, dengan ekspresi yang serius. "Kael, aku tahu kamu tidak ingin melakukan ini," katanya. "Aku tahu kamu masih ada di dalam sana, di bawah kekuatan jahat itu."
Kael memandang Arisia, dengan ekspresi yang gelap. "Aku tidak bisa berhenti, Arisia," katanya. "Aku sudah terlalu jauh."
Arisia menggelakkan kepala. "Tidak, Kael," katanya. "Kamu tidak sendirian. Aku ada di sini untuk membantu kamu."
Arisia mengangkat tangannya, dan sebuah cahaya terang muncul. Cahaya itu menyinari Kael, dan dia mulai bergetar.
"Akira, Liana, tolong pegangi Kael!" seru Arisia.
Akira dan Liana bangun dan berlari ke arah Kael. Mereka memegangi Kael, yang masih bergetar karena cahaya Arisia.
"Apa yang kamu lakukan, Arisia?" tanya Akira, dengan suara yang khawatir.
"Aku mencoba untuk mengeluarkan kekuatan jahat dari Kael," jawab Arisia, dengan suara yang tenang.
Cahaya Arisia semakin terang, dan Kael mulai berteriak. Akira dan Liana memegangi Kael dengan kuat, tidak ingin melepaskannya.
Tiba-tiba, sebuah ledakan cahaya muncul, dan Kael berhenti bergetar. Akira dan Liana memandang Kael, dengan ekspresi yang khawatir.
"Kael?" panggil Akira, dengan suara yang lembut.
Kael membuka mata, dengan ekspresi yang tidak jelas. "Akira... Liana..." katanya, dengan suara yang lembut.
Arisia memandang Kael, dengan ekspresi yang serius. "Kael, kamu sudah bebas," katanya. "Kekuatan jahat itu sudah hilang."
Kael memandang Arisia, dengan ekspresi yang terharu. "Terima kasih, Arisia," katanya, dengan suara yang lembut.
Akira dan Liana memeluk Kael, dengan ekspresi yang bahagia. Mereka sudah berhasil menyelamatkan Kael.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?