Rindu itu sebuah anugerah, nurani setiap hamba.
Bagaimana dengan sosok mereka yang selalu ada, menjadi pendorong dan penyemangat hidupmu.
Dimana di saat kamu berjuang untuk hidup demi mereka. Tiba tiba sebagian penyemangatmu hilang, bagaikan burung patah sebelah sayap.
Ketika seorang hadir, berusaha menopang sebelah sayap yang telah patah, namun hatimu terkunci.
Kehadiran mereka selama ini membuatmu lupa bagaimana cara membuka hati, untuk mereka yang bersedia melangkah beriringan denganmu.
Karena, rindu itu masih kuat. Rasa itu masih sama.
Yevn,
Bergelud dengan hati,
Berdiri bersma ombak untuk melabuhkan rindu ,,
Hingga hadirlah Ombak Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yevn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yups
🌼🌼→→ »»Hai hai hai ...... para kesayangan....😍😍😘
Makasih banyak dah mampir..... 🤗🤗
Jangan lupa like, fav, rate lima bintang ★★★★★ ya, jangan kurang 🙏🙏 tinggalin jejak di komentar biar aku tau 😘 Vote juga bagi yang berkenan. Makaciiih... 😘😘😍😍
## ......] ←←←←♡♡📝📝📝📝📝
🎆🎆🎆🎆🎆📣📢
Ayo yang belum di segerakan.
-Rate 5 stars karya Yevn.
-Favorite
-Like setiap episode
-Tinggalin jejak di kolom komentar di setiap episode
-Vote sebanyak banyak nya.
makasih..... 🙏🙏🙏 lope yu.... 😘😘
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
"Yevn, walaupun kakak sudah pernah menanyakan ini padamu, tapi kakak akan tetap menanyakan lagi kali ini." Ucap kak Arfan serius.
Aku mencoba mencerna kemana arah perkataan kak Arfan.
"Kamu mau menikah sama kakak?" Tanya kak Arfan terus terang.
Aku menatap ke arah kak Arfan melihat keseriusan yang sama saat dia mengungkapkan ini beberapa hari yang lalu.
"Sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya, apa kakak benar benar sudah mengetahui kenyataan tentang aku? Apa kakak tau resikonya? Apa kakak sudah mendiskusikannya dengan keluarga kakak?
Apa mereka tau tentang aku?
Pertanyaan bertubi tubi ku serangkan pada kak Arfan.
Kak Arfan menatap ku serius dan mengangguk.
"Sudah." Jawabnya.
Sesingkat itu? Apa ini, hanya satu kata menjawab semua pertanyaan yang ku layangkan.
"Kakak juga sudah memohon petunjuk, sebelum memintamu. Jujur, saat tau keadaanmu dari Vhen kakak kaget. Kakak sempat tidak mengunjungimu, mengabaikan latihan. Tapi pada akhirnya kakak sadar, itu bukan penghalang perasaan kakak padamu."
Jelas kak Arfan, aku meyimaknya.
"Kakak menjelaskan pada keluarga kakak tentang keadaanmu, tentang perasaan kakak yang tak bisa kakak bohongi. Keluaga kakak, sangat menyetujuinya, mereka sudah sangat menyukaimu bahkan jauh sebelum kakak menyadari perasaan kakak sendiri."
Jelas kak Arfan lagi.
Hatiku bergetar mendengar penuturan kak Arfan.
"Yevn,,,," Ucap kak Arfan lirih.
"Ana uhibbuki fillah, kakak mencintaimu,, bukan antara kakak dengan adik, bukan antara guru dan murid, bukan karena kamu adik dari teman kakak. Tapi kakak mencintaimu, benar benar mencintaimu sebagai seorang laki laki kepada perempuan, sebagai seorang adam dan hawa." Ucap kak Arfan panjang lebar.
Hatiku benar benar ciut, aku tak tau akan berkata apa. Dadaku sesak mendengar penjelasan kak Arfan.
Kak Arfan mengungkap semuanya. Kak Arfan berkata jujur apa adanya, aku melihat dari wajahnya dan sikapnya.
Tanpa terasa air mataku menetes. Aku yang menyadari hujan di pipi segera menunduk dan menghapusnya.
Aku kembali menoleh kearah kak Arfan.
Ku dapati bulir bening di pipinya.
"Kakak sungguh sungguh. Jadikan kakak imammu." Ucap kak Arfan menatap ke arahku.
Aku belum bisa mengucapkan apa apa setelah mendengar penjelasan kak Arfan. Aku masih diam terpaku.
Kak Arfan masih menungguku.
"Kak, kakak tau apa yang sedang aku rasakan sekarang?" Tanyaku.
"Tidak. Kamu tidak memberi tahu kakak."
Jawab kak Arfan polos dan serius.
"Sebenarnya aku,, aku malu untuk mengatakan nya. Sungguh." Ucapku.
"Baik, katakanlah." Pinta kak Arfan.
"Sebenarnya aku, aku sudah sangat lapar dari tadi. Aku belum sarapan dan sudah lari pagi sama abang Vhen." Ucapku jujur.
Kak Arfan mendongak, tertawa dan menggeleng kepala mendengar ucapanku. Bukan jawaban atas pertanyaan nya yang di terimanya. Aku hanya tersenyum kaku dan malu dengan apa yang aku ucapkan.
Aku berkata jujur, para readers jangan merasa kesal padaku. Karena aku benar benar merasa lapar. Bahkan saat menulis ini aku merasakan lapar, jam mebunjukkan pukul 04.16 wib saat aku menulis ini.
"Baiklah,,,," Ucapan kak Arfan terpotong.
"Dek, sarapan, belum minum obat kan."
Ucap abang Vhen dari pintu rumah.
"Kamu juga Fan, sarapan bareng yuk, dah di tugguin." Ucap abang lagi.
Aku dan kak Arfan masuk menuju rumah.
Di atas meja makan, saat menikmati sarapan dan saat semua sedang asik mengobrol. Aku menoleh ke kak Arfan.
"Kak," Kak Arfan menoleh.
"Aku mau." Ucap ku singkat. Aku menoleh ke arah semua yang melihat kearahku karena mendengar ucapanku yang tiba tiba.
Aku melanjutkan sarapanku, tanpa memperdulikan tatapan tatapan penuh tanya dari orang orang sekeliling meja. Kak Arfan tersenyum karena merasa sudah mengerti kemana arah pembicaraanku.
boleh juga dong mampir di karya aku judulnya ustadz impian makasih☺
Akupun suka membaca Yevn, dengan membaca akan menambah wawasan dan pengetahuan ☺️😘
semangat² terus berkaryaaa💚💚
semangat berkarya kaka
Walaupun hadiahnya keabisan 😁
jaga kesehatan,aku nitip keponakan sama ipar jangan di marahin terus ya🤦kasian kutub🤣🤣🤣