Merlisa harus menerima kenyataan pahit, bahwa mantan kekasih yang masih begitu ia cintai harus bersanding dengan kakak tersayangnya.
Dan lebih parahnya lagi, Merlisa harus terjebak dalam pernikahan sandiwara dengan seorang Arga Sebastian, CEO tampan namun angkuh dan sudah memiliki kekasih. Demi memajukan perusahaan sang papa Merlisa menerima pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta.
Bagaimana kisah Merlisa selanjutnya? apakah ia akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Merlisa sedang asyik bercengkrama dengan ke dua sahabatnya Anggi dan Natan di area parkir kampus.
" Di depan ada apa si, kok rame banget?" tanya Anggi.
"Gak tau tuh, sepertinya ada seseorang yang datang deh." Sahut Natan yang melihat kerumunan para gadis.
Merlisa hanya menaikan bahunya, acuh tidak perduli dengan ke adaan sekitar.
"Eehh sepertinya cewe sok berkuasa itu dan kekasihnya menuju ke sini deh Ca, mau apa ya mereka." Ucap Anggi.
"Iya Gi sepertinya begitu." Sahut Natan.
Merlisa menolehkan kepalanya melihat ke adaan yang sedang di bicarakan oleh kedua temannya itu. Merlisa terbelalak matanya saat melihat seseorang yang sedang menuju ke arahnya.
Jadi kekasih si pria bunglon itu si mak lampir, waaah sungguh sangat serasi mereka. Mak lampir dan pria bunglon bersatu, hehehe. Batin Merlisa.
Merlisa menutupi wajahnya dengan sebelah telapak tangannya.
"Mudah - mudahan si pria bunglon itu tidak mengenali ku." Gumam Merlisa pelan.
"Sayang wanita preman ini yang kemarin sudah mengganggu ku." Ucap Vanesa kepada Arga, saat mereka sudah berhadapan dengan 3 orang yang sedang duduk di area parkir.
"Gawat Ca, si cewe sok berkuasa ini mengadu sama kekasihnya." Bisik Anggi pada Merlisa.
"Heh wanita preman, loe kenapa diem aja. Gak berani loe, tujukan taring loe." Ucap Vanesa tersenyum sinis.
"Siapa bilang gue gak berani sama elo, apalagi gue gak ngerasa salah sama anda nona Vanesa." Ucap Merlisa penuh dengan penekanan.
Arga terbelalak melihat orang yang berada di hadapannya.
Si wanita bar - bar ini ternyata ada di sini juga. Batin Arga.
" Sayaaang kok kamu diam aja si." Rengek Vanesa.
"Iya sayang, kamu tenang saja biar wanita ini menjadi urusan ku." Ucap Arga menatap tajam ke arah Merlisa.
Apa yang mau pria bunglon ini lakukan, sial banget si gue harus bertemu dengan pria bunglon dan si mak lampir ini. Sungguh dunia ini begitu sempit. Batin Merlisa, menatap tajam balik Arga.
Habis lah kau wanita bar - bar, terima hukuman dari ku. Batin Arga.
"Ya udah sayang, sana kamu masuk, nanti wanita ini menjadi urusan ku." Ucap Arga pada Vanesa.
"Baik lah sayang, aku pergi dulu." Sahut Vanesa memeluk Arga.
" Ceh ." Desis Merlisa memalingkan pandangan ke arah lain.
Vanesa pergi meninggalkan Arga, melewati Merlisa yang sedang berdiri, dengan sengaja ia menabrak bahu Merlisa.
"Habis lah kau." Bisik Vanesa tersenyum sinis pada Merlisa.
"Tuh kan Ca, gue pernah bilang kalau si Vanesa gak bakal terima apa yang pernah elo lakukan sama dia." Ucap Natan setelah kepergian Vanesa dan Arga.
"Iya Ca, elo dalam bahaya udah berurusan dengan keluarga Sebastian. Apa lagi udah mengusik Arga sebastian, dia orang yang sangat kejam kalau sudah merasa terusik Ca ." Timpal Anggi.
"Udah kalian berdua tenang aja ya, gue gak bakal kenapa - napa kok." Sahut Merlisa.
"Elo harus hati hati ya Ca." Ucap Natan khawatir.
"Iya, udah yuk ke kelas." Ajak Merlisa.
Dan ke tiganya pergi menuju ruang kelas. Tidak berapa lama dosen datang untuk memberikan materi nya.
******
Setelah sepulang dari kampus, Merlisa seperti biasa pargi ke toko kue miliknya.
"Gimana Li toko, tidak ada masalahkan?" tanya Merlisa pada Lia, saat sudah berada di toko kue miliknya.
"Tidak ada mba, semuanya lancar kok. Memang beberapa hari ini mba Ica kemana?" tanya Lia.
"Aku ada urusan Li, sampai tidak sempat untuk ke toko. Dan aku rasa beberapa bulan ke depan mungkin tidak bisa sering datang ke toko Li, karena aku harus magang di perusahaan. Aku percayakan toko sama kamu Li, semua laporan toko, kamu kirim lewat email aku ya Li. " Ucap Merlisa tersenyum.
"Baik lah mba, mba tenang saja. sebisa mungkin saya akan bekerja dengan baik." Sahut Lia.
"Aku percaya dengan mu Li." Ucap Merlisa menepuk pundak Lia, dan berlalu menuju ruang kerjanya.
Cukup lama Merlisa berkutat dengan kertas - kertas yang menumpuk di atas meja kerjanya, karena beberapa hari ini ia tidak ke toko.
"Udah sore, aku harus segera pulang sebelum si pria bunglon itu pulang." Gumam Merlisa, melihat jam tangannya.
Setelah sampai di arpatemen, Merlisa segera membersihkan diri untuk menghilangkan keringat karena seharian beraktifitas.
15 menit Merlisa menyelesaikan mandi nya, ia memakai kaos berlengan pendek berwarna maron dan celana pendek selutut, dengan rambut di gulung asal.
Merlisa segera menuju dapur untuk memasak makan malam.
" Mau masak apa ya." Gumam Merlisa saat melihat bahan makanan di kulkas.
"Masak ini aja deh." Ucap Merlisa lagi saat memegang daging ayam dan beberapa sayuran.
Merlisa memulai memasak sambil mendengarkan musik di handphonnya. Karena hobi Merlisa yang sering mendengarkan musik saat ia berada sendiri.
Merlisa masih asyik memasak, dan ikut bernyanyi mengikuti irama lagu yang sedang di putar, sesekali ia berjingkrak ke sana ke mari.
Dasar cewe aneh, dia sedang memasak atau sedang nonton konser si. tapi kalau di lihat - lihat lucu juga tingkahnya. Batin Arga yang sedang menatap aneh Merlisa.
Merlisa berbalik badan untuk meletakan hasil masakan yang sudah selesai ia masak ke atas meja, namun bertapa terkejutnya ia saat melihat Arga yang berdiri sambil meletakan ke dua tangannya di dada sambil terus memperhatikannya.
"Hehehe kamu sudah pulang, kok aku gak tau ya." Ucap Merlisa sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal karena merasa malu dengan tingkah konyolnya itu.
" Gimana kamu tau aku pulang, sedangkan kamu itu asyik mengadakan konser musik dadakan di dapur." Ucap Arga yang masih terus menatap Merlisa.
"Hehehe i iya maaf." Sahut Merlisa segera meraih handphonnya untuk mematikan musik mp3nya.
Arga melangkah kan kakinya menuju Merlisa yang berdiri tidak jauh darinya.
Mau apa si pria bunglon ini, duuhh kenapa aku jadi salah tingkah begini ya. Batin Merlisa, saat Arga terus mendekatinya, Merlisa berusaha menghindarinya dengan terus mundur, hingga ia membentur tembok.
" Mau apa kamu, hah!" ucap Merlisa saat sudah berada di rengkuhan Arga, Arga tidak menjawab hanya masih terus menatap Merlisa.
Saat Merlisa ingin berbicara lagi, dengan cepat Arga me**mat bibir Merlisa secara kasar, menggenggam kedua tangan Merlisa ke ding - ding, hingga Merlisa tidak dapat melepaskannya. Merlisa sampai susah bernapas di buatnya.
" Kau gila ya, mau membunuhku!" teriak Merlisa saat lum***an Arga terlepas.
" Itu hukuman buat mu, karena sudah mengganggu wanitaku." Ucap Arga penuh penekanan.
" Aku tidak pernah mengganggu wanitamu itu, tapi dia yang sudah mengganggu ku. Aku hanya membela diri saja." Sahut Merlisa masih meninggikan suaranya.
" Aku tidak perduli, kau membela diri atau apa, tapi jangan pernah kau sakiti wanita ku." Tegas Arga.
"Kau sungguh gila Arga, wanita mu itu sok berkuasa di kampus. Seharusnya kau jangan di butakan oleh cinta saja tapi lihat pakai hati nurani mu." Ucap Merlisa sambil menunjuk dada Arga.
"Ya memang aku sudah gila dan buta oleh cinta wanitaku. Jadi jangan pernah kau sakiti wanitaku." Ucap Arga mencengkram dagu Merlisa.
"Kau dan wanita mu sama - sama gila tuan, kalian sungguh pasangan serasi." Teriak Merlisa saat Arga sudah pergi meninggalkannya.
Cih, hukuman macam apa ini. Kau telah merebut ciuman pertamaku dengan seenaknya. Ahh bibirku terasa kebas di buatnya, Dasar pria bunglon gila. Umpat Merlisa dalam Hati.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, agar author selalu bersemangat 💪🙏😁