Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengubah alur
Berkat suara yang keras dan melengking milik Elena, banyak yang berbondong-bondong datang. Maid yang panik langsung reflek membekap mulut Elena, dan semua orang melihat itu.
"Elena!!." Suara Duke Denilen.
"Apa yang kau lakukan pada putriku, pelayan rendahan. Tangkap dan kurung dia di penjara bawah tanah." Ucap Duke marah.
"TIDAK!!! INI FITNAH TUAN!!! NONA PALSU MELUKAI DIRINYA SENDIRI." Teriak pelayan itu panik.
"Apa kau pikir ucapanmu masuk akal? aku melihat bagaimana kau membekap mulut putriku. Jadi selama ini kau bukan melayaninya justru mengancamnya? terkutuk lah kau di penjara bawah tanah." Ucap Duke marah besar.
Elena sendiri masih mematung menatap sosok Duke di depannya, dia berpikir Ayahnya itu sudah ubanan atau paling tidak sudah berusia setengah abad. Tapi ternyata Ayahnya masih sangat muda dan tampan, Elena justru merasa berdebar menatap Ayah kandungnya sendiri.
"Astaga, berbahaya!!! Bumi, buang perasaan aneh dalam diriku ini." Ucap Elena merasakan Bahaya.
Sedetik kemudian, raut wajah Elena menjadi biasa saja. Dia menatap wajah Ayahnya yang tampan, tidak berdebar atau tertarik lagi. Elena hanya tau Ayahnya masih muda dan tampan, tapi tidak ada perasaan aneh seperti pandangan pertama tadi.
"Elena, kau baik-baik saja nak? Ayah akan memanggil tabib untuk memeriksa mu." Duke menggendong Elena kembali ke tempat tidur.
Elena yang terbawa suasana langsung menangis terisak dengan menyedihkan, ini pertama kalinya dia merasakan dekapan seorang Ayah, dukungan dan pembelaan dari seorang Ayah. Dulu Ayahnya masih hidup tapi perannya sama sekali tidak ada, Elena merasa sangat bersyukur dan itu membuat perasaan nya sedih.
Duke Denilen untuk pertama kalinya melihat putrinya yang biasanya bringas menangis, dia yakin pasti selama ini putrinya di ancam untuk membuat onar oleh pelayan tadi. Duke menggeram marah, dia akan memberi perhitungan pada pelayan tidak tau diri itu.
"Tenanglah, Ayah akan menghukum pelayan itu dengan benar. Maaf karena selama ini Ayah tidak tau jika kau diancam olehnya, apa selama ini kau berbuat onar karena paksaannya?." Ucap Duke, berusaha mencaritau.
Elena yang masih sibuk dengan perasaan nya sendiri tidak menjawab apa-apa, itu justru semakin membuat Duke yakin jika tebakannya benar.
Tabib datang dan memeriksa semua luka-luka di tubuh Elena. Karena kulit Elena sangat putih, benturan kecil saja bisa menjadi lebam dalam waktu singkat. Banyak lebam dan luka bekas goresan sisir, bahkan bekas tamparan di pipinya.
"Saya akan meresepkan salep untuk membantu menyembuhkan luka. Luka fisik tidak terlalu parah, tapi sepertinya nona memiliki trauma." Ucap Tabib.
"Kau benar, bagaimana cara menyembuhkan nya?." Tanya Duke.
"Mungkin dengan membiarkan nona hidup seperti dirinya sendiri, seperti dugaan anda selama ini nona mungkin bersikap pembangkang karena ancaman pelayan. Mungkin jika pelayan itu sudah tidak ada, nona akan lebih leluasa bersikap menjadi dirinya sendiri." Ucap Tabib.
"Terimakasih, ambil bayaranmu." Ucap Duke, langsung mengusir tabib itu.
"Elena, katakan apa yang kau rasakan saat ini. Pelayan itu sudah di hukum, jadi jangan takut lagi." Ucap Duke lembut.
"Ayah... Kakek sangat membenci ku." Lirih Elena, sangat lirih sekali.
"Tidak, setelah dia tau jika selama ini kau diancam pasti dia akan sedikit melunak. Mulai sekarang jadi lah dirimu sendiri, kau bisa memilih pelayan pribadi mu sendiri." Ucap Duke.
"Terimakasih Ayah, andai Ayah tidak datang pasti aku tidak akan mendapatkan makan malam lagi." Lirih Elena bohong.
"Apa?! Jadi selama ini kau bukan tidak mau menghadiri makan bersama, melainkan tidak di perbolehkan makan?." Duke naik darah.
"Ya... harusnya hari ini aku sudah melakukan seperti yang dia perintahkan. Aku sudah membuat Kakek marah dan semakin membenciku, dia juga sudah merebut makan siangku sampai aku pingsan karena kelaparan." Ucap Elena, terus berbohong.
"Jadi kau pingsan saat di hukum karena lapar? beraninya dia berbuat keji di rumahku." Duke benar-benar marah.
"Awal aku datang aku bersikap berani padanya, tapi dia juga menjadi semakin berani. Dengan sengaja merobek gaun pemberian Ayah, menjambak rambutku saat menyisir, memintaku diet ketat dan bahkan memaksaku untuk bertunangan dengan putra mahkota." Ucap Elena, dia sedang mencari tau apa Elena sebelum ini sudah membahas tentang pertunangan atau belum.
"Pertunangan dengan putra mahkota katamu?." Duke mengerutkan kening.
"Ya, dia mengatakan ingin ikut aku ke istana dan menjadi pelayan permaisuri. Dia selalu mengatakan jika Kakek dan Ayah akan semakin bangga jika aku berhasil menarik perhatian putra mahkota, beberapa kali pelayan itu juga mengirim surat dengan cap milikku." Ucap Elena bohong lagi.
"Benar-benar gila, semua surat aneh yang di tujukan pada putra mahkota sudah di tahan oleh pengirim surat. Ayah melakukan itu karena tidak ingin kau malu, tapi siapa sangka jika penulis asli surat itu adalah seorang pelayan?." Duke menggeram emosi.
"Syukurlah Ayah bertindak cepat, karena sejujurnya aku sudah memiliki janji dengan pria lain." Ucap Elena, diam-diam tersenyum smirk.
"Pria lain?." Duke berpikir Elena dulu memiliki kekasih.
"Dulu saat aku masih sangat kecil, mungkin berusia sekitar 7 tahunan. Aku ikut bersama Ibu panti ke hutan mencari kayu bakar, di sana aku bertemu dengan seorang pemuda kecil yang tampan. Dia tersesat dan kebingungan, aku mengajaknya ke jalan utama dan Ibu panti mengantarnya ke balai pemerintahan. Sayangnya aku tidak tau siapa namanya." Ucap Elena, berusaha membuat kisah yang kekanakan.
"Itu pertemuan tidak sengaja, mana mungkin bisa di sebut janji Elena." Duke tersenyum geli.
"T-tapi dia menggandeng tanganku. Dia juga tersenyum padaku." Ucap Elena, harus terlihat polos dan labil.
"Hahahahahah, begitu. Apa kau ingat seperti apa ciri-ciri fisik anak itu? bisa saja dia anak bangsawan yang Ayah kenal." Ucap Duke tertawa geli.
"Emm rambutnya hitam, kulitnya putih, matanya hitam kemerahan seperti permata." Ucap Elena.
Deg.
Duke tersentak kaget, dia menatap Elana lamat-lamat. Elana hanya menatap dengan polos, dia sudah menduga Ayahnya ini akan terkejut tapi tidak menyangka akan sewaspada ini.
"Kau bertemu anak itu dimana?." Tanya Duke serius.
"Di hutan, karena aku sedang mencari kayu bakar." Jawab Elena.
"Tidak mungkin." Duke menutup mulutnya tidak percaya.
"Apanya? Ayah tidak percaya denganku, aku tidak berbohong." Ucap Elena kesal.
"Jika benar seperti itu, maka saat itu kau berada di hutan dimana orangtua anak itu di terkam hewan buas. Syukurlah tidak terjadi apapun padamu Elena." Ucap Duke memeluk Elena.
"Di terkam hewan buas?." Elena terkejut.
"Ya, jazadnya sama sekali tidak di temukan tapi potongan baju dan ceceran darah mereka di temukan." Ucap Duke serius.
"J-jadi... saat itu anak itu?." Elena pura-pura syok.
"Benar, dia terpisah dengan orangtuanya. Mereka pergi berburu seperti biasanya, tapi hari itu nasib sial menimpa mereka." Duke terlihat berkabung.
"Apa Ayah kenal siapa anak itu? dimana dia tinggal sekarang?." Tanya Elena kepo abiez.
"Kau ingin tau? lebih baik tidak." Ucap Duke.
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘