NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Ruang yang Tak Pernah Berubah

Dago di pagi hari selalu punya cara untuk menusuk tulang dengan hawanya yang dingin, namun bagi Maya, dinginnya kabut Bandung tidak ada apa-apanya dibandingkan suasana di dalam mobil hitam yang kini membawanya mendaki perbukitan.

Di sampingnya, Arlan duduk di balik kemudi. Pria itu menolak tawaran supir kantor untuk mengantar mereka. Ia juga menolak membiarkan Maya membawa kendaraannya sendiri.

"Efisiensi," kata Arlan singkat tadi saat menjemput Maya di lobi apartemennya yang sempit.

Hening di dalam kabin mobil itu begitu tebal hingga Maya merasa bisa memotongnya dengan pisau. Maya menatap keluar jendela, pura-pura sibuk memperhatikan deretan pohon pinus yang berlalu, padahal ia bisa merasakan tatapan Arlan sesekali meliriknya dari balik kacamata hitam.

"Rumah itu tidak banyak berubah," Arlan memecah kesunyian. Suaranya rendah, berbaur dengan dengung mesin mobil yang halus. "Sama seperti pemiliknya, dia keras kepala menolak waktu."

Maya meremas tali tasnya. "Kenapa kamu membeli rumah itu, Lan? Itu rumah keluarga besar Pak Handoko. Kamu tidak punya sejarah di sana."

"Siapa bilang?" Arlan memutar kemudi dengan satu tangan, gerakan yang terlihat begitu maskulin dan santai, namun Maya tahu ada ketegangan di rahang pria itu. "Aku membelinya untuk membuktikan bahwa tidak semua hal yang hancur harus dibuang. Beberapa hanya perlu... dipaksa untuk berdiri kembali."

Maya tidak membalas. Ia tahu Arlan sedang bicara tentang hubungan mereka, bukan sekadar soal bangunan.

Sepuluh menit kemudian, mereka sampai. Gerbang besi berkarat itu terbuka dengan decit panjang yang menyakitkan telinga. Di hadapan mereka, sebuah rumah kolonial tua berdiri dengan angkuh meski dinding putihnya sudah mulai ditumbuhi lumut dan akar pohon rambat.

Ini adalah tempatnya. Rumah di mana lima tahun lalu, Maya mengucapkan kata perpisahan yang paling kejam.

Begitu turun dari mobil, bau tanah basah dan kayu lapuk menyambut indra penciuman Maya. Ia terdiam di depan teras, kakinya seolah terpaku ke bumi.

"Kenapa? Takut masuk?" suara Arlan terdengar tepat di belakang telinga Maya.

Maya tersentak dan segera melangkah maju. "Tentu saja tidak. Aku hanya sedang memikirkan konsep restorasi yang tepat untuk fasad depannya."

Mereka masuk ke dalam. Ruang tamu itu luas, dengan langit-langit tinggi dan debu yang menari-nari di bawah sinar matahari yang masuk lewat jendela kaca patri. Furniturnya masih ada, ditutupi kain putih yang membuatnya tampak seperti deretan hantu di tengah ruangan.

Maya mengeluarkan meteran dan buku sketsanya, mencoba terlihat sibuk. Ia mulai mengukur lebar pilar, namun tangannya sedikit gemetar. Saat ia mencoba menarik ujung meteran besi itu ke sisi lain pilar, meteran itu tersangkut.

"Biarkan aku," Arlan muncul di sisi lain pilar, memegang ujung meteran itu.

Sekarang, hanya pilar beton tua itu yang memisahkan mereka. Jarak mereka begitu dekat. Maya bisa melihat pori-pori kulit Arlan, dan bekas luka kecil di alis kirinya yang ia dapatkan saat mencoba memanjat pagar rumah ini dulu hanya untuk memberikan Maya sebungkus martabak manis saat tengah malam.

"Kamu masih pakai parfum yang sama," bisik Arlan tanpa sadar.

Maya mematung. Napasnya tercekat. "Ini parfum umum, Arlan. Siapa pun bisa memakainya."

"Tapi tidak ada yang punya aroma sisa hujan di rambutnya selain kamu, May," Arlan melepaskan ujung meteran itu. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak profesional yang sejak tadi dipertahankan Maya. "Jangan berpura-pura seolah-olah hidungku juga ikut amnesia."

"Berhenti, Arlan," Maya mundur hingga punggungnya menabrak dinding yang dingin. "Kita di sini untuk bekerja. Kamu yang bilang sendiri, menjadi asing adalah satu-satunya cara."

Arlan tertawa, suara yang lebih mirip rintihan frustrasi. Ia menaruh kedua tangannya di dinding, mengurung Maya di antaranya. "Aku mengatakannya agar aku tidak gila, Maya! Tapi melihatmu berdiri di sini, di rumah ini... itu membuatku ingin menghancurkan semua skenario bodoh yang aku buat."

Mata Arlan turun ke bibir Maya. Ketegangan di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada dendam. Itu adalah kerinduan yang telah difermentasi oleh waktu dan amarah.

Maya bisa merasakan jantungnya berdebar sangat keras hingga ia yakin Arlan bisa mendengarnya. Di ruang yang sunyi dan berdebu itu, kemistri yang selama ini mereka tekan meledak tanpa peringatan.

Tangan Arlan perlahan naik, ujung jarinya hampir menyentuh pipi Maya, namun kemudian ia berhenti. Ia melihat kalung perak sederhana yang masih melingkar di leher Maya—kalung yang ia berikan saat ulang tahun Maya yang ke-24.

Rahang Arlan mengeras. Ia menarik tangannya kembali dengan kasar.

"Ukur ruangannya sampai selesai," kata Arlan dengan nada dingin yang tiba-tiba kembali. "Aku akan memeriksa struktur di lantai dua. Jangan berani-berani meninggalkan rumah ini sebelum aku kembali."

Arlan berbalik dan menaiki tangga kayu yang berderit nyaring, meninggalkan Maya yang jatuh terduduk di lantai, mencoba meraup oksigen yang seolah hilang dari ruangan itu.

Maya menyentuh kalung di lehernya. Ia masih memakainya bukan karena cinta, pikirnya. Ia memakainya sebagai pengingat akan kesalahannya. Namun, setelah pertemuan barusan, Maya menyadari satu hal yang lebih menakutkan: Arlan tidak pernah benar-benar menjadi asing baginya. Pria itu masih merupakan satu-satunya frekuensi yang bisa didengar oleh hatinya yang paling dalam.

Di lantai atas, suara langkah kaki Arlan terdengar berat. Maya tahu, enam bulan ke depan tidak akan hanya menjadi proyek renovasi rumah. Ini akan menjadi proses penghancuran diri mereka sekali lagi, atau mungkin, sebuah pembangunan pondasi baru di atas reruntuhan yang paling menyakitkan.

Maya membuka bukunya dan menulis satu kalimat di pojok kertas, bukan tentang desain, melainkan tentang perasaannya: Beberapa orang tetap menjadi rumah, bahkan setelah pintunya terkunci rapat.

Lantai dua rumah itu berderit setiap kali Arlan melangkah. Maya mencoba fokus pada sketsa di tangannya, tapi telinganya justru mengkhianati pikirannya sendiri; ia terus memantau posisi Arlan dari suara langkah sepatu pria itu.

Langkah itu berhenti tepat di atas kepalanya. Maya bisa membayangkan Arlan sedang berdiri di kamar utama, mungkin menatap balkon tempat mereka dulu sering menghabiskan malam hanya untuk menghitung bintang yang kalah terang oleh lampu kota Bandung.

"Sial," umpat Maya pelan. Ia menutup buku sketsanya dengan kasar. Debu beterbangan di sekitarnya.

Ia memutuskan untuk bergerak ke arah dapur di bagian belakang. Area itu lebih lembap, dengan meja marmer panjang yang retak di tengahnya. Maya menyalakan keran wastafel tua. Air berwarna kecokelatan keluar sesaat sebelum berubah jernih. Ia membasuh wajahnya, mencoba mendinginkan suhu tubuhnya yang mendadak naik.

"Air di sini tidak bisa diminum."

Maya tersentak. Arlan sudah berdiri di ambang pintu dapur. Dia sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Penampilan itu jauh lebih berbahaya bagi kewarasan Maya daripada Arlan yang memakai setelan lengkap.

"Aku cuma cuci muka," sahut Maya ketus sambil menyeka wajah dengan tisu.

Arlan berjalan mendekat, menyandar pada meja marmer yang dingin. Matanya menatap botol air mineral di tas Maya. "Lima tahun di Jakarta ternyata nggak mengubah kebiasaanmu kalau lagi panik ya, May? Kamu selalu lari ke tempat yang ada airnya."

Maya berhenti mengusap wajahnya. Ia menatap Arlan lewat pantulan cermin kusam di atas wastafel. "Kamu berhenti memperhatikan kebiasaanku sejak hari aku pergi, Arlan. Jangan berlagak seolah kamu masih peduli."

"Peduli?" Arlan tertawa sinis. Ia melangkah maju satu langkah lagi. "Aku bukan peduli. Aku hanya sedang mengamati musuhku. Bukankah itu yang dilakukan orang kalau ingin menang?"

"Musuh?" Maya berbalik, menantang tatapan Arlan. "Kalau aku memang musuhmu, kenapa kamu nggak biarkan aku hancur saja? Kenapa harus menyeretku kembali ke proyek ini? Kamu punya ribuan desainer lain yang lebih hebat, yang nggak punya 'sejarah' menjijikkan dengarmu!"

Suasana mendadak menjadi sangat tipis. Jarak di antara mereka kini tak sampai tiga puluh sentimeter. Maya bisa merasakan panas yang menguar dari tubuh Arlan.

"Karena aku mau lihat," Arlan berbisik, suaranya kini serak dan rendah, "aku mau lihat sampai kapan kamu bisa bertahan menatap mataku tanpa merasa bersalah. Aku mau lihat gimana rasanya menghancurkanmu perlahan-lahan di tempat yang sama saat kamu menghancurkanku dulu."

Tangan Arlan tiba-tiba meraih pinggang Maya, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Maya terkesiap, tangannya secara insting menahan dada Arlan. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang liar—tidak selaras dengan wajahnya yang tampak begitu tenang dan dingin.

"Lepas, Lan..."

"Kamu masih memakai kalungnya," Arlan mengabaikan protes Maya. Jarinya yang kasar menyentuh liontin perak di leher Maya, mengirimkan sengatan yang membuat bulu kuduk Maya meremang. "Kenapa? Apa ini cara kamu merayu Tuhan supaya dosamu diampuni?"

"Jangan bawa-bawa Tuhan dalam kebencianmu!" Maya mencoba mendorong, tapi kekuatan Arlan jauh lebih besar.

"Lalu aku harus bawa apa? Cinta?" Arlan tersenyum miring, tapi matanya terlihat terluka. "Cinta itu sudah mati di teras rumah ini, Maya. Di bawah hujan itu. Kamu yang membunuhnya, ingat?"

Maya merasakan matanya memanas. Ia tidak ingin menangis di depan pria ini. Ia tidak boleh terlihat lemah. "Aku punya alasan, Arlan. Alasan yang nggak akan pernah kamu mengerti."

"Alasan selalu jadi pelarian bagi orang yang pengecut," balas Arlan telak.

Dia melepaskan cengkeramannya pada pinggang Maya begitu saja, membuat Maya hampir limbung. Arlan mengambil sebuah folder dari meja dan melemparnya ke hadapan Maya.

"Besok pagi, aku mau sketsa awal untuk ruang makan dan area dapur ini. Jangan buat aku menyesal sudah 'menyelamatkan' kariermu yang hampir tamat itu."

Arlan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Suara langkah sepatunya yang tegas bergema di lorong rumah tua itu, meninggalkan Maya sendirian di dapur yang dingin.

Maya memegang meja marmer itu erat-erat. Ia menghirup oksigen dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar di tangannya. Ia tahu, Arlan sedang melakukan perang saraf. Pria itu ingin Maya merasakan setiap inci dari rasa sakit yang pernah ia berikan.

Namun, di balik semua amarah dan kata-kata tajam itu, Maya merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih menakutkan daripada kebencian Arlan.

Tadi, saat Arlan menyentuh kalungnya, tangan pria itu bergetar.

Arlan mungkin ingin menghancurkannya, tapi dalam proses itu, Arlan juga sedang menghancurkan dirinya sendiri. Mereka adalah dua orang asing yang masih saling terikat oleh benang yang kusut dan berdarah.

Maya menatap sketsa kosong di depannya. Di bagian bawah kertas, ia menuliskan satu catatan kecil yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri: Dia masih mengingat aroma hujan di rambutku. Dan aku masih mengingat detak jantungnya yang selalu berbohong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!