NovelToon NovelToon
Anak Dari Pengkhianatan

Anak Dari Pengkhianatan

Status: tamat
Genre:Anak Haram Sang Istri / Tukar Pasangan / Selingkuh / Tamat
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.

Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.

Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.

Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 21.

Malam itu, Viera mendapatkan undangan ke acara pesta. Pesta itu digelar di sebuah ballroom hotel, lampu kristal di langit-langit ballroom memantulkan cahaya kekuningan yang hangat. Namun bagi Viera, ruangan itu terasa dingin. Musik gesek mengalun lembut, mengisi celah-celah percakapan yang sengaja dibuat terdengar sopan. Para tamu bergaun dan berjas rapi berdiri berkelompok, tertawa kecil, saling bertukar kartu nama dan senyum yang terukur.

Viera berdiri sejenak di depan cermin kamar mandi, merapikan gaun biru tua sederhana yang ia kenakan. Tidak terlalu mencolok, tidak pula berusaha bersembunyi. Rambutnya disanggul rendah, riasan wajahnya tipis. Ia datang bukan untuk dilihat, tapi karena pekerjaannya menuntut kehadiran.

“Ini cuma pesta,” gumamnya pada bayangan sendiri. “Datang, lalu bicara seperlunya... dan pulang.“

Ia menarik napas panjang sebelum kembali ke ballroom.

Begitu kakinya melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung menoleh. Sebagian mengenal namanya dari forum profesional, sebagian lagi mengenalnya dari bisik-bisik yang tak pernah benar-benar padam—tentang masa lalunya, tentang anak tanpa ayah yang sah, tentang cerita yang selalu dipelintir.

Viera sudah terbiasa.

Ia menyapa beberapa rekan kerja, berbincang singkat, lalu mengambil segelas air mineral. Saat itulah ia melihat sosok yang membuat rahangnya menegang.

Viera menyesap air mineralnya perlahan, mencoba menenangkan denyut di pelipisnya. Ia tidak menyangka akan bertemu dia di sini.

Adrian.

Pria itu berdiri tidak jauh dari pintu masuk, mengenakan setelan abu-abu tua yang sangat ia kenal—rapi, bersih, dan selalu tampak seperti seseorang yang bisa dipercaya.

Namun malam ini, Adrian tidak sendirian. Di lengannya, bergelayut seorang wanita dengan gaun merah marun berpotongan elegan. Rambut panjangnya terurai rapi, wajahnya dipoles sempurna, dan senyum di bibirnya.

Lucy—tunangan Adrian.

Darah Viera seperti berhenti mengalir sesaat, wanita yang beberapa hari lalu berdiri di depan rumahnya, melontarkan kata-kata kejam tentang Arka, tentang dirinya, tentang masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Wanita yang menatapnya seolah Viera adalah noda yang harus dihapus.

Dan kini, Lucy berdiri anggun di ballroom, seolah tidak pernah menampar harga diri seorang ibu di depan anaknya sendiri.

Viera menurunkan gelasnya, jari-jarinya sedikit gemetar. Nalurinya ingin berbalik, mencari pintu keluar, menghindar sebelum mata mereka bertemu. Tapi kakinya tidak bergerak.

Tidak! Aku tidak bersalah. Katanya pada diri sendiri

Ia berdiri lebih tegak, menarik napas dalam-dalam, dan melangkah ke arah meja hors d’oeuvre. Ia tidak akan bersembunyi. Sayangnya, dunia sering kali punya rencana sendiri.

Lucy adalah orang pertama yang melihatnya. Senyum wanita itu menegang sepersekian detik, lalu kembali terbentuk—kali ini lebih tajam, lebih dingin. Tangannya mencengkeram lengan Adrian sedikit lebih erat, seolah menandai wilayah.

Adrian mengikuti arah pandangan tunangannya, dan tatapannya bertemu dengan Viera.

Wajah Adrian berubah. terkejut, canggung, lalu… sesuatu yang menyerupai rasa bersalah.

“Viera?” panggilnya, refleks.

Nama itu meluncur terlalu jelas, terlalu akrab, memecah lapisan formalitas pesta.

Beberapa kepala menoleh.

Viera berhenti melangkah. Ia tidak tersenyum, tidak juga menghindar. Ia hanya menoleh, menatap Adrian dengan mata yang tenang—tenang yang dibangun dari tujuh tahun bertahan sendirian.

“Dokter Adrian,” sapanya singkat, profesional.

Lucy tertawa kecil, tawa yang tidak menyentuh matanya. “Oh, jadi ini Viera,” katanya, seolah baru pertama kali melihat. “Yang sering kau ceritakan.”

Adrian menegang. “Lucy—”

Lucy menepuk lengannya lembut. “Tidak apa-apa, Sayang. Aku senang akhirnya bisa bertemu langsung.” Ia melangkah mendekat, menatap Viera dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Kau… tampak berbeda dari yang kubayangkan.”

“Begitu juga Anda,” jawab Viera datar.

Ada jeda, udara di antara mereka menebal.

“Aku tidak tahu kau akan datang ke acara ini,” kata Adrian akhirnya, nada suaranya terdengar kikuk.

“Aku diundang sebagai pembicara panel,” jawab Viera. “Ini bagian dari pekerjaanku.”

“Tentu,” Lucy menyela cepat. “Wanita mandiri, bekerja, membesarkan anak sendirian. Sangat… menginspirasi.”

Kata terakhir itu diucapkan dengan nada yang nyaris seperti ejekan.

Viera menatap Lucy lurus-lurus. “Aku tidak di sini untuk menginspirasi siapa pun.”

Lucy tersenyum lebar. “Sayang sekali, padahal ceritamu menarik. Ibu-ibu di lingkaran sosial kami pasti suka, kisah perjuangan seorang ibu tunggal.”

Beberapa tamu di sekitar mereka mulai memperhatikan, pura-pura sibuk namun telinga terarah mendengarkan gosip.

Adrian menarik napas panjang. “Lucy, tolong—”

“Aku hanya ingin bicara baik-baik.” Ia menoleh ke Viera. “Kau tahu, setelah kejadian kemarin… aku pikir kau akan cukup bijak untuk menjaga jarak.”

Viera mengepalkan tangannya perlahan, namun suaranya tetap stabil. “Sekali lagi saya katakan, saya tidak pernah mendekati tunangan Anda. Dan saya tidak tahu Anda ada, sampai Anda berdiri di depan rumah saya.”

Lucy mengangkat alis. “Oh, jadi sekarang kau berpura-pura jadi korban?”

“Saya seorang ibu,” jawab Viera pelan tapi tegas. “Dan anak saya tidak pantas direndahkan seperti itu, dia tidak tahu apa-apa.”

Adrian menatap Lucy, ekspresinya berubah. “Apa maksudnya?”

Lucy menoleh cepat. “Tidak ada apa-apa, hanya kesalahpahaman kecil.”

“Kesalahpahaman yang melibatkan penghinaan dan tamparan?” suara Viera sedikit menurun, namun justru itulah yang membuatnya terdengar lebih berbahaya.

Sekeliling mereka kini benar-benar sunyi. Musik tetap mengalun, tapi percakapan terhenti.

Adrian memucat. “Lucy… kau tidak bilang—”

Lucy mendengus. “Jangan dramatis, dia juga tidak sendirian waktu itu. Ada pria lain yang membelanya, entah siapa. Mungkin, pria yang berhasil digoda olehnya... selain kamu.”

Jantung Viera berdegup keras.

“Cukup,” kata Viera. “Aku tidak datang ke sini untuk membuka luka lama atau membela diriku. Jika kalian merasa kehadiranku mengganggu, aku bisa pergi.”

Ia berbalik.

Namun Lucy tertawa kecil lagi. “Lihat? Dia malah lari. Bukankah itu artinya... dia mengakui, kalau dia seorang wanita penggoda pria berpasangan.“

Langkah Viera terhenti, ia menoleh perlahan. Ia menatap Lucy tanpa gentar. “Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku, dan sebaiknya kau berhenti merendahkanku!”

Adrian tampak tertekan. “Viera, aku minta maaf jika—”

“Tidak perlu, Dokter,” potong Viera dengan ekspresi dingin. “Yang perlu Anda lakukan adalah jujur, bukan padaku... tapi pada dirimu sendiri.”

Ia melangkah pergi sebelum ada yang sempat menahan. Namun belum sempat mencapai pintu keluar, sebuah suara lain menyapanya.

“Viera.”

Langkahnya kembali terhenti.

Suara itu… terlalu familiar.

Ia menoleh.

Lucca berdiri beberapa meter darinya, mengenakan jas hitam yang sama seperti hari itu. Tatapannya tertuju padanya—tenang, dalam, dan penuh sesuatu yang belum selesai.

Ballroom seolah membeku untuk kedua kalinya malam itu.

Lucy menatap mereka bergantian, matanya menyipit. “Pria ini lagi...”

Lucca tidak mengalihkan pandangannya dari Viera. “Kau baik-baik saja?”

Viera mengangguk kecil.

Lucca menoleh ke arah Adrian dan Lucy dengan sorot mata membeku. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang jelas. “Aku sarankan kalian menikmati pestanya saja, jangan ada yang mengulang kebodohan seperti beberapa hari lalu. Kalau sesuatu terjadi pada Viera…” Ia berhenti sejenak, sudut bibirnya terangkat tipis.“…kalian akan menyesal!”

Lucy mencibir. “Ancaman lagi?”

“Coba saja!” jawab Lucca singkat.

Viera menarik napas, menatap Lucca sejenak. Ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan—marah, rindu, kecewa, dan luka yang tak sempat sembuh.

Namun malam ini bukan tentang itu. “Terima kasih,” ucapnya akhirnya.

Lucca mengangguk. “Aku akan mengantarmu pulang.”

Viera ragu sejenak, lalu mengangguk. Mereka melangkah keluar ballroom bersama, meninggalkan bisik-bisik yang mulai kembali hidup.

Di belakang mereka Adrian berdiri terpaku, sementara Lucy menggertakkan gigi—menyadari bahwa Viera sepertinya dilindungi seseorang yang mempunyai kekuasaan. Dan ini, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Dan bagi Viera, malam itu menandai satu hal yang pasti. Masa lalu yang ia kubur dengan rapi… telah menemukan jalannya kembali.

Di luar hotel, langkah Viera mendadak terhenti. Dadanya terasa sesak ketika kata-kata itu sampai ke telinganya, seolah ia salah mendengar. Matanya membelalak, lalu perlahan beralih menatap Lucca, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang tak sempat ia susun.

“Apa… apa yang barusan kau katakan?” tanyanya lirih, nyaris tak bersuara.

Lucca menatap Viera tanpa ragu. “Jangan menolakku lagi, menikahlah denganku. Kita bisa bahagia, bersama anak kita.”

Wajah Viera seketika mengeras. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat, jantungnya berdegup tak karuan. Ia sama sekali tak menyangka Lucca akan mengucapkan itu, dengan berani dan terang-terangan.

1
Tiara Bella
wow mantap Viera....arka Lucca....
Aditya hp/ bunda Lia
tamat ....makasih Thor meski retensi jelek tapi lanjut sampe tamat gak digantung 🙏🙏❤️
Aditya hp/ bunda Lia: sami -sami 🙏
total 2 replies
Tiara Bella
ceritanya bagus..
Tiara Bella
ehhh udh tamat aja....dan happy ending ...
Rere💫: Yeaayyy 🤏😍
total 1 replies
rayy syiiruup
menarik
Mundri Astuti
kasihan Vierra di satu sisi dia juga mau ngalahin egonya dng menerima lucca, di satu sisi ada ibunya lucca yg masih dendam.
Tiara Bella
udh sh nikah ada Viera JD km pnya status dan ada yg lindungin km....
rayy syiiruup
kok gk bs like ya
rayy syiiruup: cek lg deh... aku cb
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
padahal laporin ajah tuman wae ah ... gereget 😬
Nie
Yeeyyy akhirnya papa Lucca datang 😊😊ayo kalian bersatulah,tidak usah peduli dgn mereka2 yg tdk merestui,bangun keluarga sendiri dan berbahagialah...
Tiara Bella
wow Lucca dtng disaat yg tepat....kynya dia memantau trs keadaan anaknya buktinya dtng pas ada masalah ya kan
susilawatiAce
hhaai thor
Rere💫: Hai kak, makasih ratingnya😍
total 1 replies
Tiara Bella
kasian mereka hrs berpisah....mungkin nnti akan bertemu kembali ya
Aditya hp/ bunda Lia
jadi seperti itu kebenaran nya kasian Viera dan David adalah korban keegoisan orang tuanya Viera sih .... karena status
Tiara Bella
oh begitu ceritanya.....
Dian Rahmawati
Rasain kamu Calista
Aditya hp/ bunda Lia
puas akhirnya si Calista di tangkap Damian pasti nyesel jadi cowok lemah mudah tergoda rayuan setan Calista nyeselkan kamu sekarang Viera lepas darimu ....
Tiara Bella
akhirnya Calista Ditangkap....dan Damian cerai sm Viera ....tinggal Viera sm David/Lucca aja....kapan resmiinnya
Aditya hp/ bunda Lia
Viera mulai sekarang jangan keras kepala lah David ingin melindungi kamu da terutama anaknya
Dian Rahmawati
calista jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!