Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Pikir Kau Cantik
Ziya melewati bebrapa hari ini tanpa kehadiran Redo, sejak saat dia menerima pernyataan cinta Redo, dia belum berjumpa lagi dengan kekasihnya itu.
Ziya tidak sabar bertemu Redo.
Pagi ini Ziya terbangun saat dia merasakan sengatan matahari menerpa wajahnya, cahaya matahari pagi itu tidak panas namun menyilaukan pandangan Ziya. Ziya mengerjap dengan meregangkan ototnya.
Ujian telah berakhir, Ziya berharap hari ini Redo akan menemuinya membuat dia tidak sabar menanti saat itu tiba. Redo berhasil mencuri hatinya. Ziya teringat saat Redo memperlakukannya dengan manis membuat bibirnya menyunggingkan senyum.
Senyum itu menyurut, Ziya teringat akan ayahnya yang tidak tampak beberapa hari ini.
"Ayah kemana Bu? kenapa Ziya tidak melihat ayah beberapa hari ini?" tanya Ziya saat dia menemui ibunya di dapur.
"Ayahmu mendapat kerjaan di luar kota kali ini, kenapa baru sekarang kamu menanyakan hal ini pada ibu? kemarin kemana saja?" ucap ibu
Ziya menyadari dirinya terlampau memikirkan Redo sehingga lupa akan kabar ayahnya.
"Maaf Bu," ucap Ziya.
"Mandi sana, sudah siang. Lihat jam berapa ini?" ucap ibu.
Ziya berlalu hendak mandi, cukup 10 menit Ziya sudah siap dengan pakaian andalannya. Ibu mengernyit mendapati Ziya mengenakan baju bagus pagi ini.
"Mau kemana?" tanya ibu memindai tubuh Ziya dari atas hingga ke bawah.
"Enggak kemana-mana, hanya bersiap jika ada yang ke rumah," ucap Ziya polos.
Ibu tersenyum menggoda, "rindu ya?" ledek ibu.
Ziya tersenyum malu, "apaan sih Bu," jawab Ziya malu.
Ibu tertawa kecil mendapati anaknya tersipu.
"Sepertinya Redo anak baik, ibu setuju jika kamu serius menjalin hubungan dengannya. Dia pengertian, bisa membaca situasi, dan paling penting tepat janji. Ibu menyukai anak itu, ibu harap hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan," kata-kata ibu menguatkan perasaan Ziya.
Ziya bahagia ibunya merestui hubungannya, dia berharap hal yang sama. Redo laki-laki baik, romantis dan tahu cara menyenangkan wanita.
Satu jam berharap menunggu kedatangan Redo membuat Ziya jenuh. Ziya pikir dengan penampilannya saat ini, tidak ada salahnya dia pergi keluar sekedar jalan-jalan. Sia-sia rasanya sudah mengenakan pakaian bagus namun tidak keluar.
Ziya pamit pada ibu untuk refreshing ke mall untuk cuci mata, ini kesempatan baik untuk dia gunakan melihat dunia luar yang tak terjamah indera penglihatannya. Sudah lama dia tidak menginjakkan kakinya di Mall, terhitung sejak Ziya mengambil kerja part time.
*****
Dengan langkah pasti Ziya memasuki Mall dengan senyum mengembang. Dia merasa bebas. Bebas dari belenggu yang mengikat selama ini. Saat ini dia bukan lagi pelajar, dia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai pelajar. Dia punya waktu untuk menikmati hari-harinya di waktu pagi hingga siang.
Ziya menatap ke kiri dan ke kanan melihat-lihat toko yang ada di dalam Mall besar itu, sekilas matanya menemukan sosok yang dia rindukan. Ziya memusatkan perhatiannya pada sosok itu, Ziya menatap tak berkedip mendapati Redo berada dalam toko pakaian wanita.
Ziya mendekat ingin memastikan penglihatannya benar adanya. Ya, itu Redo. Ziya mendapati Redo di dalam sana dengan seorang wanita berambut panjang berwarna kecoklatan. Wanita itu tampak modis dengan dress berwarna peach dan highhells di kakinya menambah kesan glamour pada penampilannya.
Ziya bisa menebak wanita itu berwajah cantik, meski hanya bisa melihat punggungnya saja. Kulit putih bersih, dengan postur tinggi semampai dan penampilan anggun, sudah di pastikan wanita itu tidak sebanding dengannya. memikirkan itu nyali Ziya menciut dan percaya dirinya menghilang.
"Siapa wanita itu?" gumam Ziya.
Redo tampak memilihkan pakaian untuk wanita itu, sesekali mereka tertawa dalam percakapannya. Ziya cemburu menyaksikan kedekatan Redo dengan wanita cantik itu. Ingin dia pergi meninggalkan tempat itu namun rasa ingin tahunya yang besar mengurungkan niatnya.
Ziya di kejutkan dengan suara seseorang. Dia menoleh mencari summber suara.
"Munafik!" ucap Reyhan yang tiba-tiba sudah ada di depannya, menatap tidak suka.
Ziya terkesiap mendapati Reynan sudah berdiri di depannya,
"Sok polos, sok lugu," Reynan tersenyum sinis, "murahan," sambungnya.
"Apa kau pikir kau cantik?" Reynan tersenyum mengejek,
"Siapa yang mau dengan wajah bodohmu itu?"
"Jangan kepedean, wanita murahan tidak akan di pertahankan. Tidak ada laki-laki yang menginginkan perempuan sepertimu" kata-kata Reynan menghujam jantung benar-benar menyakitkan hati Ziya.
Reynan mengalihkan tatapannya ke dalam toko di mana bola mata itu menampakkan Redo tengah memegang pergelangan tangan wanita yang bersamanya. Ziya mengikuti arah pandang Reynan menambah sakit yang dia rasakan.
"Lihatlah wanita itu. Kau tidak ada seujung kuku pun di bandingkan dengannya." Reynan berlalu setelah mengucapkan kata-kata itu.
Ziya menatap punggung Reynan hingga bayangan itu menghilang. Mata Ziya mencari keberadaan Redo, namun Redo tidak terlihat di dalam toko itu. Dia hendak menanyakan langsung pada Redo mengenai wanita yang bersamanya. Dia ingin memastikan siapa wanita itu.
Ziya tidak menemukan sosok yang dia cari, tempat itu terlalu besar untuk mencari keberadaan seseorang, terlalu sulit mencarinya.
Ziya meninggalkan tempat itu menuju tempat yang bisa menenangkan pikirannya. Ziya memilih pergi ke taman, di tempat itu dia kembali teringat saat Redo menyatakan perasaannya.
Tidak ada kebohongan di mata Redo saat itu, tapi kenapa dia menemukan Redo bersama wanita lain. Memikirkan itu menyesakkan dadanya, terasa sakit di dadanya membuat dia berkaca-kaca, tampak kilatan di mata itu.
Bulir bening jatuh di pipinya, batapa sakit dia rasakan. Memorinya mengilas balik mengingatkannya pada kata-kata Reynan yang merendahkannya.
'Sesakit inikah mencintai?'
Ziya menumpahkan rasa sakitnya melalui air mata, dalam sehari dua orang menorehkan luka di hatinya.
Cukup lama Ziya menangis. Menangis dalam diam. Setelah puas menumpahkan rasa sakitnya melalui air mata, Ziya bangkit setelah mengusap air mata yang tersisa.
Ziya pulang ke rumah. Tampak wajah sedih dan matanya sembab. Dia bergegas memasuki kamar sebelum ibu menemukannya dalam keadaan seperti itu. Di kamar Ziya menggunakan bedak menutupi wajah suramnya, tidak ingin ibu melihat wajahnya seperti itu.
Ziya berbaring, hatinya lelah. Tidak lama tampak Ziya terlelap, karena lelah menangis membuatnya tertidur.
Ziya membuka mata saat ibu mengguncang tubuhnya.
"Kapan kamu pulang? kenapa ibu tidak mendengar suaramu saat pulang tadi?" tanya ibu saat Ziya sudah duduk di tepi ranjang.
"Ziya lelah Bu, makanya langsung tidur," jawab Ziya lemah.
"Sebaiknya kamu harus banyak istirahat. Tidak seharusnya kamu tadi jalan-jalan, lihatlah kamu sendiri yang susah," ucap ibu
"Ziya bosan di rumah saja, ibu kan tau Ziya tidak pernah jalan-jalan. Ziya ingin juga melihat dunia luar," jawab Ziya.
"Iya ibu ngerti, ibu hanya tidak ingin kamu sakit karena kelelahan. Ibu mencemaskanmu, Ziy," ucap Ibu
**Bersambung...
Mohon dukungannya readers, kasih LiKE setiap episode yah😚. Sertakan komentar yang berbentuk kritik dan sarannya. Jadikan favorite yah❤. Jika berkenan kasih VOTE yah, Terima kasih. Ailopyu**...
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉