andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Telepon kantor berdering berkali-kali. Suaranya memantul di dinding ruangan yang dingin, seperti memanggil siapa saja yang masih punya nyali. Namun tak satu pun dari kami bergerak. Tak ada tangan yang terulur. Tak ada mata yang berani menatap pesawat telepon itu. Keberanian seolah tertinggal entah di mana, meninggalkan kami duduk kaku dengan dada yang naik turun tidak beraturan.
Empat belas keluarga besar yang berpengaruh pasti sudah saling terhubung malam ini. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka punya kuasa, uang, dan jaringan yang panjang. Jika anak-anak mereka digelandang, tak mungkin mereka diam. Dulu mungkin yang dipertaruhkan hanya citra dan nama baik. Sekarang keadaannya berbeda. Ada ketakutan yang nyata. Ada alasan keamanan yang dijadikan pembenaran. Tapi aku bertanya dalam hati, jika semua orang merasa terancam, di mana lagi tempat yang bisa disebut aman.
Pembunuhan ketiga terjadi tepat di seberang Polsek Pasar Selasa. Jaraknya begitu dekat, seolah pelaku sengaja menertawakan kami. Pembunuhan keenam terjadi di kamar rumah seorang mantan perwira polisi. Tempat yang seharusnya paling dipahami sistem keamanannya. Yang terakhir terjadi di rumah seorang siswa yang dijaga ketat aparat. Tiga puluh polisi bersenjata menjaga satu orang. Di lokasi lain, lima polisi bersiap melakukan penangkapan. Penjagaan seketat itu, namun pelaku teror tetap berhasil membunuh. Fakta itu menampar kesadaran kami tanpa ampun.
Pikiranku terus bergulung. Apakah semua ini benar dilakukan oleh Nirmala. Jika dihitung usianya sekarang, dia baru sekitar enam belas tahun. Seorang anak yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah. Tapi bagaimana mungkin seorang remaja mampu membaca pola, menembus penjagaan, dan bergerak dengan ketepatan seperti ini. Pertanyaan itu berputar tanpa jawaban, membuat kepalaku terasa berat.
Telepon kembali berdering, kali ini lebih lama. Akhirnya Pak Cipto mengangkatnya. Wajahnya langsung berubah pucat. Ia beberapa kali mengucapkan kata siap dengan suara tertahan. Aku tahu, ini bukan sekadar laporan biasa. Setelah sambungan terputus, ia kembali ke kursinya dan menyeka keringat di pelipis. Kami semua kelelahan. Dikejar waktu. Setiap detik terasa seperti ancaman baru. Kematian bisa datang tanpa aba-aba.
“Pak Anton dari intelijen negara memerintahkan kita pindah ke markas pusat,” lapor Pak Cipto dengan suara rendah. “Kita tidak akan kuat menghadapi pergerakan empat belas keluarga besar ini.”
Pak Andi langsung berdiri dan meraih jaketnya. Ia mengajak kami bersiap. Tak ada yang membantah. Tak ada yang bertanya. Keputusan itu terasa seperti satu-satunya jalan keluar.
Pak Cipto kembali mengangkat telepon. Ia meminta Pak Nurdin mengaktifkan ponselnya. Pak Anton akan memberi instruksi langsung. Pak Nurdin menghela napas, lalu merogoh sakunya dan menyalakan ponsel. Wajahnya terlihat letih, seolah beban malam ini bertumpu di pundaknya.
Dari luar terdengar suara mesin berat mendekat. Aku menoleh ke jendela. Lima mobil panser berjajar di halaman polsek. Lampu-lampunya menyala terang, memantul di aspal basah. Kami diperintahkan masuk ke kendaraan pengamanan dari badan intelijen negara.
Aku satu mobil dengan Pak Nurdin. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam. Wajahnya tegang, matanya kosong menatap lurus ke depan. Ponselnya berdering. Ia menjawab singkat, lalu meraih handy talky.
“Empat belas anak bawa ke markas. Kosongkan polsek. Sisakan personel minimum,” perintahnya tegas.
Tak lama kemudian, sepuluh mobil patroli menyusul. Mereka baru saja menyelesaikan penangkapan para pelaku perundungan Nirmala. Sekitar dua puluh kendaraan aparat meraung menembus jalanan malam. Anehnya, jalan justru semakin padat oleh mobil pribadi.
“Kenapa mendadak ramai,” gumamku.
“Mereka mau keluar kota,” jawab Zaki pelan. “Di media sosial ramai kabar kota ini sudah tidak aman.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Semua orang membicarakannya. Banyak yang saling mengingatkan untuk pergi malam ini juga.”
Aku menarik napas panjang. Dampaknya sudah sejauh ini.
Sirene kembali meraung. Dari radio terdengar laporan singkat. Polsek dibakar sejumlah massa bayaran. Pak Nurdin menutup mata sesaat. Aku hanya bisa bergumam lirih. Mereka tidak terima anak-anaknya ditangkap. Bukan kerja sama yang mereka pilih, melainkan serangan. Dan saat itu aku sadar, malam ini hukum sedang diuji oleh kekuasaan, dan kami berada tepat di tengah pusarannya.
.. Sampailah kami di sebuah markas intelijen negara. Bangunannya berdiri kaku, dingin, dan sunyi, seolah tak tersentuh dunia luar. Penjagaan berlapis terlihat sejak pintu gerbang. Setiap sudut dijaga aparat bersenjata. Beberapa penembak jitu ditempatkan di posisi tinggi. Di tempat ini, seharusnya empat belas pelaku merasa aman. Atau setidaknya itulah yang ingin diyakini negara.
Kami digiring masuk ke sebuah ruangan besar. Di sana duduk seorang perwira berusia sekitar empat puluh lima tahun. Ia mengenakan seragam sederhana, tanpa banyak tanda pangkat mencolok. Ia duduk di kursi putar, menatap layar raksasa yang menampilkan kondisi kota melalui puluhan kamera pengawas. Tatapannya tajam, seperti membaca sesuatu yang tak terlihat oleh kami.
Tubuhku terasa remuk. Sejak siang aku hanya mengganjal perut dengan roti. Rokok pun hanya sesekali, sekadar menipu rasa lelah. Kepalaku berat, mataku panas, tapi pikiranku tak bisa berhenti bekerja.
“Romi, kamu ke sini,” ucap perwira itu.
Aku tahu siapa dia. Pak Anton. Bukan dari kepolisian. Ia berasal dari militer. Fakta itu saja sudah cukup membuat dadaku mengencang. Jika ia turun tangan, berarti ini bukan lagi sekadar masalah keamanan sipil. Ini sudah dianggap ancaman negara.
Romi mendekat. Mereka berbincang singkat, tampak akrab, seperti dua orang lama yang akhirnya bertemu lagi dalam situasi terburuk. Setelah semua berkumpul, kami duduk membentuk lingkaran. Tak ada basa-basi.
“Kita akan ambil langkah strategis untuk teror ini,” ujar Pak Anton tenang. “Korban sudah dua belas orang.”
Aku mengernyit. Hitunganku baru sembilan.
“Tiga orang lagi lima belas menit lalu,” lanjutnya. “Semuanya petinggi media massa.”
Ruangan seketika terasa lebih sempit. Pak Anton menghela napas. Ia menambahkan bahwa dari rekam jejaknya, mereka termasuk pihak yang ikut menutupi kasus Nirmala.
Aku ingin menyangkal. Rasanya mustahil menerima kenyataan ini. Seorang remaja, enam belas tahun, membunuh dua belas orang dalam dua hari. Terorganisir. Tepat waktu. Bahkan seolah memberi peringatan. Namun jam menunjukkan pukul dua dini hari. Polanya konsisten. Setiap korban punya benang merah. Semua terkait Nirmala. Sulit menyangkalnya.
Monitor lain menyala. Menampilkan ruang interogasi. Tiga belas anak terlihat duduk berjajar. Wajah mereka congkak, sebagian tersenyum mengejek. Tim gabungan mengelilingi mereka.
“Kalian melanggar hak asasi manusia,” teriak seorang anak perempuan. “Kakekku mantan jenderal.”
Seorang anak laki-laki ikut menyahut. Ia mempertanyakan wewenang aparat dengan nada merendahkan.
“Diam,” bentak petugas.
“Jawab pertanyaan kami,” lanjutnya. “Di mana kalian membuang Nirmala.”
Tawa pecah. Tawa yang dingin dan kejam.
“Oh, kalian antek Nirmala,” ucap salah satu dari mereka. “Nirmala itu cuma anak PSK. Dia pantas mati.”
Tanganku mengepal tanpa sadar. Dadaku terasa panas.
Pak Anton mengangkat tangan, memberi isyarat. “Hentikan interogasi. Lepaskan satu. Pasang kamera tersembunyi.”
Perintah itu dijalankan. Di layar, seorang petugas melepas borgol salah satu anak. Monitor berganti peta satelit. Anak itu dipasangi pelacak. Beberapa tim membuntuti dari jarak aman.
Anak itu berjalan keluar markas tanpa pengawalan dekat. Semua pergerakannya tampil jelas di layar. Tepat sekitar dua ratus meter dari gerbang, sebuah truk sampah melaju kencang. Tanpa rem. Tanpa ragu. Tubuh anak itu terpental.
Teriakan tertahan memenuhi ruangan. Tim di lapangan mengejar. Tembakan dilepaskan. Truk itu akhirnya berhenti. Dari kamera terlihat pasukan khusus memeriksa kendaraan. Dan fakta paling mengerikan terungkap. Truk itu dikendalikan jarak jauh.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Dadaku sesak. Bahkan pasukan elit pun bisa dikelabui.
“Kalian lihat,” suara Pak Anton terdengar hingga ke ruang interogasi. “Hanya markas ini yang relatif aman.”
Ia menatap layar, lalu melanjutkan dengan nada datar. “Jika kalian tidak jujur, aku akan melepaskan kalian semua. Dan kalian akan jadi korban berikutnya.”
Wajah-wajah pongah itu berubah. Ketakutan muncul tanpa bisa disembunyikan.
Aku menelan ludah. Jika mereka saja gentar, apalagi aku. Dalam hatiku tumbuh keraguan baru. Jika ini benar ulah Nirmala, seberapa besar kekuatan yang berdiri di belakangnya. Dan jika bukan, maka kami sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang kami bayangkan.