Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALUR YANG DIPOTONG
Nayla pertama kali menyadari ada yang benar-benar salah saat listrik rumah mati selama hampir lima menit.
Bukan pemadaman terjadwal.
Bukan gangguan umum.
Hanya rumah itu.
Ketika lampu kembali menyala, jam di microwave sudah reset, dan sistem keamanan otomatis melakukan reboot.
Arka berdiri di ruang tamu, menatap panel listrik dengan alis berkerut.
“Ini bukan kebetulan,” katanya.
Nayla mengangguk. “Ini peringatan.”
Sejak hari itu, tekanan tidak lagi hanya soal uang dan kontrak.
Ia mulai menyentuh keamanan.
Dua kamera luar rumah mati secara misterius.
Satu mobil pengawal bannya robek oleh paku kecil yang sengaja ditebar di jalur keluar.
Dan satu driver lama tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan jelas.
Arka memanggil tim teknis internal.
“Mereka nggak mau kita merasa nyaman,” katanya.
Nayla menatap halaman rumah. “Karena orang yang tidak nyaman lebih mudah dikendalikan.”
Di kantor, situasinya lebih buruk.
Satu proyek besar tertahan karena izin kota “belum turun”.
Satu pengiriman tertunda di gudang.
Dan satu vendor luar kota yang baru Nayla rekrut tiba-tiba ditawari kontrak eksklusif oleh perusahaan lain—yang dimiliki orang lama Darma.
Nayla berdiri di depan papan tulis kantor Arka, memandangi daftar jalur yang ia buat.
Satu per satu… disilang.
“Dia nggak cuma motong,” kata Nayla pelan.
“Dia lagi mau bikin kita kelaparan.”
Arka menatapnya. “Sampai aku datang minta.”
Nayla mengangguk. “Dan itu tidak akan terjadi.”
Malam itu, Raka datang lagi.
Kali ini tanpa senyum.
“Darma mulai main orang lapangan,” katanya pelan.
“Bukan cuma kertas.”
Nayla menatapnya. “Seberapa jauh?”
“Cukup jauh sampai bikin kamu harus mulai jaga jarak dari tempat biasa.”
Arka mengeras. “Kamu mau kami sembunyi?”
“Bukan sembunyi,” jawab Raka.
“Bersiap.”
Nayla duduk di tepi meja, menatap dua pria itu.
“Kalau dia mau potong jalur,” katanya,
“berarti kita harus bikin satu jalur yang dia tidak bisa sentuh.”
Raka mengangkat alis. “Dan jalur apa itu?”
Nayla menarik napas panjang.
“Publik.”
Arka menoleh tajam. “Maksud kamu… media?”
“Ya,” jawab Nayla.
“Kalau kita kelihatan, dia tidak bisa bergerak sebebas ini.”
Raka terdiam beberapa detik, lalu berkata,
“Kalau kamu bawa ini ke publik, permainan berubah.”
Nayla mengangguk. “Itu tujuannya.”
Malam itu Nayla berdiri di balkon, menatap kota yang berkilau.
Ia tahu satu hal:
Setelah ini, tidak ada lagi permainan diam-diam.
Karena ia baru saja memilih jalur yang tidak bisa dipotong—
jalur yang disaksikan semua orang.
Dan Darma, mau tidak mau, akan muncul ke permukaan.
Besok paginya Nayla tidak ke kantor Arka.
Ia berdiri di depan sebuah gedung sederhana di kawasan hukum kota—firma hukum kecil yang ia pilih sendiri, jauh dari jaringan lama Arka.
Di dalam, seorang wanita paruh baya menyambutnya.
“Kami sudah mulai audit,” katanya.
“Dan… ada beberapa hal yang harus Anda lihat.”
Nayla duduk.
Di hadapannya, beberapa map dibuka.
“Perjanjian awal perusahaan suami Anda,” lanjut wanita itu,
“mengandung satu klausul yang tidak pernah dicabut.”
Nayla menunduk, membaca.
Hak pengendalian darurat.
Satu pasal yang memberi wewenang kepada sekelompok investor lama—yang dikendalikan Darma—untuk mengambil alih sementara jika Arka dianggap “tidak stabil”.
Nayla menghela napas pelan.
“Jadi selama ini dia bukan cuma menekan,” gumamnya.
“Dia pegang tombol mati.”
Wanita itu mengangguk.
“Dan tombol itu bisa ditekan kapan saja.”
Sore itu Nayla pulang dengan wajah tenang tapi dada berat.
Ia duduk di ruang kerja dan menatap Arka.
“Dia bisa ambil alih perusahaan kamu secara legal,” katanya.
Ruangan langsung membeku.
“Apa?” tanya Arka.
Nayla mendorong map itu ke arahnya.
“Dia nggak mau kamu bangkrut. Dia mau kamu datang merangkak.”
Arka menutup mata sesaat.
“Berarti ini bukan sekadar tekanan…”
“Ini kandang,” jawab Nayla.
Sunyi jatuh lama.
“Apa langkah kita?” tanya Arka.
Nayla berdiri.
“Kita buka satu-satunya kunci kandang itu.”
“Dan kuncinya?”
Nayla menatap jendela.
“Rahasia lama perusahaanmu.”
Kalimat itu menggantung.
Karena Nayla sadar:
Kalau rahasia itu dibuka,
Darma akan kehilangan senjata —
tapi Arka juga bisa ikut jatuh.
Dan inilah titik balik cerita sebenarnya.
Malam itu hujan turun tanpa suara keras.
Hanya rintik yang memukul kaca seperti napas panjang kota yang lelah.
Nayla duduk di ruang kerja dengan map-map audit terbuka di meja. Layar laptopnya menyala, menampilkan salinan perjanjian lama, catatan notaris, dan daftar nama investor awal yang sudah tidak lagi muncul di laporan publik perusahaan.
Nama Darma muncul berkali-kali.
Tidak selalu sebagai pemilik.
Tidak selalu sebagai pengarah.
Tapi selalu sebagai simpul.
Arka berdiri di dekat jendela, memunggungi Nayla. Bahunya tegang, tangannya mengepal longgar, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu.
“Kamu mau dengar dulu dari aku,” katanya akhirnya. “Atau kamu mau lanjut baca sampai kamu tahu semuanya sendiri?”
Nayla mengangkat kepala. “Aku mau dengar.”
Arka menarik napas panjang, lalu berbalik.
“Perusahaan ini tidak berdiri dari nol,” katanya pelan. “Aku dapat modal awal dari jaringan Darma. Bukan sebagai pinjaman biasa, tapi sebagai bentuk ‘kepercayaan’. Mereka buka pintu, mereka sambungkan aku ke klien-klien besar, mereka bantu aku naik cepat.”
Nayla tidak memotong. Ia menunggu.
“Tapi ada harga,” lanjut Arka. “Aku harus jadi wajah bersih. Aku yang maju. Mereka yang bergerak di belakang.”
“Dan kamu terima,” kata Nayla.
“Aku muda. Ambisius. Aku pikir aku bisa lepas nanti.”
Nayla menatap map-map itu. “Dan ternyata tidak.”
Arka mengangguk.
“Ada proyek-proyek awal yang… tidak sepenuhnya bersih,” katanya pelan. “Bukan ilegal di atas kertas, tapi memanfaatkan celah. Aku tanda tangan. Aku ikut. Dan Darma menyimpan semua buktinya.”
Nayla merasakan perutnya mengencang.
“Jadi itu sebabnya dia berani tekan kamu sekarang,” katanya. “Karena dia pegang masa lalu kamu.”
“Iya,” jawab Arka. “Dan bukan cuma masa lalu. Dia pegang mekanisme legal yang bisa bikin aku terlihat tidak stabil.”
Nayla menutup mata sebentar.
“Kalau dia tekan tombol itu,” gumamnya, “kamu jatuh. Tapi dia juga.”
“Tidak sepenuhnya,” kata Arka. “Dia sudah siapkan pengganti.”
Sunyi menekan ruangan.
“Kamu tahu siapa?” tanya Nayla.
Arka menggeleng. “Belum. Tapi aku tahu ini bukan soal aku lagi. Ini soal mempertahankan struktur lama mereka.”
Nayla berdiri, berjalan ke jendela di samping Arka.
“Berarti satu-satunya cara kita keluar,” katanya, “bukan cuma potong jalur. Kita harus buka cerita.”
Arka menoleh. “Itu bisa hancurkan aku.”
Nayla menatapnya lurus. “Dan juga bisa membebaskan kamu.”
Hujan terus turun.
Di luar, kota tetap bergerak, seolah tidak tahu bahwa di dalam rumah itu dua orang sedang memegang keputusan yang bisa mengubah hidup mereka sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya, Nayla sadar:
Ia bukan lagi cuma istri kontrak.
Ia sekarang jadi penjaga masa depan seseorang.
Dan mungkin juga—penentu kejatuhannya.
Nayla tidak langsung menjawab.
Ia menatap hujan di luar jendela, lampu-lampu kota yang buram oleh kaca basah, dan bayangannya sendiri yang terlihat asing—lebih dingin, lebih tenang dari Nayla yang ia kenal dulu.
“Kalau kita mau buka cerita,” katanya pelan,
“kita tidak bisa lempar semuanya sekaligus.”
Arka menoleh. “Kenapa?”
“Karena kalau kita lempar semua, mereka akan balik menyerang lebih cepat daripada publik bisa mencerna,” jawab Nayla.
“Kita butuh urutan.”
Ia kembali ke meja, menarik satu map paling tebal, lalu membukanya.
“Ini proyek awal,” katanya. “Yang paling sering muncul di dokumen Darma.”
Arka mengangguk. “Itu yang paling banyak celahnya.”
“Dan paling banyak saksi,” tambah Nayla.
Ia menunjuk satu nama. “Orang ini. Mantan manajer proyek. Dia keluar sebelum perusahaan kamu benar-benar besar.”
Arka mengernyit. “Dia menghilang.”
“Tidak,” jawab Nayla. “Dia disingkirkan.”
Arka terdiam.
“Orang seperti dia biasanya punya dua pilihan,” lanjut Nayla.
“Menjual diri ke jaringan lama… atau hidup sembunyi.”
“Dan kamu mau cari dia,” kata Arka.
Nayla mengangguk.
Dua hari kemudian Nayla tidak ditemani pengawal resmi.
Ia menyetir sendiri ke kawasan lama kota—deretan ruko tua yang sebagian sudah tutup, papan nama pudar, dan jalanan yang lebih sering dilewati truk kecil daripada mobil pribadi.
Ia berhenti di depan sebuah bengkel kecil.
Catnya mengelupas, pintunya setengah terbuka.
Seorang pria keluar, tangan kotor oli, wajahnya keras tapi lelah.
“Nayla,” katanya lirih.
Ia terkejut. “Kamu kenal aku?”
“Semua orang di lingkaran lama tahu nama kamu sekarang,” jawabnya. “Pertanyaannya: kamu datang sebagai apa?”
Nayla menatapnya lurus. “Sebagai orang yang mau dengar.”
Pria itu tertawa pendek tanpa humor. “Kamu datang terlambat.”
“Tapi aku datang,” jawab Nayla.
Ia mengeluarkan satu foto lama dari tasnya—foto proyek awal Arka, dengan beberapa orang berdiri di depan gudang yang sekarang sudah tidak ada.
“Nama kamu ada di sini,” katanya. “Dan aku mau tahu kenapa kamu pergi.”
Pria itu menatap foto itu lama.
“Aku tidak pergi,” katanya akhirnya.
“Aku disuruh hilang.”
Nayla duduk di kursi bengkel yang berderit.
“Siapa yang nyuruh?” tanyanya.
Pria itu menghela napas panjang.
“Darma,” katanya. “Dan dua orang lain yang sekarang duduk manis di dewan.”
Nayla mengangguk pelan. “Apa yang mereka lakukan?”
Pria itu menatap Nayla lurus.
“Mereka memindahkan aset, menggelembungkan nilai proyek, dan mengorbankan aku sebagai kambing hitam kalau suatu hari ada audit.”
Nayla merasakan darahnya mendingin.
“Dan Arka?” tanyanya.
Pria itu terdiam sejenak. “Arka tahu sebagian. Tapi dia tidak tahu semuanya.”
Nayla mengangguk.
Berarti Arka bukan aktor utama.
Tapi juga bukan sepenuhnya korban.
Dan itu membuat posisi Nayla makin berat.
Saat Nayla keluar dari bengkel itu, sore sudah turun.
Ia menatap langit yang memerah, menyadari satu hal:
Ia baru saja memegang potongan pertama dari cerita yang bisa menjatuhkan jaringan lama.
Dan itu berarti—
langkah selanjutnya tidak akan lagi dibiarkan berjalan tenang.