Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Sampai didepan kamar pak Basuki membagi kuci kamar yang berbentuk kartu itu kepada Peno dan juga pak Supri.
"nih pak Supri kartu kamarnya yang nomer dua puluh, ini kamar kamu No, yang nomer sembilan belas, aku dikamar duapuluh satu, caranya kartu itu ditempel kesini No, nanti kuncinya akan terbuka dan kamu tinggal mendorong pintunya!" ucap pak Basuki sambil menyerahkan kartu dan juga mengajari Peno cara menggunakannya.
"wah canggih ya pak, saya coba pak!" kata Peno dan langsung mencoba menempelkan kartu yang ia pegang, dan seketika kuci pintu berbunyi tanda sudah terbuka, Peno pun mendorong pintu itu dan langsung terbuka.
Pak Supri dan pak Basuki sudah pergi kekamar masing masing, kini Peno sendirian masuk kekamar miliknya, ia belum berani menutup pintu lagi, takut nanti tidak bisa membukanya, didalam kamar cukup gelap, karena tirai jedela memang tertutup rapat, Peno mencoba mencari saklar lampu untuk menghidupkannya, dan setelah ketemu Peno kaget, lampu dalam kamar tidak kunjung menyala, padahal ia sudah menekan saklar beberapa kali dan juga pindah kesaklar lainnya.
Hanya saklar kamar mandi yang ketika ditekan lampunya menyala, tapi lampu besar kamar tidak kunjung menyala, "ini hotel kamarnya bagus, tapi masa lampu mati tidak buru buru diganti!" gumam Peno mengeluhkan fasilitas lampu yang tidak bisa menyala.
Karena bingung ia pun keluar dan mengetuk pintu kamar pak Supri yang ia tahu dinomer dua puluh, "ada apa No, kamu butuh sesuatu!?" tanya pak Supri saat membuka pintu ternyata Peno yang tadi mengetuknya.
"itu pak, kamarnya pak Supri lampunya nyala ga?" jawab Peno dan menanyakan lampu kamar oak Supri.
"nyala No, tuh, terang banget malahan!" jawab pak Supri melebarkan daun pintu kamarnya agar Peno bisa melihat kedalam.
"berarti lampu kamar saya rusak pak, masa sudah saya pencet saklarnya ga nyala nyala!" kata Peno.
"mas mati sih No, coba aku lihat, harusnya hotel sebagus ini fasilitasnya selalu terjaga!" ucap pak Supri lalu melangkah kearah kamar Peno.
Dan benar saja, saat masuk kekamar Peno memang didalam sangat gelap, pak Supri lalu menutup daun pintu, dan mencari kartu kamar Peno ternyata tidak ada ditempatnya.
"oalaaaaahh, ha ha ha ha......,ya pantes lampunya ga mau nyala No, lah kartunya kamu pegang terus, harusnya kamu letakan dikotak kecil ini, ha ha ha ha......!" kata pak Supri sambil tertawa lepas melihat kekonyolan Peno.
"ha ha ha....., ya mana saya tahu pak, lagian pake kartu segala, saya kan biasanya langsung pencet saja, ha ha ha......!" ucap Peno juga ikut tertawa menertawakan dirinya sendiri.
"ha ha ha......, ya wis, sini kartunya!" kata pak Supri meminta kartu yang dipegang Peno dan segera memasukan kartu itu kekotak kecil seukuran kartu, dan seketika lampu kamar Peno menyala terang.
"sini aku tunjukan sekalian yang lainnya, takutnya nanti kamu malah mandi pake air mendidih!" ucap pak Supri lalu melangkah kedalam kamar mandi.
"ini ada dua kran, yang warna merah tandanya air panas, yang warna biru air biasa, kalau mau mandi pake air hangat kamu tinggal mencampurnya sesuai selera kamu, asal jangan terlalu panas, nanti kulitmu melepuh semua, he he he.......!" kata pak Supri menjelaskan semua fasilitas dikamar mandi.
"wiiihhh mantap pak, berarti bisa buat nyeduh kopi ya!?" ucap Peno kagum.
"plak!" pak Supri menepuk jidatnya sendiri, " mungkin bisa No, tapi ya apa kamu ga jijik, nyeduh kopi pake air kran!?" kata pak Supri sedikit merasa jengkel dengan pekataan Peno.
"nih sini, kalau kamu mau nyeduh kopi ada tempatnya sendiri," ucap pak Supri mengajak Peno berjalan kearah pantry yang letaknya di sebelah kamar mandi.
"ini tempatnya, kamu bisa rebus air dan nyeduh kopi, kopinya ada dilaci ini, tuh kan ada tulisannya, dan ini sebelahnya ada mie instan cup, kalau kamu lapar malam malam tinggal diseduh!" ucap pak Supri lagi menjelaskan.
"waaahhh komplit ya pak, tapi kayaknya saya ngopi saja, kalau bikin mie biasanya bayarnya mahal, tadi saja pas di rest area satu mie cup harganya sepuluh ribu, lah ini dihotel, pasti bisa sampai dua puluh ribu pak!" ucap Peno, mengira kopi dan mie instanya berbayar.
"ha ha ha ha......, No...... Peno......, kamu boleh ndeso tapi ya jangan katrok No, ha ha ha ha..., ini semuanya itu gratis ga perlu bayar lagi, kamu boleh makan sepuasnya yang penting jangan dibawa pulang, yang boleh dibawa pulang itu tuh sendal tipis, bisa buat kenang kenangan kalau kamu pernah nginep dihotel ini, ha ha ha......!" kata pak Supri, tawanya kembali pecah mendengar ucapan Peno.
"he he he....., gitu ya pak, ya wis pak, terimakasih atas penjelasannya, maaf sudah mengganggu waktu istirahat pak Supri!" ucap Peno sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"iya No, sama sama, ya wis aku mau balik kekamar, mau mandi, kamu juga segera mandi, sebentar lagi kita keruang meting!" kata pak Supri lalu meninggalkan kamar Peno dan kembali kekamarnya.
Peno pun segera menutup pintu kamar, seketika ia melihat tulisan dibalik pintu itu," tempel kartu disini untuk membuka kunci!" eja Peno membaca tulisan itu.
"oooohh, ternyata begitu caranya!" kata Peno lalu ia segera mengambil handuk dan baju didalam tasnya dan segera masuk kamar mandi.
"lah, sudah ada handuk dan sabunya juga!" katanya saat melihat handuk putih bersih tergantung disana dan sabun serta alat mandi lainnya sudah tersedia.
Peno mandi dengan cepat, setelah berganti pakaian dengan setelan celana jeans warna hitam dan kaos hitam polos ia merebus air untuk menyeduh kopi sambil menunggu pak Supri dan pak Basuki mengajak keruang meting.
Tak lama kemudian setelah kopi yang ia seduh tinggal setengah cangkir pintu kamarnya diketuk dari luar, ternyata oak Supri dan oak Basuki yang mengetuk dan mengajak Peno pergi keruang meting yang ada dilantai tiga, kamar Peno sendiri ada dilantai dua.
Mereka naik kelantai tiga dengan menggunakan lift, Peno juga baru kali ini merasakan naik lift, makanya saat didalam ia berpegangan pada besi pegangan begitu kuat, untung saja yang naik hanya bertiga, coba kalau kalau ada orang lain yang ikut naik juga, pastilah Peno akan jadi bahan tawa.
Memasuki meting room Peno diminta untuk regristasi peserta,.sedangkan pak Supri dan pak Basuki regristasi official.
Technical meeting pun dimulai, diawali pembacaan tata tertib dan peraturan pertandingan lalu dilanjut dengan pengundian peserta, jumlah peserta ada enam belas, mereka semua adalah wakil dari masing masing kabupaten yang ada di propinsi blangkon tengah.
lawan pertama Peno setelah diundi adalah wakil dari kabupaten K, technical meeting pun diakhiri dengan acara makan sore bersama, dan sebelum acara ditutup panitia mengumumkan kalau pertandingan catur akan dimulai nanti jam delapan malam, jadi masih ada waktu untuk semua peserta mempersiapkan diri dan beristirahat.
Peno meluangkan waktu itu untuk mengajak pak Supri dan pak Basuki menemaninya membeli ponsel.dipusat perbelanjaan.