NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 24. Pertanyaan Yang Tak Terucap

Tekanan itu tidak datang sekaligus. Ia hadir pelan-pelan, seperti tetesan air yang jatuh tanpa henti. Awalnya nyaris tak terasa, namun lama-kelamaan cukup untuk menggerus ketenangan.

Naya merasakannya sejak pertemuan terakhir dengan Ratna.

Ucapan ibu mertuanya terus berputar di kepala. Tentang usia. Tentang pernikahan yang sudah lama berjalan. Tentang anak yang belum juga hadir. Setiap kalimat seolah tertanam, menunggu waktu untuk tumbuh menjadi kegelisahan.

Naya mencoba menenangkan diri. Ia meyakinkan dirinya bahwa setiap rumah tangga memiliki garis waktunya sendiri. Bahwa tidak semua hal bisa dipaksa. Namun semakin ia berusaha mengabaikan, semakin sering pikirannya kembali ke satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar ingin ia akui.

Apakah aku yang bermasalah?

Pagi itu, Naya berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia menatap bayangannya sendiri cukup lama. Wajahnya tampak baik-baik saja. Tubuhnya sehat. Siklus bulanannya teratur. Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan.

Namun kenyataannya tetap sama.

Belum ada kehidupan yang tumbuh di rahimnya.

Pikiran lain sempat melintas, membuat dadanya menegang.

Atau jangan-jangan… Mas Adit?

Naya segera menggeleng. Rasa bersalah langsung menyusup. Ia mencintai suaminya, dan tak ingin sedikit pun prasangka itu hidup. Namun Ratna telah menanam benih keraguan, dan benih itu kini mulai tumbuh perlahan.

Naya belum berani membicarakan semua ini dengan Adit. Ia tahu betul kesibukan suaminya. Jabatan baru, tanggung jawab yang menumpuk, tekanan yang tak pernah ia ceritakan secara utuh. Naya memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.

Sore itu, ia memutuskan keluar rumah. Hanya untuk mengalihkan pikiran. Ia menuju swalayan yang tak jauh dari rumah, tempat yang sering ia datangi tanpa banyak pertimbangan.

Naya memilih beberapa kebutuhan dapur. Langkahnya teratur, pikirannya masih berkelana. Setelah membayar, ia keluar sambil menata kantong belanja di tangannya.

Di waktu yang hampir bersamaan, Aluna baru saja keluar dari gerbang sekolah. Seragamnya rapi, tas kecil tergantung di punggung. Ia berjalan menuju mobil sambil berceloteh ringan, hingga tiba-tiba langkahnya melambat.

Matanya menangkap sosok perempuan yang baru saja keluar dari swalayan.

Aluna berhenti.

Dadanya berdebar aneh.

Wajah itu hanya terlihat sepintas. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya bergerak.

“Ummi…” gumamnya lirih.

Perempuan itu menaiki motor dan perlahan melaju pergi. Aluna berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya berlari kecil menuju mobil.

“Oma,” panggilnya cepat.

Salma menoleh. “Kenapa, sayang?”

Aluna menunjuk ke arah motor yang semakin menjauh. “Itu… ummi yang kemarin.”

Salma mengikuti arah pandangan cucunya. Ia hanya melihat punggung seorang perempuan, namun jantungnya langsung berdegup tidak teratur. Siluet itu. Cara bergeraknya. Ada rasa asing yang terasa terlalu akrab.

“Kita ikuti sebentar, ya, Oma,” pinta Aluna pelan. “Aku cuma mau tahu rumah ummi di mana.”

Salma terdiam. Hatinya berperang dengan logika. Seharusnya ia menolak. Namun entah kenapa, kata tidak terasa berat untuk diucapkan.

Ia menoleh ke sopir. “Pelan-pelan saja. Jangan dekat-dekat.”

Mobil bergerak perlahan, menjaga jarak aman. Aluna duduk tenang, matanya tak lepas dari motor di depan. Sesekali ia mencondongkan badan ke kaca, memastikan sosok itu masih terlihat.

Tidak ada percakapan. Tidak ada kejaran. Hanya rasa penasaran kecil yang tumbuh diam-diam di hati seorang anak.

Motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana.

Aluna menatapnya lama.

“Di situ…” bisiknya.

Salma ikut memandang rumah itu. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Seolah rumah itu menyimpan sesuatu yang belum terjawab sejak lama.

Mereka tidak turun. Tidak mendekat. Setelah beberapa saat, Salma memberi isyarat agar mobil berbalik arah.

Namun sejak hari itu, Aluna berubah.

Ia kembali lahap makan. Tidurnya lebih nyenyak. Ia mengikuti les tambahan tanpa perlu dibujuk. Wajah murung yang sempat menghuni hari-harinya perlahan menghilang.

Salma memperhatikan semua itu dengan perasaan campur aduk.

Sagara pun menyadarinya.

“Kamu kelihatan lebih senang akhir-akhir ini,” ujar Sagara suatu malam.

Aluna mengangguk. “Iya, Abi.”

Sagara tersenyum, merasa lega. Namun Salma tahu, ada sesuatu yang belum selesai. Ada pertanyaan yang terus menggantung di kepalanya.

Siapa sebenarnya perempuan itu?

Selamat pagi selamat membaca

Like komennya dong.. Terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!