Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Dunia yang berbeda
Keesokan harinya, Darrel bangun pagi dengan semangat baru. Begitu terdengar adzan subuh, dia langsung membersihkan diri lalu pergi ke mushola terdekat untuk sholat berjamaah. Sepulang dari mushola, hatinya terasa lebih tenang dan penuh harapan.
Dia segera kembali ke rumah dan mulai memasak sarapan sederhana untuknya dan anak-anak. Hari ini menunya nasi goreng dengan telur ceplok. Sambil memasak, dia juga memasak air panas untuk mengisi termos yang akan dia gunakan untuk berjualan kopi. Aroma nasi goreng memenuhi seisi rumah, membangkitkan selera.
Selesai memasak, Darrel bergegas membangunkan Zoey dan Zayn. "Bangun, Sayang. Kita sarapan dulu, lalu siap-siap pergi berjualan," ujarnya lembut sambil mengusap kepala mereka.
Zoey dan Zayn segera bangun lantas keluar kamar menuju meja makan dan duduk dengan tenang. Mereka menyantap nasi goreng dengan lahap.
"Enak, Papa!" puji Zoey.
"Iya, enak," timpal Zayn dengan mulut penuh.
Darrel tersenyum senang melihat anak-anaknya menikmati masakannya. "Alhamdulillah," ucapnya dalam hati.
Setelah sarapan, Darrel mengajak Zoey dan Zayn untuk mandi. Setelahnya dia memakaikan mereka pakaian yang bersih dan rapi, kemudian bersiap-siap. Darrel mengeluarkan barang dagangannya lalu membawanya ke gerobak motor dan menatanya dengan rapi. Tak ketinggalan Zayn dan Zoey membantu semampunya.
"Papa, apa hari ini kita akan berjualan di tempat kemarin?" tanya Zayn.
"Boleh, atau di mana saja yang penting dagangan kita bisa laku terjual," jawab Darrel.
Sebelum berangkat, Darrel berdoa sejenak. "Ya Allah, lancarkan lah usaha kami hari ini. Berkahi lah rezeki yang Engkau berikan kepada kami." ucapnya dengan khusyuk.
"Aamiin..." Zayn dan Zoey meng-aamiin-kan sambil mengangkat tangan menghadap ke atas lalu mengusapkan ke wajahnya begitu sang ayah selesai berdoa.
"Semoga hari ini lebih banyak yang beli ya, Pa." kata Zoey.
"Aamiin..." sahut Darrel dan Zayn bersamaan.
Setelah berdoa, Darrel menaikkan Zoey dan Zayn ke atas motor roda tiganya. Ia memastikan mereka duduk dengan nyaman dan aman.
"Kalian, siap?" tanya Darrel sambil menoleh ke belakang melihat ke arah anak-anaknya.
"Siap!" jawab Zoey dan Zayn serentak.
Darrel menyalakan mesin motor dan mulai melaju menuju taman yang kemarin dia jualan. Dia berharap mendapatkan lebih banyak pelanggan dan menghasilkan lebih banyak uang. Dia juga berharap bisa mewujudkan impiannya untuk memiliki sebuah kedai kopi sendiri suatu saat nanti.
"Bismillah," gumamnya dalam hati. "Semoga hari ini membawa berkah."
Saat Darrel tiba di taman, dia melihat ada pedagang kopi lain yang sudah berjualan di sana. Pedagang itu menggunakan gerobak yang lebih besar dan lengkap daripada motor roda tiga Darrel. Dia juga menjual berbagai macam kopi dengan harga yang lebih murah.
Darrel merasa kecewa. Dia merasa akan sangat sulit bersaing dengan pedagang itu. Akan tetapi, dia tetap menyiapkan perlengkapan kopinya dan mulai menawarkan kopinya kepada orang-orang yang lewat.
Namun, orang-orang lebih tertarik untuk membeli kopi dari pedagang yang menggunakan gerobak. Kopi Darrel sepi pembeli. Zoey yang biasanya ceria, terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Papa, kok nggak ada yang beli kopi kita?" tanya Zoey dengan wajah sedih.
Darrel memeluk Zoey erat-erat. "Nggak apa-apa, Sayang," jawabnya dengan lembut. "Mungkin hari ini kita lagi kurang beruntung."
Darrel mencoba untuk tetap semangat, meski hatinya terasa berat. Dia tidak ingin mengecewakan anak-anaknya.
"Sepertinya aku harus mencari cara lain," gumamnya dalam hati. "Aku tidak boleh menyerah."
Darrel memutar otak untuk mencari cara agar jualannya bisa laku. Dia mulai berpikir untuk menambahkan menu baru, seperti teh atau es jeruk. Dia juga berpikir untuk mencari lokasi jualan yang lain.
"Mungkin aku harus pindah ke tempat yang lebih ramai," pikirnya.
Darrel memutuskan untuk mencoba berjualan di tempat lain. "Sebaiknya kita pindah tempat saja yuk, Sayang. Mungkin di sana kita bisa mendapatkan pelanggan lebih banyak," kata Darrel.
"Iya, Pa," sahut mereka menurut ketika Darrel menaikkannya ke atas gerobak.
Kemudian Darrel mengendai motornya menyusuri jalanan yang mulai panas oleh sinar matahari yang beranjak naik. Setelah beberapa saat berkeliling akhirnya, dia menemukan sebuah pasar tradisional yang sangat ramai pagi itu. Dia pun memutuskan untuk mencoba berjualan di sana.
Darrel lantas memarkirkan motornya di tempat yang agak teduh, tetapi lokasinya sangat strategis. "Kalian mau turun atau tetap di atas saja?" tanyanya pada anak-anak.
"Di sini aja, Pa," kata Zoey.
"Papa, Zayn mau susu," pinta Zayn.
"Baiklah, papa akan buatkan," kata Darrel. "Zoey mau juga nggak?" tawarnya pada anak perempuannya.
"Nggak mau," sahut Zoey seraya menggelengkan kepala.
Di saat Darrel membuatkan susu untuk Zayn, seorang pria menghampirinya.
"Mas, tolong buatkan kopi empat, ya," kata orang tersebut lalu memberikan uangnya pada Darrel.
Darrel tersenyum dan menerima uang itu. "Terima kasih, Pak. Mohon ditunggu sebentar, ya," ucapnya dengan ramah.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Allah," batin Darrel dalam hati.
Setelah membuatkan susu Zayn, Darrel dengan gerakan cekatan segera membuatkan empat gelas kopi buat orang tadi. Selanjutnya secara bertahap pembeli mulai berdatangan. Ada yang meminta kopi panas ada pula yang meminta dingin. Darrel melayani permintaan mereka dengan hati yang tulus dan gembira.
.
.
.
Sementara itu, di belahan bumi yang lain, Nancy mulai menapaki kariernya yang semakin bersinar. Tawaran pekerjaan datang silih berganti, mengisi hari-harinya dengan jadwal padat dan gemerlap dunia hiburan.
Malam itu, Nancy berjalan anggun di karpet merah sebuah acara penghargaan bergengsi di Paris. Gaun mewahnya berkilauan di bawah sorotan lampu, senyumnya mempesona, "Aku merasa seperti seorang ratu," pikirnya, menikmati setiap detik perhatian yang tertuju padanya.
Selesai acara penghargaan Nancy dan Thomas Anderson melanjutkan malam itu dengan dinner romantis di sebuah restoran mewah dengan pemandangan Menara Eiffel yang gemerlap. Keduanya duduk berhadapan dan saling melempar senyuman.
"Kamu sangat luar biasa, Nancy," puji Thomas, tangan terulur lalu menggenggam tangan Nancy dengan lembut, matanya memancarkan kekaguman.
"Terima kasih, Thomas," balas Nancy senyum manis, merasa tersanjung dengan pujian itu.
Mereka menikmati hidangan mewah sambil bercakap-cakap tentang proyek film terbaru Thomas yang akan dibintangi oleh Nancy, "Aku sangat bersemangat untuk film ini," kata Nancy antusias.
Setelah makan malam, Nancy kembali ke apartemennya yang mewah. Sangat kontras dengan kehidupan Darrel dan anak-anak yang sederhana. Ia membuka jendela, memandangi gemerlap kota Paris di malam hari, "Sungguh indah," bisiknya kagum.
Nancy meraih ponselnya, membuka aplikasi media sosial. Ia melihat foto-foto dirinya yang diambil di acara penghargaan tadi. Banyak komentar pujian dan kekaguman yang membanjiri akunnya, "Mereka mengagumiku," pikirnya bangga.
Ia lalu melihat jadwalnya untuk esok hari: pemotretan untuk sampul majalah Vogue, wawancara eksklusif dengan Elle, dan pertemuan dengan seorang desainer ternama, "Sepertinya besok aku sangat sibuk," gumamnya, lantas mematikan lampu dan berbaring di tempat tidur.
Nancy memejamkan mata, membayangkan kesuksesan yang akan diraihnya di masa depan. Ia tidak ingin memikirkan apa pun selain itu. Masa lalu adalah masa lalu, dan ia tidak akan pernah kembali ke sana. Ia tidak peduli tentang apa pun selain dirinya sendiri. Gemerlap dunia hiburan telah berhasil membutakannya.