NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 25: Caspian dan idenya

Langkah kaki Caspian Roosevelt menggema secara ritmis di atas lantai marmer hitam Sektor Utama yang dipoles hingga menyerupai cermin. Di balik kacamata hitamnya yang berteknologi canggih, pupil matanya yang berwarna perak terus bergerak lincah, memindai setiap inci dinding yang ia lewati.

"Lantai ini terlalu bersih," gumam Caspian, suaranya teredam oleh masker oksigen mikroskopis di kerah jasnya. "Orang yang suka lantai bersih biasanya punya banyak rahasia kotor di bawah karpetnya."

Ia berjalan melewati barisan robot penjaga yang berdiri kaku layaknya patung. Caspian terus memainkan peran sebagai Baron Cillian; dagunya diangkat tinggi, bibirnya melengkung dalam seringai bosan yang menghina, dan jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra sesekali mengetuk tongkat peraknya ke lantai—setiap ketukan mengirimkan gelombang sonar frekuensi rendah yang hanya bisa didengar oleh telinga dimensinya.

Namun, saat ia melewati sebuah lorong terisolasi yang dijaga oleh pintu tekanan udara ganda, Caspian berhenti. Sensor di dalam cincinnya bergetar hebat. Ada energi yang sangat ia kenal—energi yang baunya persis seperti toko roti Reggiano, namun terasa... busuk.

"Oh, Aristhos, kau benar-benar pria yang tidak punya hobi lain selain mengoleksi barang curian, ya?"

Caspian melirik ke arah kamera pengawas di sudut langit-langit. Dengan jentikan jari yang sangat halus di balik saku jasnya, ia menciptakan sebuah "loop" visual. Bagi petugas keamanan di ruang monitor, Baron Cillian tampak masih berjalan lurus menuju ruang Direktur, padahal secara fisik, Caspian baru saja melangkah menyamping, menembus dinding molekuler yang ia buat menjadi lunak sesaat.

Di balik dinding itu, Caspian menemukan sebuah ruangan kaca raksasa yang membentang setinggi tiga lantai. Ia terpaku.

"Demi segala bintang di keduabelas dimensi..." napasnya tercekat.

Di dalam ruangan kaca tersebut, ribuan bunga lili—identik dengan bunga lili yang dijaga Elena di rumah—tumbuh dalam pot-pot yang dialiri cairan kimia berwarna ungu pekat. Namun, lili-lili ini tidak berwarna putih murni. Kelopak mereka sehitam malam, dengan urat-urat merah yang berdenyut seolah-olah memiliki detak jantung sendiri. Dari inti bunganya, mengalir cairan kental berwarna gelap yang menetes ke lantai kaca, mengeluarkan aroma kematian yang manis sekaligus memuakkan.

Caspian melangkah masuk ke dalam ruangan kaca itu. Suasananya sangat dingin, dan suara desis dari mesin pengatur suhu terdengar seperti bisikan ribuan orang yang sedang sekarat.

"Baiklah, lili-lili manis," Caspian mencabut salah satu sarung tangannya, memperlihatkan tangannya yang mulai berpendar perak. "Mari kita lihat apa yang pria tua itu lakukan pada kalian."

Ia mendekati salah satu pot di barisan paling depan. Saat jemarinya mendekat, bunga lili hitam itu mendesis, kelopaknya membuka lebar memperlihatkan duri-duri kecil yang bergetar haus darah.

"Lohh. Kau tidak seramah lili milik Elena, ya?" Caspian menjentikkan koin peraknya tepat ke arah inti bunga itu. Koin itu tidak memantul, melainkan masuk menembus kelopak hitam dan memproyeksikan data hologram di udara.

"Mari kita geledah isi kepalamu, Sayang," gumam Caspian. Matanya bergerak cepat membaca barisan kode yang muncul. "Subjek 04-B. Modifikasi Genetik: Sukses. Sumber Energi: Esensi Tanah yang Terkontaminasi. Catatan Aristhos: 'Lili ini adalah wadah yang sempurna untuk menampung residu jiwa yang tersisa dari Elena Senior.'"

Caspian terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Jadi kau mencoba membangkitkan ingatan ibu Reggiano melalui bunga-bunga ini? Benar-benar psikopat yang romantis, Aristhos."

Ia bergerak ke barisan berikutnya, menggeledah bunga demi bunga dengan ketelitian yang mengerikan. Ia bukan lagi pelayan konyol yang suka makan roti; ia adalah sang Pengelana Dimensi yang sedang membedah sebuah kejahatan terhadap alam.

Di barisan kelima, ia menemukan sesuatu yang berbeda. Sebuah bunga lili hitam yang lebih besar dari yang lain, diletakkan di dalam tabung vakum. Di bawahnya terdapat label bertuliskan: PROTOKOL REINKARNASI - INANG UTAMA.

"Inang Utama?" Caspian menyipitkan mata. Ia meletakkan telapak tangannya di tabung vakum tersebut. Seketika, ia merasakan sengatan listrik yang mencoba melempar kesadarannya keluar, namun Caspian justru memperkuat genggamannya. "Jangan coba-coba mengusirku, Nak. Aku sudah pernah melihat neraka yang lebih dingin dari tabung ini."

Melalui koneksi dimensinya, Caspian masuk ke dalam "memori" bunga tersebut. Ia melihat kilasan-kilasan gambar: seorang wanita berambut perak yang sedang menangis, seorang pria (Aristhos muda) yang sedang tertawa sambil memegang botol berisi cairan hitam, dan... sebuah rumah terbakar.

"Begitu rupanya," bisik Caspian. Ia menarik tangannya kembali, napasnya sedikit terengah-engah. "Lili-lili ini bukan hanya eksperimen keabadian. Mereka adalah alat untuk menarik jiwa Elena yang sekarang kembali ke masa lalu. Jika Aristhos berhasil mengaktifkan ribuan bunga ini secara bersamaan, dia akan menciptakan 'medan pemanggil' yang akan merobek jiwa Elena keluar dari tubuhnya untuk masuk ke dalam wadah baru yang dia buat."

Caspian melihat ke sekeliling ruangan. Ribuan bunga hitam itu mulai berdenyut secara serempak, mengikuti irama detak jantung yang sama—detak jantung yang dirasakan Caspian melalui jam saku yang ia berikan pada Reggiano.

"Reggiano pasti akan mengamuk jika dia melihat ini," Caspian mengambil sebuah perangkat kecil dari saku jas birunya—sebuah detonator dimensi mini. "Aku bisa saja meledakkan tempat ini sekarang juga..."

Ia berhenti, tangannya menggantung di udara.

"Tapi tidak. Jika aku meledakkannya sekarang, Aristhos akan tahu aku ada di sini, dan dia akan mempercepat prosesnya pada Elena sebelum Reggiano sempat sampai. Aku harus tetap pada rencana."

Caspian melanjutkan penggeledahannya ke bagian belakang ruangan, tempat sebuah tangki raksasa berisi cairan hitam pekat berdiri. Di dalamnya, ribuan liter cairan itu terus diputar oleh mesin turbin yang berisik. Caspian mencelupkan ujung tongkat peraknya ke dalam cairan itu.

"Analisis," perintahnya pada sistem di tongkatnya.

Suara mekanis muncul di telinganya: "Komposisi: 40% Materi Organik Terurai, 60% Energi Negatif Terkompresi. Bahaya: Zat ini mampu mematikan regenerasi seluler dalam radius 100 meter."

"Cairan ini... ini adalah racun bagi Yggdrasil," Caspian menyadari sesuatu yang lebih besar. "Aristhos tidak hanya ingin keabadian. Dia ingin membunuh pohon purba itu agar dia bisa menjadi satu-satunya sumber energi di dunia ini. Sial, pria ini benar-benar serakah."

Tiba-tiba, pintu kaca di ujung ruangan terbuka. Caspian segera menonaktifkan proyeksi hologramnya dan berdiri tegak, kembali ke mode Baron Cillian dalam sepersekian detik. Ia pura-pura sedang mengagumi salah satu bunga hitam itu dengan tatapan ahli.

Seorang asisten laboratorium masuk, membawa papan data. Ia tampak terkejut melihat sang Baron berada di sana. "Tuan Baron Cillian? Maafkan saya, Direktur Aristhos sudah menunggu Anda di ruang makan pribadi. Bagaimana Anda bisa sampai di sini? Ini adalah area terlarang."

Caspian berbalik perlahan, memberikan tatapan yang sangat menghina hingga asisten itu gemetar. "Terlarang? Untuk seseorang dengan modal investasi sebesar negaraku? Jangan konyol, Nak. Aku tadi tersesat saat mencari toilet, dan aku harus bilang... dekorasi bungamu ini sangat unik. Meski baunya sedikit seperti bangkai tikus yang dicampur parfum murah."

Asisten itu membungkuk dalam-dalam. "Mohon maaf, Tuan Baron. Ini adalah eksperimen agrikultur tingkat tinggi. Mari, saya antar Anda ke Direktur."

"Baiklah, baiklah," Caspian berjalan mendahului asisten tersebut, namun saat melewati tangki cairan hitam, ia menjatuhkan koin peraknya secara "tidak sengaja" ke dalam celah mesin turbin.

Clink.

"Oh, koin keberuntunganku jatuh," ucap Caspian dengan nada malas. "Biarkan saja. Aku punya jutaan koin lainnya."

Di dalam hatinya, Caspian tersenyum licik. Koin itu bukan koin biasa; itu adalah sebuah virus transmisi yang akan perlahan-lahan menyabotase sirkulasi cairan hitam tersebut dari dalam.

Saat mereka berjalan menyusuri lorong menuju kantor Aristhos, Caspian diam-diam menyentuh jam sakunya yang tersembunyi. 'Reggiano, kawan... kau benar-benar harus bersiap. Tempat ini bukan laboratorium, ini adalah altar pemakaman bagi masa lalu mu. Dan aku baru saja menemukan pemicunya.'

Mereka sampai di depan sebuah pintu besar berbahan emas putih. Asisten itu membukanya, memperlihatkan sebuah ruang makan mewah dengan meja panjang yang dipenuhi hidangan kelas atas. Di ujung meja, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang, mengenakan jubah sutra abu-abu. Wajahnya tampak tenang, namun matanya yang tajam mencerminkan kekosongan yang dingin.

"Baron Cillian," suara Aristhos terdengar seperti gesekan kertas tua. "Terima kasih sudah datang jauh-jauh dari kepulauan mu. Aku dengar kau tertarik pada... kehidupan abadi?"

Caspian duduk di kursi yang disediakan, menatap Aristhos dengan senyum paling menawan sekaligus paling palsu yang pernah ia buat. "Keabadian itu membosankan, Direktur. Yang aku cari adalah kekuasaan yang tidak pernah berakhir. Dan aku dengar, kau punya 'kunci' untuk itu."

Caspian meraih gelas anggur merah di depannya, menyesapnya sedikit, lalu mengerutkan kening. "Anggur ini lumayan, tapi sedikit kurang 'bernyawa' dibandingkan koleksiku. Sama seperti bunga-bunga hitam di lorong tadi. Menarik, tapi kurang... darah."

Mata Aristhos berkilat mendengar kata 'darah'. "Kau adalah tamu yang sangat jeli, Baron. Mungkin setelah makan malam ini, aku bisa menunjukkan padamu apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh 'darah' yang tepat."

Caspian tertawa, tawa yang bergema di ruangan yang sunyi itu. "Aku sangat menantikannya, Direktur. Sangat menantikannya."

Caspian kini duduk satu meja dengan musuh bebuyutan Reggiano. Ia telah mengetahui rencana jahat tentang bunga lili hitam dan Elena.

Caspian Roosevelt menyandarkan punggungnya ke kursi tinggi berbahan kulit sintetis yang sangat mahal itu. Ia memutar gelas kristal di tangannya, membiarkan anggur merah seharga ribuan dolar itu berputar membentuk pusaran kecil, persis seperti rencananya yang sedang ia putar di dalam kepala. Di seberang meja, Aristhos menatapnya dengan tatapan predator yang sedang menakar apakah tamunya ini adalah rekan bisnis yang menguntungkan atau sekadar mangsa yang tersesat.

"Direktur," Caspian memulai, suaranya kini melambat, mengambil nada berat seorang pria yang telah melihat terlalu banyak rahasia di berbagai sudut galaksi. "Lili hitam di lorong tadi... sungguh pencapaian yang artistik. Tapi jujur saja, itu terasa seperti teknologi tahun lalu. Kau mencoba membangkitkan residu jiwa? Itu sangat melelahkan, bukan?"

Aristhos berhenti memotong daging steak-nya. Pisau peraknya berdenting pelan saat menyentuh piring porselen. "Tahun lalu? Kau bicara seolah-olah membangkitkan memori yang sudah terkubur tiga dekade adalah pekerjaan membalik telapak tangan, Baron."

Caspian tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat sombong hingga membuat asisten di sudut ruangan merasa tersinggung. "Di Kepulauan Azure, kami tidak berburu bayangan masa lalu, Aristhos. Kami menciptakan masa depan. Kau mengejar 'Darah Bumi' dari garis keturunan Elena Senior, bukan? Aku tahu tentang gadis kecil itu—Elena. Sangat murni, sangat langka. Tapi... sangat rapuh."

Mata Aristhos menyipit, berubah menjadi celah tajam yang berbahaya. "Kau tahu terlalu banyak untuk seorang investor luar, Baron Cillian."

"Aku tahu karena aku berinvestasi pada informasi," sahut Caspian santai, ia menyesap anggurnya lalu melanjutkan dengan nada berbisik yang provokatif. "Tapi pertanyaanku adalah: mengapa kau mempertaruhkan segalanya hanya untuk satu botol obat, jika ada sebuah 'sumber' yang jauh lebih besar di luar sana?"

Aristhos meletakkan serbetnya ke meja. Ketegangan di ruangan itu mendadak naik. "Bicara lebih jelas, atau makan malam ini akan menjadi santapan terakhirmu."

Caspian justru tersenyum lebar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah-olah hendak membagikan rahasia paling terlarang di alam semesta.

"Kau mengincar Elena karena kau pikir dia adalah pewaris tunggal esensi Yggdrasil. Tapi kau lupa satu hal, Direktur. Alam selalu punya sistem redundansi. Yggdrasil tidak pernah meletakkan semua telurnya dalam satu keranjang."

Caspian menjentikkan koin peraknya. Koin itu melayang di atas meja rapat, memproyeksikan sebuah peta bintang yang berdenyut dengan warna biru keperakan.

"Pernahkah kau mendengar tentang 'The Azure Core'? Di kedalaman dimensi saku yang terhubung dengan Kepulauan Azure, terdapat sebuah anomali. Itu bukan sekadar pewaris darah; itu adalah jantung kedua yang lahir dari akar yang terputus saat Yggdrasil pertama kali terluka. Jika Elena adalah 'Darah', maka Azure Core adalah 'Sumsum'-nya. Esensi yang ada di sana... sepuluh kali lebih pekat daripada apa yang bisa kau peras dari seorang gadis kecil di toko roti kumuh itu."

Aristhos terdiam. Untuk pertama kalinya, Caspian melihat keraguan di wajah keriput pria tua itu. Keserakahan adalah musuh utama dari akal sehat, dan Caspian sedang memberi makan monster keserakahan itu dengan hidangan terbaik.

"Azure Core?" gumam Aristhos. "Jika itu benar, mengapa kau datang kemari? Mengapa kau tidak menggunakannya sendiri?"

"Karena untuk membukanya, aku butuh teknologi transfer kesadaran yang hanya kau miliki, Aristhos," Caspian berbohong dengan kelancaran seorang aktor kawakan. "Aku punya kuncinya, kau punya mesinnya. Mengapa berburu seekor kelinci jika kita bisa menangkap naga bersama-sama? Elena itu... dia hanya akan memberimu keabadian yang fana. Dia akan habis sekali pakai. Tapi Azure Core? Itu adalah keabadian yang bisa diperbarui."

Caspian menyandarkan tubuhnya kembali, memperhatikan Aristhos yang kini tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Pikirkanlah," lanjut Caspian, suaranya merayu layaknya iblis. "Kau mengejar Reggiano Herbert, seorang Eksekutor Exclusive yang gila, hanya untuk mendapatkan adiknya. Kau mempertaruhkan seluruh Sektor Utama hanya untuk satu subjek. Tapi denganku? Kita bisa membiarkan Reggiano dan adiknya membusuk di distrik kumuh itu sementara kita berangkat menuju Kepulauan Azure untuk menguasai inti dunia yang sebenarnya."

"Bagaimana aku tahu kau tidak sedang menipuku, Baron?" tanya Aristhos, suaranya kini penuh dengan kecurigaan yang haus akan bukti.

Caspian merogoh saku jas birunya dan mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi cairan biru yang bercahaya—itu sebenarnya adalah esensi murni dari dimensi saku pribadinya, dicampur dengan sedikit bubuk mesiu ajaib agar terlihat "agung".

"Ini adalah sampel kecil dari radiasi Azure Core. Silakan, masukkan ke pemindaimu yang canggih itu. Kau akan melihat frekuensi yang identik dengan Yggdrasil, namun dengan kepadatan molekul yang jauh melampaui apa pun yang pernah kau lihat pada bunga lili hitammu."

Aristhos memberi isyarat pada asistennya untuk mengambil tabung itu. Caspian memperhatikannya dengan senyum penuh kemenangan. Ia tahu, sensor Aristhos akan mendeteksi energi murni yang asing, dan kesimpulan logis sang ilmuwan gila itu adalah: Baron ini berkata jujur.

Sambil menunggu hasil pemindaian, Caspian melanjutkan "serangannya".

"Kau tahu, Direktur, aku sempat melihat lili hitammu tadi. Kasihan sekali. Kau membuang-buang energi negatif hanya untuk menarik jiwa yang sudah tidak mau kembali. Dengan Azure Core, kau tidak butuh jiwa orang mati. Kau bisa menciptakan jiwa baru yang tunduk sepenuhnya padamu. Bukankah itu yang kau inginkan? Bukan sekadar hidup selamanya, tapi menjadi Tuhan atas kehidupan itu sendiri?"

Aristhos menatap tabung biru itu dengan mata yang kini berkilat penuh obsesi. "Tuhan atas kehidupan..."

"Tepat sekali," sahut Caspian. "Bayangkan, Reggiano Herbert mengejarmu ke sini, menghancurkan pintumu, hanya untuk menemukan bahwa kau sudah tidak tertarik lagi pada adiknya. Kau sudah pergi ke tempat yang tidak bisa dia jangkau. Bukankah itu penghinaan yang lebih indah daripada sekadar membunuhnya?"

Caspian tertawa dalam hati.

Strateginya berhasil.

Aristhos mulai tergiur untuk mengalihkan sumber dayanya dari penangkapan Elena menuju ekspedisi "fiktif" ke Kepulauan Azure. Ini akan memberi Reggiano waktu, dan yang lebih penting, ini akan melemahkan penjagaan di sekitar laboratorium Proyek Reinkarnasi karena Aristhos akan sibuk mempersiapkan keberangkatan.

"Baiklah, Baron Cillian," Aristhos akhirnya bicara setelah asistennya membisikkan sesuatu tentang hasil pemindaian yang memukau. "Kau telah memancing rasa ingin tahuku. Aku akan menunda pengambilan sampel subjek Elena selama dua puluh empat jam. Dalam waktu itu, kau harus menunjukkan padaku koordinat tepat dari Azure Core ini."

"Dua puluh empat jam? Terlalu lama, Direktur. Aku bisa memberimu koordinatnya dalam dua jam, setelah kita menyepakati bagi hasil kontraknya," Caspian mengedipkan mata. "Tapi, aku ingin kau mematikan semua sensor pemanggil jiwa di ruangan lili itu sekarang. Frekuensinya mengganggu komunikasiku dengan armadaku di luar dimensi."

Aristhos tampak ragu sejenak, namun keserakahannya menang. "Lakukan," perintahnya pada asistennya.

Caspian bersorak dalam hati. 'Satu poin untuk si Pelayan Roti!' pikirnya. Dengan matinya sensor pemanggil jiwa, Elena akan aman dari "tarikan" mistis bunga lili hitam itu untuk sementara waktu.

"Sekarang, Direktur," Caspian mengangkat gelasnya lagi. "Bagaimana kalau kita bicara tentang detail teknis mesin transfermu? Aku ingin memastikan mesinmu tidak meledak saat menyentuh energi Azure Core yang begitu murni."

Caspian memulai percakapan teknis yang panjang, mencampurkan istilah sains nyata dengan jargon dimensi buatannya sendiri untuk membuat Aristhos semakin pusing sekaligus terpesona. Ia sengaja memperpanjang setiap kalimat, menceritakan anekdot-anekdot palsu tentang bangsawan-bangsawan dimensi lain, hanya untuk membuang waktu.

"Oh, dan jangan lupa, Aristhos. Kau harus menyajikan anggur yang lebih baik jika kita nanti sampai di Azure. Anggur ini benar-benar terasa seperti keringat robot."

Sambil terus berceloteh, tangan Caspian di bawah meja menyentuh cincin peraknya, mengirimkan sinyal samar ke jam saku Reggiano.

"Reggi, umpan sudah dimakan. Si tua ini sedang bermimpi tentang harta karun yang tidak ada. Bersiaplah, pintu belakang akan terbuka dalam hitungan mundur. Jangan sampai kau terlambat, atau aku benar-benar harus memakan steak dingin ini sampai habis."

Caspian Roosevelt, sang pengelana dimensi, terus bersandiwara di meja makan maut itu. Di luar, Sektor Utama tampak tenang, namun di dalamnya, fondasi kebohongan yang dibangun Caspian sedang bekerja seperti rayap, meruntuhkan rencana Aristhos dari dalam—semuanya dilakukan tanpa satu tetes pun darah tumpah dari tangannya sendiri.

Aristhos kini benar-benar teralihkan. Penjagaan pada "Proyek Reinkarnasi" melemah karena semua ilmuwan diperintahkan fokus pada analisis sampel dari Caspian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!