NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amplop Oranye Dari Ayah

Sudah satu bulan ayah pergi merantau ke kota. Hari-hari kami tetap berjalan seperti biasa. Pagi-pagi kami berjualan, sore pun kembali berjualan. Semua itu kami lakukan agar perut tetap terisi dan ibu masih bisa membiayai uang sekolah kakak dan abangku. Meski lelah sering datang, ibu tak pernah mengeluh.

Aku Senja, usiaku baru enam tahun lebih. Tahun depan aku akan mulai sekolah dasar. Aku belum benar-benar mengerti arti merantau, tapi aku tahu sejak ayah pergi, rumah terasa sedikit lebih sepi, dan ibu sering termenung menatap jalan.

Hari ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah motor berwarna oranye berhenti di depan rumah kami. Aku tak mengenal siapa orang itu. Namun mataku tertuju pada wajah ibu yang mendadak berubah—senyumnya merekah, matanya berbinar. Tangannya sedikit gemetar saat menerima sebuah amplop berwarna oranye dari orang tersebut.

Tak lama setelah itu, orang itu pergi. Aku mendekati ibu yang masih berdiri di ambang pintu, memeluk amplop itu seolah benda berharga.

“Bu, siapa tadi?” tanyaku polos.

Ibu menatapku, lalu berjongkok agar sejajar denganku. Dengan suara pelan yang penuh rasa syukur, ia berkata,

“Itu tukang pos, Senja. Ayah mengirim uang.”

Aku tak tahu berapa jumlahnya. Aku hanya melihat ibu menarik napas panjang, lalu menuTup wajahnya sebentar. Bukan karena sedih, melainkan karena lega.

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah ayah pergi, aku melihat ibu menangis sambil tersenyum.

Dalam diam, aku mengerti satu hal sederhana: ayah memang jauh, tapi cintanya tetap sampai ke rumah kami—terlipat rapi di dalam sebuah amplop oranye.

****

Ibu masih berjongkok di hadapanku. Amplop oranye itu ia genggam erat, seolah takut isinya akan menghilang bila dilepas. Setelah menyeka air matanya, ibu berdiri dan melangkah masuk ke rumah. Aku mengikutinya dari belakang.

Ibu membuka amplop itu perlahan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang terlipat rapi. Tangannya kembali bergetar, bukan karena jumlahnya, melainkan karena arti di baliknya. Uang itu adalah tanda bahwa ayah baik-baik saja, bahwa ayah tak melupakan kami.

“Alhamdulillah…” lirih ibu, nyaris seperti doa.

Ibu lalu duduk di tikar, menghitung uang itu dengan hati-hati. Setelah selesai, ia menghela napas panjang.

Aku melihat wajahnya—bukan wajah lelah seperti biasanya, melainkan wajah penuh rencana. Ibu lalu berkata, lebih pada dirinya sendiri daripada kepadaku,

“Ini buat uang sekolah Kak Rini dulu, sebagian buat belanja besok, sisanya kita simpan. Biar ada pegangan.”

Tak lama kemudian, Kak Rini dan Bang Ari pulang dari berjualan. Ibu segera memanggil mereka untuk duduk bersama. Aku ikut duduk di samping ibu, merasa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.

“Ayah kirim uang,” kata ibu pelan.

Kak Rini terdiam sesaat. Matanya berkaca-kaca, lalu ia tersenyum kecil. Bang Ari menunduk, mengangguk pelan, seolah menguatkan diri agar tak ikut menangis. Tak ada sorak gembira, tak ada teriakan senang—hanya kelegaan yang tenang, seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

“Berarti ayah sehat ya, Bu,” ujar Kak Rini pelan.

Ibu mengangguk. “Iya. Ayah kerja keras di sana. Kita juga harus kuat di sini.”

Malam itu, rumah kami terasa sedikit lebih hangat. Bukan karena uangnya semata, melainkan karena harapan yang kembali pulang. Aku, Senja, yang masih kecil, mungkin belum paham betul tentang beratnya hidup. Tapi malam itu aku belajar satu hal: sekecil apa pun yang dikirim ayah, selalu cukup untuk menyalakan harapan kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!