Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
They Were Flirting All Night
Saat Bianca menyuapkan sesendok terakhir, permukaan perak sendok itu tiba-tiba beriak. Wajah Lora muncul di sana, begitu kecil namun tajam, dengan seringai yang meremehkan.
"Namanya Isabella, asisten audit dari firma hukum di Milan," bisik Lora langsung ke dalam pikiran Bianca, tanpa suara yang bisa didengar Mahesa.
"Jangan pasang wajah kaget begitu. Simon tidak sedang bekerja lembur; dia sedang merayakan 'kebocoran data' itu di atas meja kerjanya sendiri. Wanita itu muda, ambisius, dan tidak tahu bahwa dia hanyalah alat bagiku untuk membuatmu tetap di Bali."
Riak di sendok itu semakin intens, memantulkan kilasan singkat wajah seorang wanita berambut cokelat dengan pakaian yang berantakan di kantor Simon.
"Kau marah karena egomu terluka, Bianca? Bagus. Gunakan amarah itu. Belilah gaun paling mahal yang pernah ada hari ini. Buat Simon membayar setiap tetes keringat yang ia keluarkan untuk wanita itu dengan angka yang fantastis di kartu kreditnya. Dan malam ini, tunjukkan pada Mahesa—dan dunia—bahwa seorang ratu tidak akan goyah hanya karena satu pelacur di Milan."
Bayangan Lora menghilang saat Bianca meletakkan sendoknya dengan denting keras di atas piring porselen.
...****************...
Setelah membeli gaun, Bianca meminta mampir ke sebuah pura yang dibuka untuk wisatawan.
"Mahesa, lihat. Indah sekali."
"Ya, pura memang seindah itu," sahut Mahesa pelan sembari menatap gapura batu yang menjulang. "Tapi bagimu ini mungkin hanya arsitektur kuno. Bagi kami, ini adalah titik keseimbangan. Warga Bali tidak membangun tempat ibadah hanya untuk pamer keindahan; setiap ukirannya adalah doa agar dunia tetap selaras. Di sini, kami percaya ada garis tipis antara yang suci dan yang gelap. Orang-orang memberikan sesajen bukan hanya untuk meminta berkah, tapi untuk menghormati setiap kekuatan yang ada, termasuk kekuatan yang mungkin tidak kau mengerti."
Mahesa menoleh, menatap Bianca dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Keindahan di sini bertahan berabad-abad karena ada aturan yang dijaga. Berbeda dengan kecantikanmu yang abadi karena sebuah kutukan."
"Berhentilah membahas soal itu," ucap Bianca ketus. "Apa kau juga termasuk orang religius?" tanya Bianca, dirundung rasa penasaran yang besar.
"Aku percaya pada hukum sebab-akibat," jawab Mahesa lugas. "Bagiku, Hindu Bali bukan sekadar ritual, tapi cara menjaga harmoni antara manusia, alam, dan pencipta. Aku mungkin tidak sembahyang setiap saat, tapi aku tidak pernah lupa pada siapa aku harus bersujud dan siapa yang harus kuberi sesajen agar bisnisku tetap tegak. Di pulau ini, kau tidak bisa bertahan hanya dengan modal uang; kau butuh restu dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar ambisimu."
"Dan, Bianca, aku penasaran. Apa kepercayaanmu? Setidaknya kau tidak ateis, bukan?" tanya Mahesa sambil terkekeh.
Bianca menatap ujung gapura yang membelah langit, lalu tersenyum tipis.
"Aku agnostik" jawab Bianca. "Kepercayaanku hanya pada apa yang bisa kulihat di balik cermin. Bagiku, doa hanyalah bisikan putus asa dari mereka yang takut akan kematian. Sedangkan aku? Aku sudah menyerahkan jiwaku pada entitas yang memberikan hasil nyata di dunia ini. Jika tuhanmu meminta sujud, maka 'tuhanku' hanya meminta gairah dan kesetiaan pada pantulanku sendiri. Itu jauh lebih masuk akal daripada menunggu balasan di kehidupan yang bahkan tidak akan pernah kudatangi."
...****************...
Lampu sorot berwarna amber dan biru safir membelah langit malam Uluwatu, menyapu permukaan kolam renang infinity yang seolah menyatu dengan laut. Dentuman musik deep house berpadu dengan suara deburan ombak di bawah tebing. Beach club baru milik Mahesa adalah definisi kemewahan yang liar.
Bianca turun dari mobil, dan seketika atmosfer di sekitar pintu masuk berubah. Gaun provokatif yang melekat di tubuhnya bekerja seperti magnet; kainnya yang tipis namun jatuh dengan sempurna mengikuti setiap lekuk tubuhnya, hanya disatukan oleh tali-tali halus yang mengekspos punggung dan sebagian pinggangnya.
Mahesa, yang kini mengenakan kemeja hitam berbahan sutra yang dibiarkan terbuka di bagian dada, melingkarkan tangannya di pinggang Bianca dengan posesif.
"Kau lihat orang-orang itu?" bisik Mahesa di dekat telinga Bianca, menunjuk ke arah barisan sofa VIP yang diisi oleh pria-pria berjas santai dan wanita-wanita sosialita. "Mereka semua datang untuk melihat siapa yang bersamaku malam ini. Jangan beri mereka senyuman, cukup beri mereka tatapan yang membuat mereka merasa tidak layak di dekatmu."
Bianca hanya mengangkat dagunya, menikmati setiap pasang mata yang memuja sekaligus iri padanya.
Namun, di tengah keriuhan itu, ponsel di dalam tas kecilnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Simon. Bukan kata-kata manis, melainkan sebuah foto: sepasang tiket pesawat first class ke Bali untuk besok pagi, dengan pesan singkat: "Aku tidak tahan menunggumu lebih lama. Sampai jumpa besok malam, sayang."
Bianca menatap layar itu, lalu menoleh ke arah Mahesa yang sedang menyapa kolega bisnisnya.
Di sela riuhnya acara, Bianca mendekat, membiarkan napas panasnya menyapu kulit leher Mahesa.
"Besok, Simon datang menyusulku," bisiknya di tengah dentuman musik yang memekakkan telinga.
Mahesa tidak terkejut. Ia menyesap minumannya dengan tenang, matanya tetap lurus menatap kerumunan tamu sebelum beralih menatap Bianca dengan tatapan tajam.
"Bagus. Biarkan dia datang dan melihat dengan matanya sendiri bahwa di pulau ini, kau bukan lagi miliknya. Suruh dia siapkan nyali, karena aku tidak berniat mengembalikanmu dalam keadaan utuh."
"Apa maksudmu, Mahesa? Kau ingin memutilasiku?" tanya Bianca, pura-pura tidak paham akan maksud ambigu pria itu.
Mahesa menarik pinggang Bianca hingga tubuh mereka tidak menyisakan jarak, lalu berbisik tepat di depan bibirnya.
"Bukan fisikmu, Bianca. Aku akan menghancurkan kewarasanmu sampai kau tidak bisa lagi membedakan mana cinta dan mana penghinaan," jawab Mahesa singkat. "Besok, kau akan melihat Simon sebagai orang asing, bukan lagi tuanmu."
Pandangan mereka terkunci cukup lama, saling tarik-menarik seolah tubuh keduanya mengandung medan magnet yang kuat. Jarak di antara mereka terkikis habis hingga napas pun bersatu. Detik berikutnya, ciuman panas pecah tanpa jeda. Mereka saling memanggut, bertukar saliva dengan rakus di tengah riuhnya dentuman musik dan kilatan lampu pesta, seolah dunia di sekitar mereka baru saja lenyap.
Bianca melepaskan tautan bibir mereka secara tiba-tiba, menyisakan benang saliva yang terputus di udara. Ia mundur selangkah, menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis sambil merapikan gaunnya yang berantakan. Mahesa terpaku dengan napas memburu. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal menahan dorongan untuk kembali menarik Bianca ke pelukannya. Frustrasi itu terpancar nyata; ia baru saja dijatuhkan dari puncak kenikmatan oleh wanita yang sengaja mempermainkan kendalinya.
Mahesa menarik Bianca kembali hingga dada mereka bertabrakan.
"Tidak di sini, Sayang. Jika kau benar-benar menginginkanku," ucap Bianca pelan, matanya melirik ke arah deretan kaca besar di sudut ruangan. Di sana, Lora tampak sedang menari dengan gerakan liar, seolah sedang merayakan kekacauan yang akan segera meledak.