NovelToon NovelToon
The Devil’S Kesepakatan Berdarah

The Devil’S Kesepakatan Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Karir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Profil Karakter Utama

Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.

Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.



Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Kabut Seine

Paris di musim dingin adalah sebuah kanvas kelabu yang romantis namun menyimpan dingin yang menusuk tulang. Setelah pelarian dramatis dari kobaran api di Danau Como, Arka memutuskan untuk "menghilang" sejenak. Namun, bagi pria seperti Arkaen Malik, menghilang tidak berarti bersembunyi di hotel murah.

Mereka berada di sebuah apartment klasik di kawasan Le Marais. Langit-langitnya tinggi dengan ukiran gypsum khas abad ke-18, jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke Sungai Seine, dan perapian yang terus berderak memberikan kehangatan.

Alea duduk di ambang jendela, memeluk lututnya sembari menatap rintik hujan yang membasahi jalanan berbatu di bawah. Ia mengenakan sweater kasmir putih milik Arka yang terlalu besar di tubuhnya.

"Kau belum menyentuh cokelat panasmu," suara Arka terdengar dari belakang.

Arka berjalan mendekat, sudah berganti pakaian dengan kemeja flanel santai—tampilan yang sangat jarang Alea lihat. Tidak ada senjata di pinggangnya, tidak ada tatapan mematikan, hanya pria yang tampak lelah namun waspada.

"Aku hanya berpikir, Arka," Alea menoleh, menatap mata abu-abu pria itu. "Di Italia kemarin, Marcello mengatakan sesuatu. Dia bilang, 'Darah Malik selalu mengambil apa yang mereka inginkan, persis seperti ayahmu dulu'. Apa maksudnya?"

Arka terdiam. Ia duduk di kursi seberang Alea, menyesap kopinya dengan perlahan. "Ayahku, Don Malik, adalah pria yang memiliki banyak rahasia. Dia bukan hanya penguasa bisnis, tapi juga pengoleksi... orang-orang berbakat.

 Termasuk ayahmu."

"Tapi bagaimana dengan ibuku?" tanya Alea. "Kenapa setiap kali aku menyebut nama ibuku di depan orang-orang lamamu, mereka menatapku dengan aneh?"

Arka meletakkan cangkirnya. Ia berdiri dan berjalan menuju sebuah meja kayu tua di sudut ruangan, mengambil sebuah map cokelat yang tampak rapuh. "Aku meminta Rio menyelidiki arsip pribadi ayahku di brankas pusat Milan sebelum kita membakarnya kemarin. Ada sesuatu yang tidak sempat kuberitahukan padamu."

Arka menyodorkan sebuah foto hitam putih yang sudah menguning di bagian tepinya.

Alea menerima foto itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Di foto itu, terlihat seorang wanita muda yang sangat cantik—ibunya, saat masih berusia awal dua puluhan. Ibunya sedang berdiri di depan sebuah galeri seni di Paris. Namun, yang mengejutkan adalah pria yang merangkul pinggang ibunya di foto itu.

Bukan ayahnya. Itu adalah Don Malik muda. Ayah Arka.

"Apa... apa ini?" suara Alea bergetar.

"Ibumu bukan hanya istri dari seorang auditor, Alea," Arka duduk kembali, suaranya rendah. "Dulu, dia adalah kurator seni pribadi ayahku. Mereka memiliki hubungan yang sangat dekat sebelum ibumu akhirnya memilih pergi bersama Hendra Senja, ayahmu. Foto ini diambil di Paris, tiga puluh tahun yang lalu. Di apartemen ini."

Alea menatap sekeliling ruangan dengan rasa ngeri yang baru. "Maksudmu... kita berada di tempat di mana ibuku dan ayahmu pernah..."

"Ya," potong Arka. "Ayahku tidak pernah memaafkan ibumu karena memilih pria 'biasa' seperti Hendra. Dia membiarkan mereka hidup, tapi dia memastikan ayahmu tetap berada di bawah kendalinya sebagai auditor. Itulah sebabnya ayahmu tahu begitu banyak tentang Proyek Omega. Dia tidak hanya mengaudit uang; dia sedang mencoba mencari jalan keluar untuk membawa ibumu lari sejauh mungkin dari pengaruh keluarga Malik."

Alea menjatuhkan foto itu ke lantai. "Jadi seluruh hidupku... keberadaanku... adalah hasil dari pelarian ibuku dari ayahmu? Dan sekarang, aku berakhir di tangan putranya? Ini bukan takdir, Arka. Ini lelucon yang sakit."

Arka bangkit dan berlutut di depan Alea, menggenggam kedua tangan gadis itu yang dingin. "Alea, dengarkan aku. Aku tidak tahu tentang ini sampai kemarin. Aku mengejarmu karena aku butuh data itu, ya. Tapi aku menahanmu di sisiku bukan karena sejarah orang tua kita."

"Lalu karena apa?" tangis Alea pecah. "Karena aku mirip dengannya? Karena kau ingin menyelesaikan apa yang ayahmu gagal dapatkan?"

Arka mencengkeram bahu Alea, memaksanya menatap matanya. "Bukan! Aku menahanmu karena kau adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di dunia yang penuh kebohongan ini! Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi tiga puluh tahun lalu. Aku peduli dengan apa yang terjadi di gudang itu, di danau itu, dan di sini sekarang!"

Alea terisak, menyandarkan keningnya di bahu Arka. Kehangatan tubuh Arka adalah satu-satunya hal yang membuatnya tidak hancur saat ini. Dunia yang ia kenal—ibunya yang sederhana, ayahnya yang jurnalis jujur—ternyata hanyalah lapisan luar dari konspirasi yang jauh lebih gelap.

Malam semakin larut di Paris. Kabut tebal mulai menyelimuti Sungai Seine, memberikan kesan misterius yang mencekam. Alea mencoba menenangkan dirinya dengan mandi air hangat, namun bayangan foto itu tetap menghantuinya.

Saat ia keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi putih, ia menemukan Arka sedang berdiri di balkon, merokok sembari menatap kegelapan.

"Arka," panggil Alea.

Arka menoleh, mematikan rokoknya di asbak perak. "Kau sudah lebih baik?"

Alea berjalan mendekat, berdiri di sampingnya. Angin malam Paris menerpa wajah mereka. "Ada satu hal lagi, kan? Sesuatu yang belum kau katakan dari map itu."

Arka menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. "Ada surat dari ayahmu untuk ibumu. Ditulis tepat sebelum dia 'menghilang'. Dia menyebutkan bahwa Proyek Omega bukan hanya soal pencucian uang. Itu adalah skema untuk membeli aset-aset strategis di Asia Tenggara atas nama ibumu. Tanpa ibumu tahu, dia adalah pemilik sah dari sebagian besar lahan industri yang sekarang dikuasai Baron dan direksi lainnya."

Alea tertawa getir. "Jadi, aku bukan hanya putri jurnalis miskin. Aku adalah ahli waris dari kerajaan yang dibangun dengan darah dan paksaan?"

"Secara teknis, ya. Itulah sebabnya Baron sangat menginginkanmu. Bukan hanya karena kau tunanganku, tapi karena jika kau menandatangani dokumen tertentu, seluruh harta itu akan beralih padanya secara legal."

Alea menatap tangannya. Tangan yang biasanya memegang kamera, kini secara metaforis memegang kunci kekuasaan yang luar biasa besar.

"Apa yang akan kau lakukan, Arka?" tanya Alea pelan. "Kau bisa saja memaksaku menandatangani itu sekarang. Kau bisa memiliki segalanya."

Arka berbalik, menghadap Alea. Ia menyandarkan tubuhnya di pagar balkon, menatap Alea dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku sudah punya segalanya, Alea. Aku punya uang, aku punya senjata, aku punya nama yang ditakuti. Tapi aku tidak punya kedamaian."

Arka melangkah maju, memperkecil jarak. Ia mengusap pipi Alea dengan lembut. "Aku tidak ingin hartamu. Aku ingin kau. Dan jika memiliki kau berarti aku harus membantumu menghancurkan warisan ayahku yang busuk itu, maka aku akan melakukannya."

Alea menatap mata Arka, mencari setitik saja kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang telanjang. Di bawah langit Paris, di tempat yang dulu mungkin menjadi saksi sejarah tragis orang tua mereka, Arka dan Alea membuat janji baru.

"Bantu aku, Arka," bisik Alea. "Bantu aku menghapus semua ini. Aku tidak ingin tahta. Aku ingin bebas."

"Kau akan bebas, Alea. Setelah kita menyelesaikan satu hal terakhir."

"Apa itu?"

"Kita harus kembali ke Jakarta. Ibu harus bicara. Dia adalah satu-satunya saksi kunci yang bisa membubarkan dewan direksi secara permanen. Dan kita harus melakukannya sebelum musuh-musuh lama ayahku menyadari bahwa kau sudah tahu yang sebenarnya."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam apartemen. Rio masuk dengan wajah tegang. "Tuan, maaf mengganggu. Kita harus segera pindah. Sinyal pelacak yang kita pasang di mobil sewaan tadi terdeteksi. Ada tim pembersih dari Milan yang masuk ke perbatasan Prancis."

Arka tidak membuang waktu. Ia langsung menarik Alea masuk. "Siapkan kendaraan cadangan. Kita menuju Lyon, lalu terbang dari sana."

Alea merasakan adrenalin kembali memicu jantungnya. Ketenangan di Paris hanya berlangsung sesaat. Namun kali ini, ia tidak merasa seperti umpan lagi. Ia merasa seperti bagian dari mesin perang yang siap melawan balik.

Saat mereka berlari menuruni tangga darurat, Arka menggenggam tangan Alea erat.

"Siap untuk babak terakhir?" tanya Arka sembari membuka pintu mobil yang sudah menunggu.

Alea menatap Arka, menyisipkan pisau lipat yang selalu ia bawa ke balik jubahnya yang kini tertutup jaket tebal. "Aku yang akan menulis bab terakhirnya, Arka. Pastikan saja kau ada di sana untuk membaca penutupnya."

Arka menyeringai, menginjak pedal gas, dan mobil itu melesat membelah kabut Paris, meninggalkan kenangan pahit masa lalu menuju masa depan yang penuh dengan peluru dan kepastian.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!