NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:794
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN YANG MENARI DI ATAS PELITA

Di sudut kecil ruang kost yang hanya dihiasi tirai renda putih seperti awan yang pudar, Murni menatap percikan api dari kompor tanah yang menyala pelan. Uap air mendidih bergoyang seperti nyanyian bisu, menyusuri setiap celah ruangan yang penuh dengan bau tepung ketan dan minyak kelapa dari pabrik di mana dia menghabiskan delapan jam setiap hari. Tangan kirinya yang masih sedikit kasar karena sering bersentuhan dengan mesin pengemas, kini sedang meremas kain bajunya yang sudah lusuh—seolah ingin memeras semua kata yang terperangkap di dalam dadanya.

"Keren itu bukanlah mahkota yang terkilap di atas kepala," ucapnya pelan, suara seperti embun yang jatuh di atas dedaunan pagi. "Keren adalah tanah yang menerima hujan tanpa pamrih, menyuburkan apa pun yang tumbuh di atasnya. Dan Aksa... dia hanyalah batu yang kasar yang selalu mengikis setiap akar yang berusaha merangsek menyentuhnya."

Kemarin sore, ketika asap hitam dari cerobong pabrik besi menyelimuti langit sore kota, dia bertemu Aksa di lorong sempit di belakang pasar kaki lima. Wajahnya yang dulu pernah membuat hati Murni bergetar seperti irama gendang tradisional, kini hanya penuh dengan lekukan kepura-puraan yang tajam seperti pisau. Dia datang dengan senyum yang dipasang rapi, membawa omongan tentang rencana besar yang akan membuat hidup mereka lebih baik—omongan yang sama yang telah dia ucapkan berkali-kali, setiap kali setelah dia meminta bantuan dari Murni.

"Aku hanya memanfaatkan kesempatan yang ada, Murni," kata Aksa kala itu, tangannya yang penuh dengan bekas luka besi menyentuh pundak Murni dengan sentuhan yang dicoba jadi lembut. "Semua ini demi kita berdua nantinya."

Namun mata Murni yang telah melihat banyaknya kemunafikan di balik senyum-senyum palsu di pabrik, tidak lagi terpesona. Dia tahu, kata-kata itu hanyalah kabut pagi yang akan hilang begitu mentari menyingsing—tinggalkan hanya tanah yang basah dan kosong. Bahkan ketika Khem, kekasihnya yang selama ini bekerja dengan besi dan api di pabrik sebelah, datang menghampirinya dengan wajah khawatir yang penuh dengan cinta, Murni hanya bisa mengangguk dengan lembut.

"Dia bukan orang jahat secara total, Khem," ucap Murni kala itu, sambil membersihkan debu besi yang menempel di bahu Khem. "Hanya saja dia terjebak di dalam labirin yang dia bangun sendiri—setiap jalan yang dia tempuh selalu mengarah pada cermin yang hanya mencerminkan dirinya sendiri."

Khem menghela napas dalam, napasnya seperti angin yang membawa debu besi dari pekarangan pabrik. "Aku tidak suka melihatmu terluka lagi, sayang. Kamu sudah memberikan segalanya—waktumu, upahmu yang susah payah, bahkan harapanmu yang seperti bunga mawar yang selalu kau rawat dengan penuh cinta."

Murni tersenyum lembut, tangannya menyentuh pipi Khem yang hangat karena panas tungku pabrik. "Harapan itu seperti benang sutra, Khem. Kadang kita menjatuhkannya untuk menyelamatkan orang lain, meskipun kita tahu bisa saja benang itu putus dan menjerat diri kita sendiri. Tapi aku sudah berdamai dengan itu—aku memilih untuk melihat kebaikan yang tersisa di dalam dirinya, walau itu hanya secercah cahaya di dalam gua yang dalam."

Di pagi yang akan datang, ketika pelukis matahari mulai mengecat langit dengan warna jingga dan emas, Murni kembali ke pabrik makanan ringan. Tangan nya yang terbiasa dengan kemasan biskuit dan keripik, kini sedang merencanakan sesuatu yang baru. Dia akan menyisihkan sebagian dari upahnya untuk ibunya membuka warung kecil di kampung halamannya—warung yang akan menjual kue-kue tradisional yang ibu pelajari dari nenek moyangnya.

Saat mesin pabrik mulai berdering dengan irama yang sudah akrab di telinganya, Murni merasakan sesuatu yang baru tumbuh di dalam hatinya—seperti tunas muda yang muncul dari tanah yang pernah terkena banjir. Kebaikan yang dia anut bukanlah lemah lembut yang mudah ditekuk, melainkan pohon yang kokoh yang akarnya dalam di tanah, siap menghadapi badai apa pun yang datang. Dan meskipun bayangan Aksa masih kadang melintas seperti bayangan awan di atas lautan, Murni tahu bahwa dirinya sudah tidak lagi terjebak di dalam bayangan itu.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Jam enam sore, ketika matahari mulai menyembunyikan wajahnya di balik hamparan pepohonan aren yang menjulang tinggi di pinggir kota, langit di kota melunakkan diri menjadi warna kemerah-merahan seperti kain songket yang diwarnai dengan hati. Udara masih terasa hangat dengan bau tanah yang baru saja disiram hujan petang, bercampur dengan aroma rempah-rempah dan minyak kelapa yang sudah mulai mengapung dari gerai-gerai pasar malam yang mulai bersinar dengan lampu-lampu warna warni.

Murni berjalan di sisi kanan Khem, tangannya yang sedikit dingin karena udara sore terpegang erat di dalam genggaman tangan Khem yang hangat seperti bara api yang pernah dia rawat di tungku pabrik besi. Mereka berjalan melintasi lorong-lorong pasar yang mulai ramai dengan orang-orang yang pulang kerja atau sekadar datang mencari kesegaran malam. Sepatu karet Murni menyentuh tanah yang sedikit lembap, mengikuti irama langkah kaki Khem yang mantap—seolah keduanya sedang menari dengan irama yang sudah mereka kenal bersama.

"Nanti aku akan beli tahu petis untukmu, sayang," ucap Khem dengan suara yang dalam seperti gemuruh mesin pabrik yang sudah akrab. "Yang dari ibu Sui yang selalu kamu suka—dia bilang hari ini tahu nya dibuat dengan bumbu yang lebih banyak jahe dan kemiri."

Murni mengangguk dengan senyum yang merayap di bibirnya, seperti bunga melati yang mekar di tengah malam. "Kalau begitu aku akan beli es cendol untukmu juga, yang dengan tape singkongnya banyak. Setelah kamu makan, kamu harus berangkat kerja shift malam kan? Jangan lupa bawa botol air yang sudah aku isi dengan air kelapa muda tadi pagi."

Kata-katanya lembut seperti aliran sungai yang meluncur di bawah jembatan bambu, penuh dengan perhatian yang tak pernah pudar. Hati Murni terasa seperti perahu yang sedang berlayar di atas permukaan air yang tenang—tidak ada ombak yang bisa mengganggukannya lagi, tidak ada angin yang bisa membuatnya goyah. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dan pada Khem, bahwa setiap langkah yang dia ambil akan selalu mengarah pada cahaya yang jelas, bukan pada bayangan yang pernah membuatnya tersesat.

Baru saja mereka melewati gerai penjual baju batik yang digantung seperti sayap burung merak yang sedang terbentang, Murni melihatnya—di sudut kanan lorong yang lebih gelap, di bawah cahaya lampu neon yang berwarna hijau muda seperti daun pepaya muda, ada dua sosok yang sedang berdiri di depan gerai penjual kerang bakar. Aksa dengan jas hitamnya yang sedikit kusut seperti awan yang terkejut oleh badai, dan di sisinya berdiri Tenri dengan rambut panjangnya yang diikat dengan pita merah seperti warna bunga kantan yang mekar di taman.

Mereka berdua tampak asyik, wajah mereka diterangi oleh percikan api dari bara pembakar kerang dan senyum yang terpasang di wajah mereka seperti topeng yang indah tapi tidak bernyawa. Aksa sedang mengambil sepotong kerang dengan tusuk gigi, kemudian menghidangkannya ke mulut Kintani dengan gerakan yang dicoba jadi lembut—gerakan yang pernah Murni lihat berkali-kali, ketika dia sendiri yang berada di sisi Aksa.

Kemungkinan besar Aksa sudah melihatnya juga, karena matanya yang biasanya tajam seperti pisau keramik, kini sedikit melebar seolah terkejut oleh kedatangan Murni. Murni bisa membaca apa yang ada di dalam mata Aksa—harapan yang tersembunyi bahwa dia akan merasa cemburu, bahwa dia akan berhenti dan menatap mereka dengan wajah penuh dengan rasa sakit. Tapi Murni hanya memberikan senyum yang tenang, seperti matahari yang bersinar lembut di atas lautan yang damai, kemudian melanjutkan langkahnya bersama Khem tanpa sedikit pun menghentikan langkahnya.

"Kamu melihatnya kan?" tanya Khem dengan suara yang lebih pelan, tangannya yang memegang tangan Murni sedikit mengerut. "Aku bisa berhenti kalau kamu mau, atau kita bisa jalan dari lorong lain saja."

Murni menggeleng dengan lembut, sambil mengusap punggung Khem dengan jari-jari yang lembut seperti bulu burung walet. "Tidak perlu, sayang. Itu hanya seperti awan yang kita lihat dari jendela kereta—hanya lewat dan tidak akan pernah menyentuh kita lagi."

Saat mereka melanjutkan perjalanan, Murni merasakan bahwa tidak ada sedikit pun rasa sakit atau kecemburuan yang muncul di dalam hatinya. Hanya ada rasa lega yang seperti udara segar yang dihirup setelah berada di dalam ruangan yang sesak selama lama. Dia sudah tidak lagi memandang Aksa sebagai seseorang yang bisa mengubah arah hidupnya—dia hanya seorang lelaki yang pernah berada di jalan yang sama dengan dia, sebelum akhirnya memilih jalur yang berbeda.

Di gerai ibu Sui, mereka duduk di kursi bambu yang sedikit bergoyang seperti ayunan di halaman rumah masa kecil. Khem sedang memesan tahu petis dengan senyum yang penuh dengan cinta, sementara Murni melihat sekeliling pasar malam yang semakin ramai. Lampu-lampu yang bersinar seperti bintang-bintang yang turun ke bumi, suara tawa dan obrolan yang seperti musik rakyat yang merdu, aroma makanan yang menggugah selera—semua itu menjadi bagian dari suasana yang membuat hati Murni semakin tenang.

"Setelah kamu pulang kerja besok pagi" ucap Murni sambil melihat mata Khem yang hangat seperti cahaya pelita. "Kita bisa pergi ke danau bersama ya? Aku ingin melihat matahari terbit dari tepian danau—katanya ada banyak bunga teratai yang mulai mekar di sana."

Khem mengangguk dengan senyum yang lebar seperti jalan raya yang terbuka luas. "Baik saja, sayang. Aku akan siapapun dengan kamu kapan saja. Bahkan kalau kamu ingin pergi ke puncak gunung sekalipun, aku akan mengikutimu."

Ketika tahu petis tiba dengan bau yang menggoda dan warna coklat tua seperti tanah subur, Murni merasakan betapa bahagia dirinya. Dia telah memilih jalan yang benar, memilih seseorang yang melihatnya bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan, melainkan sebagai seseorang yang layak dicintai dengan penuh kasih. Aksa dan semua omongannya tentang masa depan yang indah, kini hanya menjadi cerita lama yang sudah tidak memiliki daya lagi untuk menyentuhnya.

Jam enam tiga puluh sore, ketika Khem harus mulai berangkat ke pabrik besi, Murni mengantarnya sampai di gerbang pasar malam. Mereka saling berpelukan dengan erat, seperti dua pohon yang saling berpegangan untuk menghadapi angin kencang. "Jangan terlalu bekerja keras ya," ucap Murni dengan suara yang lembut. "Aku akan menunggumu pulang dengan nasi hangat dan lauk yang kamu suka."

Khem mencium dahi Murni dengan bibirnya yang hangat, kemudian berjalan menjauh dengan langkah yang mantap. Murni berdiri di sana, menatap sosoknya yang semakin jauh hingga hilang di antara kerumunan orang, dengan hati yang penuh dengan kedamaian. Pasar malam masih terus bersinar dengan cahaya yang indah, tapi kini Murni tahu bahwa cahaya yang paling terang adalah yang ada di dalam hatinya sendiri—cahaya yang diberikan oleh cinta yang tulus dan pilihan yang tepat.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Udara malam sudah mulai mendingin, membawa aroma daun jeruk yang tumbuh di halaman depan kost dan suara nyanyian cicak yang seperti irama biola yang lembut. Cahaya lampu jalan yang jarang menjadikan bayangannya bergeser seperti arca bayangan yang menari sendirian di atas tanah yang basah.

Setelah membersihkan wajah dan tangan dengan air dingin yang menyegarkan seperti hujan musim penghujan, Murni mengganti baju kerja pabriknya yang penuh dengan debu tepung dengan baju tidur katun putih yang lembut seperti awan kapas. Dia memasang telinga kecil yang biasa dia gunakan untuk mendengarkan musik rakyat , sambil menyusun baju-baju yang akan dia cuci keesokan pagi di bak cuci belakang kost. Ketika jari jemari nya hendak menyentuh saklar lampu untuk mematikan cahaya, layar ponselnya tiba-tiba bersinar dengan cahaya putih seperti kilatan petir yang lembut.

Sebuah notifikasi muncul—“Anda memiliki permintaan pertemanan baru dari Akhsanth Pratimes”.

Murni mengambil ponselnya dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang mengambil bunga yang mudah patah. Foto profilnya yang muncul di layar benar-benar seperti yang dia duga—Aksa dengan pose yang dibuat-buat, tubuhnya bersandar pada mobil yang tidak dia kenal, wajahnya diterangi cahaya kamera yang membuatnya tampak lebih cerah dari biasanya. Rambutnya yang diatur dengan sok rapi seperti semak yang ditata dengan cermat, dan wajahnya membawa senyum yang sok percaya diri seperti burung merak yang sedang memamerkan bulunya.

“Sombongnya kau Murni,” pesannya muncul begitu saja, seperti ombak yang tiba-tiba menghantam pantai yang damai. “Padahal dah liat di pasar malam kan? Kamu tak cemburu ya kalau aku ada cewek baru? Cantik kan dia? Tenri jauh lebih cantik dan kaya daripada kamu yang cuma pekerja pabrik makanan ringan.”

Kata-katanya menusuk layar seperti jarum yang menusuk kain tipis, tapi Murni merasakan tidak ada rasa sakit yang menyentuh hatinya. Hanya ada rasa lega yang seperti awan yang menghilang setelah hujan berlalu. Dia mengetik balasan dengan jari yang tenang seperti tangan tukang menjahit yang sedang merajut benang halus:

“Semoga kalian cepat jadian ya… wkkk . Jangan ganggu aku lagi ya, aku mau tidur.”

Baru saja dia mengirim pesan itu, balasan dari Aksa langsung muncul dengan kecepatan kilat:

“Rugi kamu tak dapat aku Murni… Yakin si Khem alias kain lap itu setia? Aku pernah lihat dia sama cewek lain di depan warung kopi dekat pabrik besi lho… Dia itu playboy sebenarnya. Rugi banget kamu memilih dia daripada aku yang jauh lebih baik darinya.”

Murni hanya menghela napas perlahan, seperti angin yang meluncur di atas permukaan danau yang tenang. Dia tidak merasakan sedikit pun kemarahan atau keraguan yang muncul di dalam dirinya. Dia tahu dengan pasti, seperti tahu bahwa matahari akan terbit keesokan pagi, bahwa kata-kata Aksa hanyalah kabut pagi yang akan hilang begitu mentari menyingsing. Dia tidak mengirimkan balasan apapun, hanya menyentuh layar dengan lembut untuk menutup obrolan itu.

Tak lama kemudian, layar ponselnya kembali bersinar—kali ini dengan cahaya yang hangat seperti sinar matahari pagi. Sebuah pesan dari Khem muncul dengan lambang hati kecil yang berwarna merah seperti buah rambutan yang matang:

“Selamat tidur sayangku Murni… Semoga mimpi indah menyertaimu malam ini. Aku sudah sampai di pabrik, dan air kelapa muda yang kamu berikan rasanya segar seperti cinta kita. Besok pagi aku akan bawa kamu kue pukis dari gerai yang kamu suka ya... Cinta kamu selalu… ”

Murni membaca pesan itu berkali-kali, seperti seseorang yang sedang membaca surat cinta yang berharga. Setiap kata nya seperti madu yang manis, seperti hangatnya pelukan Khem yang selalu membuatnya merasa aman. Dia mengetik balasan singkat tapi penuh dengan cinta: “Selamat bekerja sayang… Aku menunggumu pulang ya. Cinta kamu juga ”

Setelah itu, dia dengan lembut menekan tombol daya pada ponselnya. Cahaya layar yang tadinya bersinar dengan kilauan dunia maya, kini padam seperti malam yang telah tiba dengan damainya. Murni meletakkan ponselnya di atas meja kayu yang diberi alas kain batik coklat tua, kemudian mematikan lampu kamar.

Di dalam kegelapan yang lembut seperti kain sutra hitam, Murni berbaring di atas kasurnya yang empuk seperti awan. Dia menutup mata dengan tenang, merasakan bagaimana setiap napasnya membawa kedamaian yang dalam. Aksa dengan semua sok kerennnya dan omong kosongnya, kini hanya menjadi bayangan jauh yang tidak memiliki daya lagi untuk menyentuhnya. Dia telah memilih cinta yang tulus seperti tanah yang menerima benih dengan lapang dada, cinta yang tumbuh dengan perlahan tapi kokoh seperti pohon aren yang menjulang tinggi di atas tanah yang subur.

Sebelum tidur menyambutnya dengan pelukan yang lembut, Murni merenungkan tentang keesokan pagi—tentang matahari yang akan terbit dengan warna emas, tentang mesin pabrik yang akan berdering dengan irama yang akrab, tentang Khem yang akan datang dengan senyumnya yang hangat, dan tentang mimpi mereka berdua yang sedang tumbuh seperti bunga yang akan mekar di musim yang tepat.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!