NovelToon NovelToon
Kos-kosan Sus Banget!

Kos-kosan Sus Banget!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Spiritual
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: DancingCorn

Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.

BENAR! DIA TAKUT.

Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.

Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.

Di sinilah kehidupannya mulai berubah.

Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 : Parti atau Parto?

Mereka menarik napas lega setelah berhasil lolos dari Giwang. Mbah Semi mulai berjalan lagi diikuti oleh Fandi dan yang lainnya. Mereka berjalan sajuh 10 meter sebelum sebuah bayangan putih jatuh menghentikan Fandi.

BRUK!

Fandi menabrak sesuatu. Benda putih menghalangi jalannya, membuatnya hampir jatuh terduduk.

Refleks, dia merogoh kantong dan mencabut jimat perlindungan untuk menyerang.

Segera setelah dia melemparkan jimat dan mulai berdoa. Sebuah suara centil tiba-tiba terdengar. “Aduh, aduh, sakit, Mas… Kasar banget sih!”

Mereka semua menegang.

Di depan mereka, berdiri hantu perempuan cantik dalam balutan kebaya putih yang anggun. Rambut panjangnya tergerai, matanya berbinar genit, dan bibirnya melengkung dengan senyum menggoda.

Raka dan Arief langsung menyikut Fandi dengan tatapan penuh arti.

“Wih, Fan… Dapet nih!” bisik Arief, matanya berbinar jail.

“Cakep juga! Lo gak mau ngajak kenalan dulu?” tambah Raka, terkekeh.

Alya, yang berdiri di samping mereka, hanya menatap mereka berdua dengan ekspresi muak.

Dasar cowok, kalau ketemu cewek cantik selalu saja seperti ini.

Fandi mengabaikan komentar teman-temannya dan memandang hantu itu dengan mata menyipit. Dia sepertinya sedang menilai apakah dia mengenal hantu ini atau tidak. Dia juga berpikir apakah pernah menyinggung hantu ini.

Si hantu tersenyum lebih lebar. “Mas Fandi, masa lupa sama aku. Ini Parti, Mas~” katanya dengan nada manja, sambil sedikit menggoyangkan bahunya. “Aku udah ngasih hak spesial buat Mas Fandi panggil aku Titi aja lho~”

Raka dan Arief kembali menyikut Fandi, kali ini lebih keras.

“Mbak Titi, Fan! Manis banget, cocok buat lo!” goda Raka.

Arief terkekeh. “Cinta beda alam, nih! Gas Mbak.”

Fandi mengerang frustasi. “Bacot kalian! Gue lagi mikir!” Tapi Fandi sudah mengingat beberapa hal.

Parti terkikik, menutupi mulutnya dengan tangan. “Ihihihihi, Masnya masih galak aja~”

"Jangan jangan..." Fandi mulai curiga. “... Lo yang dari Ciledug?”

Parti tersenyum misterius. “Hmm… Mas Fandi inget Titi~? Ini Titi yang suka lihat banyak cowok cakep, Mas.”

Raka dan Arief langsung saling melirik dengan ekspresi aneh. Mereka bertanya-tanya, apakah Fandi mengenal hantu cantik ini.

Fandi memijit pelipisnya. “Astaga… Parto, ini Lo lagi.”

Hening.

Angin berhembus pelan.

"Tunggu, Lo panggil dia apa tadi, Fan?" Tanya Arka ragu.

Arief mengangguk, "kayanya gue juga salah denger deh."

Fandi tersenyum lucu. "Kenalin, ini Parto, sebelum mati dia seorang waria. Gue pernah bantu dia dikit dulu." Katanya sambil mengangkat alis, tertarik dengan reaksi mereka.

Raka dan Arief saling berpandangan. Tatapan mereka berubah.

Arief perlahan menggeser badannya menjauhi si hantu.

Raka menelan ludah. “Bentar… Jadi lo—”

Parto tertawa dengan suara berat yang tiba-tiba keluar dari balik suara centilnya. “Iya, Mas-mas, aku dulu laki! Tapi sekarang beda, nama aku Parti mas~." Katanya sambil malu-malu.

Hening lagi.

Raka, Arief, dan Alya membeku di tempat.

Mata Raka melebar, seolah baru menyadari kenyataan pahit.

Arief menatap kosong ke depan, seperti baru kena serangan mental.

Alya juga tampak trauma.

Perlahan, Arief menoleh ke Raka dengan wajah kosong.

“Rak… Kita baru aja panggil banci gentayangan ‘Mbak’.”

Raka menelan ludah. “Iya, gue tau…”

Mereka bertiga saling berpandangan, ekspresi mereka penuh kehancuran.

Fandi, yang sudah terbiasa dengan ini, hanya menyilangkan tangan dan menatap mereka dengan wajah datar.

“Makanya, jangan gampang terbuai sama suara merdu. Untung ini cuma ketemu Parto, eh, Parti, pokoknya, bukan hantu jadi-jadian yang suka ngambil jiwa.”

Parto terkikik, suaranya kembali centil. “Aduh, kenapa pada diem? Pada jatuh cinta sama aku ya?”

Raka dan Arief langsung mundur dua langkah, tangan mereka terangkat di depan, seolah ingin menjaga jarak aman.

“Nggak, Mas, eh, mbak, gue normal!” seru Arief cepat.

“Gue juga!” sahut Raka.

Alya hanya menggeleng lemah, benar-benar kehilangan kata-kata.

Sementara itu, Fandi menarik napas dalam dan berbalik ke Parto.

“To, gue udah bilang berkali-kali. Lo gak bisa ikut gue.”

Parto memanyunkan bibirnya. “Tapi Mas Fandi… Kamu kan udah bantuin aku dulu waktu aku kesasar di kuburan. Lagian aku juga baru lihat mas Fandi pura-pura jadi perempuan. Aku pikir bisa ngajarin mas Fandi beberapa hal.”

"Gue nggak! Itu cuma buat nipu Giwang. Lo jangan mikir aneh-aneh." Fandi mencubit pangkal hidungnya. “juga waktu itu karena lo ngikutin gue ke mana-mana, bukan karena gue mau sengaja nolong.”

Parto tertawa. “Tapi tetep aja kamu ngebantuin, kan?”

Fandi mendengus. “Dulu lo hantu baru, masih bingung antara kehidupan dan kematian. Gue cuma ngasih tahu perbedaannya dan tunjukkin tempat lo. Itu aja. Bukan berarti lo harus ngikutin gue terus!”

Parto menepuk dada. “Justru karena itu aku harus ikut kamu, Mas Fandi! Aku ini setia kawan dan pastinya berguna.”

Raka dan Arief menelan ludah.

Alya menutup wajahnya dengan tangan, benar-benar tidak mampu menghadapinya.

Fandi menghela napas, mencoba bersabar. “Oke, gini aja. Gue janji, kalau nanti gue butuh bantuan, gue bakal manggil lo. Deal?”

Parto menyipitkan mata. “Janji?”

“Janji.”

Parto melipat tangan dan menatap curiga. “Kalau bohong, nanti malam aku datang ke kosan kamu. Aku nyender di pojokan sambil nyanyi lagu dangdut.”

Fandi mengangguk cepat. “Iya, iya, gue gak bohong!”

Parto akhirnya tertawa puas.

“Baiklah, Mas Fandi… Aku akan menunggu~” katanya dengan nada menggoda, sebelum akhirnya melompat dan duduk di dahan begitu saja.

Begitu dia pergi, Raka dan Arief langsung terduduk di tanah, kehilangan tenaga.

“Gue… Gue gak mau ngomong apa-apa lagi.” ujar Arief kosong.

Raka mengangguk. “Sama. Gue udah capek. Pengen balik ke Kos.”

Alya hanya menatap mereka bertiga dengan tatapan penuh penyesalan. Seharusnya dia tidak mengikuti orang-orang ini sejak awal.

Sementara itu, Fandi mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Kenapa gue ketemu makhluk-makhluk absurd, sih…”

Setelah beberapa saat Fandi menghela napas lebih dalam. “Udah, ayo jalan lagi.”

Raka dan Arief masih menatap Parto yang bergantungan di pohon dengan kewaspadaan, menjaga jarak sejauh mungkin.

Mbah Semi yang berhenti ketika Fandi diganggu, akhirnya hanya menggeleng pasrah. “Hihihihi, kenapa kamu selalu memiliki kenalan yang aneh-aneh?”

Fandi menepuk dahinya.

“Percaya lah, Mbah… aku sendiri juga nggak tau.”

Setelah beberapa insiden, dikejar penjaga, bertemu pocong, Mbah Semi, Buto emas Giwang yang hampir memakan mereka dan hantu banci Parto yang sukses membuat mereka trauma. Raka, Arief, dan Alya mulai mengembangkan sedikit kekebalan mental.

Mereka tidak lagi gampang kaget setiap kali melihat bayangan aneh atau mendengar suara misterius. Namun, mereka juga menjadi lebih waspada.

Satu hal yang mereka sadari: mereka benar-benar bergantung pada Fandi.

Jika sesuatu terjadi pada Fandi… mereka tamat.

Mereka tidak bisa bicara dengan Blue, karena hanya Fandi yang bisa berkomunikasi langsung dengan kucing gaib itu.

Mereka tidak kenal baik dengan Mbah Semi, jadi mereka tidak bisa mengandalkannya kalau tiba-tiba butuh bantuan.

Dan yang paling menakutkan:

Fandi sepertinya punya banyak musuh di dunia ini.

Raka berbisik ke Arief sambil menatap Fandi curiga.

“Gue mulai pengen tau, Kenapa si Fandi bisa jadi buronan disini.”

Alya menggelengkan kepalanya. “Iya, gur juga penasaran. Mas Fandi emang punya kenalan kayak Mbah Semi atau Blue, tapi dia juga punya banyak musuh. Giwang contohnya. Bahkan setelah Mbah Semi bilang ada ‘tamu’, si Giwang masih curiga karena tau kalau Mas Fandi kenal sama Mbah Semi. Tapi tetep serem sih.”

Alya mengerucutkan bibirnya, masih kesal. “Masih ada hantu banci yang ngikutin kita juga. Untung yang ini baik.”

Mereka bertiga saling pandang, lalu serempak menatap Fandi penuh tuduhan.

Fandi, yang sadar dirinya diperhatikan, berdecak kesal. “Kenapa lagi Lo pada?”

Raka menyilangkan tangan. “Kita boleh tahu gak, selama ini Lo udah bikin masalah sama berapa makhluk gaib?”

Alya mengangguk penuh tekanan. “Iya, biar kita bisa siap mental.”

Arief memasang wajah datar. “Dan biar kita bisa bikin surat wasiat sebelum makin jauh ke dalam dunia ini.”

Fandi menghela napas dan menggaruk kepalanya. “Ngaco, surat wasiat apa. Emang mau Lo kasih ke siapa. Tenang, kalian bakal baik-baik aja. Masalah buronan. Nanti aja, sekarang nggak aman.”

Bisakah dia jujur mengatakan telah menyinggung hampir seluruh penguasa Dunia Gaib. Tidak, itu hanya akan menakut-nakuti mereka.

Raka memutar bola mata. "Yaudah kalo gitu.” akhirnya menghela nafas pasrah. Lagipula selama ada Fandi, mereka bisa lolos dari berbagai bahaya.

Arief menepuk jidat. “Dengar ya, Fan. Masalahnya adalah, kita nggak mungkin bisa bertahan di sini tanpa Lo. Kalau Lo ilang, kita semua celaka."

Fandi mengangkat tangan menyerah. “Iya, iya. Mulai sekarang gue bakal lebih hati-hati.”

Mereka bertiga langsung memasang ekspresi serius.

Mereka harus memastikan Fandi tetap di sisi mereka.

Kalau sampai Fandi hilang…

Mereka pasti terjebak di dunia gaib ini tanpa harapan keluar.

1
Husein
maaf lahir dan batin jg ya kak oThor 🙏
Krisna Adhi
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Krisna Adhi
novel ini berbeda , seperti larut dalam ceritanya , emosi ,haru campur jadi satu , good job thor /CoolGuy//Casual//Casual/
Krisna Adhi
aih aih /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Krisna Adhi
/Facepalm/
Husein
mohon maaf lahir dan batin jg kak oThor.....
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏

cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
Husein
sepertinya sdh tdk ada kak...
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
DancingCorn: udah kok. Si Parti kan Parto 😂
cuma bentuk perubahannya aja...
total 1 replies
Husein
🤭 udah kek setendap komedi... segala kucing kena roasting
Husein
😀😀 hantu aja punya jodoh....
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
Husein: sapa tau kak oThor ada yg pengin kek Jayden dan Mina, minta dicarikan jodohnya 😀😀....

tp sebaiknya ga usah lah, takutnya nanti ngerusak cerita 🤗

ngikut alurnya kak oThor aja deh😀👍👍
DancingCorn: 🤣🤣🤣
Yah, lagipula ini bukan genre romance 🤭🤭
total 2 replies
Husein
gpp kak oThor... biar sedikit bisa ngobatin kangen ke Fandy dkk,😍
netizen nyinyir
duhhh thorrrr kirain mau tamat, btw cepat sembuh thorrr
Husein
lekas sembuh kak🤗
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
Husein
ceritanya amazing 😍
Husein
apakah dugaanku benar? ato tidak?
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
Husein
oh no, tyt lbh rumit dr yg dibayangkan...
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
Husein
wahh ...up nya banyakkk 😍😍😍

maaci kak oThor
Husein
lagi kak oThor... lanjut
Husein
good job Jayden 👍👍
Husein
😀 kebayang ga tuh, natap mata Kunti... 5 detik...
normal nya liat Kunti ga sampai sedetik udh pingsan ato ga kabur duluan 😀 sereeemmm
tp Krn Arif gengnya Fandy jd beda
Husein
baru tau, ngobrol sama hantu bs seasik ini, kagak ada takut-takut nya... padahal selain Fandy, mereka bukan indigo kan ya
Husein: iya jg ya... jd terbiasa...
takutnya kan tiba-tiba si hantu menunjukkan sisi gelap, ato justru balik membahayakan..
tp tak ala, ada Fandy 😁 yg ditakuti d dunia gaib👍
DancingCorn: yaa, mau bagaimana lagi
Karena terlalu sering terpapar hal-hal mistis dan ketemu pak Kromo, Mbak Lili, Dek Anis dan Parto juga, bawaannya jadi biasa sama hantu lain.
ini juga, awalnya Fandi dan Parto masih waspada kok
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!