Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Nelson aku….”
Belum sempat Megan menyelesaikan kalimatnya, Bradley sudah menarik pinggang Megan dan memotong ucapannya.
Dia Nora Alexander, istri saya. Mungkin kau salah lihat, Tuan," potong Bradley dengan suara yang sangat pelan namun mengintimidasi. Ia menyodorkan dokumen paspor biru tua ke depan wajah Nelson.
Nelson mengerutkan kening, menatap dokumen itu lalu beralih menatap Megan yang kini dirangkul secara posesif oleh Bradley.
"Nora Alexander?" Nelson membaca dokumen itu dengan ragu, lalu mulai melakukan pemeriksaan biometrik.
"Kali ini kau tidak akan bisa menipu, Brad," desis Megan pelan, menatap Bradley penuh kebencian. Megan berharap sistem biometrik Dulles yang terhubung langsung ke Langley akan membongkar semuanya.
Nelson menatap layar monitornya yang berkedip merah. "Maaf, Tuan. Data biometrik ini tidak cocok. Nona ini terdeteksi sebagai Megan Ford. Saya kenal betul siapa Megan. Apa Anda berniat memalsukan data?"
Bradley tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia mendekat ke arah Nelson, mendekatkan wajahnya hingga Luca bisa mencium aroma bahaya yang pekat.
"Dengar, Tuan Nelson. Aku tahu istrimu sedang berada di Mercy Hospital untuk jadwal kemoterapinya siang ini, bukan?" bisik Bradley, suaranya sehalus beludru namun mematikan. "Dan putra bungsumu... dia baru saja masuk ke kelas matematikanya di Oak Hill Elementary. Akan sangat menyedihkan jika terjadi kekacauan di tempat-tempat itu hanya karena kau terlalu sibuk mengurusi nama seorang wanita."
Wajah Nelson seketika pucat pasi. Tangannya gemetar hebat di atas keyboard. Ia menatap mata Bradley yang sedingin es, lalu melirik ke arah Megan yang tampak terkejut.
"T-tentu saja... maafkan saya. Saya pasti salah lihat," suara Nelson bergetar. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol override pada sistem. "Selamat datang di Virginia, Nyonya Nora Alexander. Maaf atas ketidaknyamanan ini."
Bradley menarik kembali dokumennya dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Ia merangkul bahu Megan lebih erat. "Kau lihat, Meg? Di tanah kelahiranmu pun, identitasmu sudah tidak ada gunanya.”
"Ya Tuhan, jika tanah kelahiranku saja sudah tidak berpihak padaku, lalu pada siapa lagi aku harus meminta bantuan agar terbebas dari iblis di sampingku?" bisik Megan parau. Air matanya luruh, membasahi pipi yang kini tampak tirus. Ia merasa benar-benar tidak berdaya, seperti seekor burung yang sayapnya patah tepat di depan sarangnya sendiri.
Bradley menatap Megan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Mungkin benar, harapan terakhirmu hanya pada putra bibimu, Meg. Aku pun berdoa, semoga dia bisa membebaskan iblis ini agar kau bisa bahagia bersamanya," ucap Bradley, suaranya terdengar begitu tenang namun menyimpan ironi yang menyayat.
"Tunggulah kehancuranmu, Brad! Saat hari itu tiba, aku akan menutup pintu hatiku rapat-rapat, atau bahkan membawa kebencian ini terkubur bersama kematianku!"
"Sangat menakutkan, Meg," jawab Bradley santai, meskipun dalam hati ia merasakan setiap kata Megan seperti sembilu.
Mereka terus berjalan menyusuri selasar terminal kedatangan yang mewah. Tiba-tiba, langkah Megan terhenti. Seluruh tubuhnya menegang, tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Di ujung lorong, dekat pintu keluar VIP, ia melihat sosok yang sangat ia kenali.
Arthur Ford.
Pria itu tampak gagah dengan setelan jasnya, namun yang membuat darah Megan mendidih adalah sosok wanita di samping ayahnya. Alice. Wanita itu sedang menggandeng lengan Arthur dengan manja, menyandarkan kepalanya seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Bradley mengikuti arah pandang Megan, lalu tawa sinisnya pecah. "Wah, wah, wah... lihat itu, Meg. Bahkan di saat putrinya menghilang tanpa jejak, ayahmu masih sempat menikmati kebahagiaannya bersama gadis yang usianya sebaya denganmu?"
"Diam kau!" desis Megan penuh amarah. "Aku akan segera bebas darimu, Brad. Begitu aku memanggilnya, alarm di bandara ini akan berbunyi dan kau... bersiaplah untuk mengakhiri kesombonganmu di dalam sel!"
Bradley justru melepaskan rangkulannya di bahu Megan, memberikan ruang seolah sedang mempersilakan mangsanya untuk lari. "Lakukan, Meg. Berteriaklah. Mintalah bantuan pada pahlawanmu yang sedang sibuk bercumbu itu."
Megan tidak membuang waktu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa keberanian dan rasa rindunya.
"PAPA...!" teriak Megan dengan suara yang memecah riuh bandara.
Suara itu bergema, memantul di dinding-dinding kaca Dulles International Airport. Arthur Ford tersentak, langkahnya terhenti. Ia menoleh dengan cepat ke arah sumber suara, matanya mencari sosok yang sangat ia rindukan.
Namun, sebelum Arthur bisa mengenali wajah putrinya yang tertutup kacamata hitam dan wig cokelat, Bradley sudah lebih dulu menarik Megan ke dalam dekapan posesifnya, menempelkan ponselnya ke telinga Megan seolah mereka sedang berbisik mesra.
"Kau pikir dia akan mengenalimu sebagai Megan Ford, Nora?" bisik Bradley dingin. "Atau dia akan melihatmu sebagai wanita asing yang hanya mengganggu waktu liburannya bersama kekasih mudanya?”
***
"Alice, apa kau mendengar sesuatu?" Arthur menghentikan langkahnya, matanya menyapu kerumunan di terminal bandara dengan gelisah.
"Sesuatu? Apa maksudmu, Arthur?" Alice bertanya dengan nada paling tenang yang bisa ia buat, meski jantungnya berdegup kencang.
"Aku... aku seperti mendengar suara Megan memanggilku."
Alice menyapu sekeliling dengan cepat, dan tepat saat itu, matanya menangkap sosok Megan di ujung lorong. Di sampingnya, Bradley berdiri dengan sikap santai yang mematikan, dikawal oleh Peter dan dua pengawal bertubuh raksasa.
"Sialan, Peter! Kenapa harus di waktu yang sama?" rutuk Alice dalam hati. Padahal, Peter sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, namun sifat posesif Arthur membuatnya tak punya celah bahkan untuk sekadar melirik layar ponsel.
"Aku tidak mendengar apa pun, Sayang. Mungkin kau hanya terlalu merindukan putrimu sampai berhalusinasi," Alice meyakinkan Arthur dengan senyum manisnya.
Sebelum Arthur bisa menoleh lagi, Alice segera menarik kerah baju Arthur dan mencium bibirnya, sebuah pengalihan yang sempurna untuk membungkam insting seorang Direktur CIA.
Di sisi lain, Bradley tertawa puas menyaksikan adegan itu. Ia bisa merasakan tubuh Megan yang bergetar hebat di sampingnya.
"Kau lihat sendiri, Meg? Bahkan ayahmu lebih memilih wanitanya daripada mendengarkan panggilan putrinya yang malang. Menyedihkan sekali," bisik Bradley, suaranya menusuk langsung ke jantung Megan.
Megan ingin berteriak sekali lagi, ia ingin meronta. Namun, Bradley dengan cepat menyodorkan ponsel ke depan wajahnya. Layar itu menampilkan cuplikan video malam itu.
"Pilihan ada di tanganmu, Meg. Berteriaklah sekarang dan bersiaplah untuk hari esok yang jauh lebih suram. Karena saat kau masuk ke pelukan ayahmu, seluruh Amerika termasuk dia akan melihat video ini di setiap layar televisi," ancam Bradley dengan nada rendah yang mutlak.
Hancur sudah. Harapan Megan untuk bebas menguap begitu saja. Kenyataan bahwa ayahnya bahkan tidak menoleh padanya di saat ia paling membutuhkan pertolongan membuat pertahanan mental Megan runtuh seketika. Dunianya menjadi gelap, kakinya melemas, dan kesadarannya menghilang.
"Meg? Megan!" Bradley menangkap tubuh Megan tepat sebelum menyentuh lantai. Ia menepuk pipi Megan lembut, ada kilat kepanikan yang muncul sesaat di matanya yang dingin. "Peter, apa mobil sudah siap?"
"Sudah, Tuan. Semuanya sudah siap. Presidential Suite di The Ritz-Carlton Tysons Corner tidak jauh dari markas CIA sudah saya pesan atas nama Nora Alexander," jawab Peter sigap.
Bradley mengangguk, ia menggendong Megan dalam dekapannya dengan posesif. Ia melangkah keluar bandara dengan kepala tegak, membawa tawanannya menuju jantung pertahanan musuh. Bradley benar-benar sedang menantang maut dengan tinggal tepat di bawah hidung CIA.
****
Megan terbangun dengan rasa mual yang langsung menghantam ulu hatinya. Ia menyadari dirinya berada di sebuah kamar mewah dengan jendela besar yang memperlihatkan lampu-lampu malam kota Virginia di kejauhan.
Di sudut ruangan, Bradley sedang duduk tenang, membersihkan senjatanya seolah itu adalah ritual malam yang biasa.
"Kau sudah sadar, Nora?" tanya Bradley dingin.
"Aku bukan Nora!" Megan bangkit, namun kepalanya terasa berputar.
Tiba-tiba, ponselnya berdering.
suara Peter terdengar saat Bradley mengangkat dan menekan tombol loudspeaker. "Tuan, tim reaksi cepat CIA sudah bergerak. Nelson nampaknya tidak bisa memegang janjinya. Dia melapor."
Bradley mendengus sinis. "Manusia memang makhluk yang sulit diprediksi.”
Megan yang mendengar terkekeh, “kau dengar itu Brad? Mereka akan menjemputku.”
Bradley melangkah mendekat dan duduk di samping Megan, memutar sebuah tablet menghadap Megan.
Layar itu menampilkan gambar real-time yang membuat jantung Megan serasa diremas. Di sebuah suite mewah di New York, Ayahnya sedang tertawa dan bercumbu dengan Alice di sebuah balkon. Pose mereka begitu intim, begitu rendah bagi seorang pejabat tinggi negara.
"Satu kata 'Megan Ford' keluar dari bibirmu, dan video ini akan viral di seluruh jaringan berita dunia dalam lima detik," ancam Bradley, suaranya sedingin es. "Kau ingin melihat Ayahmu hancur? Ingin melihat Direktur kebanggaanmu diseret ke pengadilan moral karena skandal dengan sekretarisnya sendiri?"
"Kau... kau iblis, Brad!" Megan gemetar hebat, air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya. Ia mereda semuanya hancur terlebih saat melihat ayahnya bersama perempuan yang ia benci.
"Aku hanya seorang pria yang menjaga privasi istrinya," Bradley menyodorkan paspor Nora Alexander.
Tak lama terdengar gedoran pintu dari luar. Bradley kemudian berjalan untuk membukanya.
Empat agen bersenjata lengkap masuk dengan moncong senjata terarah pada Bradley.
"Angkat tangan! Jangan bergerak!" teriak salah satu agen. "Kami menerima laporan adanya penculikan terhadap Agen Ford!"
Bradley mengangkat tangan dengan santai, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek. "Agen Ford? Sepertinya petugas bandara kalian sedang berhalusinasi berat karena kurang tidur."
Agen itu mendekati Megan, menatap wajahnya dengan teliti. "Nona, katakan pada kami. Kau Megan Ford, putri Direktur Arthur Ford, bukan? Kau dalam bahaya?"
Megan menatap agen itu, satu persatu,rekan satu institusinya, lalu beralih pada Bradley. Bibirnya bergetar, ia menarik napas dalam-dalam. "Iya! Aku Megan. Dan dia Bradley Brown. Target CIA. Tangkap pria ini!"
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭