"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
"Dandani dirimu secantik mungkin, Leana. Malam ini kau akan makan malam pribadi dengan Aaron di restoran lantai sembilan. Jangan membuat malu nama keluarga kita!" ucap William terdengar mutlak dan tak terbantahkan.
Pria itu berdiri di balkon mansion, membelakangi cucunya, sementara tangannya menggenggam tongkat perak itu begitu erat hingga buku-jarinya memutih.
Matanya yang tua dan tajam menatap ke halaman bawah, di mana Jimmy sedang berdiri tegap di samping mobil, tampak sangat hidup dan tanpa luka sedikit pun.
"Sialan! Bagaimana bisa dua belas orang suruhan Aaron gagal menghabisi satu pengawal tua itu? Nyawanya benar-benar sulit dicabut," maki William dalam hati.
Leana yang sedang duduk di meja rias hanya menatap pantulan kakeknya melalui cermin dengan tatapan kosong.
"Kek, apakah ini benar-benar perlu? Aku baru saja hampir terbunuh di parkiran mall tadi siang. Aku ingin istirahat."
"Justru karena itu kau harus pergi!" William berbalik dengan wajah memerah karena emosi yang tertahan. "Aaron adalah orang yang bisa menjamin keamananmu dengan kekuatan politik keluarganya. Bukan hanya pengawal yang bisanya cuma baku tembak dan merusak properti mall!"
"Jimmy melindungi aku, Kek. Dia menyelamatkan nyawaku!" bantah Lea dengan suara yang mulai meninggi.
"Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai anjing penjaga, Leana! Jangan mencampuradukkan rasa terima kasih dengan perasaan lain yang menjijikkan!" William melangkah mendekat dengan aura yang begitu mengintimidasi.
"Malam ini, jam tujuh. Pakai gaun yang ku kirimkan. Dan ingat, Jimmy hanya akan mengantarmu sampai lobi. Dia dilarang masuk ke area restoran," ucap William lagi.
"Kenapa? Dia pengawalku!" protes Lea.
"Karena ini pertemuan calon suami-istri, bukan sirkus keamanan!" bentak William sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah berat.
Begitu pintu tertutup, Leana segera berlari ke balkon. Ia melihat ke bawah, tepat ke arah Jimmy yang seolah tahu sedang diperhatikan.
Jimmy mendongak, matanya yang dingin bertemu dengan mata kecokelatan Lea.
"Jim..." lirih Lea.
"Pergilah," balas Jimmy seolah tahu apa yang Lea rasakan sekarang.
*
*
Pukul tujuh malam, mereka berada di perjalanan menuju tempat yang sudah diberitahu oleh William.
Jimmy yang menyetir tidak mengeluarkan sepatah katapun, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan betapa ia sedang menahan ledakan amarah.
"Jim."
"Hmm."
"Kau marah?"
"Tidak." balas Jimmy dingin.
"Lalu, kenapa diam saja sejak tadi? Kau tahu kan aku dipaksa?" bisik Lea dari kursi belakang. Ia mengenakan gaun merah senada dengan warna kulitnya, namun wajahnya tampak muram.
"Aku tahu, Nona," jawab Jimmy singkat.
"Kakek melarang mu masuk. Dia bilang kau harus tunggu di lobi," ucap Lea.
Jimmy melirik melalui spion tengah, menatap tajam ke arah Leana. "Aku tidak peduli apa kata kakekmu. Jika pria bernama Aaron itu berani menyentuhmu lebih dari sekadar jabat tangan, aku akan meratakan gedung itu."
"Tapi kakek akan marah besar, Jim. Dia seperti ingin menyingkirkan mu. Aku bisa merasakannya."
"Lalu, kau mau aku berbuat apa?"
Leana memajukan tubuhnya, menyentuh bahu Jimmy dari belakang.
"Kumohon, jangan buat masalah malam ini. Biarkan aku menyelesaikannya dengan cepat, lalu kita pulang."
Jimmy menarik napas panjang sembari mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar liar.
"Dua puluh menit, Lea. Jika dalam dua puluh menit kau tidak mengirim pesan atau keluar dari sana, aku tidak akan peduli lagi pada perintah siapa pun. Aku akan masuk dan menjemputmu."
Mobil pun berhenti di depan lobi restoran mewah tersebut. Petugas valet membukakan pintu untuk Lea. Sebelum keluar, Lea mengusap wajah Jimmy sejenak.
"Aku akan baik-baik saja."
Jimmy tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Leana yang mulai menjauh masuk ke dalam lift menuju lantai sembilan. Begitu Leana hilang dari pandangan, Jimmy mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Awasi semua pintu keluar darurat dan lift barang. Jika kulihat satu saja anak buah Aaron bergerak mencurigakan, habisi mereka di tempat," perintah Jimmy dingin.
Ia menyandarkan punggungnya di jok mobil, matanya menatap tajam ke arah jendela lantai sembilan yang bersinar terang di atas sana.
Firasat buruk pun mulai bergejolak di dadanya. Ia tahu Aaron bukan pria yang akan menyerah begitu saja setelah kekalahan di mall tadi siang.
Pria itu pasti punya rencana yang lebih licik, dan Jimmy bersumpah, jika Aaron berani menyentuh wanitanya, maka dunia Aaron akan berakhir malam ini.
"Lihat saja jika kau berani Aaron!" geram Jimmy.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁