Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part Tiga Puluh Dua
Pagi hari, Mikhasa terbangun seperti biasa. Ia bangkit pelan, lalu duduk diam di atas kasur. Hanya diam.
Pandangan matanya beralih ke ponsel di sampingnya. Ada rasa takut yang tiba-tiba merayap. Takut jika ponsel itu berdering. Takut mendengar suara bibinya. Takut mengecewakan orang-orang yang telah tiada, ayah dan ibunya, karena ia tidak mampu membantu bibi, karena ia membiarkan masalah itu tidak selesai. Dan yang paling ia takuti adalah merasa tidak memiliki siapa pun di dunia ini.
Mikhasa terdiam sambil menggigit kukunya. Bola matanya bergerak gelisah. Di kepalanya, satu suara menuduhnya tidak berguna karena tak mampu membantu bibi yang kesusahan. Suara lain berteriak lebih keras, mengatakan bahwa ia akan dihukum karena ketidakmampuannya.
Ia tidak menangis, tidak juga merasa sedih. Yang ada hanya rasa takut. Takut yang datang tanpa bentuk dan tanpa izin.
Mikhasa menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia membisikkan pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia pasti bisa mencari pinjaman seratus juta itu. Ia pasti bisa membantu bibinya.
Sedikit demi sedikit, pikirannya terasa lebih ringan. Ia bangkit dan menuju kamar mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin.
Hari Sabtu yang seharusnya menyenangkan karena libur kerja tapi harus diawali dengan rasa takut. Tapi ia harus tetap bahagia.
“Akhirnya libur juga,” gumamnya dengan senyum lebar, senyum singkat yang sengaja ia pakai untuk melupakan sejenak angka seratus juta yang masih menghantui pikirannya.
Selesai menggosok gigi dan mencuci muka, Mikhasa berganti pakaian. Rambutnya dikuncir cepol sederhana agar terlihat lebih segar. Dia ingin lari pagi hari ini.
Dan pada detik itu juga, ponselnya berdering. Suara dering itu membuat Mikhasa tersentak kaget. Ia menatap layar ponsel dan rasa takut yang sempat ia tekan kembali merayap pelan di dadanya.
Bibi…
Mikhasa sudah bersiap. Bersiap jika suara di seberang sana akan berteriak memakinya, menagih, dan mengingatkannya betapa tidak bergunanya dirinya.
“Iya, Bi,” ucapnya pelan setelah menerima panggilan itu.
Namun tidak ada teriakan, yang terdengar justru suara bibinya yang ramah.
“Apakah kamu sudah sarapan, Nak?”
Mikhasa terdiam beberapa detik, mencerna pertanyaan itu. Pertanyaan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
“Belum, Bi. Sebentar lagi,” jawabnya pelan.
“Jangan lupa sarapan ya, Mikha. Bibi di sini baik-baik saja. Semoga kamu di sana juga baik-baik saja,” ucap sang bibi dengan nada lembut. Tidak ada intonasi tinggi, tidak ada kemarahan sama sekali. Suara bibinya bahkan terdengar perhatian. Sebuah perhatian yang terasa asing.
“Oh ya, Nak,” lanjut Bibi Netta, “kamu harus selalu bahagia ya di sana.”
Tenggorokan Mikhasa terasa mengering. “Bi… tentang seratus juta itu—”
“Ah, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Semuanya sudah lunas,” potong bibinya cepat. “Terima kasih, ya. Pokoknya kamu harus baik-baik saja di sana.”
Kening Mikhasa berkerut. Napasnya tertahan. “S-sudah lunas?” tanyanya pelan, tidak percaya.
"Iya, semuanya aman,” jawab Bibi Netta. “Sudah ya. Pokoknya kamu harus baik-baik dan cantik di sana.”
Panggilan itu terputus begitu saja bahkan sebelum Mikhasa sempat membuka mulut untuk menjawab.
Mikhasa terdiam di tempatnya, ponsel masih tergenggam di tangan. Layar yang sudah gelap terasa berat, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ia pahami.
“Lu… nas?” gumamnya masih tidak percaya. “Seratus juta?”
Tangannya perlahan turun, jemarinya justru mencengkeram ponsel itu lebih erat.
“Siapa yang melunasinya? Bibi sendiri? Tidak mungkin. Kalau berutang pada tetangga? Atau ke bank?” Mikhasa menggeleng pelan. “Tidak mungkin secepat itu. Lagi pula, mereka tidak punya jaminan untuk uang sebesar itu.”
Bagaimana mungkin utang seratus juta bisa lunas begitu saja? Dan pagi ini, suara bibinya terdengar ramah. Bahkan perhatian. Sesuatu yang hampir mustahil ia dapatkan selama ini.
Ada yang tidak beres. Pikirannya berputar semakin cepat, hingga satu nama muncul begitu saja.
“Nyonya besar Mercier?”
Kepalanya terasa berdenyut kacau memikirkan kemungkinan itu. Benarkah beliau? Kenapa Nyonya besar Mercier sampai sejauh ini? Membantu atau mengikat? Dan bagaimana Nyonya besar tahu alamat bibinya bahkan masalah yang sedang dialami.
“Apakah pada akhirnya…beliau ingin membeli hidupku?”
Mikhasa merasa semakin takut dan tertekan. Orang kaya memang mengerikan.
Ponsel di genggaman Mikhasa berdering. Ia refleks menatap layar yang kini menyala.
Axel.
Nama itu tertera di sana, diam, tapi rasanya seperti menekan dadanya. Mikhasa menatapnya lama sambil mengingat satu per satu kebaikan pria itu. Dan justru karena itulah ia takut.
“Pria ini mengerikan,” gumamnya. “Kenapa aku bisa sedikit luluh padanya dan bahkan dengan rela menerima semua yang ia berikan?”
Tanpa memberi waktu pada dirinya sendiri untuk ragu, Mikhasa menolak panggilan itu. Jarinya bergerak cepat memblokir nomor Axel.
Ia tidak tahu sama sekali bahwa tindakan itu membuat Axel cemas luar biasa. Mikhasa pernah seperti ini sebelumnya, menarik diri, lalu menghilang begitu saja.
Bedanya, kali ini Axel tidak sepenuhnya buta. Ia masih punya jaringan, masih punya cara. Setidaknya, ia berharap demikian, semoga bisa.
Di tempat Mikhasa, ponselnya kembali menyala. Getarannya membuat jantungnya mencelos. Kini ia bahkan mulai takut pada benda kecil di tangannya sendiri.
Ia menatap layar. Ibu Maura.
Mikhasa menarik napas dalam, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia menerima panggilan itu.
“Selamat pagi, Mikhasa. Maaf kalau aku mengganggu, ya,” sapa suara Maura di seberang sana, lembut, juga ceria, dan penuh energi positif.
“Pagi, Bu,” jawab Mikhasa pelan.
“Mikhasa, hari ini aku masak banyak. Tapi ternyata putriku ada les balet dan harus pergi pagi-pagi sekali,” ujar Maura lembut. “Jadi, Mikha… apa kamu keberatan kalau pagi ini kita sarapan bersama? Atau kalau kamu tidak ingin datang, aku bisa mengirimkannya untukmu.”
Mikhasa terdiam. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Seorang ibu yang memasak untuk putrinya. Gimana ya rasanya mendapatkan perhatian itu. Hidupnya yang keras sejak kecil, membuatnya lupa bagaimana rasanya diperhatikan dan diberi kasih sayang yang tulus.
“Saya akan datang ke rumah Ibu,” ucapnya akhirnya, “Tolong berikan saya alamat ibu."
🍀
Di sana, di balkon penthouse yang mewah, Axel berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, ia mendadak tidak menyukai hari Sabtu dan Minggu. Baginya, hari Senin hingga Jumat justru terasa paling menyenangkan.
Ironis. Padahal biasanya, Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling ia tunggu. Hari-hari ketika ia bisa menanggalkan nama Axel Mercier dan berubah menjadi seorang pelayan bernama Armin.
Namun hari ini berbeda. Nama Armin tidak lagi terasa menyenangkan. Akhir pekan tidak lagi menjanjikan kebebasan. Karena akhir pekan artinya... Mikhasa menghilang di hari-harinya. Tidak ada perdebatan yang menggemaskan dari Mikhasa.
Sial, kenapa dia merasa harus melihat gadis itu.
ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel