NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terima Kasih yang Terbuang

Burung-burung berkicau saling bersahutan, melompat dari satu dahan ke dahan lain di antara pepohonan yang memagari halaman, saat mobil Kevin memasuki garasi mansion.

Dengan siulan riang, Kevin turun dari mobilnya. Ia sempat melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Masih terlalu pagi, pikirnya. Namun tugas sudah tidak bisa menunggu lagi.

Bukannya langsung masuk ke dalam, ia memilih melangkah menuju gerbang utama tempat para anak buah Jake berdiri berjaga dengan sikap siaga.

“Bagaimana keadaan semalam?” tanya Kevin.

Seorang pengawal menoleh dan menunduk sopan, “Baik, Tuan Kevin. Tidak ada hal khusus yang terjadi.”

Kevin mengangguk paham. Mansion ini memang kediaman rahasia Jake. Di mata publik, Jake mengaku tinggal di alamat lain, namun faktanya, seluruh kesehariannya ia habiskan di sini. Tujuannya hanya satu yaitu menjaga privasi agar tetap berada di luar jangkauan musuh-musuhnya.

“Bagus,” ucap Kevin sambil menepuk bahu pengawal itu, lalu kembali masuk. Dan pengawal tadi dengan sigap menutup gerbang berat di belakangnya.

Setelah memastikan keamanan terkendali, Kevin kemudian menaiki tangga menuju pintu utama.

Pintu itu tidak terkunci.

Pintu hanya akan dikunci rapat saat Jake sedang pergi. Kevin sebenarnya sudah berulang kali memperingatkan agar pintu tetap dikunci demi mencegah gadis sekapan mereka kabur, namun Jake selalu menjawab dengan angkuh bahwa tidak akan ada satu pun hal yang terlewat dari pengawasannya. Jake memang tidak tertebak, dan sebagai bawahan, Kevin hanya bisa patuh.

Langkah kaki Kevin melambat saat ia menginjakkan kaki di dalam. Suasana mansion begitu sunyi, bahkan hampir mencekam.

“Tuan,” panggil Kevin. Ia melangkah lebih dalam, berniat menuju ruang kerja pria itu.

“Diam....”

Suara bisikan rendah dari arah bawah tangga seketika menghentikan jantung Kevin. Ia menoleh dan tersentak hebat, “Astaga! Apa yang Tuan lakukan—“

Kalimat Kevin menggantung di udara saat matanya menangkap pemandangan yang tidak masuk akal. Shasha terlelap dengan sangat tenang di atas tubuh Jake, "Apa yang kalian lakukan di sini?” lanjutnya dengan nada linglung dan wajah penuh kebingungan.

Jake tidak langsung menjawab. Ia menundukkan pandangan, menatap wajah Shasha yang sebagian tertutup oleh helaian rambut halus yang berantakan.

“Sesuatu yang sulit dijelaskan,” jawab Jake singkat.

“Apa bertengkar adalah sesuatu yang sulit dijelaskan?” Kevin berbisik sambil menunjuk pecahan kaca dan genangan air yang sudah hampir mengering di lantai.

“Kau memang tahu segalanya,” puji Jake tanpa bisa ditahan. Inilah alasan mengapa ia begitu memercayai Kevin. Asistennya itu memiliki indra yang terlalu sensitif untuk menebak situasi dengan benar.

“Sudahlah. Pergilah sekarang,” tekan Jake.

Namun, gerakan dan percakapan itu rupanya mengusik tidur Shasha. Gadis itu menggeliat pelan sebelum perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia tangkap adalah sepasang kaki Kevin yang berdiri tegak. Shasha mendongak, menatap Kevin dengan bingung, namun kesadarannya pulih seketika saat menyadari betapa dekat wajahnya dengan lantai.

“Sudah bangun?” suara Jake terdengar tepat di bawahnya.

Shasha tersentak hebat. Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Jake. Setelah ingatan tentang kejadian semalam berputar kembali di kepalanya, ia buru-buru bangkit dan berdiri menjauh dengan wajah memerah sempurna. Dalam hati, ia mengumpati dirinya sendiri habis-habisan. Bagaimana mungkin ia bisa tertidur dalam posisi seintim itu dengan pria yang telah menculiknya?

Jake ikut bangun, menggerakkan bahunya yang terasa kaku karena harus menahan beban tubuh Shasha sepanjang sisa malam, “Apa tubuhku begitu nyaman sampai kau tertidur pulas?”

Shasha menunduk dalam, rasa malu membuatnya tidak berani menatap mata Jake.

Sedangkan Jake hanya menyeringai tipis melihat reaksi itu, lalu menoleh pada Kevin, “Bersihkan pecahan kaca itu.”

“Ah, jangan. Biar aku saja!” cegah Shasha cepat. Ia merasa bertanggung jawab atas kekacauan itu dan ingin segera lari dari situasi canggung yang menjeratnya. Ia melangkah terburu-buru menuju tangga dengan kaki telanjang karena sandalnya terlepas saat terpeleset.

“Berhenti!”

Jake bergerak lebih cepat. Ia mendekati Shasha dan langsung mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongan bridal style. Shasha otomatis menahan napas. Jarak mereka kembali terkikis hingga ia bisa merasakan napas Jake di wajahnya.

“Turunkan aku,” cicitnya sambil menekan dada Jake agar menjauh.

“Apa kau tidak sadar pecahan kaca itu mengenai kakimu?”

“Ah, benarkah?” Shasha refleks mencoba mengintip telapak kakinya yang memang terasa sedikit perih.

“Sudah diam!” bentak Jake pendek. Ia kemudian membawa Shasha menuju sofa ruang tamu dengan langkah lebar. Saat melewati Kevin, ia memberikan perintah final, “Bersihkan semuanya!”

“Baik, Tuan,” balas Kevin sambil menggelengkan kepala melihat pemandangan di depannya. Ia pun segera mengambil alat kebersihan untuk membersihkan kekacauan yang ada.

Di sisi lain, Jake menurunkan Shasha ke atas sofa dengan gerakan yang meskipun tampak kasar, sebenarnya cukup hati-hati agar tidak menambah nyeri pada kaki gadis itu. Tanpa sepatah kata pun, Jake melangkah menuju rak di sudut ruangan, mengambil kotak P3K, lalu kembali dan berlutut tepat di depan kaki Shasha.

Shasha bergerak tidak nyaman, berusaha membenarkan posisi pakaiannya yang sedikit berantakan akibat insiden tadi, sementara matanya tidak lepas dari sosok pria yang kini bersimpuh di hadapannya.

“Aku hanya ingin mengobati lukamu, bukan ingin memakanmu,” ucap Jake datar tanpa sedikit pun menoleh.

Tangannya bergerak dengan sangat ahli. Jemari kekarnya yang biasa menggenggam senjata kini tampak begitu telaten menyiapkan pinset dan antiseptik. Ia mulai mencari serpihan kaca yang menancap di telapak kaki Shasha yang pucat.

Shasha hanya bisa terdiam, lidahnya seolah kelu untuk memprotes. Ia menunduk, mengamati wajah Jake dari jarak dekat. Alis pria itu mengerut dalam, menunjukkan konsentrasi penuh dan keseriusan yang jarang ia lihat.

Satu per satu, Jake mencabut pecahan kecil kaca itu dengan gerakan yang sangat presisi agar tidak melukai jaringan kulit lebih dalam. Setiap kali Shasha meringis atau menarik kakinya sedikit, Jake akan menahan pergelangan kaki gadis itu dengan pegangan yang kokoh namun tidak menyakitkan, seolah memberitahu lewat sentuhan bahwa ia harus bertahan.

Setelah memastikan semua serpihan bersih, Jake mulai mengoleskan cairan antiseptik menggunakan kapas. Rasa perih yang menyengat membuat Shasha menggigit bibir bawahnya, namun ia tetap tidak berpaling dari wajah Jake yang masih tampak begitu fokus.

Pria itu, yang beberapa jam lalu mencekiknya dengan penuh amarah, kini justru berlutut dengan sabar hanya untuk mengobati luka kecil di kakinya. Jake kemudian membalut luka itu dengan kain kasa, mengerjakannya dengan rapi dan memastikan ikatannya tidak terlalu kencang.

“Terima kasih,” ucap Shasha lirih, memecah keheningan yang canggung.

Jake yang saat itu sedang menutup kotak obat, seketika menghentikan gerakannya. Jemarinya diam mematung sejenak di atas tutup plastik itu.

“Hanya hal biasa yang kulakukan saat aku terluka. Tidak perlu bersikap formal,” ucap Jake tanpa menoleh dengan suara datar yang hampir tanpa emosi. Ia segera berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh lagi.

Shasha mengantar kepergian Jake dengan tangan yang meremas ujung pakaiannya. Rasa kesal kembali menyulut dadanya, “Bukankah semalam dia yang pertama kali mengungkit soal terima kasih? Kenapa sekarang justru aku yang terlihat bodoh di depan matanya?” omel Shasha pelan, menggerutu pada udara kosong.

“Karena kau memang bodoh.”

Shasha tersentak dan buru-buru menoleh. Jake ternyata muncul kembali, kali ini sambil membawa sepasang sandal miliknya yang sempat terlepas.

“Kalau kau memang berniat berterima kasih...” Jake menjeda kalimatnya, membungkuk sebentar untuk meletakkan sandal itu tepat di depan kaki Shasha. Ia kemudian berdiri tegak, menjulang di hadapan Shasha dengan tatapan yang sangat serius, “...turuti perintahku dan jangan memberontak.”

Seketika rasa haru yang sempat tersisa di hati Shasha menguap, berganti dengan amarah yang meledak sepenuhnya. Ucapan terima kasihnya tadi rasanya ingin ia tarik kembali dari tenggorokan.

“Aku tidak akan menurutimu, bajingan!” desis Shasha tajam.

“Kau!” Urat-urat di leher Jake menegang, selaras dengan amarah yang kembali tersulut akibat pembangkangan Shasha yang tidak ada habisnya.

Shasha dengan kasar memakai sandalnya, lalu memaksakan diri untuk berdiri meski rasa perih yang menyengat masih menjalar di telapak kakinya. Ia maju selangkah, menantang dominasi Jake, lalu menudingkan jari telunjuknya tepat di depan wajah pria itu.

“Menolongku, lalu bersikap sok pahlawan, kemudian menyiksaku lagi. Bukankah itu memang rencanamu?” Shasha mencerca dengan napas memburu, “Dengar, brengsek! Sampai mati pun aku tidak akan pernah tunduk padamu! Semoga Tuhan membalas semua yang kau lakukan padaku!”

“Kenapa tidak ada satu hari pun kau tidak membuatku marah?!” balas Jake dengan bentakan, “Percuma saja aku menolongmu!”

“Maka jangan lakukan itu! Aku membencimu!”

Shasha memutar tubuhnya dan melangkah pergi, walaupun tertatih-tatih menahan nyeri yang menusuk setiap kali kakinya menapak lantai. Namun baginya, rasa sakit fisik itu jauh lebih tertahankan daripada harus berada di ruangan yang sama dengan pria yang paling ia benci di dunia ini.

Kevin yang baru saja kembali setelah membuang pecahan kaca ke tempat sampah, tertegun melihat Shasha yang melewatinya dengan susah payah. Bahkan ekspresi gadis itu terlihat sudah terbakar karena amarah.

“Apa yang terjadi lagi? Bukankah mereka terlihat baik-baik saja tadi?” gumam Kevin bingung. Ia pun langsung melangkah menuju ruang tamu, “Tuan,” panggilnya hati-hati.

Jake hanya diam mematung dengan tatapan yang mematikan, tertuju lurus pada punggung Shasha yang sedang menaiki tangga dengan tertatih. Kevin mengikuti arah pandang itu dengan perasaan iba.

“Apa Tuan tidak membantunya lagi? Sepertinya dia masih sangat kesakitan.”

“Biarkan saja. Itu semua karena sikap keras kepalanya,” ucap Jake dingin, lalu ia melenggang pergi meninggalkan Kevin begitu saja.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengan mereka berdua,” lirih Kevin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Antarkan makanan untuknya!” Perintah Jake terdengar dari kejauhan.

“Baik, Tuan!” balas Kevin cepat. Meski ia patuh, dalam hati ia masih bertanya-tanya. Apakah tuannya itu benar-benar sedang marah, atau justru sedang peduli pada Shasha?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!