“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP31
Tiga puluh menit telah berlalu. Dua ilmuwan penanggungjawab Virus Necro melewati waktu seperti di neraka karena moncong pistol Andika tak bergeser sedikitpun dari arah kepala mereka.
Jari mereka terus menari di atas panel kendali, mencoba menjalankan prosedur peluncuran yang diminta.
Namun layar utama justru berkedip-kedip menampilkan pesan yang tentunya membuat Andika murka.
ERROR SYSTEM.
ACCESS DENIED.
LAUNCH PROTOCOL FAILED.
“Kenapa belum juga diluncurkan?!” bentak Andika.
Salah satu ilmuwan menelan ludah, jemarinya makin gemetar.
“K-Ketua ... sistemnya tidak merespons. Sepertinya ada sesuatu yang m-mengunci protokol peluncuran dari dalam jaringan.”
“Omong kosong apa yang sedang kalian bicarakan?!” Andika menendang kursi di dekatnya hingga terguling, lalu melangkah cepat mendekati mereka.
Moncong pistol hampir menyentuh kepala salah satu ilmuwan.
“Sudah tiga puluh menit! TIGA PULUH MENIT AKU MENUNGGU KALIAN SEPERTI ORANG TOLOL!” raungnya. “Apa sesulit itu menekan tombol peluncuran, hah?!”
Ilmuwan yang tertembak di kaki mencoba menjawab sambil menahan nyeri dan wajah pucat pasi.
“K-Ketua ... sistem utama kita sepertinya sedang diretas. Ada akses lain yang masuk ke jaringan inti. Kami sedang mencoba menelusuri sumbernya.”
Mata Andika memicing.
“Diretas?” Ia berdecak kesal. “Jadi sekarang kalian mau bilang kalau markas paling rahasia ini juga berhasil ditembus hacker?!”
Tak ada yang berani menjawab, dan kesunyian yang berlalu semakin membuat Andika berang sampai-sampai telapak tangannya yang lebar menyapu meja hingga beberapa alat jatuh berderak di lantai.
“Dasar tidak becus!” makinya. “Aku membayar kalian tiga digit setiap bulan bukan hanya untuk melihat kalian menatap layar seperti orang bodoh! Brengsek kalian!”
Andika melangkah mondar-mandir di hadapan mereka. Tatapannya bergantian menyapu kedua ilmuwan itu layaknya predator mengincar mangsa.
“Kalau keamanan ruangan ini sampai bisa diretas,” desisnya tajam, “itu berarti ada yang ceroboh membuka sesuatu dari jaringan dalam.”
Ia melangkah semakin mendekat, ujung pistolnya mengetuk meja konsol.
“Link apa yang kalian buka sebelumnya, hah?” bentaknya dengan raut wajah ingin menerkam. “Apa yang kalian lihat? Situs porno0?!”
Tuduhan Andika tepat sasaran. Ilmuwan dengan peluru yang masih bersarang di kaki, langsung tersedak ludahnya sendiri. Bahunya menegang, matanya berkedip-kedip gugup. Keningnya sudah banjir oleh keringat, sementara tatapannya tak berani bertemu dengan Andika—persis seperti maling yang baru saja tertangkap basah.
Melihat reaksi itu, amarah Andika langsung memuncak.
“Jadi benar,” desisnya dingin. “Ternyata kau dalang dari kekacauan di tempat ini.”
Tanpa banyak bicara lagi, ia mengangkat pistolnya.
DOR!
Peluru itu menembus dada sang ilmuwan. Pria itu menjerit kesakitan, tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya ambruk ke lantai.
Namun Andika belum puas.
Dengan raut dingin, ia melangkah mendekat lalu menginjak dada pria itu menggunakan ujung sepatunya, tepat di luka tembak yang masih mengucurkan darah.
“AAAAK!”
Ilmuwan itu menggelepar di lantai, mirip ayam disembelih. Sementara Andika hanya menatapnya tanpa belas kasihan, bibirnya baru tersenyum setelah sang ilmuwan tak lagi bernyawa.
Ia segera mengangkat kakinya, lalu berbalik perlahan. Tatapannya jatuh pada ilmuwan yang masih tersisa—pria itu membeku di depan konsol dengan wajah pucat seperti mayat hidup.
“Bereskan kekacauan ini,” ujar Andika dingin. “Aku tidak peduli bagaimana caranya.”
Ia mengangkat pistolnya sedikit, menunjuk ke arah layar sistem.
“Virus itu harus diluncurkan. Segera.”
Ilmuwan itu mengangguk cepat, jari-jarinya gemetar saat mulai mengetik di panel kendali.
“Kau punya waktu lima belas menit,” tambah Andika dengan nada datar. “Kalau kau gagal ....”
Ia tidak menyelesaikan ancamannya. Tatapannya saja sudah cukup menjelaskan.
“Y-Ya, Ketua ...!”
Ilmuwan itu buru-buru bekerja. Namun, baru beberapa detik jemarinya menari di atas keyboard—
BOOOOM!
Suara ledakan besar menggelegar sampai ke markas tempat Andika berada.
Dentumannya membuat lantai sampai bergetar. Lampu-lampu di ruangan langsung berkedip beberapa kali. Debu halus berjatuhan dari langit-langit, sementara kaca tabung reaktor berguncang membuat cairan di dalamnya beriak.
Andika langsung menoleh tajam ke arah jendela, berjalan cepat dan menyingkap kain penutup kaca tebal itu, kilatan api membumbung dari arah markas permainan para Elit. Rahang Andika mengeras. Tangannya mengepal, lalu meninju dinding di samping jendela berkali-kali.
“Anj_ing!” geramnya. “Brengsek!”
Tanpa menunggu lama, ia berbalik dan melangkah keluar ruangan. Sepatunya menghentak lantai koridor dengan langkah cepat menuju ruang observasi lantai atas—tempat ia bisa melihat area luar markas dengan lebih jelas.
Namun baru beberapa langkah, Andika mendadak berhenti. Nalurinya menangkap sesuatu.
Ada langkah kaki lain di belakangnya.
Sangat pelan—hampir tak terdengar. Namun cukup bagi Andika untuk menyadari bahwa seseorang sedang mengincarnya.
Andika berbalik cepat. Pistolnya terangkat refleks, moncongnya langsung mengarah ke sosok di hadapannya.
Namun, Andika justru tertegun. Di hadapannya, Bella sudah berdiri dengan pistol yang lebih dulu mengarah ke kepalanya.
Bella tersenyum sinis. “Hay, Bajingan.”
*
*
*
tapi aku sangat suka.
maaf thor apa ada ceritanya sebelum mereka dewasa? maksudnya sewaktu ayahnya Edwin masih muda?
kalau ada pasti seru.
terimakasih telah menyuguhkan cerita yang epik , keren dan banyak ilmu yang bisa di ambil ..
lanjutkan karyamu thor .👍👍👍😘😘
rajin ibadah kok nyosor?
padahal kan durung halal?
maaf .,... maaf saya hilaf " kata abirama"
🤣🤣🤭
tapi dibalik kekejaman dan kesadisan itu kita jadi tahu yang namanya ilmu KEDOKTERAN.
makanya sekolah di bidang kesehatan Mahal dan membutuhkan sangat banyak biaya dan otak.
maaf kak baru kasih komentar, soalnya masih menyimak 🤭🤭
aku suka karya kakak , meskipun banyak adegan kekerasan dan menyimpang, tapi karyamu keren 👍👍👍
ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴɴ
Cerita mereka slalu menarik dan bikin penasaran.
Makasih utk karyanya Kaka.
semoga cepet pulih kembali dan menghasilkan karya karya novel kembali ya 🫶