Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Cara
Sejak Catherine dan Golda saling bertemu, setiap kali itu pula Catherine bertanya apakah kalung itu sudah memiliki tanda-tanda akan menarik Jemima masuk ke dalam ruangan ajaib.
Namun, kalung itu seperti kalung pada umumnya. Tidak panas, berat, dan tetap melingkari leher Jemima dengan indah.
"Bukannya Nenek dan nenek Golda semakin dekat? Apa nenek Golda sama sekali tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelum ini?" tanya Jemima di suatu malam.
Catherine mengusap rambut cicitnya dengan lembut sambil menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Tidak ada yang dia ingat satu pun, Jemi. Bahkan, dia lupa namanya sendiri dan aku tidak tau darimana dia mendapatkan nama Golda."
Tatapan mata kosong Catherine sedikit mengingatkan Jemima pada dirinya sendiri saat dia sedang berada di titik terendahnya beberapa waktu lalu.
Kesedihan serta kalimat tanpa harapan itu membuat Jemima ikut merasakan kepahitan nenek buyutnya itu.
"Nek, bisakah kita masuk ke dalam ruang ajaib itu tanpa harus menunggu?" tanya Jemima.
Catherine mengamati kedua manik Jemima yang menatapnya dengan penuh tekad. "Aku tidak tau. Lumen Opalis yang aku tau, tidak pernah terbuka jika kita memintanya."
Tiba-tiba saja, Jemima teringat dengan kisah Lily yang pernah diceritakan oleh Catherine. "Tapi, ibuku bisa membukanya tanpa harus menunggu ruang itu terbuka, kan?"
Seketika itu juga, wajah Catherine sedikit bercahaya. "Kau benar, Jemi!"
"Tapi, ...," Air mukanya kembali suram seperti sebelumnya. "Setelah itu, ibumu terkurung di dalam sana bertahun-tahun lamanya."
Namun, Jemima tetap memiliki firasat kalau dia bisa membuka ruangan itu. "Aku akan mencobanya malam ini."
Tangan Catherine menggenggam tangan Jemima erat-erat. Perlahan, dia menggelengkan kepalanya. "Jangan lakukan itu, Sayang! Aku tidak mau kau terkurung di dalam sana seperti ibumu!"
Senyum di wajah Jemima justru membuat Catherine semakin khawatir. "Tenang saja, Nek. Aku sudah punya rencana bagaimana mengeluarkan ibu dan nenek Flo dari sana. Tapi, aku rasa, aku butuh waktu."
"Jangan pergi ke sana seorang diri, Jemi! Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi karena kalung itu! Seharusnya aku tidak mewariskannya kepadamu," kata Catherine setengah menangis karena menyesal.
Sampai detik ini, Catherine belum memberitahu alasan mengapa dia mewariskan kalung itu kepada Jemima.
Air matanya menetes satu demi satu. Dia terus menggenggam tangan Jemima. "Sayangku, kenapa kau tidak pernah bertanya kepadaku kenapa kau yang kuwariskan kalung itu?"
Di luar dugaan, Jemima tersenyum lembut. "Aku tidak punya siapapun selain ayahku. Jadi, ketika tuan datang ke rumah dan mengatakan kalau aku memiliki seorang nenek, aku sudah sangat bersyukur sekali."
"Aku tidak sendiri di dunia ini. Aku tidak begitu peduli dengan kalung itu. Tapi, setelah aku beberapa kali masuk ke dalam sana dan saat itu Nenek berkata hanya aku yang bisa menerima kalung itu, aku mengerti kalau takdirku ada di dalam kalung itu," lanjut Jemima lagi.
Tangis Catherine pun pecah dan dia memeluk tubuh kurus cicitnya itu. "Maafkan aku, Jemi! Seharusnya aku tidak memberikan itu kepadamu! Aku egois sekali bahkan aku memintamu untuk mengeluarkan cucu dan sahabatku dari sana."
"Aku tidak pernah merasa kalau Nenek egois. Setiap orang memiliki harapan pada orang lain dan karena kalung ini pernah dipakai oleh ibu, jadi menurutku Nenek yakin sekali hanya aku yang bisa menyelamatkan ibu dari sana. Begitu, kan?" kata Jemima dengan senyum masih menghiasi wajahnya.
Catherine menarik gadis manis itu lagi ke dalam pelukannya. "Jemi, berjanjilah satu hal kepadaku! Kalau kau masuk ke ruangan itu, segeralah keluar dengan cepat! Berjanjilah!"
"Satu hal lagi, jangan lakukan ini seorang diri!" tukas Catherine lagi dengan tegas.
Jemima mengangguk. "Oke, aku berjanji, Nek! Mungkin aku akan mengajak Kai saat aku pergi ke sana."
Sayangnya, malam itu Jemima segera mencoba apa yang tadi dia rencanakan.
Dia mengetuk kalung itu dan meletakkannya di sisinya.
"Hei, bisakah kau terbuka untukku?" tanya Jemima berhati-hati.
Hal tak terduga pun terjadi. Sebuah cahaya putih menyilaukan muncul dari dalam kalung itu dan kali ini, bukan sensasi ditarik, tetapi ada sebuah pintu di tengah cahaya itu yang terbuka lebar.
Jemima pun meraih pintu itu dengan tangannya dan dia seakan terhisap ke dalam sebuah pusaran gelap.
Dalam hitungan detik, udara di sekitarnya berubah. Bau manis serta kopi menyengat indera penciumannya.
"Lho? Ternyata kau mendengarku?" kata Jemima.
Dia pun segera pergi ke meja bar dan melayani jiwa-jiwa para tamu yang berada di sana.
Entah mengapa, hari itu dia tidak merasa lelah ataupun berat.
Hatinya terasa ringan, seakan dia memang bekerja di kafe kopi itu.
Ruangan itu bertambah besar, tamu-tamu yang datang juga bertambah banyak.
Setelah dia melayani para tamu, dia pergi ke tempat dua cermin terpasang.
Dia berhenti tepat di tengah-tengah cermin oval dan cermin bulat.
"Hai, Nenek Flo. Aku sengaja datang ke sini untuk berbicara denganmu," kata Jemima pada cermin bulat kosong di hadapannya.
Tak lama, cermin itu memantulkan bayangan. Seorang wanita tua dengan gaun sabrina panjang berwarna biru bermotif bunga-bunga kecil, serta topi jerami dengan pita di samping tersenyum ke arahnya.
Jemima melambaikan tangan ke arah cermin bulat. "Apa Anda nenek Florentia?"
Pantulan di cermin itu mengangguk, lalu tersenyum lagi.
Jemima sadar, pantulan itu tidak dapat berbicara. Sama seperti saat dia melihat Lily di cermin oval.
"Ada seseorang yang merindukan Nenek di luar sana. Apa Nenek masih ingat dengan Nenek Catherine? Dia nenek buyutku dan dia ingin sekali bertemu dengan Anda di luar sana," kata Jemima lagi seolah berbicara dengan manusia sesungguhnya di dunia nyata.
Wajah Florentia di dalam cermin tiba-tiba saja berubah.
Wanita itu menjadi sedih dan dia berjalan mendekati Jemima.
Dia mengangkat tangan dan menempelkan telapak tangannya di dasar cermin.
Jemima melakukan hal yang sama dan saat tangan mereka bertemu, cermin itu terasa menyengat seakan memiliki aliran listrik.
Jemima terkejut dan segera menjauhkan tangannya dari cermin. "Ouch! Nek, bisakah Anda keluar dari sana?"
Wanita tua itu mengangkat bahunya, lalu dia menangis.
"Aku tidak tau bagaimana caranya mengeluarkan Anda dari dalam sana. Tapi, Anda bisa menungguku untuk datang lagi ke sini. Aku akan membawa seorang teman untuk membantuku," kata Jemima lagi.
Napas Jemima memburu dan seluruh keringat keluar dari tubuhnya.
Di tengah kepanikannya itu, cahaya putih yang tadi membawanya masuk datang kembali dan menelannya.
Sepersekian detik kemudian, Jemima sudah berada kembali di kamarnya dengan napas tersengal-sengal.
Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Kai. "Kai, aku tau cara masuk ke dalam sana dan sepertinya aku tau bagaimana cara mengeluarkan nenek Flo dari dalam cermin! Tapi, aku membutuhkanmu untuk membantuku!"
***