NovelToon NovelToon
Transmigrasi Chantika

Transmigrasi Chantika

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Transmigrasi / Teen / Tamat
Popularitas:686.8k
Nilai: 4.6
Nama Author: Chryssa_Dike

Chantika Anastasya gadis berusia 17 tahun yang meninggal karena rem mobilnya blong yang menyebabkan ia menabrak truk yang ada di depannya.

Bukannya mencari pertolongan, ia malah tersenyum senang karena ia pikir setelah ini ia akan pergi ke surga dan melepaskan semua beban yang sudah ia pikul selama ini.

"Syurgaa.....I'm coming"

Tapi bukannya ke surga, chantika malah terjebak di tubuh gadis culun yang ternyata memiliki masalah hidup yang cukup berat dan rumit.

Lalu apakah Chantika kuat menjalani kehidupan barunya dengan semua masalah yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chryssa_Dike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sepanjang perjalanan menuju kelas, Chaca, Yeshya, dan Jessica mengobrol santai. Sesekali, Yeshya dan Jessica menunjukkan beberapa sudut sekolah sambil menjelaskan letak ruang guru, kantin, perpustakaan, hingga lapangan. Mereka juga sedikit bercerita tentang teman-teman sekelas yang sebaiknya Chaca ingat kembali.

"Oh iya, Cha," ujar Jessica tiba-tiba.

"Lo tahu nggak? Selama lo nggak masuk sekolah, Mina makin menjadi-jadi."

"Mina?" Chaca mengernyit.

"Siapa dia?"

Jessica menepuk dahinya pelan, "Ya ampun, gue lupa kalau lo amnesia"

Yeshya lalu mengambil alih penjelasan, "Mina itu teman sekelas kita"

"Terus?"

"Dia juga orang yang paling sering ngebully lo."

Langkah Chaca sedikit melambat, "Ngebully?"

"Iya." Jessica mengangguk.

"Hampir tiap hari lo dijadiin pelampiasan emosinya. Dia pernah nyiram minuman ke seragam lo, ngerusak barang-barang lo, sampai mukul dan bikin badan lo babak belur"

Raut wajah Chaca berubah datar. "Terus... guru nggak ngapa-ngapain?"

Yeshya menggeleng pelan. "Dia anak orang berpengaruh. Banyak yang tahu kelakuannya, tapi nggak ada yang berani macem-macem."

Chaca hanya mengangguk pelan. "Kalau boleh tahu... kenapa dia ngelakuin itu ke gue?"

"Soalnya..." Jessica tampak ragu.

"Katanya sih karena lo anak orang miskin," sambung Yeshya.

"Dia bilang murid miskin kayak lo nggak pantas sekolah di sini."

"Oh..."

Chaca hanya mengangguk kecil menerima informasi itu. Namun, senyum tipis perlahan terukir di sudut bibirnya.

'Lucu juga...' batinnya.

'Dia nganggap gue miskin?'

'Mari kita perlihatkan siapa yang sebenarnya miskin disini, bitch'

Jessica yang berjalan di samping Chaca kembali membuka suara. "Tapi entah kenapa gue ngerasa sekarang lo beda"

"Iya" Yeshya mengangguk setuju.

"Gue yakin, kali ini Mina nggak bakal bisa seenaknya lagi sama lo"

"Gue juga yakin seratus persen" sahut Jessica mantap.

Chaca hanya tersenyum kecil tanpa mengatakan apa pun. Biarlah mereka melihat sendiri perubahan itu.

Sesampainya di depan kelas, Chaca, Yeshya, dan Jessica langsung masuk. Namun baru beberapa langkah menuju bangkunya, seseorang sudah terlebih dahulu menghadangnya.

Chaca menghentikan langkah lalu menatap perempuan yang berdiri tepat di depannya.

"Maaf... siapa, ya?" tanyanya datar.

Ucapan itu seketika membuat seisi kelas langsung menoleh.

Perempuan di hadapannya tampak membelalakkan mata.

Mina. Beberapa detik ia hanya menatap Chaca dengan ekspresi tak percaya, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk seringai mengejek.

"Wah... jadi bener ya Lo amnesia?" ejeknya.

"Pantes aja berani bilang nggak kenal sama gue."

Tanpa permisi, Mina mengangkat tangannya lalu mengusap pelan pipi Chaca. Gerakan itu sempat terlihat lembut. Namun, sedetik kemudian jemarinya mencengkeram pipi Chaca dengan kuat.

"Kalau lo lupa sama gue..." bisiknya pelan,

"...gue bakal bikin lo ingat lagi. Sampai seumur hidup."

Cengkeraman itu semakin kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi Chaca. Seluruh kelas hanya bisa menyaksikan kejadian itu dalam diam.

Chaca mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia membalas saat itu juga. Namun, ia menarik napas panjang dan memaksa dirinya tetap tenang.

'Sabar, Cha. Belum waktunya"

Tak mau terlalu meladeni drama yang dibuat Mina, ia pun menepis pelan tangan gadis itu, lalu berjalan melewatinya menuju bangkunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sikap acuh itu justru membuat Mina naik pitam. "Berhenti!"

Mina berbalik lalu menghampiri Chaca. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjambak rambut panjang gadis itu.

"Oh, jadi sekarang lo berani ngelawan gue?"

Rasa perih langsung menjalar dari kulit kepala Chaca. Tanpa banyak bicara, ia melepaskan rambutnya yang ada di genggaman gadis itu, Namun gadis itu semakin menariknya. Emosi yang sedari tadi ia tahan seketika memuncak. Dalam satu gerakan cepat, ia membalikkan badan dan menjambak rambut Mina jauh lebih keras.

"Aaaakh...!"

"Lepasin! Sakit, bego!" teriak Mina sambil berusaha melepaskan tangan Chaca.

Chaca tidak bergeming sama sekali. Tatapannya dingin. Semakin Mina meronta, semakin kuat juga jemarinya mencengkeram rambut gadis itu. Saking kuatnya, beberapa helai rambut Mina mulai rontok dan berjatuhan ke lantai.

Setelah emosinya tersalur dan merasa puas, Chaca melepaskan jambakannya. Tubuh Mina langsung terdorong mundur sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Beberapa helai rambut masih tersangkut di sela-sela jari Chaca.

Suasana kelas berubah sunyi. Tak seorang pun berani bersuara. Semua murid menatap Chaca dengan wajah penuh keterkejutan. Mereka mengenal Chaca sebagai gadis pendiam yang selalu menunduk setiap kali dirundung. Tetapi gadis yang berdiri di hadapan mereka sekarang seolah orang yang berbeda.

Mina mengangkat tangan, bersiap menampar Chaca. Namun, sebelum telapak tangannya sempat mendarat -

"Selamat pagi anak-anak" ucap Bu Dessya.

Suara guru yang baru memasuki kelas membuat gerakan Mina berhenti seketika.

"Pagi, Bu," jawab seluruh murid serempak sambil berdiri.

Dessya mengangguk singkat, lalu melangkah menuju meja guru. Namun, sebelum sempat duduk, pandangannya berhenti pada sosok Chaca di bangku paling belakang.

"Oh... akhirnya masuk juga, Cha"

Nada suaranya terdengar datar, tetapi cukup untuk membuat beberapa murid saling berpandangan.

"Iya, Bu," jawab Chaca singkat.

"Saya kira kamu masih betah liburan di rumah." Dessya tersenyum tipis.

"Lumayan, ya. Bisa tidur seharian tanpa perlu pusing memikirkan pelajaran"

Beberapa murid mulai menundukkan kepala. Mereka tahu ucapan itu bukan sekadar candaan seorang guru pada muridnya.

Chaca menatap gurunya tanpa berkedip. 'Wah... drama baru lagi'

Ia mengembuskan napas pelan sebelum menjawab dengan senyum tipis.

"Sebenernya masih kurang lama sih, Bu. Tapi saya kangen denger sindiran Ibu, jadi saya bela-belain masuk."

Suasana kelas mendadak sunyi. Tak ada yang menyangka Chaca akan membalas.

Dessya mengernyit. "Kamu ya sama guru nggak ada sopan santunnya"

"Saya hanya akan sopan di orang yang tepat, untuk apa juga saya sopan dengan anda, jika anda saja sebagai guru tidak bisa menjaga tutur kata anda sendiri"

Wajah Dessya langsung mengeras. "Kamu sedang mengajari guru?"

"Bukan." Chaca menggeleng pelan.

"Saya hanya berharap guru juga bisa menjaga ucapannya. Karena kalau murid salah bicara, pasti langsung dianggap tidak sopan."

Kalimat itu membuat kelas kembali hening. Tak sedikit murid yang menahan napas. Selama ini, tidak ada seorang pun yang berani berbicara seperti itu kepada Dessya.

Tatapan guru itu berubah tajam. "Keluar dari kelas saya!"

Tak ada bantahan dan jawaban. Chaca berdiri, merapikan seragamnya, lalu mengambil tas kecilnya.

Sebelum keluar, ia sempat menoleh. "Semoga hari Ibu menyenangkan."

Kalimat itu terdengar sopan. Namun, entah mengapa justru membuat Dessya semakin kesal.

Begitu sampai di luar, Chaca mengembuskan napas panjang.

'Anjing banget mulut tuh guru! Untung gue masih bisa tahan"

Tak mau emosinya kembali meledak, Chaca memutuskan naik menuju rooftop sekolah.

Setibanya di sana, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke bangku panjang yang menghadap langit. Embusan angin pagi menyapu wajahnya, perlahan meredakan amarah yang sejak tadi ia tahan.

1
It's emma
.
It's emma
Suka sama ceritanya😍
DemnRed
Jalan ceritanya seru!!!
Rani Jan
lebayy
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Arhieva Jimshoneysruwen
ga suka sama tata bahasanya
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
tadi pulang sekolah kerja trus bab selanjutnya akhirnya masuk sekolah lagi thor
Rahma Waty
lah ortu macam apa .nyiksa banget
white lily
jangan di bikin cepet sadarnya napa, 5th kel
white lily
karakter caca yg lembek, mencla mencle bikin gregetan
Ina Karlina
Caca jadi aneh ga sih masa jadi manja gitu..kan pertama karakter nya cuek
Ina Karlina
jangan lupa ca balas perlakuan si Marsel ke kamu tempo hari biar nyaho dia
Ina Karlina
seruuu..ayo lawan saja si Marka biar pusing 7 keliling dia..jangan lupa porotin duit nya dari pada di habiskan oleh pacarnya 😁😁😁
Ina Karlina
semoga perselingkuhan si Marka terciduk oleh ke 2 keluarganya...biar mampus..
Ina Karlina
ko bisa ya ada guru model si Marsel..
Note 2
mommy drpd mae
Nur Keyla
Luar biasa
Lestari
gokil abiss
Onzha Aloych
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!