NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 21 - Aturan Main

Pukul delapan malam tepat, Maura melangkah masuk ke Lau Che. Restoran itu memiliki konsep oriental modern yang sangat privat dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan intim sekaligus eksklusif. Area itu biasanya sulit ditembus tanpa reservasi berminggu-minggu sebelumnya, tapi untuk seorang Setya Pradana, tampaknya satu panggilan telepon saja sudah cukup untuk mengosongkan sudut terbaik restoran ini.

“Atas nama Bapak Setya Pradana?” seorang pelayan dengan setelan rapi segera menyambutnya dan bertanya seolah sudah menunggu kedatangan seorang tamu agung

Maura mengangguk kaku dan segera diantar melewati sekat-sekat kayu mahoni yang memberikan privasi absolut bagi tiap meja. Di sudut ruangan yang paling terlindungi, Setya sudah duduk menanti. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja dari kantor dengan kancing kerah yang sudah dibuka satu dan lengan baju yang digulung hingga siku.

Terlihat santai, tapi aura yang dipancarkan masih sangat mendominasi.

“Tepat waktu. Saya suka itu,” ucap Setya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya.

Maura menarik kursi di hadapannya tanpa menunggu dipersilakan, lalu meletakkan tasnya dengan sedikit hentakan, menunjukkan bahwa si dosen muda sedang tidak dalam suasana hati untuk berbasa-basi.

“Bapak benar-benar licik,” kata Maura langsung ke inti permasalahan, suaranya tajam namun terkontrol agar tidak mengundang perhatian.

Setya meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu mendongak. Matanya yang tajam menatap Maura lurus, membedah ekspresi kesal yang terpahat di wajah dosen muda itu.

“Licik adalah kata yang kasar untuk seseorang yang baru saja memesankanmu menu terbaik di tempat ini sebagai kompensasi atas hari yang berat,” respon Setya yang begitu santai seolah tidak mengetahui apa yang sudah dilalui Maura.

“Memaksa saya menjadi pendamping Bapak lewat Pak Hamdani bukan hal yang sopan, Pak Setya. Bapak tahu saya tidak punya pilihan untuk menolak instruksi Dekan saya sendiri. Bapak memanfaatkan posisi Bapak untuk menyudutkan saya,” sahut Maura sengit.

Maura tahu fakta itu setelah salah satu dosen mengatakan padanya sesaat keluar dari ruangan Pak Hamdani dan tentu saja, Maura sendiri juga sudah menduganya.

Setya condong ke depan, mempersempit jarak dan membuat Maura menahan napas.

“Saya memberikanmu posisi itu karena saya tahu kamu kompeten. Dan yang paling penting, saya tidak ingin menghabiskan hari yang membosankan dengan orang asing yang hanya bisa memuja saya tanpa henti hanya untuk mencari muka. Saya butuh kamu untuk tetap membuat saya tetap menunjukkan wajah profesional.”

Penjelasan Setya sama sekali tidak membuat Maura merasa lebih baik, justru yang ada membuat Maura semakin marah. Memang dirinya pengendali wajah atau suasana?!

“Tapi Bapak menghancurkan privasi saya! Rekan-rekan saya mulai bertanya-tanya. Kiriman kopi dan makanan tadi siang? Itu benar-benar berlebihan!”

“Itu sebabnya saya mengajakmu ke sini. Untuk menetapkan aturan main kita selama masa persiapan acara ini,” balas Setya tenang, suaranya kini sedikit lebih berat.

“Aturan main?” Maura mengerutkan kening, merasa tidak suka dengan istilah yang digunakan Setya seolah hidupnya adalah papan catur.

“Pertama, jangan pernah mencoba menghindar dari panggilan saya. Kedua, lupakan soal status dosen dan donatur jika kita sedang berdua. Saya bosan dengan formalitas yang kamu bangun seperti benteng pertahanan,” Setya menjeda kalimatnya saat pelayan datang membawa hidangan pembuka dengan shrimp dumpling yang menggiurkan.

Begitu pelayan pergi, Setya melanjutkan, “dan yang ketiga... berhentilah menatap saya seolah-olah saya adalah monster yang akan menelanmu hidup-hidup. Saya hanya pria yang sedang tertarik pada bagaimana cara kamu berpikir, Maura Preswari.”

Maura terpaku. Kalimat terakhir itu lebih menyerupai sebuah pengakuan daripada sekadar aturan teknis. Ada ketegangan aneh yang merayap di antara mereka, sebuah perasaan aneh yang membuat Maura merasa instingnya sendiri mulai mengalami malfungsi.

Makan malam berlangsung dengan tensi aneh dan membuat suasana cenderung naik-turun. Setya ternyata adalah teman bicara yang luar biasa cerdas jika ia sedang tidak bersikap sombong. Mereka berdebat tentang kebijakan ekonomi universitas hingga filosofi pendidikan, namun setiap kali pembicaraan mulai menjadi terlalu hangat, Maura akan segera menarik diri dan memasang kembali topeng profesionalnya.

Sekitar pukul sepuluh malam, mereka keluar dari restoran dan udara malam Jakarta yang lembap langsung menyambut mereka.

“Saya antar kamu pulang,” kata Setya saat mereka berdiri di depan lobi restoran.

“Tidak perlu. Saya bisa memesan taksi online,” tolak Maura secara refleks.

Setya tidak menjawab dan mengangkat ponselnya hingga sedetik kemudian sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan mereka. Sopirnya keluar dan membukakan pintu belakang. Setya menatap Maura dengan satu alis terangkat, sebuah tantangan bisu yang mengatakan bahwa taksi online Maura tidak akan datang di malam yang sudah selarut ini.

Dengan helaan napas menyerah, Maura masuk ke dalam mobil. Aroma parfum maskulin yang elegan dengan campuran antara sandalwood dan sedikit aroma tembakau mahal langsung memenuhi indra penciumannya. Setya masuk ke sisi sebelahnya hingga menciptakan ruang yang terasa mendadak sempit.

Keheningan di dalam mobil terasa lebih terasa daripada di restoran, mungkin juga dipengaruhi oleh ruangan yang sempit. Maura menatap keluar jendela, memperhatikan lampu jalanan yang berlarian.

“Kamu adalah satu-satunya orang yang membuat saya harus berpikir dua kali sebelum mengirim pesan,” suara Setya memecah kesunyian.

Maura menoleh cepat. “Bagus kalau begitu. Itu artinya Bapak mulai sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini berada di bawah kendali Bapak.”

Setya terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang entah kenapa terdengar berbahaya bagi pertahanan Maura.

"Atau itu artinya, saya justru sedang menikmati proses kehilangan kendali itu," sebuah kalimat yang membuat Maura terdiam sembari menatap sisi samping Setya.

Mobil berhenti di depan gerbang rumah Maura yang sederhana namun asri. Sebelum Maura sempat membuka pintu, Setya meraih sebuah kotak berwarna navy dengan pita emas dari kursi depan dan memberikannya kepada Maura.

“Apa ini?” tanya Maura curiga.

“Saya tidak ingin pendamping saya terlihat seperti sedang ingin pergi ke perpustakaan saat hari perayaan nanti. Pakailah. Ini bukan hadiah, ini bagian dari aturan main yang saya minta.”

"Bapak benar-benar tidak bisa berhenti mendikte, ya?” Maura menerima kotak itu dengan tangan ragu.

“Hanya sampai acara itu selesai, Maura. Setelah itu, kamu bebas kembali ke garis batasmu... jika kamu masih menginginkannya,” Setya menatapnya dalam, sebuah tatapan yang menyiratkan bahwa pria itu tidak yakin Maura benar-benar ingin kembali ke garis itu.

Maura turun dari mobil tanpa mengucapkan terima kasih, karena hatinya masih bergejolak aneh akan tatapan serta kalimat si pria. Namun, saat ia sampai di dalam kamarnya dan membuka kotak itu yang isinya adalah scarf berwarna navy bercampur gold.

Sangat mewah dan sesuai dengan citra dari Setya Pradana.

1
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!