NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 – Bayangan yang Mengenal Namaku

Kabut pagi belum sepenuhnya sirna ketika Defit melangkah keluar dari hutan. Tanah masih basah, udara dingin menggigit kulit, namun dadanya terasa panas seperti bara yang disembunyikan di balik tulang rusuk. Setiap langkahnya kini lebih mantap, seolah bumi sendiri mengenali pijakan kakinya.

Di kejauhan, siluet desa terlihat. Desa tempat keluarga istrinya tinggal. Tempat ia dipermalukan, dipatahkan, dan dipelankan suaranya sampai ia sendiri lupa bagaimana caranya membalas.

Defit berhenti. Nafasnya tertahan.

Ada sesuatu yang salah.

Angin berputar terlalu teratur. Burung-burung menghilang. Sunyi yang tersisa bukan sunyi pagi melainkan sunyi sebelum sesuatu terjadi.

“Keluar,” ucap Defit pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah satu kali lagi. Tanah di bawah kakinya bergetar halus. Guratan hitam di lengannya bergerak, seakan hidup. Defit mengatupkan rahang, menahan dorongan asing yang ingin keluar begitu saja.

“Aku tidak punya waktu untuk permainan,” katanya, kini lebih tegas.

Bayangan itu muncul dari balik batang pohon lebih pekat dari kegelapan sekitarnya. Tubuhnya menyerupai manusia, namun wajahnya kabur, seolah terus berubah. Dari dalam bayangan itu terdengar suara berlapis, banyak, dan dingin.

“Defit… Karamoy.”

Nama itu diucapkan seperti doa yang rusak.

Jantung Defit berdentum keras. “Kau salah memanggilku,” katanya. “Nama itu sudah lama dikubur.”

“Tidak,” jawab bayangan itu. “Nama itu disembunyikan.”

Makhluk itu melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat udara mengerut. Defit merasakan tekanan di kepalanya seperti ada tangan tak kasatmata mencoba mengorek ingatan yang bukan miliknya.

“Kami mencium kebangkitanmu,” lanjut suara itu. “Darah yang terkutuk… akhirnya bergerak.”

“Kalian siapa?” Defit bertanya, suaranya rendah, nyaris mendesis.

“Kami penjaga batas,” jawabnya. “Dan algojo bagi pewaris yang mencoba keluar dari takdirnya.”

Defit tertawa kecil tawa tanpa humor. “Kalau begitu, kau datang terlambat.”

Bayangan itu berhenti. “Kesombongan adalah tanda awal kegagalan.”

“Bukan kesombongan,” balas Defit sambil mengangkat kepalanya. Matanya menajam, memantulkan kilau yang bahkan membuat bayangan itu ragu sesaat. “Ini kelelahan. Aku sudah terlalu lelah untuk takut.”

Makhluk itu mengangkat tangannya. Udara bergetar. Dari tanah, bayangan lain muncul lebih kecil, lebih banyak. Mereka berbisik, menyebutkan hal-hal yang menusuk:

Gagal… Menantu tak berguna… Tidak diinginkan…

Defit memejamkan mata. Dulu, kata-kata itu akan merobohkannya. Dulu, ia akan menunduk, meminta maaf atas keberadaannya sendiri.

Kini, ia menarik napas panjang.

“Aku mendengar kalian,” katanya tenang. “Tapi aku tidak lagi hidup di dalam suara itu.”

Ia membuka mata.

Guratan hitam di tubuhnya menyala samar. Tanah di sekitarnya bergetar lebih kuat. Bayangan-bayangan kecil itu terhuyung, seolah ada tekanan tak terlihat yang mendorong mereka mundur.

Makhluk utama itu menggeram. “Kau belum mengerti harga dari apa yang kau sentuh.”

“Mungkin,” ujar Defit. “Tapi aku mengerti satu hal aku tidak akan kembali menjadi korban.”

Ia melangkah maju.

Dalam sekejap, bayangan itu menyerang. Udara terbelah. Defit merasakan dorongan keras menghantam dadanya, membuatnya terlempar beberapa langkah ke belakang. Rasa sakit meledak nyata, tajam, mematikan.

Ia jatuh berlutut, batuk darah.

Inilah harganya, bisik suara Wuras di kepalanya, entah nyata atau tidak. Bangkit… atau mati.

Defit mengusap darah di bibirnya. Tangannya gemetar, namun matanya tidak. Ia berdiri perlahan, menatap makhluk itu dengan tatapan yang berbeda lebih dalam, lebih gelap.

“Kau ingin harga?” katanya lirih. “Aku sudah membayarnya seumur hidup.”

Ia menghentakkan kakinya.

Tanah di antara mereka retak, membentuk garis lurus. Dari celah itu, hawa panas menyembur, diikuti cahaya redup. Bayangan-bayangan kecil menjerit, tubuh mereka terdistorsi, lalu tersedot kembali ke kegelapan.

Makhluk utama itu mundur setengah langkah. Hanya setengah namun cukup untuk membuat Defit tersenyum.

“Kau belum siap,” makhluk itu mendesis. “Kami akan kembali. Dan saat itu ”

“Aku tahu,” potong Defit. “Kalian selalu kembali.”

Bayangan itu perlahan memudar, menyatu dengan pepohonan. Hutan kembali diam. Terlalu diam.

Defit berdiri terengah. Setiap sendi terasa berat. Setiap napas mengikis sesuatu di dalam dirinya entah lelah, entah kemanusiaan.

Ia menatap tangannya. Guratan hitam itu perlahan memudar, namun bekas panasnya tertinggal.

“Aku merasakanmu,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Dan aku tahu… aku tidak bisa kembali.”

Dari arah desa, asap tipis mulai naik. Suara orang-orang samar terdengar pagi yang tampak biasa, kehidupan yang tidak tahu bahwa sesuatu telah bergerak menuju mereka.

Defit melangkah ke arah itu.

Dengan setiap langkah, ia meninggalkan jejak samar di tanah jejak yang tidak sepenuhnya manusia.

Dan di balik langit yang mulai cerah, sesuatu tertawa pelan.

Karena kebangkitan Defit Karamoy baru saja diumumkan.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!