NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mirea Rubby Qinyan.

Langit di atas Kota Qiangsan berwarna kelabu pucat. Awan menggantung rendah di atas Skyport International Airport, membuat bangunan kaca dan baja itu tampak seperti sebuah istana dingin yang berdiri di tengah dunia modern.

Di jalur VIP bandara, tiga mobil Mercedes-Benz S-Class hitam meluncur masuk secara bersamaan, bergerak sempurna seperti sebuah formasi militer. Ketiganya berhenti tepat di depan pintu utama terminal.

Pintu mobil terbuka hampir serempak.

Dari dalam keluar lima orang.

Mereka adalah Keluarga Rothwell nama yang baru beberapa tahun terakhir mulai mengguncang Qiangsan. Orang kaya baru, yang kekayaan mereka dibangun dari jaringan bisnis di ibu kota, dan kontrak oleh beberapa pengusaha.

Di antara mereka, seorang wanita berusia awal empat puluhan turun paling cepat. Mantel hitam panjangnya berkibar tertiup angin bandara. Rambut hitamnya disanggul rapi, namun raut wajahnya terlihat cemas.

Di tangannya, ia memegang sebuah foto. Foto seorang gadis muda, kulit cerah, mata besar, senyum yang masih polos.

Itu adalah Mirea.

“Apa… Mirea sudah keluar?” suara wanita itu gemetar saat ia menatap ke arah pintu kedatangan.

Dia adalah Tira Rothwell, ibu kandung Mirea.

Belum sempat siapa pun menjawab, seorang pria muda berambut hitam pekat, dengan postur tegap membuka map cokelat berisi dokumen dari panti asuhan di tangannya.

“Belum,” ujar Aren Rothwell, putra sulung keluarga itu sekaligus Kakak pertama Mirea. Suaranya tenang, tetapi jarinya sedikit menegang di atas kertas.

“Orang dari panti asuhan bilang mereka hanya bisa membelikan tiket ekonomi promo. Jadi penerbangannya paling terakhir.”

Ia lalu mengangkat selembar kertas, menampilkan data identitas seorang gadis.

Nama: Mirea Rothwell

Usia: 20 tahun

Status: diadopsi oleh Panti Asuhan Silver Light

Tira menutup mulutnya, air mata langsung menggenang.

“Ini semua salahku…” bisiknya dengan suara nyaris pecah.

“Kalau saja aku tidak lengah waktu itu… adik kalian tidak akan diculik. Dia tidak perlu hidup susah bertahun-tahun…”

Seorang pria muda lain, dengan wajah tampan dan mata yang terlihat lembut namun cemas, menghela napas berat.

“Itu bukan salah ibu sendiri,” ujar Theo Rothwell, anak kedua dan kakak kedua mirea.

“Tapi… aku tetap khawatir. Di Ibu Kota dingin sekali. Apa dia punya pakaian tebal? Apa dia tau cara merawat dirinya?”

“Panti asuhannya sangat miskin,” sela Noel Rothwell, anak ketiga juga kakak ketiga Mirea, dengan nada iba. Dari sekian kakak dialah yang paling dramatis dan gampang tersentuh hati.

“Aku dengar mereka hanya bisa hidup dari donasi. Makan pun pas-pasan.”

Ia menatap foto itu lama.

“Menurut kalian… Mirea pasti akan jadi kurus kering? Pucat? Kekurangan gizi?”

Keheningan jatuh seperti beban di antara mereka.

Akhirnya, seorang pria berusia hampir lima puluh tahun melangkah maju. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya keras, tetapi matanya penuh penyesalan.

Davito Rothwell. Ayah kandung Mirea.

“Kalian semua,” katanya dengan suara berat namun tegas,

“ingat baik-baik. Tak peduli seperti apa penampilan Mirea nanti, dia tetap permata keluarga Rothwell.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menebus kesalahan kita padanya, Mengerti!”

“Baik,” jawab ketiga putranya hampir bersamaan.

................

Tak jauh dari sana, kelompok lain juga berdiri.

Semua mengenakan pakaian hitam, potongan rapi, sepatu mengilap, dan sikap yang membuat orang-orang di sekitar mereka tanpa sadar menjaga jarak. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa berada di sisi gelap dunia.

Di antara mereka, satu sosok terlihat paling mencolok.

Seorang pria dengan jaket kuning terang.

“Fang.”

Ia menoleh.

Wajahnya dingin dan terlihat ada beberapa baret-baret luka yang mengering di sana.

“Pemimpin Geng Warrior hari ini melarikan diri naik pesawat ke ibu kota,” lapor salah satu bawahannya dengan suara rendah.

“Kebetulan ada di penerbangan yang sama dengan bos.”

“Apa?”

Fang Yugala mengepalkan tangan. Ia adalah tangan kanan Midnight Vontage, sindikat Pembunuh nomor satu.

“Hari ini bos menemui keluarganya. Jangan sampai terjadi kesalahan apa pun.”

Ia menyapu wajah para anak buahnya.

“Kita tangkap pemimpin Geng Warrior. Ingat tangkap ia hidup-hidup.”

“Baik!”

................

Di Dalam Pesawat,

Seorang gadis duduk dengan sikap yang bertolak belakang dari apa yang dikatakan. Ia duduk dengan tenang, anggun, dan terlihat baik-baik saja.

Mirea Rubby Qinyan.

Ia menyuapkan potongan daging steak ke mulutnya dengan gerakan halus. Tak lama seorang pramugari datang sambil membawa beberapa setel pakaian.

“Nona Mirea, pesawat sudah mau mendarat. Apa anda mau memakai baju ini?” katanya lembut, menunjukkan sweter rajut wol premium yang tampak hangat dan mahal.

Mirea meletakkan garpunya, mengelap sudut bibirnya lembut dengan sapu tangan, lalu membuangnya.

“Enggak.”

Ia mengangkat mata dan menunjuk lurus ke arah pramugari.

“Aku mau... Bajumu.”

“Bajuku?” Pramugari itu terbelalak.

Ia mengangguk lalu tersenyum lembut.

................

Suara pengumuman, roda koper, dan langkah kaki membentuk simfoni bising. Di tengah keramaian itu, seorang pria penuh luka berjalan terseok-seok sambil terus menunduk menutupi wajahnya. Darah terlihat mengering di pelipisnya. Tatapan matanya liar menelisik sekeliling.

Tiba-tiba, tepat di depannya muncul rombongan Midnight Vontage.

Wajah pria itu pucat seketika.

Dengan gerakan panik, ia meraih seorang gadis di depannya dan menariknya ke dalam pelukannya, menjadikan gadis itu sandera. Sebilah pisau menempel di lehernya yang putih itu.

“Jangan ada yang ke sini, atau aku tidak akan keberatan membunuh perempuan ini!” teriaknya.

Kerumunan langsung pecah. Orang-orang berlari menjauh, teriakan dan langkah kaki berhamburan.

Fang dan anak buahnya menerobos maju.

Pada saat yang sama, keluarga Rothwell tiba di lokasi. Tira mengangkat foto di tangannya, lalu menatap wajah sandera itu.

Wajahnya panik bukan main.

“Itu… itu Mirea…”

“Jangan sakiti anakku!” teriak Tira, dan langsung berlutut di lantai bandara memohon agar Mirea di lepaskan.

Fang yang berlari juga ikut berlutut.

“Jangan sakiti pria ini,” katanya mendesak. “Oke?”

“Kalian gila, ya?” teriak Noel. “Jelas-jelas adikku yang lemah dan tidak berdaya sedang dalam bahaya!”

Fang hanya menoleh sekilas lalu kembali memohon.

“Dia masih berguna. Hati-hati. Jangan lukai dia.”

Pria yang menyandera itu tertegun.

“Apa maksudmu?”

Gadis dalam cengkeramannya perlahan berbalik menatap wajahnya.

Yensen Daryanta, pemimpin Geng Warrior membeku.

“Ka… kamu…”

Mirea tersenyum tipis.

“Kamu Rub… Ruby Wo—”

Belum sempat kalimat itu selesai, Mirea sudah menyuntikkan obat bius ke punggungnya.

Tubuh Yensen ambruk seperti boneka yang talinya dipotong.

“Dik Mire!”

“Anakku!”

“Mirea!”

Mirea memandang keluarga Rothwell, matanya tiba-tiba berkaca-kaca.

“Ibu, kakak, ayah… a… aku takut banget…”

Ia menjatuhkan diri dan pingsan.

Keluarga Rothwell langsung berhamburan, mengangkat tubuhnya dengan panik.

“Cepat bawa Mirea ke rumah sakit!”

“Siapkan mobil!”

“Hati-hati!”

Di sisi lain, Fang berdiri perlahan, menyibak jasnya, menatap Mirea dengan mata penuh keterkejutan dan kekaguman.

Anak buahnya berbisik, “Bos, apa mataku bermasalah? Wanita seperti Ruby Wolf yang bisa melawan tiga puluh pria sendirian, bagaimana bisa ia bilang kalau ia takut?”

“Kamu tidak paham?” Fang tertawa kecil. Bawahannya menggeleng.

“Bos sengaja berpura-pura menjadi gadis baik-baik yang lemah agar tidak mengejutkan keluarga Rothwell.”

Ia menepuk bahu bawahannya.

“Bos memang jenius dalam berakting.”

"Haha, ayo." ujar Fang berlalu.

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!