SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Badai di Balik Takhta Kaca
Sisa-sisa aroma racun dan kayu terbakar dari Paviliun Rembulan masih membekas di ingatan para elit Ibu Kota saat matahari terbit keesokan harinya. Kabar tentang Xiao Lan, sang jenius baru yang menghancurkan perjamuan calon Permaisuri dan melumpuhkan sepuluh pengawal elit klan Feng dalam hitungan detik, telah menjadi topik utama di setiap kedai teh dan barak militer. Namun, di dalam asrama Kelas Emas Akademi Phoenix Langit, sang pusat badai justru sedang duduk dalam meditasi yang tenang, seolah-olah ia tidak baru saja menantang salah satu kekuatan terbesar di kekaisaran.
Lin Xiao menarik napas panjang, mengalirkan Energi Nirwana Hitam melalui jalurnya yang kini semakin lebar dan kokoh. Setelah menyerap racun 'Bubuk Penghancur Nadi' milik Meili semalam, ia merasa fondasi energinya justru semakin padat.
Racun itu bagi orang lain adalah akhir dari jalur kultivasi, namun bagi garis keturunan Mawar Hitam, segala sesuatu yang bersifat destruktif hanyalah katalis untuk kekuatan yang lebih besar.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang berat dan berwibawa memecah kesunyian meditasinya. Lin Xiao membuka mata, kilatan ungu di pupilnya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh tatapan dingin yang waspada.
"Masuk," ucapnya datar.
Pintu paviliun terbuka, memperlihatkan sesosok pria paruh baya mengenakan jubah putih bersih dengan bordiran burung phoenix emas di dadanya. Dia adalah Tetua Agung Mo, kepala disiplin Akademi Phoenix Langit dan salah satu praktisi Tahap Pembentukan Inti tingkat puncak yang paling disegani. Di belakangnya, berdiri dua instruktur senior dengan wajah yang sangat tegang.
"Xiao Lan," suara Tetua Mo terdengar berat, menggema di dalam ruangan. "Apa yang terjadi di kediaman klan Feng semalam bukan hanya sekadar perselisihan antar murid. Kau telah melukai pengawal resmi kekaisaran dan mempermalukan calon Permaisuri. Tahukah kau bahwa perbuatanmu bisa dianggap sebagai tindakan makar?"
Lin Xiao berdiri perlahan, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun di hadapan tekanan aura Tetua Mo. "Tetua, saya hanya membela diri. Jika calon Permaisuri menggunakan racun dalam perjamuannya untuk melumpuhkan murid berbakat akademi, bukankah seharusnya dialah yang dipertanyakan? Ataukah akademi ini sekarang hanyalah anjing peliharaan klan Feng yang hanya bisa menggonggong pada kebenaran?"
Wajah dua instruktur di belakang Tetua Mo memucat mendengar keberanian kata-kata Lin Xiao. Namun, Tetua Mo justru terdiam. Ia menatap Lin Xiao dengan pandangan yang dalam, mencoba mencari setitik ketakutan di mata gadis itu, namun ia hanya menemukan kedalaman jurang yang gelap.
"Kau memiliki lidah yang setajam pedangmu," ucap Mo akhirnya, auranya sedikit melunak. "Aku tidak di sini untuk menangkapmu—setidaknya belum. Namun, klan Feng telah menuntut agar kau dikeluarkan dan diserahkan kepada pengadilan kekaisaran. Satu-satunya alasan kau masih berdiri di sini adalah karena bakatmu yang terlalu berharga untuk dibuang begitu saja oleh akademi."
Mo melangkah mendekat, suaranya merendah. "Minggu depan adalah Turnamen Bintang Phoenix. Ini adalah kompetisi paling bergengsi di mana para pangeran dan putri kekaisaran, termasuk Putra Mahkota Long Tian, akan hadir untuk merekrut talenta baru. Jika kau bisa memenangkan turnamen ini dan masuk ke dalam tiga besar, kau akan mendapatkan 'Perlindungan Suci' dari akademi yang bahkan klan Feng tidak bisa sentuh tanpa izin kaisar."
Lin Xiao menyunggingkan senyum tipis. Turnamen. Itulah panggung yang ia cari. Di sana, ia tidak hanya akan mendapatkan perlindungan, tapi ia bisa menghancurkan reputasi klan Feng di depan mata kaisar dan seluruh rakyat.
"Saya akan berpartisipasi," jawab Lin Xiao singkat.
"Bagus. Tapi ingat satu hal," Tetua Mo berbalik untuk pergi. "Long Tian tidak seperti adiknya atau Feng Meili. Dia adalah naga sejati di antara manusia. Jika dia menyadari bahwa energimu memiliki kaitan dengan... masa lalu yang seharusnya terkubur, bahkan aku tidak bisa menjamin keselamatanmu."
Setelah Tetua Mo pergi, Lin Xiao melangkah menuju balkon paviliunnya. Ia menatap ke arah istana pusat yang menjulang tinggi. Ingatannya kembali ke masa lalu, saat ia dan Long Tian berdiri di tempat yang sama, merencanakan masa depan kekaisaran. Saat itu, ia mengira mereka adalah pasangan yang serasi, hingga pedang Long Tian menembus jantungnya.
Sementara itu, di dalam aula megah Istana Musim Gugur, Feng Meili sedang berlutut di lantai marmer yang dingin. Wajahnya yang cantik tampak sembab karena air mata, namun matanya memancarkan kegilaan. Di hadapannya, duduk seorang pria dengan jubah zirah emas yang memancarkan aura kedaulatan yang luar biasa.
Long Tian.
Putra Mahkota itu sedang membaca sebuah gulungan laporan, wajahnya tenang seolah-olah dunia tidak memiliki masalah. Ia bahkan tidak melirik Meili yang sedang terisak.
"Kakak Tian... kau harus membantuku," isak Meili.
"Gadis bernama Xiao Lan itu... dia bukan manusia. Dia menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan perjamuanku. Dia menghinaku, menghina calon istrimu! Jika kau membiarkannya hidup, dia akan menjadi ancaman bagi takhtamu!"
Long Tian perlahan menutup gulungan itu. Ia menatap Meili dengan mata yang tajam dan dingin. "Meili, kau gagal meracuninya, kau kehilangan sepuluh pengawal terbaikmu, dan sekarang kau merangkak kemari untuk memintaku membersihkan kekacauanmu?"
Meili tersentak, suaranya tercekat. "A-aku..."
"Aku sudah melihat gadis itu di alun-alun," lanjut Long Tian, suaranya datar namun berwibawa.
"Ada sesuatu yang sangat familiar dari auranya. Sesuatu yang seharusnya sudah lama hancur di jurang kematian. Jika dia memang 'dia' yang kembali, maka kau bahkan tidak layak menjadi makanannya."
Long Tian berdiri, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah akademi. "Biarkan dia ikut dalam Turnamen Bintang Phoenix. Aku ingin melihat sejauh mana mawar ini bisa mekar sebelum aku sendiri yang memetik dan menghancurkannya. Jika dia adalah ancaman, aku akan melenyapkannya dengan tanganku sendiri, di depan ribuan rakyat, agar tidak ada lagi harapan yang tersisa bagi para pengkhianat."
Meili menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia benci bagaimana Long Tian selalu bersikap seolah-olah segala sesuatu berada di bawah kendalinya. Namun, ia tidak punya pilihan selain patuh.
Di sisi lain kota, di sebuah penginapan tersembunyi, Kepala Paviliun Gu sedang bertemu dengan beberapa pria berpakaian pelancong biasa. Namun, jika seseorang melihat lebih dekat, mereka semua memiliki tato kecil berbentuk kelopak mawar di pergelangan tangan mereka.
"Jadi, Nona benar-benar kembali?" tanya salah satu pria itu dengan suara bergetar.
"Dia bukan hanya kembali," jawab Gu dengan senyum bangga. "Dia kembali dengan api yang akan membakar seluruh ketidakadilan ini. Persiapkan sisa-sisa anggota klan yang masih bersembunyi. Saat turnamen dimulai, kita harus siap bergerak di bawah bayang-bayang. Pembalasan dendam Mawar Hitam... baru saja dimulai."
Malam itu, Lin Xiao tidak tidur. Ia duduk di bawah sinar rembulan, memegang gulungan kulit naga yang ia ambil dari perpustakaan. Ia mulai memahami teknik tingkat lanjut dari Nirwana Tak Berujung: Langkah Bayangan Kematian.
Teknik ini memungkinkan penggunanya untuk berpindah tempat melalui bayangan musuh, sebuah kemampuan yang sempurna untuk pembunuhan instan. Dengan turnamen yang tinggal beberapa hari lagi, Lin Xiao tahu bahwa ia harus menguasai teknik ini.
Darah di nadinya berdesir setiap kali ia memikirkan wajah Long Tian. Kehidupan ini bukan hanya tentang bertahan hidup; ini adalah tentang memastikan bahwa setiap air mata yang ia tumpahkan di kehidupan sebelumnya dibayar dengan nyawa mereka yang berkhianat.
Badai sedang berkumpul di atas Ibu Kota Phoenix, dan Lin Xiao adalah petir yang akan menghancurkan takhta kaca mereka.