Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonansi
Kemudian kembali kedusun 5, disaat yang bersamaan kepala desa baru saja mengalahkan para bayangan hitam yang mencoba menyerang kami. Pak Noman pun mengampirinya dan membantunya berdiri
“Sini pak biar ku bantu” kata beliau sambil menopang tubuh kepala desa. Saat itu aku pun terbangun dan melihat kondisi kepala desa yang terbaring. Namun aku hanya diam saja karena tak berani bicara.
“Heheh” kepala desa tersenyum padaku lalu aku membalasnya dengan senyuman balik. Aku juga gak tau kenapa melakukanya, hanya saja rasanya aneh tapi tenang. Setelah itu aku juga membangunkan teman-teman ku.
A-apa yang terjadi?” tanya Anwar
“Enggak ada apa-apa kok” balas ku
“Ayoo pulang” ajak ku
“Iyah, yang lain pasti juga sudah pulang dari sekolah” jelasku
“Baiklah” balas Anwar tapi tiba-tiba sesuatu terjadi. Kepala desa pun menyuruh kami untuk berhenti dulu, beliau menyarankan kami untuk mengambil jalan yang berbeda dengan jalan kami datang kesini
“Ada apa emangnya pak?” tanya Anwar
“Sudah lakukan saja” bicara Eni
“Anu gini, ini kan pertama kalian datang kedusun lima—jadi kalian nggak mau jalan-jalan dulu gitu berpetualang. Banyak loh tempat-tempat yang bagus disini” tutur kepala desa
“Dimana itu pak?” tanya Eni
“Ada disana, nanti kalian jalan lewat sana saja” jawab pak desa memberikan kan petunjuk jalan lalu setelah itu kami pun pergi
“Tunggu” panggil Pak Noman sehingga membuat kami berhenti kembali lalu dia menyuruh beberapa orang pemiliki tempat produksi gula merah agar pulang bersama kami.
“Terus pak desa sama pak Noman” balas perempuan yang menggendong anaknya
“Tenang saja, kami akan menyusul nanti” balas pak Noman
“Iyah kan pak desa” ujarnya melihat kearah pak desa
“Iyah yah, kalian duluan” balas Pak Desa lalu dengan berat hati perempuan itu pun pergi bersama kami. Saat itu Eni membantunya untuk menggendong anaknya. Aku juga membantu bermain dengan anak itu, walau sebenarnya perasaan ku gak enak karena memikirkan sesuatu entah apa tapi aku khawatir. Kami pun pergi kearah lain meninggalkan Pak Noman dan Kepala Desa.
...
Sementara itu sesuatu yang kami tidak ketahui baru saja terjadi. Kegelapan muncul menutupi dusun 5, burung-burung beterbangan, angin bertiup kencang. Pak Noman dan Kepala Desa berdiri tegak seperti bersiap akan menghadapi sesuatu. Tak lama setelah sebuah bunyi yang sangat kuat terdengar tiba-tiba tanah bergetar lalu dari balik tanah muncul makhluk-makhluk aneh menyerupai tumbuhan jagung namun mereka hidup dan bisa bergerak sendiri—makhluk itu berjalan dan berkeliaran kemana-mana.
“Syukurlah anak-anak itu sudah pergi” ucap Kepala Desa
“Yah, tapi apa tidak apa-apa menyembunyikan ini dari mereka” balas Pak Noman
“Untuk sekarang begini saja dulu” kata kepala desa berjalan keluar dari lingkaran pelindung.
“Lagipula cepat atau lambat mereka juga pasti akan tau” lanjutnya bicara
“Maksud mu anak yang tidak terpengaruh itu” ungkap Pak Noman ikut berjalan keluar dan berdiri disamping Kepala Desa
“Yah, aku harap mereka bisa menyelamatkan desa ini nanti” balas beliau lalu berlari untuk menyerang makhluk aneh yang menyerupai pohon jagung didepannya. Pertarungan pun terjadi antara Kepala Desa dan Pak Noman melawan puluhan makhluk aneh itu yang mereka sebut Hybrida yaitu sejenis monster tumbuhan yang berasal dari evolusi jagung karena terkena cahaya bulan mati. Tak ada yang tau lebih jelas bagaimana prosesnya karena makhluk ini muncul setahun lalu setelah kejadian buruk yang menimpah mahasiswa KKN sebelumnya.
“Pak desaa...” teriak seseorang dari jauh dengan memegang senjata, dia menebas banyak Hybrida dengan senjatanya itu dan orang tersebut tak lain adalah Rio.
“Aku datang untuk membantu” katanya
“Yah makasih, kita harus segera menghabisi mereka semua hari ini juga” kata Kepala Desa
Sementara itu aku, Eni, Anwar dan Dani masih dipejalanan. Kami menemukan banyak hal yang menakjukan, seperti rumah dengan bentuk yang unik, hewan dan tumbuhan yang baru, jalanan yang lebih bagus dan tentu saja pemandangan alam yang sangat indah. Kami menikmati petualangannya karena ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kepala desa sebelumnya. Namun ketika sampai pada jalur yang menanjak aku dan Eni ketinggalan, kami sudah mencoba untuk memanggil Anwar dan Dani tapi mereka sama sekali tidak dengar. Akhirnya kami pun berhenti untuk istirahat sejenak. Saat itu lah kami menemukan sebuah rumah kecil lalu mendatanginya, dirumah tersebut tinggal seorang nenek tua dan kami pun mengajaknya bercerita. Beliau tampak sangat bingung hingga sampai kami memperkenalkan diri sebagai mahasiswa yang melakukan KKN didesanya tapi sepertinya beliau tidak tau apa itu mahasiswa KKN. Meskipun begitu beliau sangat ramah dan menceritakan kami banyak hal terutama tentang desanya ini. Saat itu lah kami mengetahui sebuah fakta baru lagi mengenai desa ini dan yang adalah ceritanya berbeda dengan apa yang diceritakan oleh kepala desa. Aku pun jadi bingung, mana cerita yang benar sebenarnya.
“Dulu tempat ini jauh lebih indah dan menakjukan” ungkap nenek tua tersebut
“Matahari yang bersinar, angin yang sejuk, hujan yang turun sepanjang tahun dan kami hidup dengan sejahtera sebagai petani atau berkebun”
“Siapa orang-orang jahat itu?” tanya Eni lalu nenek itu memberikan jawaban yang membuat kami terkejut dan tidak percaya.
Sementara itu ditempat yang lain Anwar dan Dani baru saja menyadari kalau mereka tinggal berdua saja
“Eni sama Enal mana” tanya Dani
“Nggak tau, tadi bukanya dibelakang yah” jawab Anwar
“Kayaknya mereka ketinggalan deh tadi ketika jalur pendakian” kata Dani
“Jadi gimana nih?” tanya Anwar
“Yah kita harus kembali berarti” balas Dani lalu Anwar pun turun kembali tapi Dani tak mengikutinya. Pemuda itu malah lanjut naik mendaki
“Oi Dani, mau kemana?” panggil Anwar tapi Dani mengabaikanya. Anwar pun tidak jadi turun dan berlari mengejar Dani. Mereka berdua terus mendaki lalu sampailah diatas puncak yang lumayan tinggi. Sebuah pemandangan luar biasa pun terbentang sejauh mata mereka memandang.
“Woah” Anwar merasa takjub
“Ini lah dusun lima yang sebenarnya” gumam Dani lalu menggelengkan kepalanya seraya berkata kembali
“Mmm..bukan—ini lah tempat tinggal kami yang asli” air mata pemuda itu tiba-tiba saja jatuh. Dia menangis sesengguhkan, Anwar yang melihatnya pun ingin menertawainya tapi tak jadi. Dia justru malah merangkul temannya itu atau lebih tepatnya orang lain yang merasuki tubuh Dani.
Saat itu perasaan semua orang saling beresonansi, kami menatap kearah langit yang cerah seperti telah terjadi sesuatu. Beberapa orang menyadari hal tersebut seperti Kepala Desa, Pak Noman, Ibu desa, Rio, Firga, Deta, Brian bersama Gina lalu dari mahasiswa, Ruka, Fatin, Zee, dan Putra serta satu orang lagi ditempat yang jauh yaitu Pak Putu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Ini masih rahasia, jawabanya akan ada pada lanjutan chapter berikutnya . Jadi tetap baca terus yah dan nantikan.