Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.Makam Malam.
Dari atas balkon, Raka memandangi mobil yang membawa Raline perlahan meninggalkan halaman mansion. Ia tahu ke mana tujuan perempuan itu ke rumah keluarga Kusuma.
“Kenapa aku terus mencemaskannya?” gumamnya pelan. “Biarkan saja. Lagipula dia bukan istriku.”
Namun kalimat itu justru terasa kosong. Semakin ia mengucapkannya, semakin kuat kata-kata Raline di taman sore tadi menghantam benaknya. Nada kecewa itu, tatapan terluka yang ia pura-pura tak lihat.
Raka menghela napas kasar, jemarinya mencengkeram pegangan kursi roda.
“Ahh… tidak seharusnya aku merasa seperti ini.”
Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk seolah mengambil keputusan.
“Baiklah. Aku akan menyusul perempuan itu. Tapi bukan karena dia istriku ,melainkan sebagai bentuk permintaan maafku karena sudah salah menilainya.”
____
Begitu sampai di rumah kediaman kusuma Raka tidak langsung masuk ia mendengarkan semua caci maki keluarga Raline kepada Raline habis - habisan.
''Dia benar, dia memang tidak pernah di anggap oleh keluarganya sendiri. "ucap Raka yang kemudian masuk begitu mendengar Raline memenangkan perdebatan itu,
Raline yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah tiba-tiba berhenti. Ia berbalik saat mendengar suara yang sangat ia kenali.
“Mas Raka?” matanya membesar. “Kamu… menyusulku?”
Raka tersenyum ,senyum yang belum pernah Raline lihat sebelumnya. Hangat, tulus, dan membuat dadanya bergetar tanpa aba-aba.
“Tentu saja, istriku. Mana mungkin aku membiarkanmu datang ke rumah keluargamu sendirian.”
Raka meraih tangan Raline yang mendekat ke arahnya, menggenggamnya dengan tenang namun tegas.
Arumi yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan merasakan dadanya terbakar. Sikap Raka benar-benar berbeda saat bersama Raline. Pria dingin yang selama ini dikenal tak berperasaan itu kini terlihat… melindungi.
"Apa yang sudah diberikan anak buangan itu sampai Raka berubah seperti ini? " batin Arumi geram.
“Kamu baru saja mengakui Raline sebagai istrimu, Tuan Raka?” tanya Maya, memastikan apa yang baru saja ia dengar.
“Bukankah memang seharusnya begitu?” jawab Raka datar.
Ketiganya tersenyum kaku.
“Kebetulan sekali kamu datang tepat waktu,” ucap Hendra cepat. “Kami memang akan makan malam. Kehadiranmu sangat kami nantikan.”
“Seharusnya kalian juga menantikan kehadiran istriku,” potong Raka dingin. “Menyambutnya dengan baik dan sopan, sama seperti kalian memperlakukanku.”
Raka menghentikan kursi rodanya, menatap mereka satu per satu.
“Mulai saat ini aku ingin kalian semua memperlakukan istriku dengan sangat baik. Meski dia anak buangan, sekarang dia adalah istriku. Memperlakukan dia buruk sama saja menginjak-injak harga diriku.”
Nada suaranya merendah, namun justru terasa lebih mengancam.
“Kalian tidak mau, bukan, jika papaku menarik semua sahamnya kembali?”
Wajah mereka langsung memucat.
Sedangkan Raline terdiam, jantungnya berdegup kencang.
"Apa? Dia baru saja… membelaku?"
"Bukankah sore tadi dia masih ketus dan merendahkanku?"
"Apa yang terjadi padanya?"
“Ba-baik, Tuan Raka,” ucap Hendra terbata. “Aku akan memperlakukan anakku dengan baik mulai sekarang.”
“Seharusnya begitu sejak lama,” balas Raka singkat, lalu melajukan kursi rodanya ke arah meja makan.
Raline mengangkat dagunya, senyum tipis penuh kemenangan terlukis di wajahnya.
“Kalian dengar apa yang baru saja suamiku katakan?” ucapnya pelan namun menusuk. “Bersikaplah baik jika kalian tidak ingin menjadi gembel.”
Hendra segera menyusul Raka dan Raline ke meja makan. Sementara Arumi dan Maya masih berdiri di tempat, menahan bara amarah.
“Sialan,” umpat Maya pelan.
“Mama, kita harus memberinya pelajaran. Aku tidak terima dia memperlakukan kita seperti ini,” rengek Arumi layaknya anak kecil.
“Tenang, Sayang,” ucap Maya dengan senyum tipis yang berbahaya. “Mama sudah menyiapkan rencana untuk anak buangan itu. Mama tidak akan membiarkannya hidup tenang.”
“Rencana apa, Ma?” tanya Arumi penasaran.
“Kamu akan tahu setelah makan malam nanti.”
Arumi mengangguk puas. Keduanya pun melangkah menuju meja makan.
____
Di sela-sela percakapan di meja makan, Maya tiba-tiba nyelutuk ke arah Raka dan Raline.
“Karena kalian sudah di sini, bagaimana kalau menginap saja?” ucap Maya dengan senyum yang sulit ditebak. “Sejak pernikahan kalian, kalian belum pernah menginap di sini, bukan?”
Hendra mengangguk setuju.
“Adat pasangan yang baru menikah memang seharusnya menginap di rumah masing-masing orang tua setelah pernikahan.”
Raline menoleh ke arah Raka. Ia bisa melihat jelas ketidak setujuan di wajah pria itu.
“Sepertinya aku sangat sibuk,” jawab Raka dingin. “Aku tidak bisa jika harus menginap di sini.”
“Tidak bisakah kamu menundanya, hanya malam ini?” sela Maya cepat. “Raline bahkan tidak pernah menginap di sini sejak ia pergi ke pedesaan bersama neneknya waktu kecil. Istrimu pasti sangat merindukan rumah ini.”
“Cih,” dengus Raline. “Apa yang perlu aku rindukan? Tidak ada kenangan menyenangkan sedikit pun di rumah ini.”
“Raline…” suara Maya melunak, terdengar hampir penuh perasaan. “Terlepas dari semua kenangan pahit, bukankah kamu juga pernah bahagia bersama mamamu di sini? Arwah mamamu pasti akan sangat senang melihat anaknya datang bersama menantunya dan menginap di rumah ini.”
Raka mengamati Maya dengan sorot mata tajam.
"Sangat mencurigakan. Perempuan ini terlalu memaksa.Aku yakin ada sesuatu yang sedang direncanakan untuk Raline."
Sebelum Raline sempat menyahut, Raka lebih dulu membuka suara.
“Baiklah,” ucapnya tenang. “Aku dan Raline akan menginap di sini.”
Raline menoleh dengan mata membesar.
“Mas, kamu serius?”
“Tentu,” jawab Raka sambil menatapnya. “Mamamu tampaknya sangat menginginkan keberadaanmu di sini.”
Senyum Raka terukir di bibirnya namun bukan senyum hangat. Justru terasa dingin dan menggetarkan.
"Ada apa dengannya? Sikapnya benar-benar berubah. Apa dia benar-benar Raka?''Batin Raline dipenuhi tanda tanya.
“Baiklah,” ujar Maya dengan nada puas. “Mama akan meminta para maid menyiapkan kamar kalian.”
Setelah makan malam selesai, Raline dan Raka menuju kamar yang telah disiapkan. Namun sebelum Raline masuk, Hendra memanggilnya untuk pergi ke ruang kerja.
Raline pun mengikuti ayahnya, meninggalkan Raka sendirian di kamar.
Tak lama setelah Raka masuk, pintu kamar diketuk. Arumi masuk sambil membawa segelas susu hangat.
“Permisi, Tuan Raka,” ucapnya lembut dengan senyum manis. “Aku membawakan susu hangat agar kamu bisa lebih rileks dan nyaman saat tidur.”
Pakaian Arumi tampak terlalu terbuka. Gaun tidurnya menjuntai tipis di atas paha, belahan dada rendah, dan punggungnya dibiarkan terbuka tanpa penutup—jelas disengaja.
Raka tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas lalu kembali menatap ponselnya, seolah Arumi tak ada di sana.
"Sialan."
"Kenapa pria ini tidak menatapku sedikit pun?. "
"Apa dia tidak melihat betapa menggoda tubuhku?. "
"Tubuhku jauh lebih cantik dibandingkan Raline."
Arumi mengepalkan jemarinya.
"Baiklah. Jika kamu enggan menatapku, aku akan memaksamu melihatku."
Ia meletakkan gelas susu di meja, lalu melangkah mendekat. Dengan sengaja, Arumi menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan Raka.
Spontan Raka mendorong tubuh gadis itu keras hingga Arumi terhempas ke lantai.
Namun alih-alih terkejut, Arumi justru berteriak histeris.
“AAAAAAA…!”
Teriakannya menggema di sepanjang lorong.
Tak lama kemudian, Maya, Hendra, dan Raline berlari masuk ke kamar. Mereka mendapati Arumi menangis histeris di lantai.
“ARUMI!” teriak Maya panik, langsung memeluk anaknya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanyanya dengan suara gemetar.
Dengan tangan bergetar, Arumi menunjuk ke arah Raka.
“Tuan Raka sudah melecehkanku, Ma,” ucapnya terisak.
Sontak, semua pasang mata di ruangan itu langsung tertuju pada Raka.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Arumi dan mamanya emang topcer banget kalu soal rencana licik ya, emang ngak salah kenapa papa Raline dulu tergoda dengannya.
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuanya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat aku nantikan 🥰❤