NovelToon NovelToon
Between Guns & Roses

Between Guns & Roses

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Tamat
Popularitas:306.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Pengembara Elite

(Khusus Dewasa 21+)

Antonio seorang pria dingin dan kejam yang berprofesi sebagai seorang pembunuh bayaran yang akan selalu menghabisi lawannya dengan kejam.

Kecintaannya kepada senjata dan pekerjaannya membuat Antonio tidak pernah mengenal cinta.

Suatu hari dia bertemu dengan Wanita yang mampu menggetarkan hatinya, hati seorang pria tampan yang terkenal berdarah dingin.

Tapi dia tidak tahu harus memilih yang mana.
Apakah dia harus memilih wanita itu dan meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya?
Atau dia akan melupakan wanita yang telah mencuri hatinya demi pekerjaannya?
Atau ada kemungkinan lain yang terjadi?

Kategori: Dewasa (21+)

Genre: Action, Romance, Petualangan, Fantasi

Setting: Indonesia

Alur: Maju-Mundur

Status: On-going

Ilustrasi Tokoh: Berdasarkan pendalaman karakter



Cover by Dva Official

copyright2020, Pengembara Elite

#mafia #action #romance

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengembara Elite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

New Case?

Di ruang kerjanya, Antonio tampak serius mencampur-campurkan bahan kimia ke dalam tabung reaksi yang berjejer di depannya. Setelah itu ia memasukan semua cairan itu ke dalam sebuah alat khusus sehingga saat keluar, cairan itu telah memadat seperti pil.

"Akhirnya aku bisa menyempurnakan formula ini menjadi lebih baik sesuai keinginan ayah," gumamnya seraya memegang sebuah pil dengan jempol dan telunjuknya.

Pil itu masih sama seperti pil sebelumnya, hanya saja ia mengurangi kemungkinan efek samping yang akan diderita ketika mengonsumsi terlalu banyak. Ia membuat pil itu dengan jumlah agak banyak dari sebelumnya, dengan tujuan untuk stok apabila keadaan darurat.

Setelah merapikan semua peralatannya, ia lantas keluar meninggalkan ruang kerjanya.

"Sayang!" Anna memanggil dan menghampirinya.

"Iya sayang," jawab Antonio seraya menoleh ke arah Anna.

"Ayo kita makan!" Ajak Anna.

"Oke," Antonio menjawab singkat seraya merangkul pinggang Anna dan berjalan ke arah meja makan kecil di dapur.

"Wow!" kaget Antonio saat melihat masakan yang terlihat lezat tersaji di atas meja.

"Aku memasak menu baru yang aku dapatkan dari internet," sahut Anna.

"Oh ya? Sepertinya enak, aku tidak sabar ingin segera mencicipinya," ujar Antonio dengan penuh antusias.

"Disini tertulis bakwan, aku membuatnya dengan campuran sayuran untuk sup lalu ku masukan ke dalam tepung terigu cair. Kemudian aku goreng hingga matang," wanita itu menjelaskan cukup detail.

"Seperti itu ya? Aku tak paham cara membuatnya, yang aku tahu hanya makan," sahut Antonio.

Anna hanya menghela nafas mendengar ucapan Antonio.

Setelah itu tak ada pembicaraan lebih lanjut diantara mereka berdua, yang ada hanyalah dentingan suara sendok yang beradu dengan piring.

***

Takagawa terlihat sedang menunjukan kemampuannya di hadapan Pablo dan anak buahnya, ia merapal jurus-jurus khas negeri matahari terbit.

"Sekarang aku ingin melihat kau melawan anak buahku," ucap Pedro yang tengah terduduk di kursi kebesarannya.

"Siapa saja, majulah! Lawan aku!" Takagawa berkata dingin kepada anggota Black Shadow yang sedari tadi menyaksikannya.

Tiba-tiba salah seorang pria bertubuh kurus namun kekar berdiri. Ia menghampiri Takagawa yang berada di arena latihan pertarungan.

"Lawan dia Marcello," gumam Pablo perlahan.

Pria yang bernama Marcello itu lantas membuka bajunya sehingga terlihat otot-otot kekar di tubuh kurusnya.

"Izinkan saya mencoba," Marcello membungkuk memberi hormat pada Takagawa.

"Silahkan!" balas Takagawa dengan anggukan yang sama.

Kemudian mereka berdua saling memasang kuda-kuda, bersiap untuk saling menyerang.

Takagawa berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu, ia berlari dengan cepat dan melakukan tendangan melompat ke arah Marcello. Namun Marcello mengelak dengan cepat sehingga tendangannya hanya membelah angin.

Marcello yang merasa memiliki peluang, balas menyerang dengan melepaskan tinju ke arah wajah Takagawa. Tapi dengan kegesitannya, Takagawa berhasil menghindar. Ia lalu menjatuhkan badan dan balas menendang punggung Marcello. Tendangan itu cukup telak hingga membuat Marcello jatuh tersungkur.

Takagawa yang merasa di atas angin langsung mengunci pergerakan Marcello. Cekikan kuat pada leher Marcello membuat pria itu mengangkat tangan tanda menyerah.

"Cukup!" Pablo berteriak.

Takagawa langsung melepaskan kunciannya, kemudian membantu Marcello berdiri. Setelah itu mereka berdua saling memberi salam.

"Latihan perlu ditingkatkan," Pablo berkata lantang membuat seluruh mata berfokus padanya.

"Sangat memalukan, hanya beberapa gerakan saja kalian langsung kalah," ucapnya tegas.

Seluruh anggota Black Shadow terdiam mendengar ucapan pimpinannya, tak ada yang berani bersuara seorang pun.

***

Setelah selesai makan Anna membersihkan peralatan dan melakukan aktifitas di dapur, sedangkan Antonio bersantai ria melihat acara-acara di televisi.

Tiba-tiba ponselnya berdering, ia lalu meraih dan menerima panggilan saat membaca nama Pedro di layar ponselnya.

"Halo!" Sapanya.

"Halo! Antonio, mengapa kau tidak memberitahuku kalau sudah pulang?" Pedro langsung bertanya dari seberang telepon.

"Oh, maaf! Aku belum sempat," jawab Antonio santai.

"Aku sedang di klinik, aku kira kau masih disini bersama Anna," sahut Pedro kesal.

"Anna memaksa ingin pulang, dia tidak suka berlama-lama di klinik," ujar Antonio.

"Sekarang dimana posisimu?" Tanya Pedro.

"Di rumah," Antonio menjawab.

"Baiklah, aku segera kesana," ucap Pedro.

Setelah mematikan ponselnya, Antonio kembali menatap layar televisinya. Sesekali wajahnya tersenyum saat melihat adegan-adegan lucu yang di tayangkan salah satu saluran televisi lokal Indonesia.

"Sudah lama sekali aku tak menonton adegan seperti ini, haha," ucapnya sambil tertawa terbahak.

"Apa yang kau lihat? Tawamu seperti orang yang gila!" Tanya Anna yang tiba-tiba muncul dan menghampirinya.

"Hahaha," Antonio hanya melirik Anna sejenak, kemudian tertawa kembali saat melihat layar televisi.

Anna yang penasaran lalu ikut melihat tontonan di televisi sembari duduk di samping Antonio.

"Hahahaha," ia pun tertawa terbahak-bahak saat melihat adegan seekor monyet yang berjoget memakai kacamata.

"Pantas saja kau terlihat senang sedari tadi, ternyata menonton acara humor," celetuk Anna.

"Jadi sebelumnya kau menganggapku gila?" Tanya Antonio seraya menatap tajam wanita di sampingnya.

Anna lalu terdiam dan balik menatap Antonio.

"Awas kau!" ucap Antonio pendek.

Bak singa yang kelaparan, Antonio langsung menerkam tubuh Anna dan menciumi wajah serta leher wanita itu hingga meninggalkan tanda-tanda cinta. Sedangkan Anna hanya pasrah saja saat tubuh indahnya ditindih oleh Antonio.

Namun tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan mereka berdua.

"Siapa itu?" Anna bertanya keheranan, karena selama ini ia tidak pernah menerima tamu siapapun selama tinggal di rumah peninggalan orang tua Antonio.

Sementara Antonio tak menjawab, ia lalu bangkit dan berjalan santai ke arah pintu.

"Hello Antonio!" Sapa Pedro yang sedang berdiri di ambang pintu.

"Aku sudah mengira kau mengetahui lokasi rumah ini," ucap santai Antonio.

"Aku telah mengetahuinya lebih dulu, sebelum kau dan wanita itu," sahut Pedro.

"Ya aku percaya, ayo masuk!" ucap Antonio seraya membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan Pedro untuk masuk.

Pedro menurutinya, ia perlahan memasuki rumah itu. Saat memasuki ruang tamu pikirannya kembali teringat masa lalu, masa-masa saat masih bersama dengan Robertino dan anggota asosiasi lain yang kini tidak pernah ia jumpai kembali.

"Tempat ini tak banyak berubah," gumamnya.

"Iya, aku hanya membersihkannya saja. Tidak ada yang ku ubah sedikitpun," Antonio menjelaskan.

"Hahaha, pendengaranmu sangat tajam," Pedro berkata dan dibalas dengan senyuman Antonio.

Saat memasuki ruang tengah, tampak seorang wanita cantik menyapanya.

"Hai Pedro! Aku tak mengira jika tamu itu kau," sapa Anna hangat.

"Iyakah?" Pedro tertegun.

"Iya, selama ini aku tak pernah menerima tamu," jawab Anna santai.

"Duduklah dahulu, aku buatkan minuman," ucap wanita itu seraya bergegas ke arah dapur.

Antonio tak ikut bicara, ia lalu mematikan televisi dan duduk bersama Pedro.

Tiba-tiba Pedro mengeluarkan sebuah map berwarna biru dan meletakannya di meja hadapannya.

"Apa itu?" Tanya Antonio.

"New Case!" jawab Pedro singkat.

***

Jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komen ya!!!

Bantu Vote juga agar Author semakin bersemangat!

Ilustrasi Pedro

Ilustrasi Pablo

1
Zero😈
ku menahan rasa sakit.... rasa sakit 🤣🤣
💕febhy ajah💕
ngintipin ini dlu
semoga ceritanya bikin betah so
dari awal dah menarik.
⟁sahabi🌱🐛
like like like
wike maliya
cerita yang bagus.
🌺ziRa_hEnY💞🐊🐊
semangat Thor
Tiya
keeereeeeen banget ceritanya
Tiya
mampir Thor
🍒⃞⃟🦅 R⃟tunggadevi
semangat berkarya thor.
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
merinding aku 😬
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
hmm..
sepertinya novel ini menarik.. 😎
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
jadi ingat film WANTED
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
awas salah langkah lo..
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
sepertinya menarik..
lanjut aah..
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
desperado - Antonio Banderas - Aku film by Robert Rodrigues 1995
ya kaaan...? 😎
Chastalia Qisya 🐊⃝⃟ 🐊
halo author yg baik..
aku boleh mampir ya..
Dyah Kartika
wah,,kasihan Ana dong🥺🥺🥺
👑 N¡e©hα💣
trnyata q yg ktinggalan hihihi
Flora Diar
alur nya fokus tdk byk deviasi dan misi slsai, jelas ..kereen, mungkin next nya bisa ditambahkan penjelasan scr ilmiah utk racikan2 biar lbh mantabs
🏕👑ɱႦσƙʝαɠσ 💣<big><h1><i><u
𝕪𝕦𝕙𝕦
Bundha Rizky Dinik
knapa kejam bgt ngebunuhnya,ngeri da menggali kepala orang sampai terpisah kepalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!