Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lengket
Sasa langsung menggandeng lengan Tama begitu setelah setangah berlari menghampirinya. Tama sudah tentu langsung menepis tangan Sasa. Tapi dasar Sasa tak kenal lelah apalagi malu, meskipun ada Kara di sana ia tetap kembali menggandeng lengan Tama. Ditambah kakaknya yang baru saja bergabung seolah dianggap tak ada oleh Sasa.
Tama merasa terusik dengan tatapan tak senang Dirga, ia kembali menghempas tangan Sasa. Tapi sesuai dugaan gadis itu kembali menggandengnya.
"Lo liat sendiri kan? dia yang mulai, gue nggak ngapa-ngapain."
"Awas aja kalo lo macem-macem sama adek gue." balas Dirga.
"Mohon maaf aja yah, gue kagak minat sama adek lo,Ga." jawab Tama, "kalo bisa mending lo bawa ini bocil jauh-jauh dari gue dah." lanjutnya.
"Ih Sasa nggak mau." buru-buru Sasa malah makin mengeratkan tangannya.
"Liat sendiri kan?" Tama melirik sekilas Sasa kemudian menatap Dirga yang nampaknya makin tak senang.
Beruntung Kara cepat-cepat membawa Dirga menjauh dari sana,"kita dipanggil ante Alya, kesana yuk!"
Sebelum menjauh Dirga menunjuk Tama penuh ancaman, seolah meminta dia untuk segera menjauh dari adiknya.
"Kakak lo gaje banget. Dikiranya gue mau macarin lo kali." Tama beranjak ke sebuah meja, Sasa tentu saja mengikutinya.
"Iya, dasar kak Dirga! Bang Tama kan emang nggak akan macarin Sasa yah. Soalnya udah 831 dari kemaren ditolak mulu."
"Iya lah, ngapain gue pacaran sama bocil kacang ijo kayak lo." Tama menatap Sasa setengah mengejek.
Sasa malah tersenyum receh,"iya lah lagian Bang Tama nggak akan macarin Sasa tapi bakal nikahin Sasa."
Ck! Tama berdecak lirih. Aneh, ada saja jawabannya. Sudah ditolak mentah-mentah bukannya mundur malah makin menjadi-jadi.
"Nggak usah ngarep yah. Macarin aja gue ogah apalagi nikahin? ngimpi."
"Ya nggak apa-apa kali ngimpi dulu, Bang. Kan emang semua berawal dari mimpi."
Tama menggelengkan kepala,"bener-bener lo yah!"
"Emang bener kan?" balas Sasa.
"Tau ah! cape ngomong sama lo."
"Istirahat dulu bang kalo cape. Sasa nggak akan kemana-mana kok, selalu ready buat Abang."
"Gaje banget sumpah. Nggak kakaknya sekarang adeknya juga gaje." lama-lama Tama mulai greget dengan setiap jawaban Sasa. Ingin rasanya mencubit bibir gadis itu.
"Makanya Bang biar nggak gaje, biar jelas, kasih status dong." Sasa memangku dagu dengan kedua tangan menangkup pipi.
"Status? status apaan woy? makin ngawur aja lo!" balas Tama, "dah lah gue mau pulang aja. Ngomong sama lo bikin cape." lanjutnya yang beranjak menjauh untuk mengajak mamanya pulang.
“Ma, ayo pulang...” seru Tama yang sedikit berlari ke meja Jesi karena terus di kejar-kejar Sasa. Dia mendadak berhenti sesaat sebelum sampai ke meja Jesi hingga Sasa yang mengejarnya menabrak punggungnya.
“Aduh! Abang kalo ngerem jangan dadakan dong! Sakit nih.” Sasa mengusap keningnya. Tama tak peduli dan beranjak menghampiri mamanya yang terisak di pelukan Jesi.
“Mama kenapa?” ucapnya seraya memegang bahu sang mama hingga pelukan keduanya terlepas.
Raya buru-buru menghapus air matanya, “mama nggak apa-apa.”
“Tapi mama nangis”
“Nggak apa-apa mama nangis karena seneng kok, bisa ketemu lagi sama temen lama.” Jawab Raya.
“Seneng juga karena bisa ketemu calon mantu seperti Sasa yah, Tan?” ucap Sasa yang ikut nimbrung. Mendengar ocehan Sasa membuat Raya tersenyum.
“Tuh kan seneng tante nya ketemu Sasa.” Lanjutnya.
“Lo diem deh, bocil! Nyambung mulu.” Gertak Tama. “balik ke abang loh gih! Liat noh mata abang lo udah mau keluar melototin gue!”
Sasa menengok ke arah Dirga dan menjulurkan lidahnya, mengejek. Kemudian dia kembali memegang lengan Tama.
“Jauh-jauh deh! Males gue urusan sama kakak lo.”
“Ya udah deh Sasa gandeng calon mertua aja.” Sasa beralih memegang lengan Kiri Raya dengan manja. Gadis itu bahkan terus menempel pada Raya hingga dia berpamitan untuk pulang.
“Lo mau kemana, Sa?” Dirga menarik kerah baju adiknya saat gadis itu hendak ikut masuk ke mobil Tama.
“Mau nebeng pulang lah.” Jawabnya enteng.
“Pulang bareng Mommy. Jangan kecentilan!” gertak Dirga, dia sampe lelah dari tadi terus menggertak adiknya tapi yang digertak nggak ada takut-takutnya sama sekali.
“Tante, titip calon suami aku yah.” Ucapnya saat Raya melambaikan tangan padanya, “Kak Dirga nggak asik!” lanjutnya pada Dirga sambil manyun dan berlalu ke mobil mommy nya.
Mobil Tama melaju pelan meninggalkan halaman, tapi senyum Raya belum juga pudar. Tatapannya masih tertinggal ke arah Sasa yang kini sudah menjauh, seolah ada kehangatan aneh yang ikut terbawa masuk ke dalam dadanya.
“Kok bisa ya, ada anak seceria itu,” gumam Raya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Tangannya masih refleks terangkat, melambai kecil, padahal mobil Sasa sudah tak terlihat.
Tama mendengus dari balik kemudi. “Ceria apanya, Ma. Ribet. Berisik. Nggak tau malu lagi,” gerutunya, nada kesalnya masih kental sejak tadi.
Raya menoleh, menatap putranya dengan senyum tipis tapi penuh arti. “Justru itu yang bikin mama suka. Anak perempuan kayak gitu tuh hidup, Tan. Mama seneng liatnya deket sama kamu.”
“Ma, jangan ikut-ikutan,” sahut Tama cepat. “Dia itu sumber masalah. Dateng-dateng bikin kepala aku pening. Awal ketemu aja dia nyuruh aku ngitung kacang ijo, jajanin, nraktir, pokoknya aku apes tiap ketemu dia selalu dipalak.”
Raya terkekeh pelan. “Kok mama liatnya kamu malah hidup ya, sejak ada dia.”
Tama terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke jalan. “Hidup? Yang ada aku capek ma.”
Raya tak membalas lagi. Senyumnya hanya makin mengembang, seolah sudah menemukan sesuatu yang bahkan belum disadari Tama sendiri. Sementara Tama menekan pedal gas sedikit lebih dalam, berusaha menjauh—tanpa sadar—dari gadis yang sejak tadi sukses membuatnya kesal… dan entah kenapa, sulit benar-benar diabaikan.
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa