NovelToon NovelToon
Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:548.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hania

Nur Aini fil Islam adalah sebuah nama yang diberikan ayah Farhan pada bayi mungil, yang dia temukan di sebuah gubug, di tepi sawahnya. Dengan sabar, mereka mengasuhnya hingga dewasa.

Dia tumbuh menjadi gadis yang baik, dan taat pada orang tua. Ketika dijodohkan pun dia tak menolak. Hanya saja, ada satu nama yang tersimpan dalam hatinya semenjak kanak-kanak. Hingga sampai kini dia nanti kedatangannya ....

Siapakah dia? ... Dan maukah dia dijodohkan dengan orang yang tak dikenalnya? ....

Selamat membaca ....
Jangan lupa votenya ya ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 : Bertemu Ulya

"Tolong ... tolong." sebisa mungkin Nur berteriak memanggil-mangil siapapun yang bisa mendengarnya.

"Anas, Anas.tolong hentikan."

"Ya, Den. Sepertinya gadis itu diculik." kata Anas dengan gusar.

Secepat kilat Ulya membuka pintu mobilnya. Dan berlari menghampiri 2 orang yang berhasil menarik tangan Nur. Menyeret Nur, dengan kasar.

"Lepaskan dia." bentak Ulya.

Satu orang melepaskan lengan Nur, berbalik arah menghadap Ulya yang siap siaga. 1 tendangan kuat berhasil lelaki itu daratkan ke tubuh Ulya membuatnya sedikit terhuyung. Meski dapat menangkis dengan kuda-kuda yang dia pasang.

Lalu Ulya menyerang balik. Lelaki itu tetap berdiri, tidak bergeming sama sekali. Malah dengan cepat mendaratkan satu tinjunya ke arah kepala Ulya. Membuat pelipis Ulya berdarah.

Melihat majikannya kewalahan. Anas segera membantunya. Dengan sebuah balok kayu jati yang dia temukan, dia menyerang. Mengayunkan dengan cepat kearah kepala pria itu. Membuatnya terhuyung. Tak puas hanya di situ. Sekali lagi Anas mengayunkan balok kayu itu ke arah pinggang.

Mungkinkah itu daerah yang mematikan. Sehingga membuat pria itu terhuyung dan akan jatuh. Kalau saja tidak disanggah oleh temannya.

Yang tanpa sadar melepaskan pegangan tangannya pada Nur. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Nur. Secepat kilat Nur berlari sambil menangis.

Ulya yang melihat itu segera mengejarnya. Meninggalkan Anas menghadapi 2 penculik itu sendirian.

Karena temannya hampir terkapar. Pria itu segera menapahnya dengan cepat ke arah mobil. Melarikan diri meningglkan Anas yang masih memegang balok kayu.

Anas membiarkan pria itu pergi, tapi dia telah menghafal nomor plat mobilnya, Sepertinya dari kota Surabaya. Dia sekilas melihat Ulya yang berhasil mendekati Nur.

"Nur... Nur, jangan lari. Ini aku. Kakak Uyamu." ujar Ulya sambil melangkah lebar hingga berhasil meraih tangan Nur.

"Kak Uya, kenapa nggak terus terang sejak awal. Kalau Bahrul itu kak Uya." Ulya diam tak menanggapi ucapan Nur. Dia meraih kedua tangan Nur. Membiarkannya menangis. Berlahan dia mengusap air mata Nur dengan ujung jarinya.

"Maafkan kakak, Nur." Ulya membiarkan Nur bersandar di bahunya. Dan mengusap sedikit kepala Nur yang tertutup jilbab. Mungkin dengan itu, dia akan lebih tenang.

"Anas, tolong ambilkan air mineral di mobil." kata Ulya pada Anas yang telah berdiri 2 langkah di belakangnya.

Tanpa bicara, Anas meninggalkan mereka berdua menuju mobil yang terparkir di jalanan yang sepi.

"Kak, aku takut."

"Mereka sudah pergi."

"Kita duduk di sana, okay" Ulya membimbing Nur mengikuti langkahnya. Menuju sebuah batu yang ada di pinggir sungai kecil, di pinggir ladangnya.

Tak lama kemudian Anas datang dengan membawa sebotol air mineral. Yang kemudian diberikan pada Ulya yang sedang menyanggah kepala Nur dengan bahunya.

"Minumlah."

Nur menerima minuman itu derngan lemah. Karena jiwanya masih sedikit terguncang dengan peristiwa yang baru saja dialami. Tak sangka ada orang jahat yang ingin menculiknya.

Setelah dia minum beberapa teguk, dia memberikan botol itu pada Ulya yang kemudian meminumnya juga.

"Cucilah, mukamu. Agar kamu lebih segar dan tenang."

Nur segera turun ke sungai itu.

"Kakak jangan lihat."

"Baiklah."

Nur membuka cadarnya, sedikit menyingkap lengan dan roknya untuk dapat turun ke dalam sungai. Membasuh mukanya dengan air yang mengalir jernih. Dan merasakan kesegarannya. Lalu kembali ke tempat Ulya berada.

"Sudahkah?" tanya Ulya.

"Terima kasih."

Ulya membalikkan badannya dan menatap Nur kembali. Mendapati Nur yang diam dengan wajah menunduk.

"Kak Ulya."

"Ya, Nur."

"Mengapa kakak tak menginginkan kita bersama saat itu."

Ulya diam lama dan menarik nafas panjang.

"Lebih baik Nur tidak usah tahu alasannya."

"Bukankah kakak berjanji akan menjemput Nur."

"Ya, dan kakak masih ingat sampai sekarang."

"Tapi kenapa kakak datang sebagai Bahrul, bukan sebagai kakak Uyaku."

"Apakah Bahrul begitu buruk bagimu, hingga menatapnya saja kamu tak mau."

Nur terhenyak seketika. Terlintas dalam bayangannya peristiw 3 bulan yang lalu, dimana Bahrul datang melamarnya. Dia memang tak mau melihat calon suaminya.

Semua itu dia lakukan hanya untuk menyenangkan kedua orang tua yang telah merawatnya sejak dia bayi. Dan dalam hatinya hanya menginginkan Ulya yang datang.

"Maafkan Nur. Nur benar-benar nggak ngerti bahwa itu Kakak."

"Benarkah, bahkan saat inipun kamu tak mau melihat kakak."

"Kakak masih marah?"

Nur tak tahu harus menjawab apa pada Ulya. Bahwa hatinya saat ini ingin belajar melupakannya. Mengingat esok adalah hari pernikahannya dengan Andre. Dia mencoba menghindar.

"Kakak nggak pernah bisa marah padamu."

"Kakak."ujar Nur dengan segala perasaan bersalah menatap Ulya, yang kini tersenyum padanya dengan senyum terbaiknya.

Nur baru menyadari kalau pelipis Ulya berdarah.

" Kakak, wajahmu berdarah."kata Nur yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Untunglah Anas kembali dengan kotak pppk nya.

"Ini, Den."

"Makasih, Anas."

Anas meninggalkan mereka berdua menuju ke mobilnya.

"Biarkan Nur yang membersihkannya."

"Baiklah." Ulya terlihat bahagia saat Nur menawarkan diri untuk membersihkan lukanya.

Ulya sangat menikmati moment tersebut. Dia tak hentinya menatap bola mata Nur. Mata yang selalu dirindukannya. Dengan berbincang-bincang ringan.

"Kak, apakah saat ini kakak datang untuk Nur."

"Bukan."

"Sudah kuduga."

"Kebetulan kakak ada urusan di Yogya, Mampir ke sini karena mau menghadiri undangan sahabat kakak."

"Oh ... lewat sini?"

"Nggak boleh?, memangnya ini jalanmu?"

"Ya, iya." kata Nur gemas. Sampai-sampai menekan luka Ulya dengan keras.

"Aauuu ... sakit, Nur."

"Salahnya sendiri menggoda Nur. Sekarang rasain."

Meski begitu, Nur dengan telaten membalut luka itu dengan rapi.

"Terima kasih, Nur."

"Ya ..." jawab Nur singkat dengan membereskan peralatan pppk nya. Tanpa menyadari tangan Ulya meraih tangannya. Ingin berucap sesuatu.

Tapi terhenti manakala tangannya menyentuh cincin yang ada di jari manis Nur. Dia membimbimbing tangan Nur ke hadapannya. Dan menatapnya sangat lama

Mengapa di jarimu kini sudah terisi cincin pertunangan, dan itu bukan cincin yang ditinggalkannya dulu.

Nur menyadari itu. Dia menarik tangannya. Tapi Ulya menahannya.

"Nur, kamu?"

"Maafkan Nur, Kak." Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dan terdengar lirih Nur menangis.

"Saat itu Nur benar-benar menyesal, kenapa sampai tak tahu kalau kak Ulya yang datang."

"Ku pikir kakak marah tak mau lagi sama Nur. Makanya Nur terima lamaran yang menginginkan Nur." jawab Nur polos di tengah-tengah tangisnya.

"Sudahlah, jangan menangis. Kakak bahagia ... Dan Nur bisa jadi adik kakak selamanya." kata Ulya menghibur diri.menyembunyikan hatinyanya yang terkoyak.

"Benarkah?"

"Percalah pada kakak." kata Ulya sambil mengangkat jari kelingkingnya. Sebagaimana anak kecil berjanji.

Nur yang melihat reaksi Ulya demikian menyambutnya dengan gembira. Dia segera memberikan jari kelingking pada Ulya. Dan mengaitkannya bersama.

"Nur bahagia, kak Ulya bisa memaafkan Nur."

"Apa yang perlu dimaafkan, Nur?"

1
❤️⃟Wᵃf YULI A
bahrul kok gk mau nikah sm nur..???
Cah Dangsambuh
jadi penasaran kan bahrul sangat merindukan nur tapi begitu ketemu kok seakan ada kemarahan,ada apa kira kira
Cah Dangsambuh
skrol skrol skrol nemu cerita bagus mampir insya allah sampai ful
Tati Suwarsih Prabowi
hahaha...bisa naik g bisa turun...
Tati Suwarsih Prabowi
Alhamdulillah...
Tati Suwarsih Prabowi
kapan akmal kembali thor...hikhikhik sedih
Tati Suwarsih Prabowi
tegannya ambil anak orang..lagian tu baby sitter g tanggung jawab!
Tati Suwarsih Prabowi
ooo jd ayahnya devra mustofa tho!
Tati Suwarsih Prabowi
hadeuuuuh yg rindu...
Tati Suwarsih Prabowi
maaf thor...naura dan ulya kan bkn bkan mahram,apalagi naura bercadar tapi knp mereka berpelukan dan pegangan tangan!
Tati Suwarsih Prabowi
misterius...sebenarnya mereka sapa;apa tujuannya?
Tati Suwarsih Prabowi
klo jadi mertua....semena2 tuh b retno julid
Tati Suwarsih Prabowi
perjodohan lagi...
MomZiee
cerita nya bagus, semangat kk
Baihaqi Sabani
naura hamidun kah????? sdngkn andre meninggal menitipkn buah hati....uuh so swety......
Baihaqi Sabani
ya allah....tega authoryaaaa😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭bru smpet bhgia dh menjnggal😭😭😭😭😭😭😭innalillahi
Baihaqi Sabani
kyy andre bkln meninggal deh.....n mau wasiat biar ulya nikah ma nur😭😭😭😭😭😭
Baihaqi Sabani
sedih thor
Baihaqi Sabani
innalillahi .......bru sbntar bhgia dh ad cobaanya.....ap jn awal kesedihan naura akias nur.....khilangan andre kah?
Baihaqi Sabani
semoga mrka samawa.......😭😭😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!