NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangsal 505

"Selamat pagi, Suster Alana!"

Bisikan itu membuat Alana sontak mengangkat kepalanya dari tumpukan lengan di atas meja. Matanya sayu dengan bentuk kain yang membekas di pipinya. Entah berapa lama dia tertidur.

Ruang jaga ini tampak lebih sepi dari yang seharusnya. Hanya ada Betari yang tampak baru saja datang dengan tas ransel di punggungnya. Sementara beberapa perawat lain pergi entah ke mana.

"Nyenyak banget tidurnya," lanjut Betari yang kini menyodorkan satu kantung plastik kecil berisi roti.

Alana yang tengah meregangkan punggungnya lantas mendelik bersemangat. "Roti abon?" tanyanya.

Betari menggeleng. "Roti isi ayam. Tadi aku tanya ke penjualnya, katanya roti abonnya udah habis."

"Sepagi ini udah habis?!" ulang Alana.

Jarum jam yang menggantung di salah satu sisi dinding ruang jaga pun masih menunjukkan pukul 7 pagi hari. Tapi, Alana sudah kehabisan stok roti favoritnya untuk disantap sebagai menu sarapan. Padahal, roti abon dan sekotak susu full cream adalah perpaduan yang tepat untuk mengganjal perutnya.

"Udahlah... sama aja kok. Ini lebih enak kata penjualnya," ujar Betari.

Alana menarik lacinya dan mengeluarkan sekotak susu yang sempat dia beli semalam di minimarket seberang rumah sakit. Seandainya dia tak terjebak piket jaga malam, mungkin dia sedang menikmati sebungkus roti abon hangat sambil berdesakan dalam bus saat ini.

"Bilang apa, Sayang?" tanya Betari.

Alana menarik senyum lebar yang dipaksakan. "Makasih, Tari!"

Setelahnya, bibir sedikit pucat akibat terjaga semalaman itu menggigit roti pemberian Betari. Meski memang rasanya tak seperti yang dia makan biasanya, Alana masih bersyukur karena bisa mengisi perut kosongnya dengan dua bungkus roti yang diberikan gratis oleh Betari.

"Besok aku ganti, ya," ucap Alana.

Betari yang sedang merapikan rambutnya dengan sisir kecil lantas menoleh. "Nggak usah lah! Kayak sama siapa aja."

"Semalam sepi, Lan?" tanyanya begitu selesai dengan kekacauan rambutnya.

Alana tampak mengangguk. Pipinya menggembung penuh dengan gigitan roti yang di makan perlahan. Meski makanan itu sudah sedikit lebih dingin dari yang seharusnya, namun aromanya cukup untuk sampai ke penciuman Betari. Membuat perempuan itu beringsut dan mencuri satu gigitan dari tangan Alana.

Sambil duduk di meja yang di tempati Alana, Betari melipat tangannya di depan dada. "Bangsal camermu juga nggak berisik?" tanyanya lagi.

"Camer?" beo Alana.

Betari mengangguk. "Iya, bangsal 505. Tempat calon mertuamu, kan?"

Mendengar itu, Alana mendelik. Alisnya menukik tajam, tak terima dengan kalimat yang mungkin akan menjadi gosip di kalangan perawat lainnya. "Kalau ngomong tuh dijaga!"

"Aku aja nggak kenal sama mereka kok," lanjut Alana sembari mencuri satu gigitan kecil dari roti di tangannya.

"Santai aja, Lan. Semua suster di sini juga bilang begitu tentang kamu sama keluarga pasien di bangsal 505 itu."

Alana menatap Betari menelisik. "Pasti kamu yang mulai," sahutnya.

"Bukan!" timpal Betari buru-buru. "Mbak Bintan yang mulai."

"Oh...," sahut Alana tak ambil pusing. Perempuan itu bahkan hanya fokus pada roti di tangannya daripada Betari yang kini tengah mengutak-atik barang miliknya di atas meja.

"Kok kamu kayak santai banget, Lan? Nggak mau ngelurusin omongan ke orang-orang itu?" tanya Betari.

Alana mendongak pada temannya. "Nggak, biarin aja mereka nyebarin omong kosong kayak gitu."

Meski rumor itu hanya sekedar rumor, Alana tak berniat untuk membela dirinya. Bukan karena dia berharap, tapi menyangkalnya malah akan membuat hubungan antar pekerja di lingkungan kecil ini semakin runyam. Alana bukan tipe orang yang mau membuang energinya hanya untuk menghadapi orang-orang seperti itu.

Namun, tak salah juga jika rumor itu semakin berkembang di kalangan para tenaga medis. Alana pun tak heran dengan adanya buah bibir tentang dirinya itu. Faktanya, keluarga di bangsal 505 selalu menanyakan Alana dan meminta Alana yang melayani mereka jika memang Alana sedang ada di sana.

Sembari membuang bungkus roti yang sudah habis, Alana bergumam, "Lagian, aku juga nggak kenal sama mereka sebelumnya."

"Mereka siapa?" sahut Betari.

Tepat saat itu, bel ruang rawat berbunyi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah kata peribahasa yang sering kali menguar di masyarakat luas. Bangsal 505 menjadi pemanggil melalui bel itu.

Alana tersenyum kecil. "Itu yang aku maksud," jawabnya.

Seolah sudah tahu apa yang harus dia lakukan, Alana langsung membawa keranjang berisi botol infus baru dan perban yang akan dia gunakan. Dengan senyum masam, dia berpamitan pada Betari yang tengah menikmati pagi santainya.

"Langsung berangkat gitu?" tanya Betari yang tak rela ditinggal begitu saja.

Alana mengangguk sekali. "Udah tugas aku sebagai perawat. Kamu mau gantiin aku? Biar aku istirahat sebentar."

Sempat Betari terdiam sejenak. Kunyahannya memelan untuk berpikir, sedikit tertarik dengan tawaran Alana. Namun, sedetik kemudian dia langsung tersadar dan menggeleng. Dia tidak mau kembali dengan tangan kosong hanya karena keluarga pasien yang meminta Alana untuk datang.

Betari lantas mengangkat roti di tangannya. "Aku lagi sarapan," jawabnya.

"Bilang aja nggak mau!" cibir Alana sembari berlalu begitu saja.

Sepanjang koridor ini, tak sedikit pun Alana mendapat pertanyaan ke mana dia akan pergi sepagi ini. Bahkan saat semua pasien masih sibuk membersihkan diri di bangsal mereka masing-masing dan banyak tenaga medis yang hilir mudik menuju kantin. Tapi, Alana malah berjalan ke arah yang berlawanan.

Sepertinya benar yang dikatakan Betari perihal rumornya dengan keluarga pasien yang tampak begitu intens. Alana juga baru menyadari bagaimana tatapan beberapa perawat yang mungkin sudah mendengar rumor tersebut sampai telinga mereka secara langsung.

"Kita nggak bisa batalin vendor pernikahan gitu aja, Kinan!"

Jemari Alana yang hendak mendorong pintu bangsal 505, terhenti seketika. Suara wanita di dalam sana cukup untuk terdengar hingga keluar ruangan. Maka dari itu, Alana menarik kembali tangannya dari gagang pintu dingin di depannya.

"Terus Mama maunya gimana? Olin bahkan udah nggak ada, lalu kenapa harus ada pernikahan itu?!" sahut seorang pria yang kini terbaring di atas ranjang pasien.

Tampak telinganya memerah. Urat lehernya muncul di antara kulitnya yang cerah nan pucat. Matanya kering menatap pada sang ibu yang masih teguh akan pendiriannya.

"Kamu kan tahu sendiri, Ki..., kita udah keluarin uang belasan juta cuma buat bayar DP vendor ini," sahut Ella, sang ibu.

Tampak Kinan yang sedikit lebih pulih di atas ranjang rumah sakit selama satu minggu terakhir itu menarik nafas dalam-dalam. Matanya terpejam sebentar, mungkin untuk menguraikan emosi dalam dadanya.

"Vendor ini kan berdasarkan kemauan Olin, Ma. Kalau Olin aja udah nggak ada, mau buat apa lagi?" sahut pria itu.

Ella tampak memalingkan pandangannya ke arah balkon kamar inap. "Mama akan mempersiapkan semuanya. Kita nggak harus membatalkan semuanya."

"Kita nggak bisa biarin uang belasan juta itu hangus gitu aja, Ki. Nyarinya juga susah!" lanjutnya.

Mendengar itu, Kinan mengerutkan keningnya. tak peduli jahitan di dahinya akan kembali terbuka karenanya. "Mama gil--"

TOK! TOK! TOK!

Sebelum makian itu meluncur mulus dari bibir pria yang kini masih terbaring di atas ranjang, Alana sudah lebih dulu memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Hitung-hitung mengurangi potensi Kinan akan menjadi anak durhaka saat ini.

Dengan senyum mengembang, Alana membuka pintu lebar-lebar dan melangkah masuk bersama keranjang di tangannya. Dia menyapa Ella yang tersenyum hangat padanya. Sementara, Kinan sudah lebih dulu memalingkan wajahnya ke arah yang lain.

"Ibu tadi pencet bel, ya?" tanya Alana.

Ella mengangguk. "Iya. Infusnya habis, Sus."

Alana mendongak pada tiang penyangga botol infus. Benar saja, benda itu hampir kosong jika dia tak memberanikan diri untuk segera mengetuk tadi.

Terdengar derit gesekan antara kaki kursi besi dengan lantai di belakangnya. Ella mendudukkan dirinya di sana sembari memandangi bagaimana telatennya Alana dalam merawat Kinan selama satu minggu terakhir. Inilah yang membuatnya selalu meminta Alana untuk datang setiap dia memencet bel.

"Permisi ya, Pak. Saya ganti perbannya," ucap Alana sambil melepas perban di kepala Kinan.

Perempuan itu lantas mengernyit samar begitu melihat sedikit darah yang keluar dari sana. Mungkin karena kerutan dahi yang Kinan buat beberapa saat yang lalu.

"Maaf saya memanggil terlalu pagi," ucap Ella.

Alana tersenyum. Tanpa menoleh dia menyahut, "Nggak apa-apa, Bu. Sudah tugas saya."

"Suster sudah punya pacar?" tanya Ella tiba-tiba.

Pertanyaan itu tentu langsung mendapatkan respon berbeda dari dua orang yang ada di sana. Kinan langsung melotot ke arah ibunya, meminta wanita itu untuk menjaga ucapannya kepada orang asing.

Sementara, Alana tersenyum kecut di balik tubuhnya. Mengapa pertanyaan itu harus keluar dari bibir keluarga pasien? Alana hanya berharap tak ada perawat yang kebetulan lewat dan mendengar hal itu, atau dia akan kembali menjadi buah bibir di rumah sakit ini.

Buru-buru Alana menyelesaikan ganti perban pada kepala Kinan. Dia langsung menarik tubuhnya dan membereskan peralatan yang sempat dia bawa sebelumnya.

"Sudah, Bu," ucap Alana sambil memandangi hasil kerjanya sejenak. "Kalau begitu, saya permisi dulu," pamitnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!