Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gilang yang Terpuruk
Enam bulan setelah perceraian.
Gilang duduk sendirian di bar mewah kawasan SCBD. Gelas whisky ketiga di tangannya. Kepala udah pusing tapi dia terus minum.
"Satu lagi," Gilang ngangkat tangannya manggil bartender.
"Pak, sudah tiga gelas. Mungkin cukup?" bartender ngingetin dengan sopan.
"TUANGIKAN AJA! AKU BAYAR KOK!" Gilang bentak. Matanya merah. Bukan cuma gara-gara alkohol tapi juga gara-gara nangis.
Bartender ngangguk terus menuangkan whisky lagi. Gilang langsung tenggak setengah gelas sekali teguk.
Panas di tenggorokan tapi dia gak peduli. Yang dia mau cuma mati rasa. Gak mau mikirin apa-apa lagi.
Dua minggu lalu hidupnya berantakan total.
Sandra ninggalin dia.
Cewek yang dia pikir cinta mati sama dia ternyata cuma manfaatin dia doang.
Flashback dua minggu lalu.
Gilang dateng ke apartemen Sandra pagi-pagi. Bawa bunga sama coklat. Rencana mau ngajak Sandra sarapan bareng.
Mereka udah balikan sebulan setelah Gilang nyerah kejar Nayara. Sandra bilang dia maafin Gilang, bilang mereka bisa mulai lagi dari awal.
Gilang seneng banget waktu itu. Pikir dia bisa bahagia lagi sama Sandra.
Tapi pagi itu, apartemen Sandra kosong.
Gilang pake kunci cadangan yang Sandra kasih. Begitu masuk, apartemennya bersih. Terlalu bersih. Semua barang Sandra udah gak ada.
Lemari kosong. Kamar mandi kosong. Kulkas kosong. Semua kosong.
Cuma ada surat di meja makan.
Gilang buka surat itu dengan tangan gemetar.
"Gilang,
Maaf aku pergi tanpa pamit. Tapi aku rasa ini yang terbaik. Terima kasih sudah kasih aku banyak hal. Uang, koneksi, pengalaman. Semuanya berguna banget buat karirku.
Tapi aku sudah dapat yang lebih baik. Dia lebih kaya, lebih berkuasa, lebih bisa kasih aku kehidupan yang aku mau.
Jangan cari aku. Aku sudah pindah ke luar negeri sama dia.
Semoga kamu bahagia.
Sandra."
Gilang baca surat itu sampe lima kali. Gak percaya. Gak mau percaya.
Sandra ninggalin dia. Demi duit. Demi cowok lain yang lebih kaya.
Gilang remas kertas itu sampe kusut. Teriak keras di apartemen kosong itu. "SANDRA! SANDRAAA!"
Tapi gak ada yang jawab. Cuma gema suaranya sendiri.
Gilang jatuh terduduk di lantai apartemen. Nangis kayak anak kecil. Nangis keras sampe suaranya serak.
Dia ninggalin Nayara demi Sandra. Dia hancurkan pernikahannya demi Sandra. Dan sekarang Sandra ninggalin dia begitu aja.
Bodoh. Dia bodoh banget.
Sejak itu Gilang jadi berantakan.
Kerja gak konsen. Meeting sering telat. Proyek-proyek mulai gagal.
Investor-investor mulai cabut. Mereka denger gosip tentang kehidupan pribadi Gilang yang kacau. Gak mau investasi sama orang yang gak bisa jaga komitmen.
Perusahaan mulai rugi. Karyawan mulai resign satu per satu.
Nyonya Ratna, ibu Gilang, marah besar. Dateng ke kantor bentak-bentak Gilang di depan semua karyawan.
"KAMU INI KENAPA SIH GILANG? PERUSAHAAN YANG PAPA KAMU BANGUN SUSAH PAYAH MAU KAMU HANCURKAN GARA-GARA CEWEK?"
"Ibu gak ngerti! Ibu gak tau apa yang aku rasain!" Gilang balik teriak.
"YANG AKU TAU KAMU UDAH CERAIKAN ISTRI YANG BAIK DEMI PELAKOR! TERUS SEKARANG PELAKOR ITU NINGGALIN KAMU! PUAS?" Nyonya Ratna gak peduli karyawan pada ngeliatin.
"Sandra bukan pelakor! Dia, dia..." Gilang gak bisa lanjut. Karena dia tau ibunya bener.
"DIA APA? DIA CUMA MANFAATIN KAMU! KAMU BUTA APA? NAYARA ITU CINTA SAMA KAMU BENERAN! DIA SETIA SAMA KAMU WALAU KAMU SAKITI TERUS! TAPI KAMU BUANG DIA! SEKARANG NYESEL KAN?" Nyonya Ratna nangis sekarang. Marah campur sedih.
Gilang diam aja. Gak bisa jawab. Karena semua yang ibu bilang bener.
"Ibu gak mau tau. Kamu harus beresin perusahaan ini. Kalau sampai bangkrut, kamu gak dapet warisan apa-apa dari Ibu!" Nyonya Ratna ngancam terus pergi.
Tapi Gilang gak bisa fokus. Pikirannya kacau. Hatinya hancur.
Dia kehilangan semua. Nayara. Sandra. Aldi. Bahkan perusahaannya mulai hancur.
Dan semua gara-gara keputusan bodohnya sendiri.
Kembali ke sekarang.
Gilang di bar, gelas whisky keempat di tangannya. Udah mabuk tapi masih bisa mikir. Pikirannya malah makin jelas. Makin sakit.
Dia inget Nayara. Inget gimana Nayara selalu sabar sama dia. Gimana Nayara masak buat dia walau capek. Gimana Nayara tunggu dia pulang walau tau dia pasti malem.
Gimana Nayara nangis tiap kali dia bentak. Tapi besoknya tetep tersenyum sambut dia.
Gimana Nayara hamil sendirian. Kontrol sendirian. Melahirkan sendirian.
Dan dia? Dia sibuk sama Sandra. Sibuk selingkuh. Sibuk nyakitin Nayara.
"Aku bodoh," Gilang bisik sambil nangis. Air matanya jatuh ke gelas whisky. "Aku bodoh banget."
Cowok di sebelahnya ngelirik. "Lo gak papa bro?"
"GAK PAPA APANYA? AKU UDAH HANCUR! SEMUANYA HANCUR!" Gilang teriak.
Bartender dateng. "Pak, mungkin Bapak perlu pulang. Saya panggilin taksi?"
"GAK USAH! AKU MAU MINUM LAGI!" Gilang nyoba berdiri tapi limbung. Jatuh lagi ke kursi bar.
"Pak, Bapak sudah terlalu banyak minum. Tolong jangan nambah lagi," bartender tetep sopan walau Gilang udah kasar.
Gilang nangis makin keras. Gak peduli orang-orang di bar pada ngeliatin.
"Nayara, Nayara maafin aku. Aku salah. Aku bodoh," Gilang terus ngulang-ngulang kayak orang gila.
Dua orang satpam bar dateng. "Pak, kami harus minta Bapak pulang. Bapak sudah mengganggu tamu lain."
"GAK MAU! AKU BAYAR! AKU MAU MINUM LAGI!" Gilang melawan tapi tubuhnya lemes.
Satpam angkat Gilang. Bawa keluar bar. Duduki di trotoar depan bar.
"Pak tunggu di sini. Kami panggilin taksi," satpam bilang terus balik masuk.
Gilang duduk di trotoar. Senderan di tembok bangunan. Hujan gerimis mulai turun.
Tapi dia gak gerak. Biarin aja kehujanan. Biarin aja basah.
Dia keluarin hp dari saku. Layar pecah di pojok tapi masih bisa dipake. Dia buka galeri. Scroll foto-foto lama.
Ada foto dia sama Nayara waktu nikah. Nayara senyum lebar dengan gaun pengantin putih. Gilang peluk dia dari belakang.
Waktu itu Gilang cuma mikir Nayara alat buat nutup mulut orang tua. Tapi Nayara? Nayara beneran cinta sama dia.
Ada foto waktu Nayara hamil. Perut gede, senyum sambil mengelus perut. Gilang yang foto tapi dia inget pas itu dia males banget dimintain foto sama Nayara.
Ada foto Aldi bayi baru lahir. Foto yang dikirim Nayara waktu dia di rumah sakit. Gilang gak dateng waktu itu. Sibuk sama Sandra.
Gilang nangis lagi. Nangis sambil peluk hp-nya. "Maafin aku, maafin aku, maafin aku."
Taksi dateng. Supirnya turun, bantuin Gilang berdiri. "Pak, mau ke mana?"
Gilang gak jawab. Cuma nangis terus.
"Pak, rumahnya di mana? Saya antar," supir taksi coba lagi.
"Rumah, rumah udah gak ada. Semua udah hilang," Gilang ngomong gak jelas.
Supir taksi bingung. Akhirnya dia cek dompet Gilang, cari KTP. Lihat alamatnya, terus bawa Gilang ke sana.
Sepanjang jalan Gilang muntah-muntah di taksi. Supirnya sebel tapi gak marah. Kasian liat Gilang yang berantakan banget.
Sampe di apartemen mewah Gilang, supir taksi bantu Gilang masuk lobby. Satpam apartemen kaget liat bos mereka mabuk berat.
"Pak Gilang? Astaga kenapa Bapak?" satpam langsung bantuin.
"Saya antar sampe sini aja ya Pak. Tolong dijagain," supir taksi bilang terus pergi.
Satpam bawa Gilang naik ke penthouse-nya. Buka pintu pake kunci cadangan. Rebahan Gilang di sofa.
"Pak Gilang, saya buatin kopi ya," satpam mau masuk dapur.
"GAK USAH! PERGI! BIARIN AKU SENDIRI!" Gilang teriak sambil lempar bantal sofa.
Satpam takut. Langsung keluar. Ninggalin Gilang sendirian.
Gilang duduk di sofa. Natap apartemen mewahnya yang sepi. Besar tapi kosong. Dingin.
Dia inget rumah orang tua Nayara yang kecil tapi hangat. Penuh tawa. Penuh cinta.
Dia inget Nayara yang selalu senyum walau susah. Yang selalu kuat walau sakit.
Dan dia? Dia lemah. Egois. Pengecut.
Gilang berdiri gontai. Jalan ke kamar. Buka lemari. Ambil foto pernikahan yang dia simpen di paling bawah.
Foto dia sama Nayara. Senyum bahagia.
Gilang peluk foto itu. Nangis sambil duduk di lantai kamar.
"Nayara maafin aku. Aku udah ngecewain kamu. Aku udah sia-siakan cinta kamu. Aku bodoh. Aku bodoh banget," Gilang bisik-bisik sambil terus nangis.
Tapi Nayara gak ada di sana. Nayara udah pergi. Udah mulai hidup baru. Udah mulai bahagia.
Dan Gilang? Dia terjebak di masa lalunya sendiri. Terjebak di penyesalan yang terlambat.
Dia tidur di lantai kamar sambil peluk foto itu. Nangis sampe ketiduran.
Mimpi buruk tentang Nayara yang nangis. Tentang Aldi yang tumbuh tanpa ayah. Tentang Sandra yang ketawa ngejek.
Dan pas bangun pagi-nya, kepalanya sakit banget. Tapi lebih sakit dari sakit fisik itu adalah sakit di hatinya.
Sakit yang gak bakal sembuh.
Karena dia kehilangan orang yang beneran cinta sama dia.
Dan sekarang udah terlambat buat balik.
Terlambat buat minta maaf.
Terlambat buat semuanya.
begitu lah kalau org candu judi🤭
nayara jg keras kepala ngapain takut gagal lgi emang sdh nasib jln satu2 nya lebih baik plg ke rmh ibu dari pada mati di tangan bima kasian aldi trauma seumur hidup 🤭🤣🤣🤣
langsung kabur plg ke rmh ibu nya 🤭
bima tak bakal berubah nama jg sdh kecanduan judi 🤭
nayara plg aja ke rmh ibu tinggal kan aja bima biar tau rasa 🤭