Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LINA MEMUTUSKAN UNTUK BERUBAH DAN MENGAKHIRI SELINGKUH
Di kota yang jauh, Lina sedang menghadiri hari pertama magangnya di perusahaan desain ternama yang telah memberinya kesempatan emas tersebut.
Dia mengenakan jas kerja yang rapi dengan jilbab yang sesuai, merasa sedikit gugup namun penuh semangat untuk memulai babak baru dalam hidupnya.
Setelah mendapatkan sambutan dari manajer dan rekan kerja baru, dia dibawa ke meja kerjanya yang telah disiapkan dengan baik – lengkap dengan komputer baru, buku panduan perusahaan, dan sebuah kartu nama dengan namanya yang tercetak dengan jelas.
Rekan kerja barunya yang bernama Bintang, seorang pria muda yang ramah, segera datang untuk membantunya memahami tugas dan sistem kerja di perusahaan.
"Kamu adalah salah satu calon terbaik yang pernah kami terima," ujar Bintang dengan senyum hangat.
"Kepala kami sangat terkesan dengan proyek akhir semesternya dan ide-ide segar yang kamu bawakan. Kami semua sangat senang bisa bekerja sama denganmu."
Lina tersenyum dengan rasa syukur yang mendalam.
Dia tahu bahwa kesempatan ini tidak datang dengan mudah, dan dia berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyia-nyiakannya.
Selama hari pertama magangnya, dia bekerja dengan sangat giat – belajar tentang sistem desain perusahaan, membantu tim dalam menyempurnakan beberapa proyek yang sedang berjalan, dan memberikan ide-ide baru yang mendapatkan apresiasi dari rekan kerja nya.
Pada jam istirahat, Bintang mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin perusahaan.
Sambil makan, mereka mulai berbicara tentang latar belakang masing-masing dan mengapa mereka memilih bidang desain sebagai karir mereka.
Ketika Bintang bertanya tentang pengalaman kerja sebelumnya, Lina merasa hati nya sedikit berdebar.
Namun setelah berpikir sebentar, dia memutuskan untuk berbicara dengan jujur tentang apa yang telah terjadi.
"Sebenarnya, sebelum saya masuk kuliah lagi dan mendapatkan kesempatan di sini, saya telah melakukan kesalahan besar dalam hidup saya," ujar Lina dengan suara yang tenang namun penuh rasa tulus.
"Saya pernah terlibat dalam hubungan yang tidak pantas dengan seseorang yang sudah memiliki keluarga. Saya sangat menyesal dengan apa yang saya lakukan dan telah menyebabkan banyak rasa sakit bagi orang lain."
Bintang mendengarkan dengan saksama tanpa memberikan penilaian apapun. Setelah Lina selesai bercerita, dia hanya mengangguk dengan pengertian.
"Kita semua pernah membuat kesalahan dalam hidup kita, Lina," ujar Bintang dengan suara yang lembut.
"Yang paling penting adalah kamu menyadarinya, menyesalinya, dan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik. Dan dari apa yang saya lihat hari ini, kamu benar-benar telah berubah dan siap untuk membangun masa depan yang lebih baik."
Percakapan dengan Bintang membuat Lina merasa lebih lega. Dia merasa bahwa dengan terbuka tentang masa lalunya, dia bisa benar-benar mengakhiri babak yang kelam tersebut dan fokus pada masa depannya yang lebih cerah.
Malam itu, dia pulang ke kosannya dengan perasaan yang lebih ringan dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang telah ia pikirkan selama beberapa waktu – menulis surat untuk menyatakan bahwa dia benar-benar akan mengakhiri semua hubungan yang tidak pantas dan fokus pada dirinya sendiri.
Di suratnya yang ditujukan untuk diri sendiri, dia menulis: "Saya, Lina, dengan ini menyatakan bahwa saya akan mengakhiri semua hubungan yang tidak pantas dan tidak benar yang pernah saya miliki. Saya telah menyadari bahwa tindakan saya telah menyakiti banyak orang dan merusak kepercayaan yang berharga. Saya berjanji untuk selalu menjaga integritas diri saya, menghormati hubungan orang lain, dan fokus pada pengembangan diri serta karir saya. Saya akan menggunakan bakat dan kesempatan yang saya miliki untuk membantu orang lain dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat."
Setelah menulis surat tersebut, dia membacanya dengan keras dan kemudian menyimpannya di dalam sebuah kotak yang akan ia buka setiap kali merasa tergoda untuk kembali pada cara lama.
Dia juga memutuskan untuk menghapus semua kontak yang terkait dengan masa lalunya dari ponsel dan akun media sosial nya, sebagai bentuk komitmen yang nyata untuk berubah.
Keesokan paginya, Lina datang ke kantor dengan tekad yang lebih kuat. Dia segera mulai bekerja pada proyek pertama nya – desain kantor baru untuk sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada pendidikan anak-anak di daerah terpencil.
Dia menghabiskan seluruh pagi untuk melakukan riset dan membuat beberapa sketsa awal, yang kemudian dibahas bersama dengan timnya.
Ide-ide nya mendapatkan apresiasi tinggi dari kepala tim, yang mengatakan bahwa dia memiliki pandangan yang unik dan penuh kasih terhadap proyek sosial.
Pada sore hari, dia menerima pesan singkat dari Arini: "Saya mendengar kabar baik bahwa kamu telah mendapatkan kesempatan magang di perusahaan besar. Saya sangat senang untukmu dan berharap kamu sukses dalam karirmu. Ingatlah bahwa kamu selalu punya kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik. Salam hangat, Arini."
Membaca pesan tersebut membuat mata Lina berkaca-kaca. Dia merasa sangat bersyukur karena Arini telah mampu memaafkannya dan memberinya kesempatan untuk memulai hidup baru. Dia segera membalas pesan tersebut dengan rasa terima kasih yang mendalam.
Di malam yang sama, perusahaan mengadakan acara kecil untuk menyambut karyawan baru dan merayakan kelulusan beberapa proyek penting.
Selama acara tersebut, Lina diperkenalkan kepada beberapa klien penting perusahaan dan mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan beberapa ide desain nya.
Klien-klien tersebut sangat terkesan dengan kreativitas dan dedikasi nya, dan salah satu dari mereka bahkan menawarkan kesempatan untuk bekerja sama pada proyek pribadinya.
Saat acara berlangsung, Bintang datang dan berdiri bersamanya sambil memegang segelas jus buah. "Kamu tahu kan, Lina," ujarnya dengan senyum ramah.
"Saya pernah juga mengalami masa-masa sulit dalam hidup saya. Saya pernah membuat kesalahan yang hampir merusak karir dan hubungan saya dengan orang lain. Namun saya belajar bahwa kesalahan itu adalah pelajaran berharga yang bisa membuat kita menjadi orang yang lebih kuat dan lebih baik."
Dia kemudian memberitahu Lina tentang bagaimana dia bisa bangkit dari kesalahannya dan membangun karir yang sukses dengan bekerja keras dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang benar.
Cerita nya memberikan semangat yang besar bagi Lina, membuatnya semakin yakin bahwa dia telah membuat keputusan yang benar untuk berubah dan melangkah maju.
Setelah acara selesai, Lina pulang ke kosannya dengan hati yang penuh dengan rasa syukur dan harapan.
Dia melihat sekeliling kosannya yang sederhana namun nyaman – dinding yang dihiasi dengan beberapa sketsa desain nya, rak buku yang penuh dengan buku tentang desain dan seni, serta beberapa kerajinan tangan yang dibuatnya sendiri.
Dia merasa bahwa akhirnya dia telah menemukan tempat yang benar untuk dirinya sendiri dan tahu apa yang ingin dia capai dalam hidupnya.
Dia mengambil telepon dan menelepon ibunya yang tinggal di desa. Setelah saling bertukar kabar tentang keadaan masing-masing, dia memberitahu ibunya tentang kesuksesan yang telah diraihnya dan keputusannya untuk benar-benar berubah dan fokus pada masa depannya.
"Ibu sangat bangga padamu, anakku," ujar ibunya dengan suara yang penuh emosi. "Saya selalu tahu bahwa kamu adalah orang yang baik dengan hati yang besar. Kesalahan yang kamu lakukan tidak pernah membuat ibu mencintaimu kurang. Dan sekarang melihat kamu bangkit dan menjadi orang yang lebih baik membuat hati ibu sangat bahagia."
Setelah berbicara dengan ibunya, Lina duduk di balkon kosannya sambil melihat pemandangan kota yang menerangi lampu malam.